ANALISIS NILAI KEARIFAN LOKAL MOTIF TENUN IKAT DI KECAMATAN LARANTUKA, KABUPATEN FLORES TIMUR

Authors

  • Yuliana Ose Sili Muda Makin Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka
  • Imelda Oliva Wissang Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka
  • Sirilus Karolus Keroponama Keban Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka

DOI:

https://doi.org/10.51878/language.v6i4.15873

Keywords:

Nilai, Kearifan Lokal, Motif, Tenun Ikat

Abstract

Traditional woven ikat fabrics of the Lamaholot community in Larantuka District are not merely textile crafts, but visual communication media embodying local wisdom values and communal cultural memory. This study aims to describe the visual sign structures and analyze the local wisdom values embedded within five ikat motifs across five administrative villages in Larantuka District, East Flores Regency. A descriptive qualitative method was employed based on Ferdinand de Saussure's semiotic framework, examining the dyadic relationship between the signifier and the signified. Primary data were gathered from ten key informants, comprising traditional weavers and customary elders, through participant observation, in-depth interviews, and photographic documentation conducted from February to April 2026. Data analysis integrated qualitative condensation techniques with structural semiotic interpretation. The findings revealed five predominant ikat motifs containing essential local wisdom values: (1) the ula age motif reflecting transcendental religiosity and respect for women's dignity, (2) the senerut motif articulating cultural continuity and social unity, (3) the mata burung motif embodying moral vigilance and visionary leadership, (4) the nuru wale motif demonstrating perseverance and life blessing, and (5) the belah ketupat motif representing cosmic order and social harmony.

ABSTRAK

Kain tenun ikat tradisional masyarakat Lamaholot di Kecamatan Larantuka bukan sekadar karya seni kriya tekstil, melainkan media komunikasi visual yang merekam nilai kearifan lokal dan memori kebudayaan komunal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur tanda visual serta mengurai nilai kearifan lokal pada lima motif tenun ikat di lima kelurahan dan desa di Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis kerangka semiotika Ferdinand de Saussure yang membedah relasi antara penanda (signifier) dan petanda (signified). Data primer dihimpun dari sepuluh informan kunci yang terdiri atas penenun tradisional dan tetua adat melalui teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi visual pada Februari hingga April 2026. Analisis data dilakukan dengan memadukan teknik kondensasi data kualitatif dan interpretasi semiotika tanda visual. Hasil penelitian menunjukkan lima motif utama tenun ikat yang memuat nilai kearifan lokal: (1) motif ula age yang merefleksikan nilai religiositas transendental dan penghormatan terhadap martabat perempuan, (2) motif senerut yang mengartikulasikan nilai kesinambungan adat dan persatuan sosial, (3) motif mata burung yang mencerminkan nilai kewaspadaan moral dan kepemimpinan visioner, (4) motif nuru wale yang memuat nilai ketekunan ikhtiar dan keberkahan hidup, serta (5) motif belah ketupat yang merepresentasikan keteraturan kosmis dan keselarasan hubungan sosial.

 

 

Downloads

Download data is not yet available.

References

Anwar, H., Mualimin, M., Fauzan, F. R., Alkadri, A., Mukarom, Z., & Zakariya, A. M. (2022). Islam and traditional fabrics: Symbolic da’wah in Sambas Malay weaving motifs, West Kalimantan. Jurnal Dakwah Risalah, 33(2), Article 92. https://doi.org/10.24014/jdr.v33i2.19570

Arikunto, S. (2019). Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktik. Rineka Cipta.

Basrowi. (2021). Memahami metode penelitian kualitatif. PT Rineka Cipta.

Berbara, E., Wahab, M. I., & Aswim, D. (2024). Menggali makna motif tenun ikat dalam hubungan dengan perilaku sosial masyarakat di Desa Sikka Kecamatan Lela Kabupaten Sikka. Prosiding Seminar Nasional Teknologi, Kearifan Lokal dan Pendidikan Transformatif, 1(2), 516–526. https://doi.org/10.12928/sntekad.v1i2.15930

Bungin, B. (2020). Post-qualitative social research methods. Prenada Media Group.

Djaba, A. K., & Sungkawati, E. (2025). Tenun ikat Ende: Warisan lestari untuk anak bangsa. Qriset Indonesia.

Fauzi, L. M., Hayati, N., Satriawan, R., & Fahrurrozi, F. (2023). Perceptions of geometry and cultural values on traditional woven fabric motifs of the Sasak people. Jurnal Elemen, 9(1), 153–167. https://doi.org/10.29408/jel.v9i1.6873

Fitriansal, F., & Sari, N. (2025). Kosmologis dalam tenun lipa’ sa’be Bugis perspektif grounded theory. DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 5(4), 5486–5495. https://doi.org/10.53769/deiktis.v5i4.2715

Ginting, L. D. C. U., Dalimunthe, A. Q., & Nasution, K. R. S. (2026). From batik to canvas: Theological symbolism and local wisdom in Indonesian Islamic visual arts. Pharos Journal of Theology, 107(3), Article 3015. https://doi.org/10.46222/pharosjot.107.3015

Herdiansyah, H. (2019). Metodologi penelitian kualitatif untuk ilmu-ilmu sosial. Salemba Humanika.

Koentjaraningrat. (2000). Kebudayaan, mentalitas dan pembangunan. Gramedia Pustaka Utama.

Lomboan, A. (2021). Makna tenun ikat dalam kehidupan masyarakat Lamaholot. Jurnal Kebudayaan dan Seni, 4(2), 115–128. https://doi.org/10.31004/jks.v4i2.1450

Majid, A., & Dina, W. (2023). Cultural studies and symbolism of tapis cloth motifs in the culture of Lampung people. Enigma in Cultural, 1(1), 1–4. https://doi.org/10.61996/cultural.v1i1.16

Mau, L. T. (2025). Wearing the cloth of kain tenun tais: A gender differentiation and status symbol of the Bunaq ethnic group in West Timor-Indonesia. Journal of Social Research, 4(8), 2217–2224. https://doi.org/10.55324/josr.v4i8.2743

Moleong, L. J. (2021). Metodologi penelitian kualitatif. PT Remaja Rosdakarya.

Mulyana, D. (2020). Komunikasi budaya: Makna dan simbol dalam masyarakat tradisional. Remaja Rosdakarya.

Nugraha, R. K., Novandi, T., Wardhana, W. A., Sembodho, G. B., & Santoso, S. (2022). Analisis strategi pengembangan kain tenun ikat Sumba oleh pelaku kriya dan komunitas. Jurnal Pengabdian Seni, 3(1), 73–82. https://doi.org/10.24821/jps.v3i1.5233

Nusantari, O. V. A., Fitriasari, R. P. D., & Gustami, S. P. G. (2025). Cultural materialism and aesthetic analysis of ikat-woven sarong production in Parengan Village, Lamongan, East Java. Mudra: Jurnal Seni Budaya, 40(4), 330–345. https://doi.org/10.31091/mudra.v40i4.2998

Prasetyo, A. (2021). Estetika dan spiritualitas tenun nusantara. Gramedia Pustaka Utama.

Rahmawati, S., & Yuliawati, F. (2022). Kearifan lokal dalam motif tenun tradisional Nusa Tenggara Timur. Jurnal Kajian Budaya Indonesia, 10(1), 45–60. https://doi.org/10.31004/jkbi.v10i1.1892

Ratnasari, W. P. (2023). Industri budaya dan komoditas (studi kasus tenun tradisional Nusa Tenggara Barat sebagai komoditas dan seni dalam kerangka budaya dan religi). Jurnal Kommunity Online, 3(2), 201–218. https://doi.org/10.15408/jko.v3i2.31027

Sartini, N. W. (2019). Menggali kearifan lokal nusantara: Sebuah kajian budaya. Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra, 14(2), 88–101. https://doi.org/10.24036/jibs.v14i2.1205

Setyawati, I. (2021). Kebudayaan dan kearifan lokal di Indonesia. PT Rajawali Pers.

Sibarani, R. (2018). Kearifan lokal: Hakikat, peran, dan metode tradisi lisan. Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).

Sobur, A. (2020). Semiotika komunikasi. PT Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.

Sunardi, S. (2021). Semiotika negatif. Kanal.

Susanto, H. (2023). Nilai-nilai kearifan lokal dalam masyarakat tradisional. Alfabeta.

Uran, B. E. K., Mudmainna, M., Titu, M. A., & Masi, R. (2025). Motif dan proses pembuatan kewatek pada Desa Bantala Kecamatan Lewolema Kabupaten Flores Timur. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah, 4(10), 2623–2635. https://doi.org/10.55681/sentri.v4i10.4697

Wagiran. (2020). Etnopedagogi: Menggali nilai-nilai kearifan lokal dalam pendidikan. Prenada Media.

Weo, N. A., Selan, R. N., Manu, A. K. A., Manu, S. O., & Fathurrahmaniah, F. (2025). Digitizing cultural heritage: Augmented reality for education and visualization of local wisdom in ikat woven fashion. Abdi Masyarakat, 7(2), Article 428. https://doi.org/10.58258/abdi.v7i2.9876

Widiastuti, N. (2022). Simbolisme kain tenun di wilayah Indonesia Timur. Jurnal Antropologi Sosial-Budaya, 7(3), 202–218. https://doi.org/10.31004/jasb.v7i3.2140

Witin, H. O. (2023). Pelestarian tenun ikat Lamaholot melalui pendidikan budaya lokal. Penerbit Buku Pendidikan.

Downloads

Published

2026-10-08

How to Cite

Makin, Y. O. S. M., Wissang, I. O., & Keban, S. K. K. (2026). ANALISIS NILAI KEARIFAN LOKAL MOTIF TENUN IKAT DI KECAMATAN LARANTUKA, KABUPATEN FLORES TIMUR. LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa Dan Sastra, 6(4), 493–503. https://doi.org/10.51878/language.v6i4.15873

Issue

Section

Articles

Similar Articles

1 2 3 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.