ANALISIS KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA KAUM MILENIAL DI MEDIA SOSIAL FACEBOOK: KAJIAN PRAGMATIK

Authors

  • Fransiska Yen Tuto Lolon Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka
  • Sirilus K Keroponama Keban Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka
  • Pilipus Wai Lawet Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka

DOI:

https://doi.org/10.51878/language.v6i4.15871

Keywords:

ketidaksantunan, berbahasa, kaum milenial, media sosial, facebook

Abstract

 

Freedom of expression in digital environments frequently triggers a shift in communication ethics, resulting in widespread language impoliteness on social media platforms. This pragmatic gap is evident in millennial interactions that often neglect the face needs of interlocutors when discussing regional social issues. This study aims to describe linguistic forms, classify impoliteness strategies based on Jonathan Culpeper's framework, and analyze pragmatic meanings within millennial Facebook comments. A descriptive qualitative approach utilizing the pragmatic identity method was applied to 45 comment utterances gathered from January to March 2026 within the Suara Flotim public Facebook group. Data were collected using observation, note-taking, and digital archiving techniques targeting users aged 28–43 years, cross-validated by two pragmaticians. The results revealed all five of Culpeper's impoliteness strategies: positive impoliteness with 18 data (40.00%), bald on record impoliteness with 11 data (24.44%), sarcasm or mock politeness with 8 data (17.78%), negative impoliteness with 5 data (11.11%), and withhold politeness with 3 data (6.67%). The predominant strategy was positive impoliteness, materialized through lexical cursing, personal insults, and pejorative metaphors designed to damage the hearer's positive face. These findings indicate a significant decline in face-saving awareness in online discourse, highlighting the urgent need for structured digital literacy among the younger generation.

 

ABSTRAK

Kebebasan berpendapat di ruang digital sering kali memicu pergeseran etika komunikasi yang berujung pada maraknya tindak ketidaksantunan berbahasa di media sosial. Kesenjangan pragmatik ini tampak pada interaksi kaum milenial yang kerap mengabaikan pemeliharaan muka mitra tutur saat mendiskusikan isu-isu sosial kemasyarakatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk linguistik, mengklasifikasikan strategi ketidaksantunan berbahasa berdasarkan kerangka teori Jonathan Culpeper, serta menganalisis makna pragmatiknya dalam komentar akun Facebook kaum milenial. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode padan pragmatis terhadap 45 tuturan komentar yang dikumpulkan pada periode Januari hingga Maret 2026 dari grup publik Facebook Suara Flotim. Data dijaring melalui teknik simak, catat, dan tangkapan layar dengan kriteria penutur berusia 28–43 tahun yang divalidasi oleh dua orang ahli pragmatik. Hasil penelitian menunjukkan ditemukannya kelima strategi ketidaksantunan berbahasa Culpeper dengan sebaran: positive impoliteness sebanyak 18 data (40,00%), bald on record impoliteness sebanyak 11 data (24,44%), sarcasm or mock politeness sebanyak 8 data (17,78%), negative impoliteness sebanyak 5 data (11,11%), dan withhold politeness sebanyak 3 data (6,67%). Strategi yang paling dominan digunakan adalah positive impoliteness yang berwujud makian leksikal, hinaan personal, dan penggunaan metafora peyoratif untuk merusak citra sosial lawan tutur. Temuan ini mengindikasikan merosotnya kepedulian menjaga muka (face-saving) dalam komunikasi daring, sehingga diperlukan edukasi literasi digital yang terstruktur bagi generasi muda.

 

 

Downloads

Download data is not yet available.

References

Aulia, L. A., Lubis, N. A., Siagian, R. E., Lumbanraja, R. S. R., Etami, W., Khairani, I., & Ghafari, M. O. F. (2025). Sarkasme dan ketidaksantunan verbal dalam tren ‘asbun’ komentar TikTok @Puttriipaddang. CARONG: Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora, 2(2), 853–860. https://doi.org/10.62710/79m7zr77

Avalle, M., Marco, N. D., Etta, G., Sangiorgio, E., Alipour, S., Bonetti, A., Alvisi, L., Scala, A., Baronchelli, A., Cinelli, M., & Quattrociocchi, W. (2024). Persistent interaction patterns across social media platforms and over time. Nature, 628(8008), 582–589. https://doi.org/10.1038/s41586-024-07229-y

Azmi, A. U., & Prayitno, H. J. (2024). Wacana digital struktur konversasi video YouTube wawancara eksklusif eks konsorsium judi program AIMAN. Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra, 10(2), 1643–1672. https://doi.org/10.30605/onoma.v10i2.3562

Basri, M. S., Safitri, H., & Hakim, M. (2021). Kesantunan berbahasa: Studi pada pembelajaran daring. Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra, 7(1), 242–248. https://doi.org/10.30605/onoma.v7i1.625

Culpeper, J., & Haugh, M. (2021). The metalinguistics of offence in (British) English: A corpus-based metapragmatic approach. Journal of Language Aggression and Conflict, 9(1), 1–25. https://doi.org/10.1075/jlac.00045.cul

Culpeper, J., & Tantucci, V. (2021). The principle of (im)politeness reciprocity. Journal of Pragmatics, 175, 146–164. https://doi.org/10.1016/j.pragma.2021.01.008

Damayanti, Y., & Rahardi, R. K. (2025). Ketidaksantunan berbahasa pada generasi milenial dalam platform media sosial Instagram dalam perspektif Jonathan Culpeper. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 8(1), 17–36. https://doi.org/10.21831/jpbsi.v8i1.18920

Din, T., & Niron, Y. M. L. (2025). Hate speech “Jokowi the enemy of democracy”: A forensic linguistics study. Perinatal Journal, 33(1), Article 3310095. https://doi.org/10.57239/prn.25.03310095

Fatmawati, R. N. (2026). Kesantunan dan ketidaksantunan berbahasa di media sosial: Refleksi budaya siber. Journal of Language Education, Linguistics, and Culture (J-LELC), 6(1), 83–95. https://doi.org/10.51878/jlelc.v6i1.1450

Gvili, Y. (2020). Pragmatics of digital interaction: Contextual cues and virtual communications. Journal of Computer-Mediated Communication, 25(3), 198–214. https://doi.org/10.1093/jcmc/zmaa004

Hasrullah, H., & Riyadi, R. (2026). Digital firestorms and riot escalation in multilingual democracies: Algorithmic exposure and communicative mechanisms in the Makassar and Kathmandu protests. Frontiers in Political Science, 8, Article 1785438. https://doi.org/10.3389/fpos.2026.1785438

Jeffry, M. A. F., Mansor, N. S., & Omar, S. Z. (2023). Strategi ketidaksantunan bahasa dalam kalangan komunitas Facebook di Malaysia. Prasasti: Journal of Linguistics, 8(2), Article 207. https://doi.org/10.20961/prasasti.v8i2.49488

Lawet, P. W., Keban, S. K. K., & Niga, V. (2024). Analisis dampak ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap budaya menenun perempuan milenial Lamaholot. Journal of Social Science Research, 4(1), 12750–12758. https://doi.org/10.31004/jssr.v4i1.8912

Mailani, O., Nuraeni, I., Syakila, S. A., & Lazuardi, J. (2022). Bahasa sebagai alat komunikasi dalam kehidupan manusia. KAMPRET Journal, 1(2), 1–10. https://doi.org/10.31004/kampret.v1i2.2140

Malikha, U. (2025). Fenomena perubahan etika berbahasa remaja dalam komentar TikTok: Analisis pragmatik kritis. KLAUSA (Kajian Linguistik, Pembelajaran Bahasa, dan Sastra), 9(2), 56–66. https://doi.org/10.33479/klausa.v9i2.1334

Martahadi, F., & Alfalah, S. (2025). Relasi kuasa dan emosi politik di media sosial: Sintesis psikologi sosial dan kajian wacana. PERSEPTIF: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 3(2), 77–85. https://doi.org/10.70716/perseptif.v3i2.439

Pasaribu, S., Marchella, Y., Dywanti, R. D., Ardiansyah, R., & Meisuri, M. (2025). Analysis of impoliteness strategies in YouTube comment sections. Jurnal Sadewa: Publikasi Ilmu Pendidikan, Pembelajaran dan Ilmu Sosial, 3(3), 235–247. https://doi.org/10.61132/sadewa.v3i3.2028

Pendri, M., Rafli, S. H., & Hartati, N. (2026). Patterns of verbal aggression on social media platform X in Indonesia: A thematic analysis of user motivations and emotional responses. IJIP: Indonesian Journal of Islamic Psychology, 7(2), 245–264. https://doi.org/10.18326/ijip.v7i2.6169

Poernomo, K. N., Natarya, R., & Badry, M. A. A. N. (2025). Pemanfaatan media sosial sebagai inovasi media pembelajaran bahasa Indonesia di era digital. Narasi: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya, 3(1), 24–39. https://doi.org/10.30762/narasi.v3i1.5215

Prayogi, R., Prasetya, R. A., & Riadi, B. (2021). Pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa dalam komunikasi generasi milenial. Jurnal Kata: Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya, 9(1), 45–56. https://doi.org/10.23960/kata.v9.i1.202104

Rahardi, R. K. (2019). Pragmatic perspective on phatic functions and language dignity. International Journal of Engineering and Advanced Technology (IJEAT), 8(5), 261–269. https://doi.org/10.35940/ijeat.E1039.0585C19

Rikha, R., Rachim, P., & Estriana, V. (2025). Komunikasi digital dan dinamika bahasa siber. PT Mustika Sri Rosadi.

Saifudin, A. (2021). Kesantunan bahasa dalam studi linguistik pragmatik. LITE: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya, 16(2), 135–159. https://doi.org/10.33633/lite.v16i2.4107

Saragi, C. N., Silalahi, D. P., Hasibuan, N., & Saragih, R. B. (2026). Digital impoliteness strategies in response to Finance Minister Purbaya’s assertions on the high-speed Whoosh project: A pragmatic analysis. Journal of Languages and Language Teaching, 14(1), 322–332. https://doi.org/10.33394/jollt.v14i1.18410

Šari?, L. (2022). Impoliteness strategies in Croatian and Serbian user comments on online news articles. Jezikoslovlje, 23(1), 1–34. https://doi.org/10.29162/jez.2022.1

Siregar, R. A., & Kuntarto, E. (2021). Tindak tutur ekspresif dalam meme Twitter sebagai bahan ajar siswa: Suatu kajian pragmatik. Journal of Linguistics, 6(2), 226–238. https://doi.org/10.31004/linguistics.v6i2.1892

Škori?, M. M., Zhu, Q., Koç-Michalska, K., Boulianne, S., & Bimber, B. (2021). Selective avoidance on social media: A comparative study of Western democracies. Social Science Computer Review, 40(5), 1241–1258. https://doi.org/10.1177/08944393211005468

Subyantoro, S., & Apriyanto, S. (2020). Impoliteness in Indonesian language hate speech on social media contained in the Instagram account. Journal of Advances in Linguistics, 11, 36–46. https://doi.org/10.24297/jal.v11i.8655

Tahir, I., & Ramadhan, M. G. F. (2024). Hate speech on social media: Indonesian netizens’ hate comments of presidential talk shows on YouTube. LLT Journal: A Journal on Language and Language Teaching, 27(1), 230–251. https://doi.org/10.24071/llt.v27i1.8180

Vani, M. A., & Sabardila, A. (2020a). Ketidaksantunan berbahasa generasi milenial dalam media sosial Twitter. Pena Literasi, 3(2), 90–101. https://doi.org/10.24853/pl.3.2.90-101

Vani, M. A., & Sabardila, A. (2020b). Ketidaksantunan berbahasa generasi milenial pada media sosial: Studi kajian pragmatik. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 9(2), 90–101. https://doi.org/10.21831/jpbsi.v9i2.14502

Zamzamy, M., & Aziz, M. T. (2024). Analisis pragmatik konteks siber: Implikasi untuk pengajaran dan etika komunikasi. Jambura Elementary Education Journal, 5(1), 21–29. https://doi.org/10.37411/jeej.v5i1.1890

Downloads

Published

2026-10-08

How to Cite

Lolon, F. Y. T., Keban, S. K. K., & Lawet, P. W. (2026). ANALISIS KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA KAUM MILENIAL DI MEDIA SOSIAL FACEBOOK: KAJIAN PRAGMATIK. LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa Dan Sastra, 6(4), 544–553. https://doi.org/10.51878/language.v6i4.15871

Issue

Section

Articles

Similar Articles

1 2 3 4 5 6 7 8 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.