SEMIOTIKA DALAM FILM PETAKA GUNUNG GEDE (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES)

Authors

  • Siti Nopilah Universitas Bina Bangsa
  • Desty Endrawati Subroto Universitas Bina Bangsa
  • Mahpudoh Mahpudoh Universitas Bina Bangsa

DOI:

https://doi.org/10.51878/language.v6i3.14814

Keywords:

Semiotika Roland Barthes, Petaka Gunung Gede, denotasi, konotasi, mitos

Abstract

Film functions not only as entertainment but also as a communication medium that represents social, cultural, moral, and community beliefs through various signs and symbols. Petaka Gunung Gede is a horror film that presents various signs, dialogues, actions, and symbols related to human relationships with nature, ethics in mountain climbing, and beliefs concerning the sacredness of mountains. This study aims to describe the meanings of denotation, connotation, and myth in Petaka Gunung Gede based on Roland Barthes' semiotic theory. This study employs a descriptive qualitative approach. The primary data source is the film Petaka Gunung Gede, while secondary data sources consist of relevant books and scientific articles. The research instruments are observation and documentation guidelines used to identify scenes, dialogues, expressions, gestures, and visual symbols containing semiotic signs. Data were collected through observation, documentation, and triangulation, and were then analyzed based on Roland Barthes' concepts of denotation, connotation, and myth. The results show that Petaka Gunung Gede represents denotative meanings through climbing activities, ethical violations, mysterious events, and disasters; connotative meanings through messages concerning human limitations, respect for nature, and the consequences of human behavior; and myths through beliefs about the sacredness of mountains and prohibitions related to climbing ethics. Thus, Petaka Gunung Gede serves not only as horror entertainment but also as a representation of social, cultural, moral, and environmental values.

ABSTRAK

Film tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga menjadi media komunikasi yang dapat merepresentasikan nilai sosial, budaya, moral, dan kepercayaan masyarakat melalui tanda dan simbol. Film Petaka Gunung Gede merupakan film bergenre horor yang menghadirkan berbagai tanda, dialog, tindakan, dan simbol yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan alam, etika dalam pendakian, serta kepercayaan terhadap kesakralan gunung. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna denotasi, konotasi, dan mitos dalam film Petaka Gunung Gede berdasarkan teori semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data primer berupa film Petaka Gunung Gede, sedangkan sumber data sekunder berupa buku dan artikel ilmiah yang relevan. Instrumen penelitian berupa pedoman observasi dan dokumentasi yang digunakan untuk mengidentifikasi adegan, dialog, ekspresi, gestur, serta simbol visual yang mengandung tanda semiotik. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan triangulasi, kemudian dianalisis berdasarkan konsep denotasi, konotasi, dan mitos Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Petaka Gunung Gede merepresentasikan makna denotatif melalui aktivitas pendakian, pelanggaran etika, peristiwa misterius, dan bencana; makna konotatif melalui pesan tentang keterbatasan manusia, penghormatan terhadap alam, dan konsekuensi perilaku; serta mitos melalui kepercayaan mengenai kesakralan gunung dan larangan yang berkaitan dengan etika pendakian. Dengan demikian, film Petaka Gunung Gede tidak hanya menjadi hiburan horor, tetapi juga merepresentasikan nilai sosial, budaya, moral, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Annissa, L. W., & Adiprasetio, J. (2022). Ketimpangan representasi hantu perempuan pada film horor Indonesia periode 1970–2019. ProTVF, 6(1), 21–38. https://doi.org/10.24198/ptvf.v6i1.36296

Barker, C. (2019). Cultural studies: Theory and practice (5th ed.). SAGE Publications.

Barthes, R. (1967). Elements of semiology. Hill and Wang.

Barthes, R. (1972). Mythologies. Hill and Wang.

Barthes, R. (1977). Image, music, text. Fontana Press.

Budiman, K. (2021). Semiotika visual. Jalasutra.

Danesi, M. (2020). Messages, signs, and meanings: A basic textbook in semiotics and communication (4th ed.). Canadian Scholars.

Erni, E., & Asror, M. A. K. (2022). Degradasi moral di kalangan pemuka agama. Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Humaniora, 13(2), 237–243. https://doi.org/10.26418/j-psh.v13i2.54004

Kevinia, C., Syahara, P. P., Aulia, S., & Astari, T. (2024). Analisis teori semiotika Roland Barthes dalam film Miracle in Cell No. 7 versi Indonesia. Commusty: Journal of Communication Studies and Society, 1(2), 38–43. https://doi.org/10.38043/commusty.v1i2.4082

Kusmiarti, R., Rusmawati, A., Heryanti, J., & Eloudia, R. (2023). Kemampuan menulis teks eksposisi siswa kelas VIII SMP. Jurnal Kajian Bahasa, Sastra dan Pengajaran (KIBASP), 7(1), 48–64. https://doi.org/10.31539/kibasp.v7i1.6313

Mahpudoh, & Romdhoningsih, D. (2024). Pemanfaatan sosial media YouTube sebagai media pembelajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi. Jurnal Membaca Bahasa dan Sastra Indonesia, 9(1), 109–114. https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/jurnalmembaca/article/view/26389

Marcella, S., & Azeharie, S. (2024). Analisis semiotika Roland Barthes pada budaya Jawa dalam film Inang. Kiwari, 3(3), 545–552. https://doi.org/10.24912/ki.v3i3.32028

Prasetya, L. T. (2022). Representasi kelas sosial dalam film Gundala (Analisis semiotika Roland Barthes). Jurnal Audiens, 3(3), 91–105. https://doi.org/10.18196/jas.v3i3.12697

Ramadhan, N., Hariyadi, H., Mutahir, A., & Rizkidarajat, W. (2025). Analisis semiotika Roland Barthes terhadap representasi kesakralan tokoh paranormal Ed dan Lorraine Warren pada film The Conjuring 2: The Enfield Poltergeist. Jurnal Ilmu Sosial Humaniora Indonesia, 4(2), 215–235. https://doi.org/10.52436/1.jishi.208

Rinaldi, R. S., Putra, R. W., & Putra, I. A. (2026). Analisis semiotika folklor horor pada film Exhuma. Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya, 8(2), 363–370. https://newjournal.unindra.ac.id/index.php/vhdkv/article/view/832

Riyan, M. (2021). Penggunaan media pembelajaran berbasis Android pada pembelajaran teks eksposisi. Diksi, 29(2), 205–216. https://doi.org/10.21831/diksi.v29i2.36614

Sari, S. I., & Achiriah. (2024). Representasi tantangan jurnalis pada film dokumenter "Cyber Hell: Exposing an Internet Horror" (Analisis semiotika Roland Barthes). Jurnal Indonesia: Manajemen Informatika dan Komunikasi, 5(2), 1902–1912. https://doi.org/10.35870/jimik.v5i2.724

Sugiyono. (2022). Metode penelitian kualitatif. Alfabeta.

Suwardi, E. (2021). Folklor dan budaya Jawa. Narasi.

Yuwono, A. A., Nurhuda, A., & Ansori, I. H. (2024). Konsep kesakralan Mircea Eliade dalam tradisi peringatan Malam Satu Suro di Kotagede Yogyakarta. Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama & Kebudayaan, 24(2), 35–42. https://ejournal.unhi.ac.id/index.php/dharmasmrti/article/view/6642

Zulkifli, Z., & Fitria, R. P. W. (2023). Mitisisme pocong sebagai representasi arwah gentayangan (Studi tipologi Clifford Geertz). Ri'ayah: Jurnal Sosial dan Keagamaan, 8(2), 72–84. https://doi.org/10.32332/riayah.v8i2.7415

Downloads

Published

2026-08-26

How to Cite

Nopilah, S., Subroto, D. E., & Mahpudoh, M. (2026). SEMIOTIKA DALAM FILM PETAKA GUNUNG GEDE (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES). LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa Dan Sastra, 6(3), 342–355. https://doi.org/10.51878/language.v6i3.14814

Issue

Section

Articles

Similar Articles

1 2 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.

Most read articles by the same author(s)