https://jurnalp4i.com/index.php/social/issue/feedSOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS2026-02-07T02:41:44+00:00Randi Pratama Murtikusuma, M.Pdrandi.popo@gmail.comOpen Journal Systems<p><strong>SOCIAL: Jurnal Inovasi Pendidikan IPS</strong> | <a href="https://sinta.kemdiktisaintek.go.id/journals/profile/12050"><strong>Terakreditasi Sinta 4 </strong></a>diterbitkan 4 kali setahun (Maret, Juni, September, dan Desember) oleh Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) yang berafiliasi dengan Perguruan Tinggi Indonesia. Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan IPS.<br /><strong>e-ISSN : </strong><strong>2797-8842 </strong><strong>| </strong><strong>p-ISSN :</strong> <strong>2797-9431</strong></p>https://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9200IMPLEMENTASI PENYETARAAN JABATAN DI PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA 2026-01-24T06:41:29+00:00Gupita Mar Attanisaagupitaattanisaa@gmail.comSugiyanto Sugiyantogupitaattanisaa@gmail.com<p>This study aims to examine the implementation of job reclassification as part of the bureaucratic simplification policy in the Government of Yogyakarta City. The national bureaucratic simplification policy, mandated through the Regulation of the Minister of Administrative and Bureaucratic Reform No. 25 of 2021 and the President’s instruction in 2019, requires changes in organizational structure, job adjustments, and work systems across government institutions, including the Yogyakarta City Government. This research employs a qualitative method with a descriptive approach through observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis is conducted using the model of Miles, Huberman, and Saldana, which includes data condensation, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that the implementation of job reclassification was carried out through three main stages: structural simplification, conversion of administrative positions into functional positions, and adjustments to a cross-sector team-based work system. The Yogyakarta City Government reclassified 177 officials in 2021 and continued the process in 2022 with an additional five officials. The study identifies several challenges, including the limited readiness of human resources, concerns about credit points, mismatch between technical competencies and job requirements, and worries related to income changes. Nevertheless, the reclassification also provides benefits such as improved organizational efficiency, faster decision-making, greater work system flexibility, and strengthened collaborative work culture. Overall, job reclassification in the Yogyakarta City Government has been carried out effectively and aligns with national bureaucratic reform objectives. However, further efforts are required to enhance ASN competencies, develop more accurate functional position planning, and strengthen the work system to ensure that the goals of bureaucratic simplification can be fully achieved.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi penyetaraan jabatan dalam rangka penyederhanaan birokrasi di Pemerintah Kota Yogyakarta. Kebijakan nasional penyederhanaan birokrasi yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 25 Tahun 2021 dan instruksi Presiden tahun 2019 menuntut perubahan struktur, penyesuaian jabatan, serta sistem kerja di berbagai instansi pemerintah, termasuk Pemerintah Kota Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui teknik observasi, wawancara mendalam, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana yang mencakup kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi penyetaraan jabatan dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yaitu penyederhanaan struktur organisasi, konversi jabatan administrasi menjadi jabatan fungsional, serta penyesuaian sistem kerja berbasis tim lintas bidang. Pemerintah Kota Yogyakarta menyetarakan 177 pejabat pada tahun 2021 dan melanjutkan proses tersebut pada tahun 2022 dengan tambahan lima pejabat. Penelitian menemukan beberapa hambatan seperti keterbatasan kesiapan sumber daya manusia, kecemasan terkait angka kredit, ketidaksesuaian kompetensi teknis, serta kekhawatiran tentang pendapatan. Meskipun demikian, penyetaraan jabatan juga memberikan manfaat berupa peningkatan efisiensi kerja, percepatan proses pengambilan keputusan, fleksibilitas sistem kerja, dan penguatan budaya kolaboratif. Secara keseluruhan, penyetaraan jabatan di Pemerintah Kota Yogyakarta telah berjalan cukup baik dan selaras dengan arah reformasi birokrasi nasional. Namun masih diperlukan peningkatan kompetensi ASN, perencanaan formasi jabatan fungsional yang lebih matang, serta penguatan sistem kerja agar tujuan penyederhanaan birokrasi dapat tercapai secara optimal.</p>2026-01-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9390TRADISI ADOK SEBAGAI WUJUD ESTETIKA BUDAYA DALAM ADAT PERNIKAHAN 2026-02-07T02:26:09+00:00Engracia Abelta Namiraengraciaabeltaa@gmail.comCamellia Camelliaengraciaabeltaa@gmail.com<p>This study aims to examine the adok tradition as a form of cultural aesthetics within the wedding customs of the Ranau community in Sukamarga Village, South OKU Regency, Indonesia. The adok tradition is not merely a ceremonial ritual but functions as a cultural mechanism embedded with symbolic meanings, aesthetic expressions, and social legitimacy. This research employs a qualitative approach with an ethnographic design, utilizing participant observation during traditional wedding ceremonies, in-depth interviews with customary leaders, community members, and married couples, as well as documentation analysis. The findings reveal that the adok tradition represents Ranau cultural aesthetics through three interrelated dimensions: visual, performative, and symbolic aesthetics. The ngeharak kebayan procession, the use of traditional ornaments, martial arts performances accompanied by kulintang music, and the striking of the gong serve as aesthetic expressions that affirm honor, social recognition, and communal acceptance of the bride and groom. Furthermore, the adok tradition embodies noble values such as togetherness, social responsibility, protection, and respect for customary structures. From the perspective of Pancasila and Civic Education, the adok tradition holds significant relevance as a contextual learning resource grounded in local wisdom, contributing to the formation of civic identity and the internalization of Pancasila values. This study highlights the importance of preserving the Adok Tradition to ensure the sustainability of local culture amid contemporary social transformations.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tradisi <em>adok</em> sebagai wujud estetika budaya dalam adat pernikahan masyarakat Ranau di Desa Sukamarga, Kabupaten OKU Selatan. Tradisi <em>adok</em> dipahami bukan sekadar ritual seremonial, melainkan sebagai mekanisme adat yang sarat makna simbolik, estetika, dan fungsi sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian etnografi, yang dilakukan melalui observasi partisipatif pada prosesi adat pernikahan, wawancara mendalam dengan tokoh adat, masyarakat, dan pasangan pengantin, serta studi dokumentasi adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi <em>adok </em>merepresentasikan estetika budaya Ranau dalam tiga dimensi utama, yaitu estetika visual, performatif, dan simbolik. Prosesi ngeharak kebayan, penggunaan ornamen adat, pertunjukan kuntau dengan iringan kulintang, serta penabuhan gong menjadi ekspresi estetika yang menegaskan kehormatan, legitimasi sosial, dan penerimaan adat terhadap pasangan pengantin. Tradisi <em>adok</em> mengandung nilai-nilai luhur berupa kebersamaan, tanggung jawab sosial, perlindungan, dan penghormatan terhadap struktur adat. Dalam perspektif Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Tradisi <em>adok</em> memiliki relevansi strategis sebagai sumber belajar kontekstual berbasis kearifan lokal yang berkontribusi pada pembentukan identitas kewargaan dan penguatan nilai Pancasila. Penelitian ini menegaskan pentingnya pelestarian tradisi <em>adok</em> sebagai bagian dari keberlanjutan budaya lokal di tengah dinamika sosial modern.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9380FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBELAJARAN DEEP LEARNING DALAM MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN IPS 2026-02-07T02:32:45+00:00Erric Kondoerrickondoy@unima.ac.idHerman Philips Dolonsedaerrickondoy@unima.ac.idDhea Jessica Sendiangerrickondoy@unima.ac.idVerry Ronny Palilinganerrickondoy@unima.ac.id<p>This study aims to explore the factors influencing deep learning in developing critical thinking skills among students in the Social Studies Education Department at Manado State University. Using a qualitative approach with a case study design, this study involved five students (M1-M5) and three lecturers (D1-D3) as participants. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using thematic analysis. The findings revealed four main factors influencing deep learning: (1) the lecturer's pedagogical strategy as a facilitator of higher-order thinking, with an emphasis on Socratic questioning, problem-based learning, and contextual case analysis; (2) students' intrinsic motivation and self-regulation, which demonstrate the crucial role of individual initiative in the construction of deep understanding; (3) the learning environment and social interactions, which create a zone of proximal development through collaborative discussions and peer feedback; and (4) structural and cultural barriers, including large class sizes, conventional assessment systems, and a culture of shyness that limits the expression of critical thinking. This study concludes that deep learning is a systemic phenomenon resulting from a complex interaction between pedagogical, psychological, social, and contextual factors. Theoretical implications point to the need to adapt Western learning theories to the Indonesian sociocultural context, while practical implications emphasize the importance of multi-level interventions to optimize deep learning and the development of critical thinking in higher education.</p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran deep learning dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa Jurusan Pendidikan IPS Universitas Negeri Manado. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, penelitian ini melibatkan lima mahasiswa (M1-M5) dan tiga dosen (D1-D3) sebagai partisipan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Temuan mengungkap empat faktor utama yang mempengaruhi pembelajaran mendalam: (1) strategi pedagogik dosen sebagai fasilitator berpikir tingkat tinggi, dengan penekanan pada pertanyaan Socratic, problem-based learning, dan analisis kasus kontekstual; (2) motivasi intrinsik dan regulasi diri mahasiswa, yang menunjukkan peran krusial inisiatif individu dalam konstruksi pemahaman mendalam; (3) lingkungan pembelajaran dan interaksi sosial, yang menciptakan zona perkembangan proksimal melalui diskusi kolaboratif dan peer feedback; serta (4) hambatan struktural dan kultural, termasuk ukuran kelas besar, sistem asesmen konvensional, dan budaya malu berpendapat yang membatasi ekspresi berpikir kritis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran mendalam merupakan fenomena sistemik yang dihasilkan dari interaksi kompleks antara faktor pedagogik, psikologis, sosial, dan kontekstual. Implikasi teoretis menunjukkan perlunya adaptasi teori pembelajaran Barat ke konteks sosiokultural Indonesia, sementara implikasi praktis menekankan pentingnya intervensi multi-level untuk mengoptimalkan pembelajaran mendalam dan pengembangan berpikir kritis di pendidikan tinggi.</p> <p> </p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9381KUALITAS PENGAJARAN DAN EFIKASI DIRI SEBAGAI DETERMINAN PRESTASI AKADEMIK MAHASISWA PENDIDIKAN AKUNTANSI 2026-02-07T02:31:25+00:00Farah Oktavia Azharfrhokt06@gmail.comNazifa Devlanifrhokt06@gmail.comEsi Andina Febriyana Siregarfrhokt06@gmail.com<p>The suboptimal academic achievement of Accounting Education students at Jakarta State University is often influenced by internal and external factors, particularly self-efficacy and teaching quality. This study aims to analyze the influence of teaching quality and self-efficacy on student academic achievement. Using a quantitative approach with a survey method, the study involved 42 active students from the 2022–2024 intake as a sample. Data were collected through a structured questionnaire and analyzed using the Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) method after undergoing validity and reliability tests. The study findings indicate that teaching quality has a significant effect on the intervening variable with a path coefficient of 0.348 and a p-value of 0.018, while self-efficacy has a more dominant influence with a path coefficient of 0.568 and a p-value of 0.000. Although both variables contribute positively to the learning process, further analysis revealed that the intervening variable has not significantly affected GPA directly with a p-value of 0.059. The main conclusion of this study confirms that although the quality of teaching and self-efficacy are crucial in supporting the learning process, the achievement of GPA as the final indicator of academic achievement is multidimensional and influenced by other factors outside this research model.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Prestasi akademik mahasiswa Pendidikan Akuntansi di Universitas Negeri Jakarta yang belum optimal sering kali dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, khususnya efikasi diri dan kualitas pengajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kualitas pengajaran dan efikasi diri terhadap prestasi akademik mahasiswa. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei, penelitian melibatkan 42 mahasiswa aktif angkatan 2022–2024 sebagai sampel. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan metode <em>Partial Least Squares–Structural Equation Modeling</em> (PLS-SEM) setelah melalui uji validitas dan reliabilitas. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kualitas pengajaran berpengaruh signifikan terhadap variabel intervening dengan koefisien jalur sebesar 0,348 dan nilai p 0,018, sementara efikasi diri memiliki pengaruh yang lebih dominan dengan koefisien jalur 0,568 dan nilai p 0,000. Meskipun kedua variabel tersebut berkontribusi positif terhadap proses pembelajaran, analisis lebih lanjut mengungkapkan bahwa variabel intervening belum berpengaruh signifikan terhadap IPK secara langsung dengan nilai p 0,059. Simpulan utama penelitian ini menegaskan bahwa meskipun kualitas pengajaran dan efikasi diri krusial dalam mendukung proses pembelajaran, pencapaian IPK sebagai indikator akhir prestasi akademik bersifat multidimensional dan dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian ini.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9396REVIEW LITERATURE: INOVASI ADMINISTRASI KEPROTOKOLAN DALAM PERSPEKTIF E-GOVERNMENT2026-02-07T01:37:47+00:00Muhammad Tsaqib Almazytsaqib98@gmail.comSugiyanto Sugiyantotsaqib98@gmail.com<p>The development of information technology has encouraged local governments to innovate in the implementation of public administration, including in the field of protocol administration. Conventional protocol administration practices are often considered insufficient in responding to demands for efficiency, accuracy, and service transparency. This article aims to examine and reflect on innovations in protocol administration from an e-government perspective based on findings from previous studies. This study employs a qualitative literature review method by analyzing relevant national and international journal articles published between 2019 and 2024. The literature was collected from reputable academic databases and analyzed thematically to identify patterns, trends, and key issues. The findings indicate that digital-based protocol administration innovations contribute to improved work efficiency, better inter-unit coordination, and more orderly implementation of governmental activities. Nevertheless, the implementation of such innovations still faces several challenges, including limitations in human resources, resistance to organizational change, and inadequate technological infrastructure readiness. The study concludes that the success of protocol administration innovation is not solely determined by technological factors but also by organizational support, leadership commitment, and bureaucratic work culture. This article is expected to provide a conceptual reference for policymakers and practitioners in developing protocol administration innovations within local government institutions.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perkembangan teknologi informasi mendorong pemerintah daerah untuk melakukan inovasi dalam penyelenggaraan administrasi publik, termasuk pada bidang keprotokolan. Administrasi keprotokolan yang selama ini bersifat manual dinilai kurang responsif terhadap tuntutan efektivitas, akurasi, dan transparansi layanan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji dan merefleksikan inovasi administrasi keprotokolan dalam perspektif <em>e-government</em> berdasarkan temuan-temuan penelitian terdahulu. Penelitian ini menggunakan metode <em>review literatur kualitatif</em> dengan menelaah artikel jurnal nasional dan internasional yang relevan dan dipublikasikan dalam kurun waktu 2019–2024. Literatur dikumpulkan melalui basis data ilmiah terpercaya dan dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi pola, kecenderungan, serta isu utama yang berkembang. Hasil kajian menunjukkan bahwa inovasi administrasi keprotokolan berbasis digital berkontribusi terhadap peningkatan efisiensi kerja, kualitas koordinasi antarunit, serta ketertiban pelaksanaan kegiatan pemerintahan. Namun demikian, implementasi inovasi tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan sumber daya manusia, resistensi terhadap perubahan, serta kesiapan infrastruktur teknologi. Simpulan dari kajian ini menegaskan bahwa keberhasilan inovasi administrasi keprotokolan tidak hanya ditentukan oleh aspek teknologi, tetapi juga oleh dukungan organisasi, kepemimpinan, dan budaya kerja birokrasi. Artikel ini diharapkan dapat menjadi rujukan konseptual bagi pengembangan kebijakan inovasi keprotokolan di pemerintah daerah.</p> <p> </p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9133PENGARUH PENGGUNAAN GADGET TERHADAP INTERAKSI SOSIAL SISWA DI SMP2026-02-07T02:35:36+00:00Adinda Zalsa Auliaadindazalsa03@gmail.comEldi Mulyanaeldimulyana@institutpendidikan.ac.idSlamat Nopharipaldi Rohmanslametnopharipaldi@institutpendidikan.ac.id<p>The development of digital technology in the modern era has brought significant changes to patterns of social interaction, particularly among adolescents. Gadgets, which initially served merely as communication tools, have now become part of a lifestyle that influences students’ social behavior, including a tendency toward decreased face-to-face interaction within the school environment. This phenomenon is also evident at SMP Negeri 1 Garut, where some students appear more focused on using their gadgets rather than engaging directly with their peers. Based on this situation, the present study was conducted to determine the level of gadget use, the level of students’ social interaction, and to analyze the influence of gadget use on the social interaction of students at SMP Negeri 1 Garut. This research employed a quantitative method with a correlational approach to examine the relationship between gadget use (X) and students’ social interaction (Y). The study took place at SMP Negeri 1 Garut, during October–November 2025. The population consisted of 118 ninth-grade students. A sample of 91 students was selected using a non-probability sampling technique, specifically purposive sampling, based on the criterion of students who actively used gadgets. The sample size was determined using the Slovin formula with a 5% margin of error. The findings showed a moderate to strong positive relationship between gadget use and students’ social interaction, indicated by a Spearman correlation coefficient of 0.532 and a significance value of 0.002 (p < 0.05). These results suggest that gadget use can enhance social interaction when applied wisely; however, excessive or uncontrolled use may reduce the quality of direct interpersonal interaction.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perkembangan teknologi digital pada era modern telah membawa perubahan signifikan terhadap pola interaksi sosial, terutama di kalangan remaja. Gadget yang awalnya berfungsi sebagai alat komunikasi kini menjadi bagian dari gaya hidup yang memengaruhi perilaku sosial siswa, termasuk kecenderungan menurunnya interaksi tatap muka di lingkungan sekolah. Fenomena tersebut terlihat pula di SMP Negeri 1 Garut, di mana sebagian siswa lebih fokus pada penggunaan gadget dibandingkan berkomunikasi secara langsung dengan teman sebayanya. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat penggunaan gadget, tingkat interaksi sosial siswa, serta menganalisis pengaruh penggunaan gadget terhadap interaksi sosial siswa di SMP Negeri 1 Garut. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional untuk menguji hubungan antara variabel penggunaan gadget (X) dan interaksi sosial siswa (Y). Lokasi penelitian berada di SMP Negeri 1 Garut, dan dilaksanakan pada Oktober–November 2025. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas IX berjumlah 118 orang. Sampel sebanyak 91 siswa ditentukan melalui teknik nonprobability sampling jenis purposive sampling, dengan kriteria siswa kelas IX yang aktif menggunakan gadget. Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif sedang hingga kuat antara penggunaan gadget dan interaksi sosial siswa dengan koefisien korelasi Spearman sebesar 0,532 dan nilai signifikansi 0,002 (p < 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa penggunaan gadget dapat mendukung interaksi sosial apabila digunakan secara bijak, namun tetap berpotensi menurunkan kualitas interaksi tatap muka jika digunakan secara berlebihan.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9114PENGARUH MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR SISWA DI SMP2026-02-07T02:37:50+00:00Deyski Hamsadeyskihamsa307@gmail.comRadia Hafiddeyskihamsa307@gmail.comAbdulrahim Maruwaedeyskihamsa307@gmail.comRoy Hasirudeyskihamsa307@gmail.comArdiansyah Ardiansyahdeyskihamsa307@gmail.com<p>The low level of student engagement and passive enthusiasm in the learning process at SMP Negeri 2 Bongomeme underlies the urgency of implementing pedagogical innovation through interactive learning media. This study aims to analyze the magnitude of the influence of the use of interactive media on increasing student learning activities as a solution to the dominance of conventional methods. Using a quantitative approach with a causal design and simple linear regression analysis, this study involved a population of 145 students with a sample of 36 respondents collected through a questionnaire instrument. The research findings indicate a positive and significant influence, which is statistically proven through the regression equation Ŷ = 44.172 + 0.583X. This significance is confirmed by the hypothesis test where the t-count value of 4.488 far exceeds the t-table value of 1.690, and is supported by a coefficient of determination of 37.2% which indicates the effective contribution of media to the variability of student learning activities. The main conclusion of this study confirms that the application of interactive learning media is proven to be effective in stimulating students to be more active visually, orally, and emotionally. Therefore, the integration of interactive media technology is highly recommended for educators to create a dynamic classroom atmosphere, overcome student passivity, and improve the quality of learning interactions as a whole.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Rendahnya tingkat keterlibatan dan pasifnya antusiasme siswa dalam proses pembelajaran di SMP Negeri 2 Bongomeme melatarbelakangi urgensi penerapan inovasi pedagogis melalui media pembelajaran interaktif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besarnya pengaruh penggunaan media interaktif terhadap peningkatan aktivitas belajar siswa sebagai solusi atas dominasi metode konvensional. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausal dan analisis regresi linier sederhana, penelitian ini melibatkan populasi 145 siswa dengan sampel sebanyak 36 responden yang dijaring melalui instrumen angket. Temuan penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan, yang dibuktikan secara statistik melalui persamaan regresi Ŷ = 44,172 + 0,583X. Signifikansi ini dikonfirmasi oleh uji hipotesis di mana nilai t-hitung sebesar 4,488 jauh melampaui nilai t-tabel sebesar 1,690, serta didukung oleh koefisien determinasi sebesar 37,2% yang mengindikasikan kontribusi efektif media terhadap variabilitas aktivitas belajar siswa. Simpulan utama penelitian ini menegaskan bahwa penerapan media pembelajaran interaktif terbukti efektif dalam menstimulasi siswa untuk lebih aktif secara visual, oral, maupun emosional. Oleh karena itu, integrasi teknologi media interaktif sangat direkomendasikan bagi pendidik guna menciptakan atmosfer kelas yang dinamis, mengatasi kepasifan siswa, dan meningkatkan kualitas interaksi pembelajaran secara menyeluruh.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9082MEDIA PEMBELAJARAN TEKA TEKI SILANG DAN WORD SEARCH : INOVASI PEMBELAJARAN IPS KELAS VIII SMP2026-02-07T02:40:05+00:00Azzahra Nafa Al Arifinazzahranafa0@students.unnes.ac.idFerani Mulianingsihazzahranafa0@students.unnes.ac.id<p> </p> <p>Junior high school social studies (IPS) instruction still confronts difficulties due to boring traditional approaches that lower student engagement and motivation. In order to increase eighth-grade students' motivation and comprehension, this study intends to investigate the use of Crossword Puzzle (TTS) and Word Search media as social studies learning innovations.Four informants were purposefully chosen from among eighth-grade students at SMP Negeri 39 Semarang for this qualitative study using a descriptive methodology. Participatory observation, in-depth interviews, and documentation were used to gather data, which was then examined using the Miles and Huberman methodology. The findings demonstrated that all four informants' learning motivation was consistently raised by TTS and Word Search media, as evidenced by their high levels of enthusiasm, active engagement, and impromptu peer learning.The media's ability to support meaningful learning was demonstrated by material retention that persisted for up to two months following learning. Word Search concentrated on memorizing terminology by pleasurable repetition, whereas TTS was successful in developing conceptual comprehension with definitional clues. With medium-ability students favoring Word Search and high-ability students favoring TTS, the mix of both media catered to the diversity of student abilities. Time limits and challenges for medium-ability students to comprehend complex TTS instructions were identified.With suggestions for creating tiers of difficulty, streamlining instructional language, and creating digital versions for more ideal learning personalization, this study concludes that TTS and Word Search media are useful substitutes to raise the caliber of social studies instruction.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di sekolah menengah pertama masih menghadapi kesulitan akibat pendekatan tradisional yang membosankan, yang menurunkan tingkat keterlibatan dan motivasi siswa. Untuk meningkatkan motivasi dan pemahaman siswa kelas VIII, penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki penggunaan media Teka-teki Silang (TTS) dan Pencarian Kata sebagai inovasi pembelajaran IPS.Empat informan dipilih secara sengaja dari siswa kelas VIII di SMP Negeri 39 Semarang untuk studi kualitatif ini yang menggunakan metodologi deskriptif. Pengamatan partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data, yang kemudian dianalisis menggunakan metodologi Miles dan Huberman. Temuan menunjukkan bahwa motivasi belajar keempat informan secara konsisten meningkat berkat media TTS dan Word Search, sebagaimana dibuktikan oleh tingkat antusiasme yang tinggi, keterlibatan aktif, dan pembelajaran antar teman secara spontan. Kemampuan media dalam mendukung pembelajaran yang bermakna dibuktikan melalui retensi materi yang bertahan hingga dua bulan setelah proses pembelajaran. Word Search berfokus pada penghafalan terminologi melalui pengulangan yang menyenangkan, sedangkan TTS berhasil mengembangkan pemahaman konseptual dengan petunjuk definisi. Siswa dengan kemampuan menengah lebih menyukai Word Search, sementara siswa dengan kemampuan tinggi lebih menyukai TTS. Kombinasi kedua media ini mengakomodasi keragaman kemampuan siswa. Batasan waktu dan tantangan bagi siswa dengan kemampuan sedang untuk memahami instruksi TTS yang kompleks telah diidentifikasi.Dengan saran untuk membuat tingkatan kesulitan, menyederhanakan bahasa instruksional, dan membuat versi digital untuk personalisasi pembelajaran yang lebih ideal, studi ini menyimpulkan bahwa media TTS dan Word Search merupakan pengganti yang berguna untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPS.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9385FENOMENA TREN #KABURAJADULU PADA MEDIA SOSIAL TIKTOK DALAM PERSPEKTIF MAHASISWA PROGRAM STUDI PPKN 2026-02-07T02:27:03+00:00Achmad Dzaky Santana Putra06051182227001@student.unsri.ac.idUmi Chotimah06051282126045@student.unsri.ac.id<p>The development of information and communication technology has brought significant changes to society, particularly through social media, which has become the main space for interaction among the younger generation. <em>TikTok</em>, as a short-video-based platform, is widely used by students to express themselves while simultaneously following digital trends. One of the emerging phenomena is the <em>#KaburAjaDulu</em> trend, which is not only characterized by the habit of taking short trips abroad as a form of escape from life pressures, but also reflects a new lifestyle among young people that emphasizes experience, freedom, and the search for identity. This study employs a quantitative method with a descriptive statistical research model, involving a population of 400 students and a sample of 200 students from the 2022-2025 cohorts. Data collection techniques include questionnaires and documentation, with valid and reliable instruments initially distributed to each cohort leader and subsequently shared within their respective class groups. In this study, the independent variable is the <em>#KaburAjaDulu</em> trend on <em>TikTok</em>, while the dependent variable is the perspective of students in the Civic Education Study Program (PPKn) at FKIP Sriwijaya University. The findings reveal that the phenomenon is perceived positively by students, as evidenced by 83.3% of respondents giving positive responses to 25 out of 30 statements, while 16.7% gave negative responses to 5 statements. These results indicate that student involvement in the trend serves not only as a means of self-expression and participation in digital trends, but also reflects a drive to enhance creativity, broaden horizons, and create a healthy pause from academic routines and social pressures. words.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, khususnya melalui media sosial yang menjadi ruang utama interaksi generasi muda. <em>TikTok</em> sebagai <em>platform</em> berbasis video pendek kini banyak dimanfaatkan mahasiswa untuk mengekspresikan diri sekaligus mengikuti tren digital, salah satunya fenomena tren <em>#KaburAjaDulu</em> yang tidak hanya berupa kebiasaan melakukan perjalanan singkat ke luar negeri sebagai bentuk pelarian dari tekanan hidup, tetapi juga mencerminkan gaya hidup baru generasi muda yang menekankan pengalaman, kebebasan, dan pencarian identitas diri. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan model penelitian statistik deskriptif, dengan populasi 400 mahasiswa dan sampel 200 mahasiswa dari tahun angkatan 2022-2025. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui angket (kuesioner) dan dokumentasi, di mana instrumen yang valid dan reliabel disebarkan terlebih dahulu kepada setiap ketua angkatan untuk kemudian diteruskan ke grup kelas masing-masing angkatan. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah fenomena tren <em>#KaburAjaDulu</em> pada media sosial <em>TikTok</em>, sedangkan variabel terikatnya adalah perspektif mahasiswa Program Studi PPKn FKIP Universitas Sriwijaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena tersebut dipersepsikan positif oleh mahasiswa, dibuktikan dengan 83.3% responden memberikan tanggapan positif terhadap 25 pernyataan dari total 30 pernyataan, sementara 16.7% memberikan tanggapan negatif terhadap 5 pernyataan. Temuan ini mengindikasikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam tren tersebut tidak hanya menjadi sarana untuk mengekspresikan diri sekaligus mengikuti tren digital, tetapi juga mencerminkan dorongan mengembangkan kreativitas, memperluas wawasan, serta menciptakan ruang jeda yang sehat dari rutinitas akademik maupun tekanan sosial.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9132PENGARUH FASILITAS BELAJAR TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA IPS KELAS VII SMP2026-02-07T02:36:28+00:00Mutmaina Ahmadmutyahmad179@gmail.comMeyko Panigoromutyahmad179@gmail.comRierind Koniyomutyahmad179@gmail.comMelizubaida Mahmudmutyahmad179@gmail.comCristian Polamolomutyahmad179@gmail.com<p>This study aims to investigate the influence of learning facilities on students' learning interest in Social Studies (IPS) for seventh-grade students at SMP Negeri 1 Tilongkabila, Bone Bolango Regency. It employs a quantitative approach with a sample of 32 students selected via simple random sampling from a total population of 112 students. The research instrument is a Likert-scale questionnaire validated for validity and reliability. Data analysis utilized simple linear regression with SPSS software support. The findings reveal a very strong relationship between learning facilities and students' learning interest, evidenced by a Pearson correlation coefficient of 0.928. Furthermore, the coefficient of determination (R 2 R 2) of 0.862 indicates that 86.2% of the variation in students' learning interest is influenced by learning facilities, while the remaining 13.8% is attributed to other factors beyond this study. Thus, it can be concluded that better learning facilities lead to higher learning interest among seventh-grade students in Social Studies at SMP Negeri 1 Tilongkabila.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fasilitas belajar terhadap minat belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas VII di SMP Negeri 1 Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jumlah sampel sebanyak 32 siswa yang ditentukan melalui teknik simple random sampling dari total populasi 112 siswa. Instrumen penelitian berupa angket skala Likert yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linear sederhana dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fasilitas belajar memiliki hubungan yang sangat kuat dengan minat belajar siswa, yang dibuktikan dengan nilai koefisien korelasi (Pearson) sebesar 0,928. Selain itu, nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,862 mengindikasikan bahwa 86,2% variasi minat belajar siswa dipengaruhi oleh fasilitas belajar, sedangkan 13,8% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin baik fasilitas belajar yang tersedia, semakin tinggi pula minat belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas VII di SMP Negeri 1 Tilongkabila.</p> <p> </p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9394ANALISIS BRAND COMMUNITY DAN OPINION LEADER PADA KEPUTUSAN PEMBELIAN PROSUK JAM TANGAN SWATCH (STUDI MENGENAI LOYALITAS MEMBER SWATCH CLUB INDONESIA)2026-02-07T02:19:02+00:00Fellen Pangki Nugrohopangkinug@gmail.comAnita Rinawatipangkinug@gmail.comLukman Fadhiliyapangkinug@gmail.com<p>The phenomenon of fluctuating market position of Swatch watches in Indonesia demands a more adaptive marketing strategy, one of which is through optimizing the role of the community to build brand loyalty. This study aims to analyze the influence of Brand Community and Opinion Leaders on purchasing decisions of Swatch watch products, with the focus of the study on members of Swatch Club Indonesia (SCI). The research method applies a mixed method approach involving 59 respondents through saturated sampling techniques, where data are analyzed using multiple linear regression assisted by SPSS and in-depth qualitative analysis. The results of the study show strong empirical findings, where partially the Brand Community and Opinion Leader variables have a significant effect with a significance value of 0.000. Simultaneously, both variables are proven to have a positive and significant influence on purchasing decisions, indicated by the calculated F value of 22.148 which exceeds the F table of 3.17, as well as the coefficient of determination (R Square) value of 0.442 which indicates a contribution of 44.2%. These findings confirm that the existence of a solid community and the active role of opinion leaders are very effective in building consumer trust, minimizing the risk of product uncertainty, and stimulating purchasing decisions. The main conclusion of this study recommends strategic synergy between manufacturers and internal communities and influencers to maintain loyalty and increase product sales volume sustainably.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Fenomena fluktuasi posisi pasar jam tangan Swatch di Indonesia menuntut strategi pemasaran yang lebih adaptif, salah satunya melalui optimalisasi peran komunitas guna membangun loyalitas merek. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh <em>Brand Community</em> dan <em>Opinion Leader</em> terhadap keputusan pembelian produk jam tangan Swatch, dengan fokus studi pada anggota Swatch Club Indonesia (SCI). Metode penelitian menerapkan pendekatan campuran (<em>mixed method</em>) yang melibatkan 59 responden melalui teknik <em>sampling</em> jenuh, di mana data dianalisis menggunakan regresi linear berganda berbantuan SPSS serta analisis kualitatif mendalam. Hasil penelitian menunjukkan temuan empiris yang kuat, di mana secara parsial variabel <em>Brand Community</em> dan <em>Opinion Leader</em> berpengaruh signifikan dengan nilai signifikansi 0,000. Secara simultan, kedua variabel terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian, ditunjukkan oleh nilai F hitung sebesar 22,148 yang melampaui F tabel 3,17, serta nilai koefisien determinasi (<em>R Square</em>) sebesar 0,442 yang mengindikasikan kontribusi pengaruh sebesar 44,2%. Temuan ini menegaskan bahwa keberadaan komunitas yang solid dan peran aktif pemimpin opini sangat efektif dalam membangun kepercayaan konsumen, meminimalisir risiko ketidakpastian produk, serta menstimulasi keputusan pembelian. Simpulan utama studi ini merekomendasikan sinergi strategis antara produsen dengan komunitas dan <em>influencer</em> internal untuk menjaga loyalitas serta meningkatkan volume penjualan produk secara berkelanjutan.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9382PENGARUH GAMIFIKASI TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP PENGANGGARAN DALAM AKUNTANSI MANAJEMEN DENGAN MOTIVASI BELAJAR SEBAGAI VARIABEL MEDIASI PADA MAHASISWA PENDIDIKAN AKUNTANSI 2026-02-07T02:30:12+00:00Fitriyana Syawalinfitriyanasyawalin@gmail.comAndra Tabah Kurniawanfitriyanasyawalin@gmail.comArdita Fathna Ramadhantifitriyanasyawalin@gmail.comArini Puspita Sarifitriyanasyawalin@gmail.comKhaylila Aydin Nhestiafitriyanasyawalin@gmail.comKyra Putrifitriyanasyawalin@gmail.com<p>The complexity of the numerical and analytical nature of budgeting material in Management Accounting courses often hinders students from achieving comprehensive understanding, primarily due to the dominance of conventional learning methods that minimize active engagement. This study aims to analyze the effect of gamification implementation on understanding budgeting concepts by positioning learning motivation as a mediating variable. Using a quantitative approach with an explanatory design, the study involved 154 Accounting Education students from the 2022–2024 intake at Jakarta State University, selected through a purposive sampling technique. Data were collected using a questionnaire and analyzed through linear regression and the Sobel test using SPSS. Empirical findings indicate that gamification significantly influences conceptual understanding with a regression coefficient of 0.232, and positively impacts learning motivation. Learning motivation proved to be the dominant predictor with a coefficient of 0.423 on conceptual understanding. Simultaneously, both variables contributed significantly with a calculated F value of 32.762 and an Adjusted R Square of 29.3%. Path analysis confirmed that learning motivation partially mediates the relationship between gamification and conceptual understanding. The main conclusion confirms that gamification integration not only directly improves conceptual understanding, but also strengthens learning motivation which is crucial for optimizing learning outcomes, so this strategy is recommended as a pedagogical innovation in accounting education.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kompleksitas materi penganggaran yang bersifat numerik dan analitis dalam mata kuliah Akuntansi Manajemen sering kali menjadi hambatan bagi mahasiswa untuk mencapai pemahaman komprehensif, terutama akibat dominasi metode pembelajaran konvensional yang minim keterlibatan aktif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penerapan gamifikasi terhadap pemahaman konsep penganggaran dengan menempatkan motivasi belajar sebagai variabel mediasi. Menggunakan pendekatan kuantitatif berdesain eksplanatori, penelitian melibatkan 154 mahasiswa Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Jakarta angkatan 2022–2024 yang dipilih melalui teknik <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis melalui regresi linier serta uji sobel berbantuan SPSS. Temuan empiris menunjukkan bahwa gamifikasi berpengaruh signifikan terhadap pemahaman konsep dengan koefisien regresi 0,232, serta berdampak positif pada motivasi belajar. Motivasi belajar terbukti menjadi prediktor dominan dengan koefisien 0,423 terhadap pemahaman konsep. Secara simultan, kedua variabel berkontribusi signifikan dengan nilai F hitung sebesar 32,762 dan <em>Adjusted R Square</em> sebesar 29,3%. Analisis jalur mengonfirmasi bahwa motivasi belajar memediasi secara parsial hubungan antara gamifikasi dan pemahaman konsep. Simpulan utama menegaskan bahwa integrasi gamifikasi tidak hanya meningkatkan pemahaman konseptual secara langsung, tetapi juga memperkuat motivasi belajar yang krusial bagi optimalisasi hasil belajar, sehingga strategi ini direkomendasikan sebagai inovasi pedagogis dalam pendidikan akuntansi.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9384INTERNALISASI NILAI-NILAI BUDAYA LOKAL “GULAT OKOL” MELALUI BIMBINGAN KONSELING MULTIKULTURAL 2026-02-07T02:28:10+00:00Himmah Rosyidah25011355020@mhs.unesa.ac.idNajlatun Naqiyah25011355014@mhs.unesa.ac.idAri Khusumadewi25011355014@mhs.unesa.ac.id<p>Indonesia boasts a diverse range of cultures spread across its regions. Culture is a national identity; every country in the world certainly has its own. Culture can function to shape the attitudes and behavior of a group of people, and can serve as a guide for life in conducting themselves. Globalization also triggers a shift in societal mindsets from traditional perspectives to more logical and rational thinking. One effort to prepare and fortify adolescents in the era of globalization is to build adolescent character based on local cultural values. In this context, the role of multicultural guidance and counseling becomes crucial. The purpose of this study is to uncover the internalization of local cultural values of the okol wrestling tradition through multicultural guidance and counseling. This study used a qualitative approach with a literature study method (library research) with a period of 2020-2025. Data collection was carried out using a literature review technique, namely by collecting secondary data from various relevant and credible sources. The results of the study show that the okol wrestling tradition is a local cultural tradition that is not only recreational or competitive, but also contains educational and psychosocial values, including: (1) Sportsmanship, (2) Emotional control, (3) Social solidarity and togetherness, (4) respect for others. Through the internalization of the okol wrestling cultural values in this multicultural counseling guidance, it also contributes to strengthening the local cultural identity of students, fostering a sense of pride and love for their own regional culture, and can reduce individualistic values that tend to emerge as a result of globalization.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Indonesia memiliki beragam macam budaya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah. Budaya merupakan identitas bangsa, setiap negara di dunia pasti memiliki budayanya masing-masing. Budaya dapat berfungsi membentuk sikap dan perilaku suatu golongan masyarakat, serta dapat menjadi pedoman hidup dalam bertingkah laku. Globalisasi juga memicu pergeseran pola pikir masyarakat dari cara pandang tradisional menuju pemikiran yang lebih logis dan rasional. Salah satu upaya untuk mempersiapakan dan membentengi remaja dalam era globalisasi adalah membangun karakter remaja berbasis nilai budaya lokal. Dalam konteks inilah peran bimbingan dan konseling multikultural menjadi sangat penting. Tujuan dari penelitian ini adalah mengungkap internalisasi nilai budaya lokal tradisi gulat okol melalui bimbingan konseling multikultural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur <em>(library researchca) </em>dengan rentang tahun 2020-2025. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik kajian pustaka, yaitu dengan menghimpun data sekunder dari berbagai sumber yang relevan dan kredibel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi gulat okol merupakan tradisi budaya lokal yang tidak hanya bersifat rekreatif ataupun kompetitif saja, melainkan juga mengandung nilai-nilai edukatif dan psikososial antara lain : (1) Sportivitas, (2) Pengendalian emosi, (3) Solidaritas sosial dan kebersamaan, (4) penghargaan terhadap orang lain. Melalui internalisasi nilai budaya gulat okol dalam bimbingan konseling multikultural ini turut memberikan kontribusi dalam menguatkan identitas budaya lokal siswa, menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap budaya daerah sendiri, serta dapat mengurangi nilai-nilai individualis yang cenderung muncul akibat dari globalisasi.</p> <p> </p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9393SINERGI MODEL PENDIDIKAN KETARUNAAN DAN LINGKUNGAN SOSIAL DALAM MEMBENTUK KARAKTER SISWA2026-02-07T02:19:54+00:00Imam Mardi Santosoimammardi40@gmail.comNinik Indawatiimamhadianas309@gmail.comDwi Fauzia Putraimamhadianas309@gmail.com<p>Character education is a central concern in the national education system, particularly in addressing the decline of students’ discipline and moral values. Cadet-based schools offer an alternative educational model emphasizing discipline, responsibility, and leadership through structured habituation systems. This study aims to analyze the influence of the cadet education model and social environment on character development of tenth-grade students at SMAN Taruna Nala East Java. This research employed a quantitative approach using a survey design. The population consisted of 155 tenth-grade students, all of whom were selected as respondents. Data were collected through closed-ended questionnaires and analyzed using multiple linear regression, including F-test, t-test, and coefficient of determination (R²). The results indicate that the cadet education model and social environment simultaneously have a positive and significant effect on students’ character development (Sig. = 0.000). Partially, the cadet education model shows the strongest influence, followed by the social environment, which also has a significant effect. The coefficient of determination reveals that 88.8% of the variance in students’ character development is explained by these two variables. These findings emphasize that effective character education in boarding schools relies not only on a structured cadet system but also on a supportive social environment that reinforces character values.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pendidikan karakter merupakan salah satu fokus utama dalam sistem pendidikan nasional, khususnya dalam menghadapi tantangan degradasi nilai dan disiplin peserta didik. Sekolah berbasis ketarunaan hadir sebagai alternatif model pendidikan yang menekankan pembiasaan disiplin, tanggung jawab, dan kepemimpinan melalui sistem pembinaan terstruktur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model pendidikan ketarunaan dan lingkungan sosial terhadap perubahan karakter siswa kelas X di SMAN Taruna Nala Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei. Populasi penelitian berjumlah 155 siswa kelas X, yang seluruhnya dijadikan responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner tertutup, sedangkan analisis data menggunakan regresi linear berganda dengan uji F, uji t, dan koefisien determinasi (R²). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pendidikan ketarunaan dan lingkungan sosial secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap perubahan karakter siswa (Sig. = 0,000). Secara parsial, model pendidikan ketarunaan memiliki pengaruh paling dominan terhadap perubahan karakter siswa, diikuti oleh lingkungan sosial yang juga berpengaruh signifikan. Nilai koefisien determinasi menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut mampu menjelaskan 88,8% variasi perubahan karakter siswa. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan karakter di sekolah berasrama tidak hanya ditentukan oleh sistem ketarunaan yang terstruktur, tetapi juga oleh kualitas lingkungan sosial yang mendukung internalisasi nilai-nilai karakter siswa.</p> <p> </p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9397IMPLEMENTASI SIKAP SOSIAL UNTUK MEMBENTUK KAKTER SISWA KELAS VIII SMP2026-02-07T01:35:14+00:00Imelda NataliaImeldanatalia32@gmail.comTetep TetepImeldanatalia32@gmail.comYana SetiawanImeldanatalia32@gmail.com<p>Attitude is how a person responds or reacts in responding to something. Attitude is used as a benchmark for human behavior in everyday life. The factors that influence a person's attitude are environmental factors and a person's beliefs. This is what sometimes determines a person's attitude in everyday life. Attitudes will only exist. if someone instills good behavior, both verbal behavior and one's deeds and behavior. This research aims to examine efforts to implement social attitudes to shape student character in the classroom. The problem raised is that the importance of character education cannot be separated from the emergence of several current social phenomena, which are shown by characterless behavior and the presence of symptoms that indicate its erosion. a nation. This research uses a qualitative approach with a qualitative descriptive study method, data collection techniques including observation, interviews and documentation through the media. The results of this research, the teacher has provided an example to students regarding the implementation of social attitudes to shape the character of class VIII students at SMPN 4 Tarogong Kidul where the students have succeeded in forming characters such as honest, responsible and tolerant.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Sikap murupakan bagaimana respon atau reaksi seorang dalam memberi respon terhadap suatu hal Sikap dijadikan patokan dari prilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari, faktor yang mempengaruhi sikap seseorang yaitu dari faktor lingkungan dan keyakinan seseorang inilah yang terkadang menjadi penentu sikap seseorang dalam keseharianya sikap hanya akan ada jika seseorang menanamkan prilaku yang baik, baik itu lisan prilaku maupun perbuatan serta tingkah laku seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji upaya implementasi sikap sosial untuk membentuk karakter siswa di kelas.masalah yang di kemukakan adalah hal pentingnya pendidikan karakter tidak lepas dari munculnya beberapa fenomena sosial saat ini, yang di tunjukan dengan perilaku yang tidak berkarakter serta adanya gejala - gejala yang menandakan tergerusnya sebuah bangsa. penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode setudi deskriptif kualitatif tenknik pengumpulan data meliputi observasi,wawancara dan dokumentasi melalui media. Hasil dari penelitian ini guru telah memberikan contoh kepada siswa terkait Implementasisikap sosial untuk membentuk karakter siswa kelas VIII SMPN 4 Tarogong Kidul yang diamana para siswa sudah berhasil dalam pembentukan karater seperti jujur,bertanggung jawab dan sikap toleransi.</p> <p> </p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9383MENINGKATKAN INTERAKSI SOSIAL MELALUI KEGIATAN BUDAYA RUTINAN YASIN–TAHLIL 2026-02-07T02:29:18+00:00Muhammad Rifki Adam25011355018@mhs.unesa.ac.idAri Kusumadewi25011355018@mhs.unesa.ac.idNajlatun Naqiyah25011355018@mhs.unesa.ac.id<p>Social interaction is the primary foundation for creating a harmonious and cohesive society. In the context of modernization, globalization, and the development of individualistic lifestyles, as well as the intensity of social interactions within society, particularly in the field of education, religious activities and local religious practices hold a strategic role as a means to foster and strengthen social ties among members of the community. The purpose of this article is to examine the routine cultural activities of Yasin-Tahlil as a means to enhance social interaction among the residents of Jatikalang Village, Krian Subdistrict. The author of this article employs a descriptive qualitative approach, utilizing literature analysis and social analysis in relation to the practical implementation of Yasin-Tahlil activities in the community. The focus is on how these activities are conducted, how the community participates, and the existing social norms. The findings of the analysis indicate that the Yasin-Tahlil activities are more than just a means of worship. In addition to strengthening the religious and cultural identity of the community, these activities can foster social cohesion, solidarity, and brotherhood. Thus, the routine of Yasin-Tahlil makes a significant contribution to improving the quality of social interaction and strengthening the social cohesion of the Jatikalang Village community. The preservation and strengthening of such cultural-religious activities are essential for promoting social harmony and the sustainability of the community's way of life in the face of social change.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Interaksi sosial merupakan dasar utama untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan kohesif. Dalam konteks modernisasi, globalisasi, dan perkembangan gaya hidup individualistis, serta intensitas interaksi sosial di dalam masyarakat , khususnya di bidang pendidikan ,. Dalam konteks ini , kegiatan keagamaan dan keagamaan lokal memiliki peran strategis sebagai sarana untuk membina dan memperkuat ikatan sosial di antara masyarakat . Tujuan artikel ini adalah untuk meneliti kegiatan budaya rutin Yasin - Tahlil dalam rangka meningkatkan interaksi sosial di antara warga Desa Jatikalang, Kecamatan Krian. Penulis artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis literatur dan analisis sosial dalam kaitannya dengan implementasi praktis kegiatan Yasin - Tahlil di masyarakat. Fokusnya adalah pada bagaimana kegiatan tersebut dilakukan , bagaimana masyarakat berpartisipasi , dan norma - norma sosial yang ada . Temuan analisis menunjukkan bahwa kegiatan Yasin - Tahlil lebih dari sekadarsarana ibadah. Selain memperkuat identitas keagamaan dan budaya masyarakat , kegiatan ini dapat menumbuhkan kohesi sosial , solidaritas dan persaudaraan . Dengan demikian , rutinitas Yasin - Tahlil memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan kualitas interaksi sosial dan memperkuat kohesi sosial masyarakat Desa Jatikalang . Pelestarian dan penguatan kegiatan budaya - keagamaan semacam ini sangat penting untuk mendorong keharmonisan sosial dan keberlanjutan cara hidup masyarakat dalam menghadapi perubahan sosial.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/8631MANAJEMEN PENDIDIKAN DALAM PENINGKATAN MUTU SEKOLAH: SEBUAH SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW2026-02-07T02:41:44+00:00Yunita Sulastriyunitasulastri08@gmail.comAhmad Muzarimuzariahmad631@gmail.comSiti Inganahinganah@umm.ac.id<p>Improving school quality has become a strategic issue in contemporary education, requiring professional, systematic, and sustainable school management. Numerous studies have examined the role of educational management in enhancing school quality; however, existing findings remain fragmented, context-specific, and have not been comprehensively synthesized. Therefore, this study aims to systematically synthesize the literature on educational management in improving school quality. This research employed a <em>Systematic Literature Review</em> (SLR) method guided by the PRISMA framework. The review process involved formulating research questions, searching international and national databases indexed in Scopus, Web of Science, and Sinta, applying inclusion and exclusion criteria, and conducting quality assessment of the selected studies. A total of 49 articles were analyzed and classified into relevant, considered, and not relevant categories. The synthesis results indicate that the main themes of the literature focus on school leadership, school-based management, internal quality assurance systems, and the management of educational resources. Effective management strategies include instructional and transformational leadership, data-based strategic planning, continuous professional development for teachers, and the implementation of sustainable quality management systems. The success of these strategies is influenced by principals’ leadership capacity, teachers’ competence and motivation, school culture, availability of resources, and stakeholder support. This study concludes that improving school quality is not the result of a single policy or program but emerges from the synergy of multiple educational management functions implemented in an integrated and context-responsive manner.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Peningkatan mutu sekolah merupakan isu strategis dalam pendidikan kontemporer yang menuntut pengelolaan sekolah secara profesional, sistematis, dan berkelanjutan. Berbagai penelitian telah membahas peran manajemen pendidikan dalam peningkatan mutu sekolah, namun temuan-temuan tersebut masih tersebar, bersifat parsial, dan belum tersintesis secara komprehensif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mensintesis secara sistematis kajian-kajian terkait manajemen pendidikan dalam peningkatan mutu sekolah. Penelitian ini menggunakan metode <em>Systematic Literature Review</em> (SLR) dengan mengacu pada pedoman PRISMA. Proses penelitian meliputi perumusan pertanyaan penelitian, penelusuran literatur pada basis data internasional dan nasional terindeks Scopus, WoS, dan Sinta, seleksi artikel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, serta penilaian kualitas studi. Sebanyak 49 artikel dianalisis, yang selanjutnya diklasifikasikan menjadi relevan, dipertimbangkan, dan tidak relevan. Hasil sintesis menunjukkan bahwa tema utama penelitian berpusat pada kepemimpinan sekolah, manajemen berbasis sekolah, penjaminan mutu internal, serta pengelolaan sumber daya pendidikan. Strategi manajemen yang efektif meliputi kepemimpinan instruksional dan transformasional, perencanaan berbasis data, pengembangan profesional guru, serta penerapan sistem manajemen mutu berkelanjutan. Keberhasilan implementasi strategi tersebut dipengaruhi oleh kapasitas kepemimpinan kepala sekolah, kompetensi dan motivasi guru, budaya sekolah, ketersediaan sumber daya, serta dukungan pemangku kepentingan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan mutu sekolah merupakan hasil sinergi berbagai fungsi manajemen pendidikan yang dijalankan secara terpadu dan adaptif terhadap konteks sekolah.</p> <p> </p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9391PENANAMAN NILAI BUDAYA MAPPATABE’ DI PONDOK PESANTREN 2026-02-07T02:21:23+00:00Nur Rahmanurrahmarara30@gmail.comJumadi Jumadinurrahmarara30@gmail.comDimas Ario Sumilihnurrahmarara30@gmail.com<p>This study aims to determine the process of instilling mappatabe' cultural values in the daily lives of adolescents at the Imam Bukhari Islamic Boarding School in Makassar. This study is a descriptive study using qualitative data. To achieve this objective, the researcher used data collection techniques through observation, interviews, documents, and documentation. The data obtained was then analyzed and interpreted based on relevant theories and research results. The results showed that the process of instilling mappatabe' values at the Imam Bukhari Islamic Boarding School in Makassar took place through habits and rules applied in the daily lives of the students. Students were trained to always be polite, greet others, speak softly, and ask for permission by saying tabe'. The Islamic boarding school rules reinforce these habits by emphasizing manners and imposing sanctions on students who commit violations, thereby shaping the Islamic character of students in their daily lives and creating civilized and cultured young people.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses penanaman nilai budaya <em>mappatabe’</em> berlangsung dalam kehidupan sehari-hari pada generasi usia remaja di Pondok Pesantren Imam Bukhari Makassar. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan data kualitatif. Untuk mencapai tujuan itu maka peneliti menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumen dan dokumentasi. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis dan diinterpretasi berdasarkan teori dan hasil penelitian yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penanaman nilai <em>m</em><em>appatabe’</em> di Pondok Pesantren Imam Bukhari Makassar berlangsung melalui pembiasaan dan aturan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari santri. Santri dilatih untuk senantiasa bersikap sopan santun, memberi salam, berbicara lembut, serta meminta izin dengan ucapan <em>tabe’</em>. Aturan Pondok Pesantren menguatkan pembiasaan tersebut dengan menegaskan tata krama dan memberikan sanksi bagi santri yang melakukan pelanggaran, sehingga membentuk karakter Islami santri dalam kehidupan sehari-hari dan mewujudkan remaja yang beradab dan berbudaya.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/6519PERISTIWA PEMBERONTAKAN PKI DI MADIUN TAHUN 1948 DARI PRESPEKTIF SOSIO-KULTURAL 2025-12-19T01:25:06+00:00Septian Dwita Kharismaseptiandwita09@gmail.comParji Parjiparji@unipma.ac.idNurhadji Nugrahambahnur02@yahoo.com<p>This research examines the 1948 Madiun PKI rebellion. This research aims to analyze the socio-cultural conditions of the Madiun community before the rebellion, identify the socio-cultural factors that triggered the rebellion, and examine the socio-cultural impact after the event. This research uses a historical research method with a qualitative approach. Data were collected through literature studies, archival documents, and contemporaneous newspapers. The analysis was conducted using a socio-cultural theoretical framework, including the concepts of social stratification, hegemony (Gramsci), charismatic leadership (Weber), and historical materialism (Marx). The results show that the socio-cultural conditions of Madiun society at that time were characterized by a sharp social stratification between the elite and the lower class (farmers and workers). Feudal hegemony and economic pressure in the colonial era created suffering and depression among the lower classes, which triggered the emergence of movements of masianism and longing for change. These rebellions erupted as the culmination of class and cultural conflicts, where the violence was a form of social revenge against the established feudal order. The post-event impact was the emergence of collective resistance, social solidarity between victims, and the negative stigma attached to the Madiun community until decades later, which shaped collective memory and social identity in the region.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini mengkaji peristiwa pemberontakan PKI Madiun 1948. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi sosio-kultural masyarakat Madiun sebelum pemberontakan, mengidentifikasi faktor-faktor sosio-kultural yang memicu terjadinya pemberontakan, serta menelaah dampak sosio-kultural pasca-peristiwa tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui studi literatur, penelusuran dokumen arsip, dan surat kabar sezaman. Analisis dilakukan dengan kerangka teori sosio-kultural, termasuk konsep stratafikasi sosial, hegemoni (Gramsci), kepemimpinan karismatik (Weber), dan materialisme historis (Marx). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi sosio-kultural masyarakat Madiun saat itu ditandai oleh stratafikasi sosial yang tajam antara kaum elit dengan masyarakat kelas bawah (petani dan buruh). Hegemoni feodal dan tekanan ekonomi di era kolonial menciptakan penderitaan dan depresi di kalangan masyarakat bawah, yang memicu munculnya gerakan-gerakan masianisme dan kerinduan akan perubahan. Pemberontakan ini meletus sebagai puncak dari konflik kelas dan budaya, di mana kekerasan yang terjadi merupakan bentuk balas dendam sosial terhadap tatanan feodal yang mapan. Dampak pasca-peristiwa adalah munculnya perlawanan kolektif, solidaritas sosial antar korban, dan stigma negatif yang dilekatkan pada masyarakat Madiun hingga beberapa dekade kemudian, yang membentuk memori kolektif dan identitas sosial di wilayah tersebut.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9395PENGARUH PENGGUNAAN TIKTOK DI KALANGAN MAHASISWA 2026-02-07T02:17:06+00:00Nabila Aorel Piktoriabilavictoria24@gmail.comTriani Widyantibilavictoria24@gmail.comHendro Sugiartobilavictoria24@gmail.com<p>TikTok is increasingly used by students and has become part of their daily activities. Among students at IPI Garut, the app is used not only for gaming but also for obtaining information, following trends, and interacting with friends. This raises the question of how TikTok use affects students' learning styles and academic activities. This study aims to understand the influence of TikTok use on the learning behavior and productivity of IPI Garut students. The method used was qualitative research with a descriptive approach. Data were obtained through interviews with several students who use TikTok and observations of how the app is used in their daily lives. The results show that TikTok has diverse effects. Some students experience benefits such as being inspired, motivated to learn from educational content, and increased creativity. However, others experience distractions, decreased focus, and procrastination due to uncontrolled use. These findings suggest that the influence of TikTok can be positive or negative, depending on how and how often it is used. In conclusion, IPI Garut students' use of TikTok has a significant impact on their learning activities. Thoughtful use can be beneficial, excessive use tends to reduce academic productivity. Thus, it is important for students to be more conscious about managing their time and limiting their use of TikTok to prevent it from disrupting their learning process.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penggunaan TikTok semakin banyak digunakan oleh para mahasiswa dan sudah menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari mereka. Di lingkungan mahasiswa IPI Garut, aplikasi ini tidak hanya digunakan untuk bermain, tetapi juga untuk mendapatkan informasi, mengikuti trend, dan berinteraksi dengan teman-teman. Hal ini memunculkan pertanyaan bagaimana penggunaan TikTok memengaruhi cara belajar dan kegiatan akademik para mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengaruh penggunaan TikTok terhadap perilaku belajar dan produktivitas mahasiswa IPI Garut. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara dengan sejumlah mahasiswa yang menggunakan TikTok dan observasi terhadap cara penggunaan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok memiliki pengaruh yang beragam. Beberapa mahasiswa merasa manfaat seperti terinspirasi, terdorong belajar dari konten edukatif, serta meningkatkan kreativitas. Namun, ada juga yang mengalami gangguan, fokus belajar menurun, dan kebiasaan menunda tugas karena penggunaan yang tidak terkendali. Temuan ini menunjukkan bahwa pengaruh TikTok bisa positif atau negatif, tergantung pada cara dan seberapa sering digunakan. Kesimpulannya, penggunaan TikTok oleh mahasiswa IPI Garut memiliki pengaruh besar terhadap aktivitas belajar. Penggunaan yang bijak bisa memberikan manfaat, namun penggunaan berlebihan cenderung mengurangi produktivitas akademik. Dengan demikian, penting bagi mahasiswa untuk lebih sadar dalam mengatur waktu dan membatasi penggunaan TikTok agar tidak mengganggu proses belajar.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9188PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING DALAM PEMBELAJARAN IPS UNTUK MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL SISWA KELAS V SD2026-02-07T02:33:53+00:00Nick Selfianus Laritmasnickselfianus3@gmail.comSamuel P Ritiauwpritiauw@gmail.comLeonid Ritiauwleoritiauw93@gmail.com<p>21st-century education demands the development of students' emotional intelligence as a foundation for academic success and psychological well-being. Preliminary observations at SD Negeri 1 Rumah Tiga revealed that fifth-grade students had low abilities in recognizing their emotions, empathizing, and building positive social relationships due to conventional learning that had not optimally developed social-emotional aspects. This study aims to determine the effectiveness of applying the discovery learning model in social studies to improve students' emotional intelligence. This quantitative research involved 32 fifth-grade students as the sample. The instrument used was an emotional intelligence questionnaire with a 4-point Likert scale with a Cronbach's Alpha reliability value of 0.872. Data collection techniques included questionnaires, observations, and documentation. Data analysis employed the Shapiro-Wilk normality test and N-Gain test. The results showed an increase in mean emotional intelligence scores from 61.25 (pretest) to 78.40 (posttest), with an improvement of 17.15 points. All emotional intelligence indicators improved significantly: self-awareness (60.5% to 77.1%), self-management (58.2% to 75.2%), motivation (64.5% to 82.0%), empathy (56.6% to 74.2%), and social awareness (59.6% to 76.2%). It can be concluded that the discovery learning model effectively improves students' emotional intelligence through systematic learning syntax including stimulation, problem identification, data collection, data processing, verification, and drawing conclusions. This model is recommended as an alternative for social studies learning that comprehensively develops students' cognitive and emotional aspects.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pendidikan abad ke-21 menuntut pengembangan kecerdasan emosional siswa sebagai fondasi keberhasilan akademik dan kesejahteraan psikologis. Observasi awal di SD Negeri 1 Rumah Tiga menunjukkan rendahnya kemampuan siswa kelas V dalam mengenali emosi diri, berempati, dan menjalin hubungan sosial positif akibat pembelajaran konvensional yang belum optimal mengembangkan aspek sosial-emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan model <em>discovery learning </em>dalam pembelajaran IPS untuk meningkatkan kecerdasan emosional siswa. Penelitian kuantitatif ini melibatkan 32 siswa kelas V sebagai sampel. Instrumen yang digunakan adalah angket kecerdasan emosional skala Likert 4 poin dengan nilai reliabilitas Cronbach's Alpha 0,872. Teknik pengumpulan data meliputi angket, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan skor rata-rata kecerdasan emosional dari 61,25 (<em>pretest</em>) menjadi 78,40 (<em>posttest</em>) dengan peningkatan 17,15 poin. Seluruh indikator kecerdasan emosional meningkat signifikan: kesadaran diri (60,5% menjadi 77,1%), pengelolaan diri (58,2% menjadi 75,2%), motivasi (64,5% menjadi 82,0%), empati (56,6% menjadi 74,2%), dan kepedulian sosial (59,6% menjadi 76,2%). Dapat disimpulkan bahwa model <em>discovery learning </em>efektif meningkatkan kecerdasan emosional siswa melalui sintaks pembelajaran sistematis yang mencakup stimulasi, identifikasi masalah, pengumpulan data, pengolahan data, pembuktian, dan penarikan kesimpulan. Model ini direkomendasikan sebagai alternatif pembelajaran IPS yang mengembangkan aspek kognitif dan emosional siswa secara komprehensif.</p> <p> </p> <p> </p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9392EFEKTIVITAS PENDEKATAN ETNOPEDAGOGI DALAM MENGINTEGRASIKAN BUDAYA LOKAL PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA2026-02-07T02:20:46+00:00Tiara Berlianiberlianit34@gmail.comNila Sariberlianit34@gmail.com<p>The low level of students' understanding of the diversity of Indonesian society due to the suboptimal integration of local culture in Pancasila Education subjects is the background to the urgency of this research. This study aims to evaluate the effectiveness of the ethnopedagogy approach as a strategy for integrating local culture in Pancasila Education learning. The research method uses a quantitative approach with a quasi-experimental nonequivalent control group design, involving two seventh grade classes at SMP Negeri 18 Palembang as the experimental and control groups. The data collection process was carried out through pretest and posttest instruments whose validity and reliability were tested, then analyzed using prerequisite tests and the Mann–Whitney U Test hypothesis test. The results of the quantitative data analysis showed a significant increase, where the experimental class with the ethnopedagogy approach experienced an average increase in scores from 60.41 to 83.88 or 38.85%, higher than the control class using conventional methods with an increase from 54.02 to 74.16 or 37.28%. Statistical tests confirmed a significant difference in learning outcomes between the two groups. The main conclusion of this study confirms that the ethnopedagogical approach has proven effective in improving students' understanding and successfully integrating local cultural values contextually in Pancasila Education learning, so it is recommended as a relevant pedagogical innovation.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Rendahnya pemahaman peserta didik terhadap keberagaman masyarakat Indonesia akibat belum optimalnya pengintegrasian budaya lokal dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila menjadi latar belakang urgensi penelitian ini. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pendekatan etnopedagogi sebagai strategi pengintegrasian budaya lokal dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain <em>quasi-experimental nonequivalent control group design</em>, melibatkan dua kelas VII di SMP Negeri 18 Palembang sebagai kelompok eksperimen dan kontrol. Proses pengumpulan data dilakukan melalui instrumen <em>pretest</em> dan <em>posttest</em> yang teruji validitas serta reliabilitasnya, kemudian dianalisis menggunakan uji prasyarat dan uji hipotesis <em>Mann–Whitney U Test</em>. Hasil analisis data kuantitatif menunjukkan peningkatan signifikan, di mana kelas eksperimen dengan pendekatan etnopedagogi mengalami kenaikan rata-rata nilai dari 60,41 menjadi 83,88 atau sebesar 38,85%, lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol yang menggunakan metode konvensional dengan kenaikan dari 54,02 menjadi 74,16 atau sebesar 37,28%. Uji statistik mengonfirmasi adanya perbedaan nyata hasil belajar antara kedua kelompok. Simpulan utama penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan etnopedagogi terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta didik dan berhasil mengintegrasikan nilai budaya lokal secara kontekstual dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila, sehingga direkomendasikan sebagai inovasi pedagogis yang relevan.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9083IMPLEMENTASI GAMIFIKASI PEMBELAJARAN IPS MELALUI GAME BERBURU POINT DI SMP2026-02-07T02:38:58+00:00Putri Arum AnggraeniPutriarumanggraeni29@Students.unnes.ac.idFerani Mulianingsihputricameliadalimunthe2@gmail.com<p>Education plays a very important role in developing competent, creative, and innovative human resources. However, in practice, social studies at the junior high school level is often perceived as a boring and uninteresting subject, which results in low learning interest and activity among students. This problem calls for the creation of new innovations in learning methods and media that can create a more enjoyable learning atmosphere. This study aims to identify the implementation of social studies gamification through point-hunting games in increasing the learning interest and activity of eighth-grade students at SMP Negeri 39 Semarang. This study uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques in the form of observation, interviews, and documentation. The data obtained was analyzed using a triangulation process of sources to obtain a comprehensive picture of the impact of the application of point-hunting learning media. The results obtained in this study indicate that the application of point-hunting games can increase student engagement in class, foster interest in learning, and change students' perceptions of social studies lessons to be more positive. Parts of the point system in point-hunting games, variations in the difficulty level of questions, and healthy competition in the game encourage students to dare to make decisions and take on challenges in the learning process.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong><br />Dalam mengembangkan kualitas sumber daya manusia yang kompeten, kreatif dan inovatif, pendidikan mempunyai peran yang sangat besar dalam hal itu. Namun didalam praktiknya pembelajaran IPS ditingkat SMP masih sering kali dipersepsikan sebagai mata pelajaran yang membosankan dan kurang menarik, sehingga hal tersebut berdampak pada rendahnya minat belajar dan keaktifan peserta didik. Adanya masalah ini menuntut pembentukan inovasi baru dalam método dan media pembelajaran yang mampu menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi implementasi gamifikasi pembelajaran IPS melalui game berburu poin dalam meningkatkan minat belajar dan keaktifan siswa kelas VIII di SMP Negeri 39 Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang didapat dianalisis menggunakan proses triangulasi sumber-sumber untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai dampak penerapan media pembelajaran berburu poin. Hasil yang didapat dalam penelitian menunjukkan bahwa penerapan game berburu poin mampu meningkatkan keterlibatan aktif siswa dikelas, menumbuhkan minat belajar, serta dapat mengubah persepsi siswa terhadap pelajaran IPS menjadi lebih positif. Bagian-bagian dari sistema poin yang ada dalam game berburu poin, variasi tingkat kesulitan soal, serta kompetisi sehat dalam berjalannya game tersebut mendorong siswa untuk berani mengambil keputusan dan tantangan dalam proses pembelajaran.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS