ANALISIS BENTUK DAN MAKNA SIMBOLIK RITUAL ADAT DOPE KEROME DI DESA NIMUN DANIBAO KECAMATAN ADONARA BARAT

Authors

  • Blasius Brahang Ola Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka
  • Imelda Oliva Wissang Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka
  • Yoakim Yolanda Mario Leu Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka

DOI:

https://doi.org/10.51878/language.v6i4.15872

Keywords:

Bentuk Dan Makna Simbolik, Ritual Adat, Dope Kerome

Abstract

This study aims to identify the material forms and analyze the symbolic meanings and pragmatic functions of signs in the Dope Kerome traditional ritual in Nimun Danibao Village, West Adonara District, East Flores Regency. Employing a qualitative descriptive method within Charles Sanders Peirce's triadic semiotic framework, this study examines the relational dynamics among representamen, object, and interpretant. The research data were gathered from four key informants—clan chiefs, customary elders, women figures, and youth leaders—utilizing participatory observation, structured in-depth interviews, audio-visual recordings, and field notes. The findings indicate that the Dope Kerome ritual incorporates eight primary symbolic instruments: kerome (rat), tuak bur’a (white palm wine), manuk eket (rooster offering), manuk tel’u (chicken egg), manuk an’a (chick), witi (goat), wata bit’i (titi corn), and ketupat. Semiotic analysis reveals that these signs are polarized into two fundamental cultural functions: ecological reconciliation to restore agrarian balance from pest infestations and social integration that reaffirms historical genealogical alliances between Nimun Danibao Village and Basiduk Hamlet. Consequently, the Dope Kerome ritual embodies an indigenous agrarian worldview vital for sustaining communal solidarity and rural ecological equilibrium.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi wujud bentuk material serta menganalisis makna simbolik dan fungsi pragmatis tanda dalam ritual adat Dope Kerome di Desa Nimun Danibao, Kecamatan Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kerangka semiotika triadik Charles Sanders Peirce untuk membedah relasi tanda antara representamen, object, dan interpretant. Data penelitian bersumber dari peristiwa tutur dan material ritual yang dihimpun dari empat informan kunci (kepala suku, pemangku adat, tokoh perempuan, dan tokoh pemuda) melalui teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam terstruktur, rekaman audio-visual, dan pencatatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Dope Kerome mengintegrasikan delapan instrumen simbolik utama, yaitu: kerome (tikus), tuak bur’a (tuak putih), manuk eket (ayam jantan sesajian), manuk tel’u (telur ayam), manuk an’a (anak ayam), witi (kambing), wata bit’i (jagung titi), dan ketupat. Analisis semiotika membuktikan bahwa tanda-tanda tersebut terpolarisasi ke dalam dua fungsi kultural fundamental, yakni fungsi rekonsiliasi ekologis berupa pemulihan keseimbangan alam dari serangan hama pertanian dan fungsi integrasi sosial yang mempererat aliansi genealogis antara masyarakat Desa Nimun Danibao dengan masyarakat Kampung Basiduk. Oleh karena itu, ritual Dope Kerome merepresentasikan kearifan lokal agraris yang berperan penting dalam merawat solidaritas komunal dan kelestarian ekosistem pedesaan.

 

 

Downloads

Download data is not yet available.

References

Alexander, M. (2020). Pemaknaan simbol representasional lintas agama: Sebuah upaya merumuskan alur rekursif imposisi makna simbol. Jurnal Filsafat, 30(2), 211–233. https://doi.org/10.22146/jf.54457

Ariefianty, I., & Hoerudin, A. (2026). Nilai budaya dan spiritual upacara adat Mapag Tamu Agung di Perguruan Silat Sang Maung Bodas Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath Kota Sukabumi. Journal of Islamic Social Innovation and Empowerment, 1(2), 1–8. https://doi.org/10.65803/435c1r69

Asikin, A. (2021). Social cohesion of local wisdom for plural communities. International Journal Ihya’ ‘Ulum al-Din, 23(2), 210–223. https://doi.org/10.21580/ihya.23.2.8261

Creswell, J. W. (2018). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (edisi ke-5). SAGE Publications.

Ericha, F., & Rahardi, R. K. (2023). Preservasi nilai-nilai kearifan lokal dalam mantra Dayak Bakati pada tradisi Barape Sawa: Kajian antropolinguistik (The preservation of local values in the ritual spell of Barape Sawa Dayak Bakati: An antropolinguistic study). Indonesian Language Education and Literature, 9(1), 194–206. https://doi.org/10.24235/ileal.v9i1.13444

Ernawati, E., & Khotimah, K. (2025). Membaca makna di balik desain uang kertas rupiah emisi 2022: Kajian semiotika melalui perspektif Charles Sanders Peirce. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Bahasa, 4(1), 112–124. https://doi.org/10.55606/jurribah.v4i1.3540

Filiandany, R. (2017). Budaya sebagai identitas daerah. Rajawali Pers.

Geertz, C. (2017). The interpretation of cultures. Basic Books.

Grimes, R. L. (2019). Ritual studies. Oxford University Press.

Handle, R. (2020). Ritual and cultural construction in society. Routledge.

Haqi, A. M., & Khusyairi, J. A. (2025). Analisis semiotik Roland Barthes terhadap simbol budaya Palestina di ruang publik digital: Semangka, pohon zaitun, dan kunci. Metahumaniora, 15(1), 22–31. https://doi.org/10.24198/metahumaniora.v15i1.61767

Harun, H., Iswatiningsih, D., & Lisna, L. (2026). Ritual Cucurangi Togo Lasalimu sebagai sumber pembelajaran berbasis kearifan lokal. MANAJERIAL: Jurnal Inovasi Manajemen dan Supervisi Pendidikan, 6(2), 684–696. https://doi.org/10.51878/manajerial.v6i2.11758

Ibadiyah, I., Ramdhani, S., & Maimun, M. H. (2023). Symbolic interactionism in Ngupati tradition: Living Qur’an studies in Cirebon. Jurnal Studi Sosial Keagamaan Syekh Nurjati, 3(1), 93–111. https://doi.org/10.24235/sejati.v3i1.58

Isdwiyanti, D., Naqiyah, N., & Khusumadewi, A. (2026). Makna tradisi Ruwah Desa bagi pengembangan konseling multibudaya. LEARNING: Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran, 6(1), 405–414. https://doi.org/10.51878/learning.v6i1.9350

Kariana, I. N. P. (2025). Dimensi filsafat komunikasi Hindu dan moderasi beragama dalam ritual Melukat di Desa Suranadi. MUKASI: Jurnal Ilmu Komunikasi, 4(3), 1028–1043. https://doi.org/10.54259/mukasi.v4i3.5176

Kenoba, M. O., & Bala, A. (2021). Praksis konservasi alam pada etnis Lamaholot: Paradigma eco-religi. Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya, 15(2), 291–304. https://doi.org/10.17977/um020v15i22021p291-304

Koentjaraningrat. (2015). Pengantar ilmu antropologi. Rineka Cipta.

Kress, G. (2017). Multimodality: A social semiotic approach to contemporary communication. Routledge.

Laksono, Y. T. (2021). Communication and ritual on jaranan pogogan: The semiotics of performing arts. Jurnal Studi Komunikasi (Indonesian Journal of Communications Studies), 5(2), 493–508. https://doi.org/10.25139/jsk.v5i2.3061

Maftukha, M. (2022). Building interfaith solidarity during the COVID-19 pandemic through celebration of Muslim and Christian religious holidays in Indonesia. Jurnal Sosiologi Reflektif, 16(2), 239–262. https://doi.org/10.14421/jsr.v16i2.2349

Marif, H. (2025). Semiosis akulturasi Islam dan budaya Jawa dalam tradisi menggantung kupatan pada bulan Syawal. Millatuna: Jurnal Studi Islam, 2(2), 49–62. https://doi.org/10.33752/mjsi.v2i02.8508

Matradewi, N. K. W., Judijanto, L., Anggreni, M. A., Fahruddin, F., & Saefudin, A. (2025). Ethnolinguistic dimensions of the Korolele ceremony: Ritual language for character education. Journal of Innovation in Educational and Cultural Research, 6(1), 25–32. https://doi.org/10.46843/jiecr.v6i1.2083

Miles, M. B., & Huberman, A. M. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (edisi ke-3, T. Rohendi, Penerj.). Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).

Moleong, L. J. (2018). Metodologi penelitian kualitatif (Edisi revisi). PT Remaja Rosdakarya.

Najoan, S. J., Runtuwene, M., & Dariwu, C. T. (2026). Makna simbolik elemen arsitektur gereja: Kajian visual pada Gereja GMIM Sion Tomohon. CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan, 6(1), 453–466. https://doi.org/10.51878/cendekia.v6i1.8878

Nordin, M. A., Che Cob, S. A., & Ciding, M. I. (2026). Tafsiran budaya dan estetika: Menggali simbolisme dalam konteks budaya menurut Clifford Geertz. KUPAS SENI: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni, 14(1), 9–21. https://doi.org/10.37134/kupasseni.vol14.1.2.2026

Nur, R. J., Wildan, D., & Komariah, S. (2023). Kekuatan budaya lokal: Menjelajahi 3S (Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge’) sebagai simbol kearifan lokal. MIMESIS, 4(2), 166–179. https://doi.org/10.12928/mms.v4i2.8105

Niman, E. M., Tapung, M. M., Ntelok, Z. R. E., & Darong, H. C. (2023). Kearifan lokal dan upaya pelestarian lingkungan air: Studi etnografi masyarakat adat Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur. Paradigma: Jurnal Kajian Budaya, 13(1), 1–16. https://doi.org/10.17510/paradigma.v13i1.1160

Peirce, C. S. (1958). Collected papers of Charles Sanders Peirce. Harvard University Press.

Pramada, I. G. Y., Mariasa, I. N., & Trisakti, T. (2022). Implementasi ajaran Tri Hita Karana pada ritual Aci Sanghyang Grodog di Desa Lembongan Klungkung Bali. Panggung, 32(2), 215–228. https://doi.org/10.26742/panggung.v32i2.1712

Prasetyo, S. F. (2023). Harmony of nature and culture: Symbolism and environmental education in ritual. Journal of Contemporary Rituals and Traditions, 1(2), 67–76. https://doi.org/10.15575/jcrt.361

Qiptiyah, T. M., Arifin, Z., & Rizal, S. (2025). Internalization of the values of tolerance and togetherness in the practice of the Rebo Wekasan tradition. Proceedings of Annual Conference for Muslim Scholars, 9(1), 1162–1172. https://doi.org/10.36835/ancoms.v9i1.768

Rahman, A. M. A., Faizah, Ummah, A. H., Perwira, R., & Erlandy, T. D. (2025). Symbolic communication in the Bettulak ritual: Harmony between local beliefs and epidemic prevention strategies in Lendang Ara Village. Penamas, 38(2), 235–249. https://doi.org/10.31330/penamas.v38i2.950

Rahmadani, D., Marzuki, M., Bakari, Y., & Muzakkir, A. K. (2024). The participation of the Kaili indigenous people and the Bugis ethnicity in preserving the Kupatan ritual of the Java ethnicity. SIGn Journal of Social Science, 4(2), 87–99. https://doi.org/10.37276/sjss.v4i2.335

Ricoeur, P. (2017). The symbolism of evil. Beacon Press.

Slamet, D., Narawati, T., & Budiman, A. (2025). The heroism value in Totokng dance at the Nurutni’ ceremony Dayak Salako community in West Kalimantan. Mudra: Jurnal Seni Budaya, 40(4), 293–311. https://doi.org/10.31091/mudra.v40i4.2950

Smith, L. (2019). Heritage, communities and archaeology. Bloomsbury.

Sobur, A. (2018). Semiotika komunikasi. PT Remaja Rosdakarya.

Souisa, E. V., & Kissya, V. (2025). Simbol, solidaritas, dan memori kolektif: Perspektif komunikasi budaya pada ritual Obor Pattimura di Tuhaha, Maluku Tengah. Populis: Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 19(2), 200–212. https://doi.org/10.30598/populis.19.2.200-212

Sugiyono. (2019). Metode penelitian kualitatif. Alfabeta.

Tsing, A. L. (2021). The mushroom at the end of the world: On the possibility of life in capitalist ruins. Princeton University Press.

Downloads

Published

2026-10-08

How to Cite

Ola, B. B., Wissang, I. O., & Leu, Y. Y. M. (2026). ANALISIS BENTUK DAN MAKNA SIMBOLIK RITUAL ADAT DOPE KEROME DI DESA NIMUN DANIBAO KECAMATAN ADONARA BARAT. LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa Dan Sastra, 6(4), 469–481. https://doi.org/10.51878/language.v6i4.15872

Issue

Section

Articles

Similar Articles

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.