KAPASITAS KELEMBAGAAN PEMERINTAH DAERAH DALAM MENANGANI KEKERASAN SEKSUAL DIGITAL TERHADAP PEREMPUAN
DOI:
https://doi.org/10.51878/social.v6i3.13653Keywords:
Kapasitas Kelembagaan, Kekerasan Seksual Digital, Online Gender-Based Violence (OGBV)Abstract
ABSTRACT
Online Gender-Based Violence (OGBV) has become one of the fastest-growing forms of gender-based violence alongside the rapid expansion of digital technology and social media use. This phenomenon poses significant challenges for local governments in delivering responsive, integrated, and adaptive protection services for women. Although Indonesia has established legal frameworks to address sexual violence, studies examining the institutional capacity of local governments in responding to digital sexual violence at the local level remain limited. This study aims to analyze the institutional capacity of local governments in addressing digital sexual violence against women in Gunungkidul Regency by focusing on four key dimensions: resources, governance, cross-sectoral coordination, and institutional adaptive capacity. A qualitative descriptive approach was employed. Data were collected through in-depth interviews, observations, and document analysis conducted at the Regional Technical Implementation Unit for the Protection of Women and Children (UPTD PPA) of Gunungkidul Regency and relevant stakeholder institutions. The data were analyzed using the Miles and Huberman interactive model, while source triangulation was applied to ensure data credibility. The findings reveal that institutional capacity has been established through the availability of human resources, governance mechanisms aligned with existing regulations, inter-agency coordination, and the utilization of digital technology in service delivery. However, several challenges remain, including uneven staff competencies in managing electronic evidence, the need to strengthen procedures for handling digital violence cases, improving personal data protection, and enhancing cross-sectoral coordination. These findings demonstrate that the effectiveness of responses to digital sexual violence depends not only on the existence of legal regulations but also on the ability of local government institutions to develop integrated, responsive, and adaptive governance in line with the evolving digital environment.
ABSTRAK
Kekerasan seksual digital atau Online Gender-Based Violence (OGBV) menjadi salah satu bentuk kekerasan berbasis gender yang mengalami peningkatan seiring berkembangnya pemanfaatan teknologi digital dan media sosial. Kondisi tersebut menuntut pemerintah daerah memiliki kapasitas kelembagaan yang mampu memberikan perlindungan secara cepat, terpadu, dan adaptif terhadap kebutuhan korban. Penelitian ini bertujuan menganalisis kapasitas kelembagaan pemerintah daerah dalam penanganan kekerasan seksual digital terhadap perempuan di Kabupaten Gunungkidul dengan menitikberatkan pada dimensi sumber daya, tata kelola, koordinasi lintas sektor, dan kapasitas adaptif lembaga. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi di Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kabupaten Gunungkidul serta instansi terkait, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dengan pengujian keabsahan melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas kelembagaan telah terbentuk melalui dukungan sumber daya manusia, prosedur layanan yang mengacu pada regulasi, koordinasi antarlembaga, dan pemanfaatan teknologi dalam pelayanan. Meskipun demikian, masih ditemukan beberapa kendala, antara lain belum meratanya kompetensi petugas dalam pengelolaan bukti elektronik, perlunya penguatan prosedur penanganan kasus digital, optimalisasi perlindungan data korban, serta peningkatan koordinasi lintas sektor. Temuan ini menegaskan bahwa efektivitas penanganan kekerasan seksual digital tidak hanya bergantung pada keberadaan regulasi, tetapi juga pada kapasitas kelembagaan yang terintegrasi, responsif, dan mampu beradaptasi terhadap dinamika perkembangan teknologi digital.
Downloads
References
Achmad, S. N. (2025). Responsivitas pelayanan publik di era digital: Evaluasi peran institusi dalam penanganan cyber sexual harassment: Studi kasus Grup Facebook "Fantasi Sedarah". Parlementer: Jurnal Studi Hukum dan Administrasi Publik, 2(2), 70–81. https://doi.org/10.62383/parlementer.v2i2.669
Aminulloh, M., Septiandika, V., & Maksin, M. (2026). Optimalisasi kapasitas dan kelembagaan daerah dalam menjawab tantangan pelayanan publik era digital (Studi kasus DPMPTSP Kota Probolinggo). Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora, 6(1), 10. https://doi.org/10.53697/iso.v6i1.3797
Ardhanariswari, R., Azzahro, F., Fauzan, M., Pamuji, K., & Murniati, T. (2026). Digital technology as a tool for fulfilling women's rights: A legal analysis of online gender-based violence (OGBV) within the framework of SDG 5. KnE Social Sciences, 11(1), 213–234. https://doi.org/10.18502/kss.v11i1.20610
Aviv, I., Gal, J., & Weiss?Gal, I. (2021). Institutional capacity for policy integration in multilevel system. Public Administration, 99(3), 454–468. https://doi.org/10.1111/padm.12726
Caterine, A., Adi, B., & Wahyu, D. (2022). Kebijakan penegakan hukum kekerasan berbasis gender online (KBGO): Studi urgensi pengesahan RUU PKS. Jurist-Diction, 5(1), 17. https://doi.org/10.20473/jd.v5i1.32869
Diputra, S. D. (2024). Tinjauan yuridis terhadap penerapan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual dalam kasus kekerasan berbasis digital di Indonesia. Jurnal Legalitas, 2(2), 83–92. https://doi.org/10.58819/jle.v2i2.168
Idwan, M., & Laia, A. (2026). Perlindungan hukum terhadap korban kekerasan seksual berbasis elektronik (KSBE) pasca sahnya UU TPKS. Jejak Digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2(4), 7904–7913. http://indojurnal.com/index.php/jejakdigital/article/view/4009
Juliana, F., & Lindawati, Y. I. (2026). Peran komunitas Gerakan Anti Kekerasan (GAK) dalam advokasi kekerasan berbasis online (KBGO). SOSIO EDUKASI: Jurnal Studi Masyarakat dan Pendidikan, 9(2), 46–56. https://e-journal.hamzanwadi.ac.id/index.php/sosedu/article/view/34515
Kasim, S. S., Satyadharma, M., Asis, P. H., & Wahiyuddin, L. O. (2025). Penguatan kepemimpinan digital di sektor pemerintahan dalam mendorong peningkatan layanan publik yang akuntabel, efisien dan efektif (Studi pada Kantor Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Provinsi Sulawesi Tenggara). The World of Public Administration Journal. https://doi.org/10.37950/wpaj.v7i1.2105
Klitzke, D. (2026). The family health strategy as a policy of the state: Trajectory, institutional capacity and the current primary health care agenda. Cadernos de Saúde Pública, 42, e00271325. https://www.scielosp.org/article/csp/2026.v42/e00271325/en/
LENAMAH, P. A., DJANI, W., & SAYRANI, L. P. (2025). Collaborative governance in handling cases of violence against women and children in Kupang City. International Journal of Environmental, Sustainability, and Social Science, 6(2), 361–376. https://doi.org/10.38142/ijesss.v6i2.1379
Lopushynskyi, I., & Krasii, M. (2025). Institutional capacity of local government. Public Management and Policy, (12(16)). https://doi.org/10.70651/3041-2498/2025.12.12
Mozin, S. Y., Pakaya, R., Anggraini, M., Amanda, N. M., Lestari, D. A., Sampara, M. P., & Lanio, A. H. (2025). Kelembagaan pemerintahan di era smart governance: Strategi reformasi menuju pelayanan publik berbasis teknologi. Jurnal Kolaboratif Sains, 8(11), 7218–7227. https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/JKS/article/view/9317
Nitha, F. A. L., Masyhar, A., Cholidin, A., Ilahi, M. R., & Bahriyah, A. Z. (2024). Optimalisasi implementasi UU TPKS: Tantangan dan solusi dalam upaya penghapusan kekerasan seksual di Indonesia. Masalah-Masalah Hukum, 53(1), 90–100. https://doi.org/10.14710/mmh.53.1.2024.90-100
Nugraha, N. E., & Anugraputri, S. T. (2022). Finding justice in cyberspace: The wickedness of online gender-based violence (GBV). Jurnal Wanita dan Keluarga, 3(1), 27–36. https://doi.org/10.22146/jwk.5203
Van Popering-Verkerk, J., Molenveld, A., Duijn, M., van Leeuwen, C., & Van Buuren, A. (2022). A framework for governance capacity: A broad perspective on steering efforts in society. Administration & Society, 54(9), 1767-1794. https://doi.org/10.1177/00953997211069932
Rahma, I. H. N., Apriyani, R., & Aripkah, N. (2025). Perlindungan hukum terhadap korban kasus non-consensual intimate images (NCII) dalam kekerasan berbasis gender online di Kota Samarinda. GOVERNANCE: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal dan Pembangunan, 12(1), 35–42. http://www.governance.lkispol.or.id/index.php/description/article/view/456
Siskasari, A., & Hermawati, I. (2025). Penguatan ketahanan keluarga melalui kolaborasi lintas sektor: Studi kasus di Kemantren Danurejan, Kota Yogyakarta. Journal of Indonesian Rural and Regional Government, 9(1), 32–41. https://doi.org/10.47431/jirreg.v9i1.636
Suryanti, M. S. D., & Muttaqin, M. Z. (2023). Online gender-based violence in Indonesian context: The shadow pandemic study. Violence and Gender, 10(3), 153–158. https://doi.org/10.1089/vio.2022.0057
Umayasari, U., & Amantha, G. K. (2025). Tata kelola penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Provinsi Lampung: Analisis multi-aspek terhadap data, kebijakan, dan implementasi (2018–2024). Jurnal Ilmu Politik dan Studi Sosial Terapan, 4(2), 236–243. https://www.jurnal.polstac.or.id/index.php/jiposster/article/view/50
Noor, A., & Magriasti, L. (2024). Collaborative governance dalam perlindungan kepada korban kekerasan seksual di Kota Padang. PUBLICNESS: Journal of Public Administration Studies, 3(3). https://doi.org/10.24036/publicness.v3i3.194
Widodo, F. L., & Astuti, R. S. (2024). Kapasitas kelembagaan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak dalam penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan di Jawa Tengah. Journal of Public Policy and Management Review, 14(3), 215–228. https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jppmr/article/view/53005
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.















