ANALISIS MAKNA SIMBOLIK MOTIF KNIRE' DI DESA BANTALA KECAMATAN LEWOLEMA

Authors

  • Kristina Tupa Hurit Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka
  • Pilipus Wai Lawet Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka
  • Oliva Wissang Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka

DOI:

https://doi.org/10.51878/language.v6i4.15846

Keywords:

Makna Simbolik, Motif, Knire

Abstract

The ancient body tattooing tradition (knire') of the Lamaholot community in Bantala Village embodies local wisdom rich in spiritual and social values, yet it faces the threat of cultural erosion amidst rapid modernization. This study aims to analyze the sign structures and decode the symbolic meanings of thirteen knire' motifs using Roland Barthes' semiotic framework. A descriptive qualitative method was employed, involving eight key informants comprising customary elders (tua lewo), traditional tattoo practitioners (ata knire'), and community elders selected via purposive sampling. Data collection was carried out from July to September 2025 through participant observation, in-depth interviews, and visual documentation of body motifs. Data analysis proceeded through identifying signifiers and signifieds to formulate denotative, connotative, and cultural myth meanings. The findings revealed thirteen traditional knire' motifs categorized into three core philosophical value clusters: spiritual-cosmological values (petala, wula, kiring kele), social order and kinship values (knire' lema, kener telo, keniren telo, sulur), and moral ethics and survival resilience values (liman bolak, kolo matan, wato maing, wua matan, kapireng lere, ue meta). These symbolic meanings confirm that knire' serves as a cultural text denoting social maturity and communal identity among the Lamaholot people.

ABSTRAK

Tradisi rajah tubuh kuno (knire') pada masyarakat Lamaholot di Desa Bantala merekam kearifan lokal yang sarat nilai spiritual dan sosial, namun kini mulai terancam punah seiring derasnya modernisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur tanda dan membongkar makna simbolik tiga belas motif knire' melalui kerangka semiotika berjenjang Roland Barthes. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan melibatkan delapan orang informan kunci yang terdiri atas pemangku adat (tua lewo), penato tradisional (ata knire'), dan tokoh masyarakat yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi visual terhadap motif rajah tubuh pada periode Juli hingga September 2025. Analisis data dilakukan melalui identifikasi penanda (signifier) dan petanda (signified) guna merumuskan makna denotasi, konotasi, serta mitos kultural. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga belas motif tradisional knire' yang terbagi ke dalam tiga gugus nilai filosofis utama, yaitu nilai spiritual-kosmologis (petala, wula, kiring kele), nilai keteraturan sosial dan kekerabatan (knire' lema, kener telo, keniren telo, sulur), serta nilai etika moral dan ketahanan hidup (liman bolak, kolo matan, wato maing, wua matan, kapireng lere, ue meta). Makna simbolik tersebut menegaskan bahwa knire' berfungsi sebagai teks kultural penanda kedewasaan sosial dan identitas komunal masyarakat Lamaholot.

 

 

Downloads

Download data is not yet available.

References

Adiprabowo, V. D. (2018). Mitos kebudayaan dalam film Jawara Kidul, Tinuk dan KTP: Analisis semiologi Barthesian. CHANNEL: Jurnal Komunikasi, 6(1), Article 47. https://doi.org/10.12928/channel.v6i1.10211

Arianti, P. M., Fitriani, S. L., Aprilina, N. C., Ramadhani, N., Ansaria, M. D. N., Lia, D. J. A., & Setiawan, A. (2026). Memori kolektif Prasasti Kembang Sore sebagai sumber belajar sejarah lokal dalam memperkuat identitas sosial pembelajaran IPS. SOCIAL: Jurnal Inovasi Pendidikan IPS, 6(2), 745–756. https://doi.org/10.51878/social.v6i2.10546

Barthes, R. (1977). Image–music–text (S. Heath, Trans.). Fontana Press.

Charlos, M., & Abdon. (2025). Nilai sakralitas wulu sebagai Dewi Hujan pada masyarakat suku Temu etnis Lamaholot [Skripsi/Tesis, Universitas Katolik Widya Mandira]. Repositori Universitas Katolik Widya Mandira. https://doi.org/10.5281/zenodo.14589210

Darma, S., Wardhana, D. E. C., & Canrhas, A. (2022). Pengantar teori semiotika. Media Sains Indonesia.

Devi, N. A., Yuliantri, R. D. A., & Syah, M. A. (2025). Preserving the Karia tradition: Symbolic meaning and social role in contemporary Muna community. Satwika: Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial, 9(2), 482–491. https://doi.org/10.22219/satwika.v9i2.41203

Firmando, H. B. (2021). Kearifan lokal sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu dalam merajut harmoni sosial di kawasan Danau Toba. Aceh Anthropological Journal, 5(1), Article 16. https://doi.org/10.29103/aaj.v5i1.4613

Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures: Selected essays. Basic Books.

Handani, I., & Azeharie, S. (2019). Analisis semiotika tato tradisional suku Mentawai. Koneksi, 3(1), 49–55. https://doi.org/10.24912/kn.v3i1.6144

Hoed, B. H. (2008). Semiotik dan dinamika sosial budaya. Komunitas Bambu.

Istiqomah, D., & Isnanto, D. A. (2019). Makna pupuh (tembang) dalam tradisi ritual sandingan masyarakat Jawa Kabupaten Kediri. Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia, 7(2), Article 103. https://doi.org/10.30659/j.7.2.103-121

Jayani, N., Purnama, M., Lidiawati, C., Habibi, S., & Rotari, S. (2026). Akulturasi nilai sosial budaya dalam tradisi tonjokan (hantaran). CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan, 6(2), 917–926. https://doi.org/10.51878/cendekia.v6i2.9331

Julijanti, D. M., Rosyidi, M. I., & As’ad, A. F. (2025). Masculinity, capital, and cultural continuity in the blater community of rural Indonesia. ETTISAL: Journal of Communication, 10(2), 295–309. https://doi.org/10.21111/ettisal.v10i02.20

Karyadi, R. D. (2017). Eksistensi kearifan lokal tato masyarakat suku Dayak Iban di Provinsi Kalimantan Barat setelah berlakunya Peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor Per-048/A/J.A/12/2011. Jurnal Hukum, 1(1), 1–10. https://doi.org/10.31004/jh.v1i1.1205

Khitam, H. (2022). Islam and capitalism: The dynamics of religion and contemporary Indonesian work orientation. Al-A'raf: Jurnal Pemikiran Islam dan Filsafat, 19(1), 53–74. https://doi.org/10.22515/ajpif.v19i1.5226

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi. Rineka Cipta.

Maharani, I. R., Prakoso, K. A., & Prameswari, T. (2026). Reinterpretation of tradition in the era of digital commodification through a qualitative study of cultural practice transformation in Indonesia. Qriset Indonesia: Journal of Cultural Science, 1(1), 25–33. https://doi.org/10.63668/qjcs.v1i1.58

Maulana, A. (2020). Pengaplikasian semiotika dalam kajian Islam (studi analisis kisah Nabi Yusuf). Jurnal Indo-Islamika, 1(2), 145–158. https://doi.org/10.15408/idi.v1i2.16647

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.

Paseru, F. P., Gasong, D., & Baan, A. (2025). Tuturan ritual massali padang pada rambu solo’ dalam perspektif Roland Barthes dan implementasi bagi kehidupan masyarakat. JIIP: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 8(8), 8858–8862. https://doi.org/10.54371/jiip.v8i8.8814

Runtuwene, M., Nuchri, A. A., & Dariwu, C. T. (2026). Representasi kebudayaan kawasan perbukitan di Desa Woloan dalam arsitektur rumah adat walewangko. CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan, 6(1), 306–319. https://doi.org/10.51878/cendekia.v6i1.8877

Rustandi, L. R. (2020). Disrupsi nilai keagamaan dalam dakwah virtual di media sosial sebagai komodifikasi agama di era digital. SANGKéP: Jurnal Kajian Sosial Keagamaan, 3(1), 23–34. https://doi.org/10.20414/sangkep.v3i1.1036

Silaturrohmah, F., Wibowo, S. E., & Masrohatin, S. (2025). Sound horeg in rural East Java: A Durkheimian interpretation of solidarity and social tension. Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI), 6(3), 263–275. https://doi.org/10.22373/jsai.v6i3.8632

Simangunsong, C., Ginting, N. M., Syahfitri, R., Panjaitan, R., Syafitri, A., & Arianto, T. (2025). Social and spiritual meanings in the Cabur Bulung tradition of Karo ethnicity: An anthropological perspective. Literasi: Bahasa dan Sastra Jurnal, 1(2), 51–61. https://doi.org/10.63462/s9cy1d07

Sugiyono. (2023). Metode penelitian kualitatif. Alfabeta.

Sulistyanto, B. (2022). Transformasi seni gores tato: Kajian semiotik dan maknanya. AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi, 40(2), 109–124. https://doi.org/10.55981/amt.2022.46

Syaripah, A., & Salaeh, I. M. Y. (2022). Kesetaraan gender dalam Al-Qur’an ditinjau dari pemahaman Amina Wadud dan Ashgar Ali Engineer. Jurnal Iman dan Spiritualitas, 2(4), 575–584. https://doi.org/10.15575/jis.v2i4.18974

Vilakati, D. B., & Shakwane, S. (2024). Advocacy for personhood: Integration of African Christian rituals and intimate care on the touched human body. In IntechOpen eBooks. IntechOpen. https://doi.org/10.5772/intechopen.1004213

Yusuf, M., Sahudi, S., & Muhandy, R. S. (2021). Komersialisasi lahan pertanian di Koya Barat dan Koya Timur, Kota Jayapura. Jurnal AGRISEP: Kajian Masalah Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, 20(1), 157–178. https://doi.org/10.31186/agrisep.20.01.157-178

Downloads

Published

2026-10-08

How to Cite

Hurit, K. T., Lawet, P. W., & Wissang, O. (2026). ANALISIS MAKNA SIMBOLIK MOTIF KNIRE’ DI DESA BANTALA KECAMATAN LEWOLEMA. LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa Dan Sastra, 6(4), 515–524. https://doi.org/10.51878/language.v6i4.15846

Issue

Section

Articles

Similar Articles

1 2 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.