https://jurnalp4i.com/index.php/social/issue/feedSOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS2026-03-07T02:22:32+00:00Randi Pratama Murtikusuma, M.Pdrandi.popo@gmail.comOpen Journal Systems<p><strong>SOCIAL: Jurnal Inovasi Pendidikan IPS</strong> | <a href="https://sinta.kemdiktisaintek.go.id/journals/profile/12050"><strong>Terakreditasi Sinta 4 </strong></a>diterbitkan 4 kali setahun (Maret, Juni, September, dan Desember) oleh Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) yang berafiliasi dengan Perguruan Tinggi Indonesia. Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan IPS.<br /><strong>e-ISSN : </strong><strong>2797-8842 </strong><strong>| </strong><strong>p-ISSN :</strong> <strong>2797-9431</strong></p>https://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9200IMPLEMENTASI PENYETARAAN JABATAN DI PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA 2026-01-24T06:41:29+00:00Gupita Mar Attanisaagupitaattanisaa@gmail.comSugiyanto Sugiyantogupitaattanisaa@gmail.com<p>This study aims to examine the implementation of job reclassification as part of the bureaucratic simplification policy in the Government of Yogyakarta City. The national bureaucratic simplification policy, mandated through the Regulation of the Minister of Administrative and Bureaucratic Reform No. 25 of 2021 and the President’s instruction in 2019, requires changes in organizational structure, job adjustments, and work systems across government institutions, including the Yogyakarta City Government. This research employs a qualitative method with a descriptive approach through observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis is conducted using the model of Miles, Huberman, and Saldana, which includes data condensation, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that the implementation of job reclassification was carried out through three main stages: structural simplification, conversion of administrative positions into functional positions, and adjustments to a cross-sector team-based work system. The Yogyakarta City Government reclassified 177 officials in 2021 and continued the process in 2022 with an additional five officials. The study identifies several challenges, including the limited readiness of human resources, concerns about credit points, mismatch between technical competencies and job requirements, and worries related to income changes. Nevertheless, the reclassification also provides benefits such as improved organizational efficiency, faster decision-making, greater work system flexibility, and strengthened collaborative work culture. Overall, job reclassification in the Yogyakarta City Government has been carried out effectively and aligns with national bureaucratic reform objectives. However, further efforts are required to enhance ASN competencies, develop more accurate functional position planning, and strengthen the work system to ensure that the goals of bureaucratic simplification can be fully achieved.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi penyetaraan jabatan dalam rangka penyederhanaan birokrasi di Pemerintah Kota Yogyakarta. Kebijakan nasional penyederhanaan birokrasi yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 25 Tahun 2021 dan instruksi Presiden tahun 2019 menuntut perubahan struktur, penyesuaian jabatan, serta sistem kerja di berbagai instansi pemerintah, termasuk Pemerintah Kota Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui teknik observasi, wawancara mendalam, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana yang mencakup kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi penyetaraan jabatan dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yaitu penyederhanaan struktur organisasi, konversi jabatan administrasi menjadi jabatan fungsional, serta penyesuaian sistem kerja berbasis tim lintas bidang. Pemerintah Kota Yogyakarta menyetarakan 177 pejabat pada tahun 2021 dan melanjutkan proses tersebut pada tahun 2022 dengan tambahan lima pejabat. Penelitian menemukan beberapa hambatan seperti keterbatasan kesiapan sumber daya manusia, kecemasan terkait angka kredit, ketidaksesuaian kompetensi teknis, serta kekhawatiran tentang pendapatan. Meskipun demikian, penyetaraan jabatan juga memberikan manfaat berupa peningkatan efisiensi kerja, percepatan proses pengambilan keputusan, fleksibilitas sistem kerja, dan penguatan budaya kolaboratif. Secara keseluruhan, penyetaraan jabatan di Pemerintah Kota Yogyakarta telah berjalan cukup baik dan selaras dengan arah reformasi birokrasi nasional. Namun masih diperlukan peningkatan kompetensi ASN, perencanaan formasi jabatan fungsional yang lebih matang, serta penguatan sistem kerja agar tujuan penyederhanaan birokrasi dapat tercapai secara optimal.</p>2026-01-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9390TRADISI ADOK SEBAGAI WUJUD ESTETIKA BUDAYA DALAM ADAT PERNIKAHAN 2026-02-07T02:26:09+00:00Engracia Abelta Namiraengraciaabeltaa@gmail.comCamellia Camelliaengraciaabeltaa@gmail.com<p>This study aims to examine the adok tradition as a form of cultural aesthetics within the wedding customs of the Ranau community in Sukamarga Village, South OKU Regency, Indonesia. The adok tradition is not merely a ceremonial ritual but functions as a cultural mechanism embedded with symbolic meanings, aesthetic expressions, and social legitimacy. This research employs a qualitative approach with an ethnographic design, utilizing participant observation during traditional wedding ceremonies, in-depth interviews with customary leaders, community members, and married couples, as well as documentation analysis. The findings reveal that the adok tradition represents Ranau cultural aesthetics through three interrelated dimensions: visual, performative, and symbolic aesthetics. The ngeharak kebayan procession, the use of traditional ornaments, martial arts performances accompanied by kulintang music, and the striking of the gong serve as aesthetic expressions that affirm honor, social recognition, and communal acceptance of the bride and groom. Furthermore, the adok tradition embodies noble values such as togetherness, social responsibility, protection, and respect for customary structures. From the perspective of Pancasila and Civic Education, the adok tradition holds significant relevance as a contextual learning resource grounded in local wisdom, contributing to the formation of civic identity and the internalization of Pancasila values. This study highlights the importance of preserving the Adok Tradition to ensure the sustainability of local culture amid contemporary social transformations.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tradisi <em>adok</em> sebagai wujud estetika budaya dalam adat pernikahan masyarakat Ranau di Desa Sukamarga, Kabupaten OKU Selatan. Tradisi <em>adok</em> dipahami bukan sekadar ritual seremonial, melainkan sebagai mekanisme adat yang sarat makna simbolik, estetika, dan fungsi sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian etnografi, yang dilakukan melalui observasi partisipatif pada prosesi adat pernikahan, wawancara mendalam dengan tokoh adat, masyarakat, dan pasangan pengantin, serta studi dokumentasi adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi <em>adok </em>merepresentasikan estetika budaya Ranau dalam tiga dimensi utama, yaitu estetika visual, performatif, dan simbolik. Prosesi ngeharak kebayan, penggunaan ornamen adat, pertunjukan kuntau dengan iringan kulintang, serta penabuhan gong menjadi ekspresi estetika yang menegaskan kehormatan, legitimasi sosial, dan penerimaan adat terhadap pasangan pengantin. Tradisi <em>adok</em> mengandung nilai-nilai luhur berupa kebersamaan, tanggung jawab sosial, perlindungan, dan penghormatan terhadap struktur adat. Dalam perspektif Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Tradisi <em>adok</em> memiliki relevansi strategis sebagai sumber belajar kontekstual berbasis kearifan lokal yang berkontribusi pada pembentukan identitas kewargaan dan penguatan nilai Pancasila. Penelitian ini menegaskan pentingnya pelestarian tradisi <em>adok</em> sebagai bagian dari keberlanjutan budaya lokal di tengah dinamika sosial modern.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9380FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBELAJARAN DEEP LEARNING DALAM MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN IPS 2026-02-07T02:32:45+00:00Erric Kondoerrickondoy@unima.ac.idHerman Philips Dolonsedaerrickondoy@unima.ac.idDhea Jessica Sendiangerrickondoy@unima.ac.idVerry Ronny Palilinganerrickondoy@unima.ac.id<p>This study aims to explore the factors influencing deep learning in developing critical thinking skills among students in the Social Studies Education Department at Manado State University. Using a qualitative approach with a case study design, this study involved five students (M1-M5) and three lecturers (D1-D3) as participants. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using thematic analysis. The findings revealed four main factors influencing deep learning: (1) the lecturer's pedagogical strategy as a facilitator of higher-order thinking, with an emphasis on Socratic questioning, problem-based learning, and contextual case analysis; (2) students' intrinsic motivation and self-regulation, which demonstrate the crucial role of individual initiative in the construction of deep understanding; (3) the learning environment and social interactions, which create a zone of proximal development through collaborative discussions and peer feedback; and (4) structural and cultural barriers, including large class sizes, conventional assessment systems, and a culture of shyness that limits the expression of critical thinking. This study concludes that deep learning is a systemic phenomenon resulting from a complex interaction between pedagogical, psychological, social, and contextual factors. Theoretical implications point to the need to adapt Western learning theories to the Indonesian sociocultural context, while practical implications emphasize the importance of multi-level interventions to optimize deep learning and the development of critical thinking in higher education.</p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran deep learning dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa Jurusan Pendidikan IPS Universitas Negeri Manado. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, penelitian ini melibatkan lima mahasiswa (M1-M5) dan tiga dosen (D1-D3) sebagai partisipan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Temuan mengungkap empat faktor utama yang mempengaruhi pembelajaran mendalam: (1) strategi pedagogik dosen sebagai fasilitator berpikir tingkat tinggi, dengan penekanan pada pertanyaan Socratic, problem-based learning, dan analisis kasus kontekstual; (2) motivasi intrinsik dan regulasi diri mahasiswa, yang menunjukkan peran krusial inisiatif individu dalam konstruksi pemahaman mendalam; (3) lingkungan pembelajaran dan interaksi sosial, yang menciptakan zona perkembangan proksimal melalui diskusi kolaboratif dan peer feedback; serta (4) hambatan struktural dan kultural, termasuk ukuran kelas besar, sistem asesmen konvensional, dan budaya malu berpendapat yang membatasi ekspresi berpikir kritis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran mendalam merupakan fenomena sistemik yang dihasilkan dari interaksi kompleks antara faktor pedagogik, psikologis, sosial, dan kontekstual. Implikasi teoretis menunjukkan perlunya adaptasi teori pembelajaran Barat ke konteks sosiokultural Indonesia, sementara implikasi praktis menekankan pentingnya intervensi multi-level untuk mengoptimalkan pembelajaran mendalam dan pengembangan berpikir kritis di pendidikan tinggi.</p> <p> </p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9381KUALITAS PENGAJARAN DAN EFIKASI DIRI SEBAGAI DETERMINAN PRESTASI AKADEMIK MAHASISWA PENDIDIKAN AKUNTANSI 2026-02-07T02:31:25+00:00Farah Oktavia Azharfrhokt06@gmail.comNazifa Devlanifrhokt06@gmail.comEsi Andina Febriyana Siregarfrhokt06@gmail.com<p>The suboptimal academic achievement of Accounting Education students at Jakarta State University is often influenced by internal and external factors, particularly self-efficacy and teaching quality. This study aims to analyze the influence of teaching quality and self-efficacy on student academic achievement. Using a quantitative approach with a survey method, the study involved 42 active students from the 2022–2024 intake as a sample. Data were collected through a structured questionnaire and analyzed using the Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) method after undergoing validity and reliability tests. The study findings indicate that teaching quality has a significant effect on the intervening variable with a path coefficient of 0.348 and a p-value of 0.018, while self-efficacy has a more dominant influence with a path coefficient of 0.568 and a p-value of 0.000. Although both variables contribute positively to the learning process, further analysis revealed that the intervening variable has not significantly affected GPA directly with a p-value of 0.059. The main conclusion of this study confirms that although the quality of teaching and self-efficacy are crucial in supporting the learning process, the achievement of GPA as the final indicator of academic achievement is multidimensional and influenced by other factors outside this research model.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Prestasi akademik mahasiswa Pendidikan Akuntansi di Universitas Negeri Jakarta yang belum optimal sering kali dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, khususnya efikasi diri dan kualitas pengajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kualitas pengajaran dan efikasi diri terhadap prestasi akademik mahasiswa. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei, penelitian melibatkan 42 mahasiswa aktif angkatan 2022–2024 sebagai sampel. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan metode <em>Partial Least Squares–Structural Equation Modeling</em> (PLS-SEM) setelah melalui uji validitas dan reliabilitas. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kualitas pengajaran berpengaruh signifikan terhadap variabel intervening dengan koefisien jalur sebesar 0,348 dan nilai p 0,018, sementara efikasi diri memiliki pengaruh yang lebih dominan dengan koefisien jalur 0,568 dan nilai p 0,000. Meskipun kedua variabel tersebut berkontribusi positif terhadap proses pembelajaran, analisis lebih lanjut mengungkapkan bahwa variabel intervening belum berpengaruh signifikan terhadap IPK secara langsung dengan nilai p 0,059. Simpulan utama penelitian ini menegaskan bahwa meskipun kualitas pengajaran dan efikasi diri krusial dalam mendukung proses pembelajaran, pencapaian IPK sebagai indikator akhir prestasi akademik bersifat multidimensional dan dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian ini.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9396REVIEW LITERATURE: INOVASI ADMINISTRASI KEPROTOKOLAN DALAM PERSPEKTIF E-GOVERNMENT2026-02-07T01:37:47+00:00Muhammad Tsaqib Almazytsaqib98@gmail.comSugiyanto Sugiyantotsaqib98@gmail.com<p>The development of information technology has encouraged local governments to innovate in the implementation of public administration, including in the field of protocol administration. Conventional protocol administration practices are often considered insufficient in responding to demands for efficiency, accuracy, and service transparency. This article aims to examine and reflect on innovations in protocol administration from an e-government perspective based on findings from previous studies. This study employs a qualitative literature review method by analyzing relevant national and international journal articles published between 2019 and 2024. The literature was collected from reputable academic databases and analyzed thematically to identify patterns, trends, and key issues. The findings indicate that digital-based protocol administration innovations contribute to improved work efficiency, better inter-unit coordination, and more orderly implementation of governmental activities. Nevertheless, the implementation of such innovations still faces several challenges, including limitations in human resources, resistance to organizational change, and inadequate technological infrastructure readiness. The study concludes that the success of protocol administration innovation is not solely determined by technological factors but also by organizational support, leadership commitment, and bureaucratic work culture. This article is expected to provide a conceptual reference for policymakers and practitioners in developing protocol administration innovations within local government institutions.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perkembangan teknologi informasi mendorong pemerintah daerah untuk melakukan inovasi dalam penyelenggaraan administrasi publik, termasuk pada bidang keprotokolan. Administrasi keprotokolan yang selama ini bersifat manual dinilai kurang responsif terhadap tuntutan efektivitas, akurasi, dan transparansi layanan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji dan merefleksikan inovasi administrasi keprotokolan dalam perspektif <em>e-government</em> berdasarkan temuan-temuan penelitian terdahulu. Penelitian ini menggunakan metode <em>review literatur kualitatif</em> dengan menelaah artikel jurnal nasional dan internasional yang relevan dan dipublikasikan dalam kurun waktu 2019–2024. Literatur dikumpulkan melalui basis data ilmiah terpercaya dan dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi pola, kecenderungan, serta isu utama yang berkembang. Hasil kajian menunjukkan bahwa inovasi administrasi keprotokolan berbasis digital berkontribusi terhadap peningkatan efisiensi kerja, kualitas koordinasi antarunit, serta ketertiban pelaksanaan kegiatan pemerintahan. Namun demikian, implementasi inovasi tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan sumber daya manusia, resistensi terhadap perubahan, serta kesiapan infrastruktur teknologi. Simpulan dari kajian ini menegaskan bahwa keberhasilan inovasi administrasi keprotokolan tidak hanya ditentukan oleh aspek teknologi, tetapi juga oleh dukungan organisasi, kepemimpinan, dan budaya kerja birokrasi. Artikel ini diharapkan dapat menjadi rujukan konseptual bagi pengembangan kebijakan inovasi keprotokolan di pemerintah daerah.</p> <p> </p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9133PENGARUH PENGGUNAAN GADGET TERHADAP INTERAKSI SOSIAL SISWA DI SMP2026-02-07T02:35:36+00:00Adinda Zalsa Auliaadindazalsa03@gmail.comEldi Mulyanaeldimulyana@institutpendidikan.ac.idSlamat Nopharipaldi Rohmanslametnopharipaldi@institutpendidikan.ac.id<p>The development of digital technology in the modern era has brought significant changes to patterns of social interaction, particularly among adolescents. Gadgets, which initially served merely as communication tools, have now become part of a lifestyle that influences students’ social behavior, including a tendency toward decreased face-to-face interaction within the school environment. This phenomenon is also evident at SMP Negeri 1 Garut, where some students appear more focused on using their gadgets rather than engaging directly with their peers. Based on this situation, the present study was conducted to determine the level of gadget use, the level of students’ social interaction, and to analyze the influence of gadget use on the social interaction of students at SMP Negeri 1 Garut. This research employed a quantitative method with a correlational approach to examine the relationship between gadget use (X) and students’ social interaction (Y). The study took place at SMP Negeri 1 Garut, during October–November 2025. The population consisted of 118 ninth-grade students. A sample of 91 students was selected using a non-probability sampling technique, specifically purposive sampling, based on the criterion of students who actively used gadgets. The sample size was determined using the Slovin formula with a 5% margin of error. The findings showed a moderate to strong positive relationship between gadget use and students’ social interaction, indicated by a Spearman correlation coefficient of 0.532 and a significance value of 0.002 (p < 0.05). These results suggest that gadget use can enhance social interaction when applied wisely; however, excessive or uncontrolled use may reduce the quality of direct interpersonal interaction.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perkembangan teknologi digital pada era modern telah membawa perubahan signifikan terhadap pola interaksi sosial, terutama di kalangan remaja. Gadget yang awalnya berfungsi sebagai alat komunikasi kini menjadi bagian dari gaya hidup yang memengaruhi perilaku sosial siswa, termasuk kecenderungan menurunnya interaksi tatap muka di lingkungan sekolah. Fenomena tersebut terlihat pula di SMP Negeri 1 Garut, di mana sebagian siswa lebih fokus pada penggunaan gadget dibandingkan berkomunikasi secara langsung dengan teman sebayanya. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat penggunaan gadget, tingkat interaksi sosial siswa, serta menganalisis pengaruh penggunaan gadget terhadap interaksi sosial siswa di SMP Negeri 1 Garut. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional untuk menguji hubungan antara variabel penggunaan gadget (X) dan interaksi sosial siswa (Y). Lokasi penelitian berada di SMP Negeri 1 Garut, dan dilaksanakan pada Oktober–November 2025. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas IX berjumlah 118 orang. Sampel sebanyak 91 siswa ditentukan melalui teknik nonprobability sampling jenis purposive sampling, dengan kriteria siswa kelas IX yang aktif menggunakan gadget. Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif sedang hingga kuat antara penggunaan gadget dan interaksi sosial siswa dengan koefisien korelasi Spearman sebesar 0,532 dan nilai signifikansi 0,002 (p < 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa penggunaan gadget dapat mendukung interaksi sosial apabila digunakan secara bijak, namun tetap berpotensi menurunkan kualitas interaksi tatap muka jika digunakan secara berlebihan.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9114PENGARUH MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR SISWA DI SMP2026-02-07T02:37:50+00:00Deyski Hamsadeyskihamsa307@gmail.comRadia Hafiddeyskihamsa307@gmail.comAbdulrahim Maruwaedeyskihamsa307@gmail.comRoy Hasirudeyskihamsa307@gmail.comArdiansyah Ardiansyahdeyskihamsa307@gmail.com<p>The low level of student engagement and passive enthusiasm in the learning process at SMP Negeri 2 Bongomeme underlies the urgency of implementing pedagogical innovation through interactive learning media. This study aims to analyze the magnitude of the influence of the use of interactive media on increasing student learning activities as a solution to the dominance of conventional methods. Using a quantitative approach with a causal design and simple linear regression analysis, this study involved a population of 145 students with a sample of 36 respondents collected through a questionnaire instrument. The research findings indicate a positive and significant influence, which is statistically proven through the regression equation Ŷ = 44.172 + 0.583X. This significance is confirmed by the hypothesis test where the t-count value of 4.488 far exceeds the t-table value of 1.690, and is supported by a coefficient of determination of 37.2% which indicates the effective contribution of media to the variability of student learning activities. The main conclusion of this study confirms that the application of interactive learning media is proven to be effective in stimulating students to be more active visually, orally, and emotionally. Therefore, the integration of interactive media technology is highly recommended for educators to create a dynamic classroom atmosphere, overcome student passivity, and improve the quality of learning interactions as a whole.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Rendahnya tingkat keterlibatan dan pasifnya antusiasme siswa dalam proses pembelajaran di SMP Negeri 2 Bongomeme melatarbelakangi urgensi penerapan inovasi pedagogis melalui media pembelajaran interaktif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besarnya pengaruh penggunaan media interaktif terhadap peningkatan aktivitas belajar siswa sebagai solusi atas dominasi metode konvensional. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausal dan analisis regresi linier sederhana, penelitian ini melibatkan populasi 145 siswa dengan sampel sebanyak 36 responden yang dijaring melalui instrumen angket. Temuan penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan, yang dibuktikan secara statistik melalui persamaan regresi Ŷ = 44,172 + 0,583X. Signifikansi ini dikonfirmasi oleh uji hipotesis di mana nilai t-hitung sebesar 4,488 jauh melampaui nilai t-tabel sebesar 1,690, serta didukung oleh koefisien determinasi sebesar 37,2% yang mengindikasikan kontribusi efektif media terhadap variabilitas aktivitas belajar siswa. Simpulan utama penelitian ini menegaskan bahwa penerapan media pembelajaran interaktif terbukti efektif dalam menstimulasi siswa untuk lebih aktif secara visual, oral, maupun emosional. Oleh karena itu, integrasi teknologi media interaktif sangat direkomendasikan bagi pendidik guna menciptakan atmosfer kelas yang dinamis, mengatasi kepasifan siswa, dan meningkatkan kualitas interaksi pembelajaran secara menyeluruh.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9082MEDIA PEMBELAJARAN TEKA TEKI SILANG DAN WORD SEARCH : INOVASI PEMBELAJARAN IPS KELAS VIII SMP2026-02-07T02:40:05+00:00Azzahra Nafa Al Arifinazzahranafa0@students.unnes.ac.idFerani Mulianingsihazzahranafa0@students.unnes.ac.id<p> </p> <p>Junior high school social studies (IPS) instruction still confronts difficulties due to boring traditional approaches that lower student engagement and motivation. In order to increase eighth-grade students' motivation and comprehension, this study intends to investigate the use of Crossword Puzzle (TTS) and Word Search media as social studies learning innovations.Four informants were purposefully chosen from among eighth-grade students at SMP Negeri 39 Semarang for this qualitative study using a descriptive methodology. Participatory observation, in-depth interviews, and documentation were used to gather data, which was then examined using the Miles and Huberman methodology. The findings demonstrated that all four informants' learning motivation was consistently raised by TTS and Word Search media, as evidenced by their high levels of enthusiasm, active engagement, and impromptu peer learning.The media's ability to support meaningful learning was demonstrated by material retention that persisted for up to two months following learning. Word Search concentrated on memorizing terminology by pleasurable repetition, whereas TTS was successful in developing conceptual comprehension with definitional clues. With medium-ability students favoring Word Search and high-ability students favoring TTS, the mix of both media catered to the diversity of student abilities. Time limits and challenges for medium-ability students to comprehend complex TTS instructions were identified.With suggestions for creating tiers of difficulty, streamlining instructional language, and creating digital versions for more ideal learning personalization, this study concludes that TTS and Word Search media are useful substitutes to raise the caliber of social studies instruction.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di sekolah menengah pertama masih menghadapi kesulitan akibat pendekatan tradisional yang membosankan, yang menurunkan tingkat keterlibatan dan motivasi siswa. Untuk meningkatkan motivasi dan pemahaman siswa kelas VIII, penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki penggunaan media Teka-teki Silang (TTS) dan Pencarian Kata sebagai inovasi pembelajaran IPS.Empat informan dipilih secara sengaja dari siswa kelas VIII di SMP Negeri 39 Semarang untuk studi kualitatif ini yang menggunakan metodologi deskriptif. Pengamatan partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data, yang kemudian dianalisis menggunakan metodologi Miles dan Huberman. Temuan menunjukkan bahwa motivasi belajar keempat informan secara konsisten meningkat berkat media TTS dan Word Search, sebagaimana dibuktikan oleh tingkat antusiasme yang tinggi, keterlibatan aktif, dan pembelajaran antar teman secara spontan. Kemampuan media dalam mendukung pembelajaran yang bermakna dibuktikan melalui retensi materi yang bertahan hingga dua bulan setelah proses pembelajaran. Word Search berfokus pada penghafalan terminologi melalui pengulangan yang menyenangkan, sedangkan TTS berhasil mengembangkan pemahaman konseptual dengan petunjuk definisi. Siswa dengan kemampuan menengah lebih menyukai Word Search, sementara siswa dengan kemampuan tinggi lebih menyukai TTS. Kombinasi kedua media ini mengakomodasi keragaman kemampuan siswa. Batasan waktu dan tantangan bagi siswa dengan kemampuan sedang untuk memahami instruksi TTS yang kompleks telah diidentifikasi.Dengan saran untuk membuat tingkatan kesulitan, menyederhanakan bahasa instruksional, dan membuat versi digital untuk personalisasi pembelajaran yang lebih ideal, studi ini menyimpulkan bahwa media TTS dan Word Search merupakan pengganti yang berguna untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPS.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9385FENOMENA TREN #KABURAJADULU PADA MEDIA SOSIAL TIKTOK DALAM PERSPEKTIF MAHASISWA PROGRAM STUDI PPKN 2026-02-07T02:27:03+00:00Achmad Dzaky Santana Putra06051182227001@student.unsri.ac.idUmi Chotimah06051282126045@student.unsri.ac.id<p>The development of information and communication technology has brought significant changes to society, particularly through social media, which has become the main space for interaction among the younger generation. <em>TikTok</em>, as a short-video-based platform, is widely used by students to express themselves while simultaneously following digital trends. One of the emerging phenomena is the <em>#KaburAjaDulu</em> trend, which is not only characterized by the habit of taking short trips abroad as a form of escape from life pressures, but also reflects a new lifestyle among young people that emphasizes experience, freedom, and the search for identity. This study employs a quantitative method with a descriptive statistical research model, involving a population of 400 students and a sample of 200 students from the 2022-2025 cohorts. Data collection techniques include questionnaires and documentation, with valid and reliable instruments initially distributed to each cohort leader and subsequently shared within their respective class groups. In this study, the independent variable is the <em>#KaburAjaDulu</em> trend on <em>TikTok</em>, while the dependent variable is the perspective of students in the Civic Education Study Program (PPKn) at FKIP Sriwijaya University. The findings reveal that the phenomenon is perceived positively by students, as evidenced by 83.3% of respondents giving positive responses to 25 out of 30 statements, while 16.7% gave negative responses to 5 statements. These results indicate that student involvement in the trend serves not only as a means of self-expression and participation in digital trends, but also reflects a drive to enhance creativity, broaden horizons, and create a healthy pause from academic routines and social pressures. words.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, khususnya melalui media sosial yang menjadi ruang utama interaksi generasi muda. <em>TikTok</em> sebagai <em>platform</em> berbasis video pendek kini banyak dimanfaatkan mahasiswa untuk mengekspresikan diri sekaligus mengikuti tren digital, salah satunya fenomena tren <em>#KaburAjaDulu</em> yang tidak hanya berupa kebiasaan melakukan perjalanan singkat ke luar negeri sebagai bentuk pelarian dari tekanan hidup, tetapi juga mencerminkan gaya hidup baru generasi muda yang menekankan pengalaman, kebebasan, dan pencarian identitas diri. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan model penelitian statistik deskriptif, dengan populasi 400 mahasiswa dan sampel 200 mahasiswa dari tahun angkatan 2022-2025. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui angket (kuesioner) dan dokumentasi, di mana instrumen yang valid dan reliabel disebarkan terlebih dahulu kepada setiap ketua angkatan untuk kemudian diteruskan ke grup kelas masing-masing angkatan. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah fenomena tren <em>#KaburAjaDulu</em> pada media sosial <em>TikTok</em>, sedangkan variabel terikatnya adalah perspektif mahasiswa Program Studi PPKn FKIP Universitas Sriwijaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena tersebut dipersepsikan positif oleh mahasiswa, dibuktikan dengan 83.3% responden memberikan tanggapan positif terhadap 25 pernyataan dari total 30 pernyataan, sementara 16.7% memberikan tanggapan negatif terhadap 5 pernyataan. Temuan ini mengindikasikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam tren tersebut tidak hanya menjadi sarana untuk mengekspresikan diri sekaligus mengikuti tren digital, tetapi juga mencerminkan dorongan mengembangkan kreativitas, memperluas wawasan, serta menciptakan ruang jeda yang sehat dari rutinitas akademik maupun tekanan sosial.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9132PENGARUH FASILITAS BELAJAR TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA IPS KELAS VII SMP2026-02-07T02:36:28+00:00Mutmaina Ahmadmutyahmad179@gmail.comMeyko Panigoromutyahmad179@gmail.comRierind Koniyomutyahmad179@gmail.comMelizubaida Mahmudmutyahmad179@gmail.comCristian Polamolomutyahmad179@gmail.com<p>This study aims to investigate the influence of learning facilities on students' learning interest in Social Studies (IPS) for seventh-grade students at SMP Negeri 1 Tilongkabila, Bone Bolango Regency. It employs a quantitative approach with a sample of 32 students selected via simple random sampling from a total population of 112 students. The research instrument is a Likert-scale questionnaire validated for validity and reliability. Data analysis utilized simple linear regression with SPSS software support. The findings reveal a very strong relationship between learning facilities and students' learning interest, evidenced by a Pearson correlation coefficient of 0.928. Furthermore, the coefficient of determination (R 2 R 2) of 0.862 indicates that 86.2% of the variation in students' learning interest is influenced by learning facilities, while the remaining 13.8% is attributed to other factors beyond this study. Thus, it can be concluded that better learning facilities lead to higher learning interest among seventh-grade students in Social Studies at SMP Negeri 1 Tilongkabila.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fasilitas belajar terhadap minat belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas VII di SMP Negeri 1 Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jumlah sampel sebanyak 32 siswa yang ditentukan melalui teknik simple random sampling dari total populasi 112 siswa. Instrumen penelitian berupa angket skala Likert yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linear sederhana dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fasilitas belajar memiliki hubungan yang sangat kuat dengan minat belajar siswa, yang dibuktikan dengan nilai koefisien korelasi (Pearson) sebesar 0,928. Selain itu, nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,862 mengindikasikan bahwa 86,2% variasi minat belajar siswa dipengaruhi oleh fasilitas belajar, sedangkan 13,8% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin baik fasilitas belajar yang tersedia, semakin tinggi pula minat belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas VII di SMP Negeri 1 Tilongkabila.</p> <p> </p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9394ANALISIS BRAND COMMUNITY DAN OPINION LEADER PADA KEPUTUSAN PEMBELIAN PROSUK JAM TANGAN SWATCH (STUDI MENGENAI LOYALITAS MEMBER SWATCH CLUB INDONESIA)2026-02-07T02:19:02+00:00Fellen Pangki Nugrohopangkinug@gmail.comAnita Rinawatipangkinug@gmail.comLukman Fadhiliyapangkinug@gmail.com<p>The phenomenon of fluctuating market position of Swatch watches in Indonesia demands a more adaptive marketing strategy, one of which is through optimizing the role of the community to build brand loyalty. This study aims to analyze the influence of Brand Community and Opinion Leaders on purchasing decisions of Swatch watch products, with the focus of the study on members of Swatch Club Indonesia (SCI). The research method applies a mixed method approach involving 59 respondents through saturated sampling techniques, where data are analyzed using multiple linear regression assisted by SPSS and in-depth qualitative analysis. The results of the study show strong empirical findings, where partially the Brand Community and Opinion Leader variables have a significant effect with a significance value of 0.000. Simultaneously, both variables are proven to have a positive and significant influence on purchasing decisions, indicated by the calculated F value of 22.148 which exceeds the F table of 3.17, as well as the coefficient of determination (R Square) value of 0.442 which indicates a contribution of 44.2%. These findings confirm that the existence of a solid community and the active role of opinion leaders are very effective in building consumer trust, minimizing the risk of product uncertainty, and stimulating purchasing decisions. The main conclusion of this study recommends strategic synergy between manufacturers and internal communities and influencers to maintain loyalty and increase product sales volume sustainably.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Fenomena fluktuasi posisi pasar jam tangan Swatch di Indonesia menuntut strategi pemasaran yang lebih adaptif, salah satunya melalui optimalisasi peran komunitas guna membangun loyalitas merek. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh <em>Brand Community</em> dan <em>Opinion Leader</em> terhadap keputusan pembelian produk jam tangan Swatch, dengan fokus studi pada anggota Swatch Club Indonesia (SCI). Metode penelitian menerapkan pendekatan campuran (<em>mixed method</em>) yang melibatkan 59 responden melalui teknik <em>sampling</em> jenuh, di mana data dianalisis menggunakan regresi linear berganda berbantuan SPSS serta analisis kualitatif mendalam. Hasil penelitian menunjukkan temuan empiris yang kuat, di mana secara parsial variabel <em>Brand Community</em> dan <em>Opinion Leader</em> berpengaruh signifikan dengan nilai signifikansi 0,000. Secara simultan, kedua variabel terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian, ditunjukkan oleh nilai F hitung sebesar 22,148 yang melampaui F tabel 3,17, serta nilai koefisien determinasi (<em>R Square</em>) sebesar 0,442 yang mengindikasikan kontribusi pengaruh sebesar 44,2%. Temuan ini menegaskan bahwa keberadaan komunitas yang solid dan peran aktif pemimpin opini sangat efektif dalam membangun kepercayaan konsumen, meminimalisir risiko ketidakpastian produk, serta menstimulasi keputusan pembelian. Simpulan utama studi ini merekomendasikan sinergi strategis antara produsen dengan komunitas dan <em>influencer</em> internal untuk menjaga loyalitas serta meningkatkan volume penjualan produk secara berkelanjutan.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9382PENGARUH GAMIFIKASI TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP PENGANGGARAN DALAM AKUNTANSI MANAJEMEN DENGAN MOTIVASI BELAJAR SEBAGAI VARIABEL MEDIASI PADA MAHASISWA PENDIDIKAN AKUNTANSI 2026-02-07T02:30:12+00:00Fitriyana Syawalinfitriyanasyawalin@gmail.comAndra Tabah Kurniawanfitriyanasyawalin@gmail.comArdita Fathna Ramadhantifitriyanasyawalin@gmail.comArini Puspita Sarifitriyanasyawalin@gmail.comKhaylila Aydin Nhestiafitriyanasyawalin@gmail.comKyra Putrifitriyanasyawalin@gmail.com<p>The complexity of the numerical and analytical nature of budgeting material in Management Accounting courses often hinders students from achieving comprehensive understanding, primarily due to the dominance of conventional learning methods that minimize active engagement. This study aims to analyze the effect of gamification implementation on understanding budgeting concepts by positioning learning motivation as a mediating variable. Using a quantitative approach with an explanatory design, the study involved 154 Accounting Education students from the 2022–2024 intake at Jakarta State University, selected through a purposive sampling technique. Data were collected using a questionnaire and analyzed through linear regression and the Sobel test using SPSS. Empirical findings indicate that gamification significantly influences conceptual understanding with a regression coefficient of 0.232, and positively impacts learning motivation. Learning motivation proved to be the dominant predictor with a coefficient of 0.423 on conceptual understanding. Simultaneously, both variables contributed significantly with a calculated F value of 32.762 and an Adjusted R Square of 29.3%. Path analysis confirmed that learning motivation partially mediates the relationship between gamification and conceptual understanding. The main conclusion confirms that gamification integration not only directly improves conceptual understanding, but also strengthens learning motivation which is crucial for optimizing learning outcomes, so this strategy is recommended as a pedagogical innovation in accounting education.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kompleksitas materi penganggaran yang bersifat numerik dan analitis dalam mata kuliah Akuntansi Manajemen sering kali menjadi hambatan bagi mahasiswa untuk mencapai pemahaman komprehensif, terutama akibat dominasi metode pembelajaran konvensional yang minim keterlibatan aktif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penerapan gamifikasi terhadap pemahaman konsep penganggaran dengan menempatkan motivasi belajar sebagai variabel mediasi. Menggunakan pendekatan kuantitatif berdesain eksplanatori, penelitian melibatkan 154 mahasiswa Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Jakarta angkatan 2022–2024 yang dipilih melalui teknik <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis melalui regresi linier serta uji sobel berbantuan SPSS. Temuan empiris menunjukkan bahwa gamifikasi berpengaruh signifikan terhadap pemahaman konsep dengan koefisien regresi 0,232, serta berdampak positif pada motivasi belajar. Motivasi belajar terbukti menjadi prediktor dominan dengan koefisien 0,423 terhadap pemahaman konsep. Secara simultan, kedua variabel berkontribusi signifikan dengan nilai F hitung sebesar 32,762 dan <em>Adjusted R Square</em> sebesar 29,3%. Analisis jalur mengonfirmasi bahwa motivasi belajar memediasi secara parsial hubungan antara gamifikasi dan pemahaman konsep. Simpulan utama menegaskan bahwa integrasi gamifikasi tidak hanya meningkatkan pemahaman konseptual secara langsung, tetapi juga memperkuat motivasi belajar yang krusial bagi optimalisasi hasil belajar, sehingga strategi ini direkomendasikan sebagai inovasi pedagogis dalam pendidikan akuntansi.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9384INTERNALISASI NILAI-NILAI BUDAYA LOKAL “GULAT OKOL” MELALUI BIMBINGAN KONSELING MULTIKULTURAL 2026-02-07T02:28:10+00:00Himmah Rosyidah25011355020@mhs.unesa.ac.idNajlatun Naqiyah25011355014@mhs.unesa.ac.idAri Khusumadewi25011355014@mhs.unesa.ac.id<p>Indonesia boasts a diverse range of cultures spread across its regions. Culture is a national identity; every country in the world certainly has its own. Culture can function to shape the attitudes and behavior of a group of people, and can serve as a guide for life in conducting themselves. Globalization also triggers a shift in societal mindsets from traditional perspectives to more logical and rational thinking. One effort to prepare and fortify adolescents in the era of globalization is to build adolescent character based on local cultural values. In this context, the role of multicultural guidance and counseling becomes crucial. The purpose of this study is to uncover the internalization of local cultural values of the okol wrestling tradition through multicultural guidance and counseling. This study used a qualitative approach with a literature study method (library research) with a period of 2020-2025. Data collection was carried out using a literature review technique, namely by collecting secondary data from various relevant and credible sources. The results of the study show that the okol wrestling tradition is a local cultural tradition that is not only recreational or competitive, but also contains educational and psychosocial values, including: (1) Sportsmanship, (2) Emotional control, (3) Social solidarity and togetherness, (4) respect for others. Through the internalization of the okol wrestling cultural values in this multicultural counseling guidance, it also contributes to strengthening the local cultural identity of students, fostering a sense of pride and love for their own regional culture, and can reduce individualistic values that tend to emerge as a result of globalization.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Indonesia memiliki beragam macam budaya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah. Budaya merupakan identitas bangsa, setiap negara di dunia pasti memiliki budayanya masing-masing. Budaya dapat berfungsi membentuk sikap dan perilaku suatu golongan masyarakat, serta dapat menjadi pedoman hidup dalam bertingkah laku. Globalisasi juga memicu pergeseran pola pikir masyarakat dari cara pandang tradisional menuju pemikiran yang lebih logis dan rasional. Salah satu upaya untuk mempersiapakan dan membentengi remaja dalam era globalisasi adalah membangun karakter remaja berbasis nilai budaya lokal. Dalam konteks inilah peran bimbingan dan konseling multikultural menjadi sangat penting. Tujuan dari penelitian ini adalah mengungkap internalisasi nilai budaya lokal tradisi gulat okol melalui bimbingan konseling multikultural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur <em>(library researchca) </em>dengan rentang tahun 2020-2025. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik kajian pustaka, yaitu dengan menghimpun data sekunder dari berbagai sumber yang relevan dan kredibel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi gulat okol merupakan tradisi budaya lokal yang tidak hanya bersifat rekreatif ataupun kompetitif saja, melainkan juga mengandung nilai-nilai edukatif dan psikososial antara lain : (1) Sportivitas, (2) Pengendalian emosi, (3) Solidaritas sosial dan kebersamaan, (4) penghargaan terhadap orang lain. Melalui internalisasi nilai budaya gulat okol dalam bimbingan konseling multikultural ini turut memberikan kontribusi dalam menguatkan identitas budaya lokal siswa, menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap budaya daerah sendiri, serta dapat mengurangi nilai-nilai individualis yang cenderung muncul akibat dari globalisasi.</p> <p> </p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9393SINERGI MODEL PENDIDIKAN KETARUNAAN DAN LINGKUNGAN SOSIAL DALAM MEMBENTUK KARAKTER SISWA2026-02-07T02:19:54+00:00Imam Mardi Santosoimammardi40@gmail.comNinik Indawatiimamhadianas309@gmail.comDwi Fauzia Putraimamhadianas309@gmail.com<p>Character education is a central concern in the national education system, particularly in addressing the decline of students’ discipline and moral values. Cadet-based schools offer an alternative educational model emphasizing discipline, responsibility, and leadership through structured habituation systems. This study aims to analyze the influence of the cadet education model and social environment on character development of tenth-grade students at SMAN Taruna Nala East Java. This research employed a quantitative approach using a survey design. The population consisted of 155 tenth-grade students, all of whom were selected as respondents. Data were collected through closed-ended questionnaires and analyzed using multiple linear regression, including F-test, t-test, and coefficient of determination (R²). The results indicate that the cadet education model and social environment simultaneously have a positive and significant effect on students’ character development (Sig. = 0.000). Partially, the cadet education model shows the strongest influence, followed by the social environment, which also has a significant effect. The coefficient of determination reveals that 88.8% of the variance in students’ character development is explained by these two variables. These findings emphasize that effective character education in boarding schools relies not only on a structured cadet system but also on a supportive social environment that reinforces character values.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pendidikan karakter merupakan salah satu fokus utama dalam sistem pendidikan nasional, khususnya dalam menghadapi tantangan degradasi nilai dan disiplin peserta didik. Sekolah berbasis ketarunaan hadir sebagai alternatif model pendidikan yang menekankan pembiasaan disiplin, tanggung jawab, dan kepemimpinan melalui sistem pembinaan terstruktur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model pendidikan ketarunaan dan lingkungan sosial terhadap perubahan karakter siswa kelas X di SMAN Taruna Nala Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei. Populasi penelitian berjumlah 155 siswa kelas X, yang seluruhnya dijadikan responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner tertutup, sedangkan analisis data menggunakan regresi linear berganda dengan uji F, uji t, dan koefisien determinasi (R²). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pendidikan ketarunaan dan lingkungan sosial secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap perubahan karakter siswa (Sig. = 0,000). Secara parsial, model pendidikan ketarunaan memiliki pengaruh paling dominan terhadap perubahan karakter siswa, diikuti oleh lingkungan sosial yang juga berpengaruh signifikan. Nilai koefisien determinasi menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut mampu menjelaskan 88,8% variasi perubahan karakter siswa. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan karakter di sekolah berasrama tidak hanya ditentukan oleh sistem ketarunaan yang terstruktur, tetapi juga oleh kualitas lingkungan sosial yang mendukung internalisasi nilai-nilai karakter siswa.</p> <p> </p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9397IMPLEMENTASI SIKAP SOSIAL UNTUK MEMBENTUK KAKTER SISWA KELAS VIII SMP2026-02-07T01:35:14+00:00Imelda NataliaImeldanatalia32@gmail.comTetep TetepImeldanatalia32@gmail.comYana SetiawanImeldanatalia32@gmail.com<p>Attitude is how a person responds or reacts in responding to something. Attitude is used as a benchmark for human behavior in everyday life. The factors that influence a person's attitude are environmental factors and a person's beliefs. This is what sometimes determines a person's attitude in everyday life. Attitudes will only exist. if someone instills good behavior, both verbal behavior and one's deeds and behavior. This research aims to examine efforts to implement social attitudes to shape student character in the classroom. The problem raised is that the importance of character education cannot be separated from the emergence of several current social phenomena, which are shown by characterless behavior and the presence of symptoms that indicate its erosion. a nation. This research uses a qualitative approach with a qualitative descriptive study method, data collection techniques including observation, interviews and documentation through the media. The results of this research, the teacher has provided an example to students regarding the implementation of social attitudes to shape the character of class VIII students at SMPN 4 Tarogong Kidul where the students have succeeded in forming characters such as honest, responsible and tolerant.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Sikap murupakan bagaimana respon atau reaksi seorang dalam memberi respon terhadap suatu hal Sikap dijadikan patokan dari prilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari, faktor yang mempengaruhi sikap seseorang yaitu dari faktor lingkungan dan keyakinan seseorang inilah yang terkadang menjadi penentu sikap seseorang dalam keseharianya sikap hanya akan ada jika seseorang menanamkan prilaku yang baik, baik itu lisan prilaku maupun perbuatan serta tingkah laku seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji upaya implementasi sikap sosial untuk membentuk karakter siswa di kelas.masalah yang di kemukakan adalah hal pentingnya pendidikan karakter tidak lepas dari munculnya beberapa fenomena sosial saat ini, yang di tunjukan dengan perilaku yang tidak berkarakter serta adanya gejala - gejala yang menandakan tergerusnya sebuah bangsa. penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode setudi deskriptif kualitatif tenknik pengumpulan data meliputi observasi,wawancara dan dokumentasi melalui media. Hasil dari penelitian ini guru telah memberikan contoh kepada siswa terkait Implementasisikap sosial untuk membentuk karakter siswa kelas VIII SMPN 4 Tarogong Kidul yang diamana para siswa sudah berhasil dalam pembentukan karater seperti jujur,bertanggung jawab dan sikap toleransi.</p> <p> </p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9383MENINGKATKAN INTERAKSI SOSIAL MELALUI KEGIATAN BUDAYA RUTINAN YASIN–TAHLIL 2026-02-07T02:29:18+00:00Muhammad Rifki Adam25011355018@mhs.unesa.ac.idAri Kusumadewi25011355018@mhs.unesa.ac.idNajlatun Naqiyah25011355018@mhs.unesa.ac.id<p>Social interaction is the primary foundation for creating a harmonious and cohesive society. In the context of modernization, globalization, and the development of individualistic lifestyles, as well as the intensity of social interactions within society, particularly in the field of education, religious activities and local religious practices hold a strategic role as a means to foster and strengthen social ties among members of the community. The purpose of this article is to examine the routine cultural activities of Yasin-Tahlil as a means to enhance social interaction among the residents of Jatikalang Village, Krian Subdistrict. The author of this article employs a descriptive qualitative approach, utilizing literature analysis and social analysis in relation to the practical implementation of Yasin-Tahlil activities in the community. The focus is on how these activities are conducted, how the community participates, and the existing social norms. The findings of the analysis indicate that the Yasin-Tahlil activities are more than just a means of worship. In addition to strengthening the religious and cultural identity of the community, these activities can foster social cohesion, solidarity, and brotherhood. Thus, the routine of Yasin-Tahlil makes a significant contribution to improving the quality of social interaction and strengthening the social cohesion of the Jatikalang Village community. The preservation and strengthening of such cultural-religious activities are essential for promoting social harmony and the sustainability of the community's way of life in the face of social change.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Interaksi sosial merupakan dasar utama untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan kohesif. Dalam konteks modernisasi, globalisasi, dan perkembangan gaya hidup individualistis, serta intensitas interaksi sosial di dalam masyarakat , khususnya di bidang pendidikan ,. Dalam konteks ini , kegiatan keagamaan dan keagamaan lokal memiliki peran strategis sebagai sarana untuk membina dan memperkuat ikatan sosial di antara masyarakat . Tujuan artikel ini adalah untuk meneliti kegiatan budaya rutin Yasin - Tahlil dalam rangka meningkatkan interaksi sosial di antara warga Desa Jatikalang, Kecamatan Krian. Penulis artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis literatur dan analisis sosial dalam kaitannya dengan implementasi praktis kegiatan Yasin - Tahlil di masyarakat. Fokusnya adalah pada bagaimana kegiatan tersebut dilakukan , bagaimana masyarakat berpartisipasi , dan norma - norma sosial yang ada . Temuan analisis menunjukkan bahwa kegiatan Yasin - Tahlil lebih dari sekadarsarana ibadah. Selain memperkuat identitas keagamaan dan budaya masyarakat , kegiatan ini dapat menumbuhkan kohesi sosial , solidaritas dan persaudaraan . Dengan demikian , rutinitas Yasin - Tahlil memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan kualitas interaksi sosial dan memperkuat kohesi sosial masyarakat Desa Jatikalang . Pelestarian dan penguatan kegiatan budaya - keagamaan semacam ini sangat penting untuk mendorong keharmonisan sosial dan keberlanjutan cara hidup masyarakat dalam menghadapi perubahan sosial.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/8631MANAJEMEN PENDIDIKAN DALAM PENINGKATAN MUTU SEKOLAH: SEBUAH SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW2026-02-07T02:41:44+00:00Yunita Sulastriyunitasulastri08@gmail.comAhmad Muzarimuzariahmad631@gmail.comSiti Inganahinganah@umm.ac.id<p>Improving school quality has become a strategic issue in contemporary education, requiring professional, systematic, and sustainable school management. Numerous studies have examined the role of educational management in enhancing school quality; however, existing findings remain fragmented, context-specific, and have not been comprehensively synthesized. Therefore, this study aims to systematically synthesize the literature on educational management in improving school quality. This research employed a <em>Systematic Literature Review</em> (SLR) method guided by the PRISMA framework. The review process involved formulating research questions, searching international and national databases indexed in Scopus, Web of Science, and Sinta, applying inclusion and exclusion criteria, and conducting quality assessment of the selected studies. A total of 49 articles were analyzed and classified into relevant, considered, and not relevant categories. The synthesis results indicate that the main themes of the literature focus on school leadership, school-based management, internal quality assurance systems, and the management of educational resources. Effective management strategies include instructional and transformational leadership, data-based strategic planning, continuous professional development for teachers, and the implementation of sustainable quality management systems. The success of these strategies is influenced by principals’ leadership capacity, teachers’ competence and motivation, school culture, availability of resources, and stakeholder support. This study concludes that improving school quality is not the result of a single policy or program but emerges from the synergy of multiple educational management functions implemented in an integrated and context-responsive manner.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Peningkatan mutu sekolah merupakan isu strategis dalam pendidikan kontemporer yang menuntut pengelolaan sekolah secara profesional, sistematis, dan berkelanjutan. Berbagai penelitian telah membahas peran manajemen pendidikan dalam peningkatan mutu sekolah, namun temuan-temuan tersebut masih tersebar, bersifat parsial, dan belum tersintesis secara komprehensif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mensintesis secara sistematis kajian-kajian terkait manajemen pendidikan dalam peningkatan mutu sekolah. Penelitian ini menggunakan metode <em>Systematic Literature Review</em> (SLR) dengan mengacu pada pedoman PRISMA. Proses penelitian meliputi perumusan pertanyaan penelitian, penelusuran literatur pada basis data internasional dan nasional terindeks Scopus, WoS, dan Sinta, seleksi artikel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, serta penilaian kualitas studi. Sebanyak 49 artikel dianalisis, yang selanjutnya diklasifikasikan menjadi relevan, dipertimbangkan, dan tidak relevan. Hasil sintesis menunjukkan bahwa tema utama penelitian berpusat pada kepemimpinan sekolah, manajemen berbasis sekolah, penjaminan mutu internal, serta pengelolaan sumber daya pendidikan. Strategi manajemen yang efektif meliputi kepemimpinan instruksional dan transformasional, perencanaan berbasis data, pengembangan profesional guru, serta penerapan sistem manajemen mutu berkelanjutan. Keberhasilan implementasi strategi tersebut dipengaruhi oleh kapasitas kepemimpinan kepala sekolah, kompetensi dan motivasi guru, budaya sekolah, ketersediaan sumber daya, serta dukungan pemangku kepentingan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan mutu sekolah merupakan hasil sinergi berbagai fungsi manajemen pendidikan yang dijalankan secara terpadu dan adaptif terhadap konteks sekolah.</p> <p> </p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9391PENANAMAN NILAI BUDAYA MAPPATABE’ DI PONDOK PESANTREN 2026-02-07T02:21:23+00:00Nur Rahmanurrahmarara30@gmail.comJumadi Jumadinurrahmarara30@gmail.comDimas Ario Sumilihnurrahmarara30@gmail.com<p>This study aims to determine the process of instilling mappatabe' cultural values in the daily lives of adolescents at the Imam Bukhari Islamic Boarding School in Makassar. This study is a descriptive study using qualitative data. To achieve this objective, the researcher used data collection techniques through observation, interviews, documents, and documentation. The data obtained was then analyzed and interpreted based on relevant theories and research results. The results showed that the process of instilling mappatabe' values at the Imam Bukhari Islamic Boarding School in Makassar took place through habits and rules applied in the daily lives of the students. Students were trained to always be polite, greet others, speak softly, and ask for permission by saying tabe'. The Islamic boarding school rules reinforce these habits by emphasizing manners and imposing sanctions on students who commit violations, thereby shaping the Islamic character of students in their daily lives and creating civilized and cultured young people.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses penanaman nilai budaya <em>mappatabe’</em> berlangsung dalam kehidupan sehari-hari pada generasi usia remaja di Pondok Pesantren Imam Bukhari Makassar. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan data kualitatif. Untuk mencapai tujuan itu maka peneliti menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumen dan dokumentasi. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis dan diinterpretasi berdasarkan teori dan hasil penelitian yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penanaman nilai <em>m</em><em>appatabe’</em> di Pondok Pesantren Imam Bukhari Makassar berlangsung melalui pembiasaan dan aturan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari santri. Santri dilatih untuk senantiasa bersikap sopan santun, memberi salam, berbicara lembut, serta meminta izin dengan ucapan <em>tabe’</em>. Aturan Pondok Pesantren menguatkan pembiasaan tersebut dengan menegaskan tata krama dan memberikan sanksi bagi santri yang melakukan pelanggaran, sehingga membentuk karakter Islami santri dalam kehidupan sehari-hari dan mewujudkan remaja yang beradab dan berbudaya.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/6519PERISTIWA PEMBERONTAKAN PKI DI MADIUN TAHUN 1948 DARI PRESPEKTIF SOSIO-KULTURAL 2025-12-19T01:25:06+00:00Septian Dwita Kharismaseptiandwita09@gmail.comParji Parjiparji@unipma.ac.idNurhadji Nugrahambahnur02@yahoo.com<p>This research examines the 1948 Madiun PKI rebellion. This research aims to analyze the socio-cultural conditions of the Madiun community before the rebellion, identify the socio-cultural factors that triggered the rebellion, and examine the socio-cultural impact after the event. This research uses a historical research method with a qualitative approach. Data were collected through literature studies, archival documents, and contemporaneous newspapers. The analysis was conducted using a socio-cultural theoretical framework, including the concepts of social stratification, hegemony (Gramsci), charismatic leadership (Weber), and historical materialism (Marx). The results show that the socio-cultural conditions of Madiun society at that time were characterized by a sharp social stratification between the elite and the lower class (farmers and workers). Feudal hegemony and economic pressure in the colonial era created suffering and depression among the lower classes, which triggered the emergence of movements of masianism and longing for change. These rebellions erupted as the culmination of class and cultural conflicts, where the violence was a form of social revenge against the established feudal order. The post-event impact was the emergence of collective resistance, social solidarity between victims, and the negative stigma attached to the Madiun community until decades later, which shaped collective memory and social identity in the region.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini mengkaji peristiwa pemberontakan PKI Madiun 1948. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi sosio-kultural masyarakat Madiun sebelum pemberontakan, mengidentifikasi faktor-faktor sosio-kultural yang memicu terjadinya pemberontakan, serta menelaah dampak sosio-kultural pasca-peristiwa tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui studi literatur, penelusuran dokumen arsip, dan surat kabar sezaman. Analisis dilakukan dengan kerangka teori sosio-kultural, termasuk konsep stratafikasi sosial, hegemoni (Gramsci), kepemimpinan karismatik (Weber), dan materialisme historis (Marx). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi sosio-kultural masyarakat Madiun saat itu ditandai oleh stratafikasi sosial yang tajam antara kaum elit dengan masyarakat kelas bawah (petani dan buruh). Hegemoni feodal dan tekanan ekonomi di era kolonial menciptakan penderitaan dan depresi di kalangan masyarakat bawah, yang memicu munculnya gerakan-gerakan masianisme dan kerinduan akan perubahan. Pemberontakan ini meletus sebagai puncak dari konflik kelas dan budaya, di mana kekerasan yang terjadi merupakan bentuk balas dendam sosial terhadap tatanan feodal yang mapan. Dampak pasca-peristiwa adalah munculnya perlawanan kolektif, solidaritas sosial antar korban, dan stigma negatif yang dilekatkan pada masyarakat Madiun hingga beberapa dekade kemudian, yang membentuk memori kolektif dan identitas sosial di wilayah tersebut.</p> <p> </p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9395PENGARUH PENGGUNAAN TIKTOK DI KALANGAN MAHASISWA 2026-02-07T02:17:06+00:00Nabila Aorel Piktoriabilavictoria24@gmail.comTriani Widyantibilavictoria24@gmail.comHendro Sugiartobilavictoria24@gmail.com<p>TikTok is increasingly used by students and has become part of their daily activities. Among students at IPI Garut, the app is used not only for gaming but also for obtaining information, following trends, and interacting with friends. This raises the question of how TikTok use affects students' learning styles and academic activities. This study aims to understand the influence of TikTok use on the learning behavior and productivity of IPI Garut students. The method used was qualitative research with a descriptive approach. Data were obtained through interviews with several students who use TikTok and observations of how the app is used in their daily lives. The results show that TikTok has diverse effects. Some students experience benefits such as being inspired, motivated to learn from educational content, and increased creativity. However, others experience distractions, decreased focus, and procrastination due to uncontrolled use. These findings suggest that the influence of TikTok can be positive or negative, depending on how and how often it is used. In conclusion, IPI Garut students' use of TikTok has a significant impact on their learning activities. Thoughtful use can be beneficial, excessive use tends to reduce academic productivity. Thus, it is important for students to be more conscious about managing their time and limiting their use of TikTok to prevent it from disrupting their learning process.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penggunaan TikTok semakin banyak digunakan oleh para mahasiswa dan sudah menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari mereka. Di lingkungan mahasiswa IPI Garut, aplikasi ini tidak hanya digunakan untuk bermain, tetapi juga untuk mendapatkan informasi, mengikuti trend, dan berinteraksi dengan teman-teman. Hal ini memunculkan pertanyaan bagaimana penggunaan TikTok memengaruhi cara belajar dan kegiatan akademik para mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengaruh penggunaan TikTok terhadap perilaku belajar dan produktivitas mahasiswa IPI Garut. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara dengan sejumlah mahasiswa yang menggunakan TikTok dan observasi terhadap cara penggunaan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok memiliki pengaruh yang beragam. Beberapa mahasiswa merasa manfaat seperti terinspirasi, terdorong belajar dari konten edukatif, serta meningkatkan kreativitas. Namun, ada juga yang mengalami gangguan, fokus belajar menurun, dan kebiasaan menunda tugas karena penggunaan yang tidak terkendali. Temuan ini menunjukkan bahwa pengaruh TikTok bisa positif atau negatif, tergantung pada cara dan seberapa sering digunakan. Kesimpulannya, penggunaan TikTok oleh mahasiswa IPI Garut memiliki pengaruh besar terhadap aktivitas belajar. Penggunaan yang bijak bisa memberikan manfaat, namun penggunaan berlebihan cenderung mengurangi produktivitas akademik. Dengan demikian, penting bagi mahasiswa untuk lebih sadar dalam mengatur waktu dan membatasi penggunaan TikTok agar tidak mengganggu proses belajar.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9188PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING DALAM PEMBELAJARAN IPS UNTUK MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL SISWA KELAS V SD2026-02-07T02:33:53+00:00Nick Selfianus Laritmasnickselfianus3@gmail.comSamuel P Ritiauwpritiauw@gmail.comLeonid Ritiauwleoritiauw93@gmail.com<p>21st-century education demands the development of students' emotional intelligence as a foundation for academic success and psychological well-being. Preliminary observations at SD Negeri 1 Rumah Tiga revealed that fifth-grade students had low abilities in recognizing their emotions, empathizing, and building positive social relationships due to conventional learning that had not optimally developed social-emotional aspects. This study aims to determine the effectiveness of applying the discovery learning model in social studies to improve students' emotional intelligence. This quantitative research involved 32 fifth-grade students as the sample. The instrument used was an emotional intelligence questionnaire with a 4-point Likert scale with a Cronbach's Alpha reliability value of 0.872. Data collection techniques included questionnaires, observations, and documentation. Data analysis employed the Shapiro-Wilk normality test and N-Gain test. The results showed an increase in mean emotional intelligence scores from 61.25 (pretest) to 78.40 (posttest), with an improvement of 17.15 points. All emotional intelligence indicators improved significantly: self-awareness (60.5% to 77.1%), self-management (58.2% to 75.2%), motivation (64.5% to 82.0%), empathy (56.6% to 74.2%), and social awareness (59.6% to 76.2%). It can be concluded that the discovery learning model effectively improves students' emotional intelligence through systematic learning syntax including stimulation, problem identification, data collection, data processing, verification, and drawing conclusions. This model is recommended as an alternative for social studies learning that comprehensively develops students' cognitive and emotional aspects.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pendidikan abad ke-21 menuntut pengembangan kecerdasan emosional siswa sebagai fondasi keberhasilan akademik dan kesejahteraan psikologis. Observasi awal di SD Negeri 1 Rumah Tiga menunjukkan rendahnya kemampuan siswa kelas V dalam mengenali emosi diri, berempati, dan menjalin hubungan sosial positif akibat pembelajaran konvensional yang belum optimal mengembangkan aspek sosial-emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan model <em>discovery learning </em>dalam pembelajaran IPS untuk meningkatkan kecerdasan emosional siswa. Penelitian kuantitatif ini melibatkan 32 siswa kelas V sebagai sampel. Instrumen yang digunakan adalah angket kecerdasan emosional skala Likert 4 poin dengan nilai reliabilitas Cronbach's Alpha 0,872. Teknik pengumpulan data meliputi angket, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan skor rata-rata kecerdasan emosional dari 61,25 (<em>pretest</em>) menjadi 78,40 (<em>posttest</em>) dengan peningkatan 17,15 poin. Seluruh indikator kecerdasan emosional meningkat signifikan: kesadaran diri (60,5% menjadi 77,1%), pengelolaan diri (58,2% menjadi 75,2%), motivasi (64,5% menjadi 82,0%), empati (56,6% menjadi 74,2%), dan kepedulian sosial (59,6% menjadi 76,2%). Dapat disimpulkan bahwa model <em>discovery learning </em>efektif meningkatkan kecerdasan emosional siswa melalui sintaks pembelajaran sistematis yang mencakup stimulasi, identifikasi masalah, pengumpulan data, pengolahan data, pembuktian, dan penarikan kesimpulan. Model ini direkomendasikan sebagai alternatif pembelajaran IPS yang mengembangkan aspek kognitif dan emosional siswa secara komprehensif.</p> <p> </p> <p> </p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9392EFEKTIVITAS PENDEKATAN ETNOPEDAGOGI DALAM MENGINTEGRASIKAN BUDAYA LOKAL PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA2026-02-07T02:20:46+00:00Tiara Berlianiberlianit34@gmail.comNila Sariberlianit34@gmail.com<p>The low level of students' understanding of the diversity of Indonesian society due to the suboptimal integration of local culture in Pancasila Education subjects is the background to the urgency of this research. This study aims to evaluate the effectiveness of the ethnopedagogy approach as a strategy for integrating local culture in Pancasila Education learning. The research method uses a quantitative approach with a quasi-experimental nonequivalent control group design, involving two seventh grade classes at SMP Negeri 18 Palembang as the experimental and control groups. The data collection process was carried out through pretest and posttest instruments whose validity and reliability were tested, then analyzed using prerequisite tests and the Mann–Whitney U Test hypothesis test. The results of the quantitative data analysis showed a significant increase, where the experimental class with the ethnopedagogy approach experienced an average increase in scores from 60.41 to 83.88 or 38.85%, higher than the control class using conventional methods with an increase from 54.02 to 74.16 or 37.28%. Statistical tests confirmed a significant difference in learning outcomes between the two groups. The main conclusion of this study confirms that the ethnopedagogical approach has proven effective in improving students' understanding and successfully integrating local cultural values contextually in Pancasila Education learning, so it is recommended as a relevant pedagogical innovation.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Rendahnya pemahaman peserta didik terhadap keberagaman masyarakat Indonesia akibat belum optimalnya pengintegrasian budaya lokal dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila menjadi latar belakang urgensi penelitian ini. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pendekatan etnopedagogi sebagai strategi pengintegrasian budaya lokal dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain <em>quasi-experimental nonequivalent control group design</em>, melibatkan dua kelas VII di SMP Negeri 18 Palembang sebagai kelompok eksperimen dan kontrol. Proses pengumpulan data dilakukan melalui instrumen <em>pretest</em> dan <em>posttest</em> yang teruji validitas serta reliabilitasnya, kemudian dianalisis menggunakan uji prasyarat dan uji hipotesis <em>Mann–Whitney U Test</em>. Hasil analisis data kuantitatif menunjukkan peningkatan signifikan, di mana kelas eksperimen dengan pendekatan etnopedagogi mengalami kenaikan rata-rata nilai dari 60,41 menjadi 83,88 atau sebesar 38,85%, lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol yang menggunakan metode konvensional dengan kenaikan dari 54,02 menjadi 74,16 atau sebesar 37,28%. Uji statistik mengonfirmasi adanya perbedaan nyata hasil belajar antara kedua kelompok. Simpulan utama penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan etnopedagogi terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta didik dan berhasil mengintegrasikan nilai budaya lokal secara kontekstual dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila, sehingga direkomendasikan sebagai inovasi pedagogis yang relevan.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9083IMPLEMENTASI GAMIFIKASI PEMBELAJARAN IPS MELALUI GAME BERBURU POINT DI SMP2026-02-07T02:38:58+00:00Putri Arum AnggraeniPutriarumanggraeni29@Students.unnes.ac.idFerani Mulianingsihputricameliadalimunthe2@gmail.com<p>Education plays a very important role in developing competent, creative, and innovative human resources. However, in practice, social studies at the junior high school level is often perceived as a boring and uninteresting subject, which results in low learning interest and activity among students. This problem calls for the creation of new innovations in learning methods and media that can create a more enjoyable learning atmosphere. This study aims to identify the implementation of social studies gamification through point-hunting games in increasing the learning interest and activity of eighth-grade students at SMP Negeri 39 Semarang. This study uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques in the form of observation, interviews, and documentation. The data obtained was analyzed using a triangulation process of sources to obtain a comprehensive picture of the impact of the application of point-hunting learning media. The results obtained in this study indicate that the application of point-hunting games can increase student engagement in class, foster interest in learning, and change students' perceptions of social studies lessons to be more positive. Parts of the point system in point-hunting games, variations in the difficulty level of questions, and healthy competition in the game encourage students to dare to make decisions and take on challenges in the learning process.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong><br />Dalam mengembangkan kualitas sumber daya manusia yang kompeten, kreatif dan inovatif, pendidikan mempunyai peran yang sangat besar dalam hal itu. Namun didalam praktiknya pembelajaran IPS ditingkat SMP masih sering kali dipersepsikan sebagai mata pelajaran yang membosankan dan kurang menarik, sehingga hal tersebut berdampak pada rendahnya minat belajar dan keaktifan peserta didik. Adanya masalah ini menuntut pembentukan inovasi baru dalam método dan media pembelajaran yang mampu menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi implementasi gamifikasi pembelajaran IPS melalui game berburu poin dalam meningkatkan minat belajar dan keaktifan siswa kelas VIII di SMP Negeri 39 Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang didapat dianalisis menggunakan proses triangulasi sumber-sumber untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai dampak penerapan media pembelajaran berburu poin. Hasil yang didapat dalam penelitian menunjukkan bahwa penerapan game berburu poin mampu meningkatkan keterlibatan aktif siswa dikelas, menumbuhkan minat belajar, serta dapat mengubah persepsi siswa terhadap pelajaran IPS menjadi lebih positif. Bagian-bagian dari sistema poin yang ada dalam game berburu poin, variasi tingkat kesulitan soal, serta kompetisi sehat dalam berjalannya game tersebut mendorong siswa untuk berani mengambil keputusan dan tantangan dalam proses pembelajaran.</p>2026-02-16T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9510PENGARUH MEDIA PEMBELAJARAN VIRTUAL TOUR TERHADAP PEMAHAMAN SEJARAH DALAM PEMBELAJARAN IPS2026-02-22T03:42:20+00:00Rizkiya Agil Chaeranirizkiaagil@students.unnes.ac.idAsep Ginanjarrizkiaagil@students.unnes.ac.id<p>Social studies learning at the junior high school level is often trapped in conventional lecture methods, making it difficult for students to understand the history of colonialism contextually. Cost and time constraints, as well as strict government regulations regarding study tours, limit students' access to historical sites directly in the field. This study aims to test the effect of a virtual tour of Semarang's Old Town in effectively improving the historical understanding of eighth-grade students at SMPN 6 Semarang. Using a quantitative approach with a quasi-experimental design, this study involved sixty students who were divided equally into an experimental group and a control group. The research stages included administering a pre-test, administering innovative media treatments, and administering a post-test, which were analyzed using Welch's statistical test and N-Gain analysis. The research findings showed a significant positive effect with a significance value of 0.000. Quantitative data showed an increase in the average score in the experimental class from 67.07 to 89.33 with an N-Gain score of 0.7077, which is considered high. In contrast, the control class only showed an increase from 61.40 to 72.93. These results prove that the use of local history-based visual technology can provide a meaningful learning experience without the physical constraints of the school. The main conclusion confirms that virtual tours are very effective as an alternative contextual learning to strengthen students' understanding of history through digital exploration.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong><br />Pembelajaran IPS di tingkat SMP sering kali terjebak dalam metode ceramah konvensional yang membuat materi sejarah kolonialisme sulit dipahami secara kontekstual oleh siswa. Kendala biaya dan waktu serta regulasi ketat pemerintah mengenai studi wisata membatasi akses siswa terhadap situs sejarah secara langsung di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh media virtual tour Kota Lama Semarang dalam meningkatkan pemahaman sejarah siswa kelas delapan di SMPN 6 Semarang secara efektif. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen semu, penelitian ini melibatkan enam puluh siswa yang terbagi secara adil ke dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Tahapan penelitian mencakup pelaksanaan tes awal, pemberian perlakuan media inovatif, dan pelaksanaan tes akhir yang dianalisis menggunakan uji statistik Welch serta analisis N-Gain. Temuan penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif yang signifikan dengan nilai signifikansi sebesar 0,000. Data kuantitatif memperlihatkan kenaikan rata-rata nilai pada kelas eksperimen dari 67,07 menjadi 89,33 dengan skor N-Gain 0,7077 yang termasuk kategori tinggi. Sebaliknya, kelas kontrol hanya menunjukkan kenaikan dari 61,40 menjadi 72,93 saja. Hasil ini membuktikan bahwa penggunaan teknologi visual berbasis sejarah lokal mampu menghadirkan pengalaman belajar bermakna tanpa kendala fisik sekolah. Simpulan utama menegaskan bahwa virtual tour sangat efektif sebagai alternatif pembelajaran kontekstual untuk memperkuat pemahaman sejarah siswa melalui eksplorasi digital.</p> <p> </p>2026-02-26T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9386POTENSI PEMBELAJARAN IPAS DALAM MEMPERKENALKAN KEARIFAN LOKAL DI SEKOLAH DASAR2026-02-22T03:45:17+00:00Margaretha Lidya Sumarnimargaretha@shantibhuana.ac.idSiprianus Jewarutmargaretha@shantibhuana.ac.idFelisitas Viktoria Melatimargaretha@shantibhuana.ac.idBenedhikta Kikky Vuspitasarimargaretha@shantibhuana.ac.idYeremia Niaga Atlantikamargaretha@shantibhuana.ac.idMaria Angela Siokalangmargaretha@shantibhuana.ac.id<p>The implementation of the Independent Curriculum, which integrates science and social studies into the science subject, aims to create a comprehensive understanding of science. However, the rapid flow of globalization has triggered the urgency of preserving local wisdom values in national education. This study aims to instill the potential and learning strategies of science as an effective means of introducing local culture in elementary schools. Using a qualitative descriptive approach through a literature study method, this study examines various scientific sources through four systematic stages: data collection, authoritative source collection, content analysis, and comprehensive conclusions. The research findings reveal that the integration of local wisdom of the Dayak Tribe in Bengkayang Regency, such as the ethnobotanical practice of medicinal plants and traditional agricultural rituals, into the science curriculum has great potential to increase the connection of the material with the real life reality of students. The results of the literature synthesis confirm its high effectiveness with a success rate of up to 97.41% in increasing students' learning interest and critical thinking skills compared to the use of conventional methods. The main conclusion confirms that science is a pedagogical strategy medium for strengthening cultural identity while realizing the Pancasila Student Profile with ecological and religious characteristics. The success of this implementation fosters active collaboration between schools, traditional leaders, and the government in developing a contextual curriculum to ensure traditional knowledge remains sustainable for future generations.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Implementasi Kurikulum Merdeka yang mengintegrasikan IPA dan IPS menjadi mata pelajaran IPAS bertujuan untuk menciptakan pemahaman sains yang utuh, namun derasnya arus globalisasi memicu urgensi pelestarian nilai kearifan lokal dalam dunia pendidikan nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi dan strategi pembelajaran IPAS sebagai sarana efektif untuk memperkenalkan budaya lokal di jenjang sekolah dasar. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui metode studi pustaka atau literatur, penelitian ini menelaah berbagai sumber ilmiah melalui empat tahapan sistematis yang meliputi pengumpulan data, identifikasi sumber otoritatif, analisis konten, serta penarikan kesimpulan secara komprehensif. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa integrasi kearifan lokal Suku Dayak di Kabupaten Bengkayang, seperti praktik etnobotani tanaman obat dan ritual pertanian tradisional, ke dalam kurikulum IPAS berpotensi besar meningkatkan keterkaitan materi dengan realitas kehidupan nyata peserta didik. Hasil sintesis literatur mengonfirmasi adanya efektivitas tinggi dengan persentase keberhasilan hingga 97,41% dalam meningkatkan minat belajar serta keterampilan berpikir kritis siswa dibandingkan penggunaan metode konvensional. Simpulan utama menegaskan bahwa IPAS merupakan media pedagogis strategis untuk memperkuat identitas budaya sekaligus mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang berkarakter ekologis dan religius. Keberhasilan implementasi ini menuntut kolaborasi aktif antara pihak sekolah, tokoh adat, dan pemerintah dalam penyusunan kurikulum kontekstual agar pengetahuan tradisional tetap lestari bagi generasi masa depan.</p> <p> </p>2026-02-26T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9326PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN GAMIFIKASI MULTIPLATFORM BERBASIS CANVA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN PANCASILA KELAS V SD2026-02-22T03:40:59+00:00Nevita Wulandarinevitaaa@students.unnes.ac.idSusilo Tri Widodonevitaaa@students.unnes.ac.id<p>The teaching of Pancasila Education in elementary schools still faces various obstacles, namely low student engagement and suboptimal learning outcomes. Therefore, it is necessary to develop learning media that can create more interesting, interactive, and meaningful learning for students. This study aims to develop multiplatform gamification learning media based on Canva and assess its feasibility and effectiveness in improving Pancasila Education learning outcomes. This study uses a Research and Development (R&D) approach with the ADDIE model, which includes the stages of analysis, design, development, implementation, and evaluation. Data collection techniques include observation, interviews, needs questionnaires, media expert validation questionnaires, material experts, and practitioners, student response questionnaires, as well as pretest and posttest tests. Data analysis is carried out descriptively and quantitatively using the N-Gain test. The results of the study show that at the analysis stage, 37.03% of students did not meet the Learning Objective Achievement Criteria (KKTP). The design stage produced a gamification media design based on Canva with an appearance similar to an educational game. In the development stage, the media was deemed highly feasible with an expert media assessment percentage of 81.25%, subject matter expert assessment of 83.33%, and practitioner assessment of 100%. The implementation stage showed a very positive response from students, with most students stating that the media was easy to use and interesting. The evaluation stage showed an increase in learning outcomes, marked by 15 students experiencing an increase in posttest scores compared to pretest scores and an average N-Gain score of 11.46%. This indicates an increase in student learning outcomes after using the learning media. Thus, the developed Canva-based multiplatform gamification learning media can be an alternative learning media that is interesting, interactive, and supports Pancasila Education learning in elementary schools.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah dasar masih menghadapi berbagai kendala yaitu berupa rendahnya keterlibatan siswa dan hasil belajar yang belum optimal. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan media pembelajaran yang mampu menciptakan pembelajaran yang lebih menarik, interaktif, dan bermakna bagi peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran gamifikasi multiplatform berbasis Canva serta mengkaji kelayakan dan keefektifannya dalam meningkatkan hasil belajar Pendidikan Pancasila. Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, angket kebutuhan, angket validasi ahli media, ahli materi, dan praktisi, angket respon siswa, serta tes pretest dan posttest. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan kuantitatif menggunakan uji N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap analisis ditemukan sebanyak 37,03% peserta didik belum mencapai Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP). Tahap desain menghasilkan rancangan media gamifikasi berbasis Canva dengan tampilan menyerupai permainan edukatif. Pada tahap pengembangan, media dinyatakan sangat layak dengan persentase penilaian ahli media sebesar 81,25%, ahli materi 83,33%, dan praktisi 100%. Tahap implementasi menunjukkan respon siswa yang sangat positif, sebagian besar siswa mengungkapkan media mudah digunakan dan menarik. Tahap evaluasi menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar, ditandai dengan 15 siswa mengalami peningkatan nilai posttest dibandingkan pretest serta nilai rata-rata N-Gain sebesar 11,46%. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa setelah penggunaan media pembelajaran. Sehingga, media pembelajaran gamifikasi multiplatform berbasis Canva yang dikembangkan dapat menjadi alternatif media pembelajaran yang menarik, interaktif, dan mendukung pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah dasar.</p> <p> </p>2026-02-26T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9719PENGARUH PENGGUNAAN LILIN AROMATERAPI TERHADAP STRESS AKADEMIK MAHASISWA2026-03-02T01:22:59+00:00Ninawati NinawatiNinawati@fpsi.untar.ac.idPrajna Paramitha MarhaeniNinawati@fpsi.untar.ac.idMaulida AbiyyaNinawati@fpsi.untar.ac.idFarsya MeyrasikhahNinawati@fpsi.untar.ac.idKezia Alexandra EmorNinawati@fpsi.untar.ac.id<p>A number of stressors cause stress in university students' lives. Stress might not be harmful if experienced at a tolerable intensity and for a short duration. Therefore, it is imperative to tackle stress effectively and efficiently. There are several ways to manage stress, including counsellor involvement. However, managing stress independently can reduce both cost and time consumption. Aromatherapy is one such method. This study focused on the use of scented aromatherapy candles. The research employed a within-subjects experimental methodology in which a group of participants were tested before and after the intervention. Participants were selected using purposive sampling and were active students in their final year of study. The intervention involved using scented aromatherapy candles for seven consecutive days, with 30 minutes of exposure each day. The experiment aimed to reduce participants' academic stress. The participants comprised two males and eight females who were active students in their sixth and eighth semesters when the research was conducted in July 2025. They ranged in age from 19 to 22 years old. The study showed no significant difference in overall stress levels amongst participants before and after the intervention. However, the research found that there was indeed a difference in the stress reaction dimension before and after the therapy. Specifically, there was a decrease in stress levels in the cognitive sub-dimension following the aromatherapy intervention.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Dalam kehidupan mahasiswa, terdapat banyak <em>stressor</em> yang akan menimbulkan stres. Stres bukanlah hal yang buruk jika dialami dalam intensitas yang sedang dan tidak dalam rentang waktu yang lama. Untuk itu kondisi stres perlu penanganan yang tepat dan harus dihilangkan dengan segera sebelum menjadi lebih parah. Penanganan stres dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk dengan melibatkan konselor. Namun penanganan stres juga dapat dilakukan secara mandiri yang tentunya menjadi lebih hemat biaya dan waktu. Penanganan stres ini di antarnya adalah dengan menggunakan aromaterapi. Pada penelitian ini digunakan aromaterapi dari lilin dengan wewangian tertentu. Metode penelitian yang digunakan adalah <em>experiment within subject</em>, di mana sekelompok partisipan akan diuji sebelum dan setelah intervensi. Partisipan dipilih secara purposive yaitu mahasiswa aktif kuliah dan berada pada tahun terakhir masa kuliahnya. Intervensi dilakukan dengan lilin aromaterapi selama tujuh hari berturut-turut dengan durasi 30 menit setiap harinya. Diharapkan dengan mengikuti eksperimen ini para partisipan dapat mengurangi stres akademiknya di periode akhir penelitian. Partisipan penelitian ini berjumlah 10 orang, yang terdiri dari dua orang laki-laki dan 8 orang perempuan. Mereka adalah mahasiswa aktif yang berada pada semester keenam dan semester kedelapan pada saat penelitian diselenggarakan yaitu pada bulan Juli 2025. Usia partisipan antara 19 sampai 22 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan stres akademi mahasiswa sebelum dan setelah melakukan aroma terapi. Namun pada dimensi reaksi stres ada perbedaan antara sebelum dan setelah terapi. Khususnya pada sub-dimensi kognitif terjadi penurunan Tingkat stres sebelum dan setelah aroma terapi. <em> </em></p> <p> </p>2026-03-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9726MAKNA SIMBOLIK TENTANG PELETAKAN BATU PERTAMA RUMAH ADAT: STUDI ETNOGRAFI DI NEGERI NENIARI GUNUNG KECAMATAN TANIWEL KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT2026-03-02T01:25:30+00:00Lenda Lumatalalelendalumatalale@gmail.comFricean Tutuarimalendalumatalale@gmail.comLouisa Metekohylendalumatalale@gmail.com<p>The indigenous people of Negeri Neniari Gunung, West Seram, view traditional houses or Baileo as more than just physical structures, but rather centers of cultural sacredness whose essence must be consistently maintained amidst the tide of modernization. This study aims to analyze the symbolic meaning behind the ritual of laying the first stone of a traditional house through an in-depth ethnographic study. Using a qualitative approach with a phenomenological paradigm, this study involved the king of the village, traditional leaders, and the community as key informants. The research stages were carried out systematically, including field observations and in-depth interviews, which were then processed through a process of data reduction, presentation, and drawing objective conclusions. The research findings reveal that the laying of the first stone is a sacred symbol of beginnings, functioning as a form of respect for ancestors and asking for blessings from God for collective salvation. Philosophically, the stone symbolizes the foundation of life and the steadfastness of customary principles passed down from generation to generation. In addition to the spiritual dimension, the preservation of this ritual is interpreted as an embodiment of civic culture that strengthens the values of participation, mutual cooperation, and adherence to social norms. This ritual also serves as a strategic civic education medium for the younger generation, helping them internalize social responsibility and national identity. The main conclusion emphasizes that this ceremony is not merely a technical ceremony, but rather a solid foundation for social order and strengthening community character, deeply rooted in local wisdom.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Masyarakat adat di Negeri Neniari Gunung, Seram Bagian Barat, memandang rumah adat atau Baileo bukan sekadar konstruksi fisik, melainkan pusat sakralitas budaya yang esensinya harus dijaga secara konsisten di tengah arus modernisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna simbolik di balik ritual peletakan batu pertama rumah adat melalui studi etnografi yang mendalam. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma fenomenologi, penelitian ini melibatkan raja negeri, tokoh adat, serta masyarakat sebagai informan kunci. Tahapan penelitian dilaksanakan secara sistematis meliputi observasi lapangan dan wawancara mendalam, yang kemudian diolah melalui proses reduksi, penyajian data, serta penarikan simpulan objektif. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa peletakan batu pertama merupakan simbol awal yang sakral, berfungsi sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan permohonan restu kepada Tuhan demi keselamatan kolektif. Secara filosofis, batu tersebut melambangkan dasar kehidupan dan keteguhan prinsip adat yang diwariskan secara turun-temurun. Selain dimensi spiritual, pelestarian ritual ini dimaknai sebagai pengejawantahan <em>civic culture</em> yang memperkuat nilai partisipasi, gotong royong, dan kepatuhan terhadap norma sosial. Ritual ini juga bertindak sebagai media pendidikan kewargaan yang strategis bagi generasi muda untuk menginternalisasi tanggung jawab sosial dan jati diri negeri. Simpulan utama menegaskan bahwa upacara ini bukan sekadar seremoni teknis, melainkan fondasi kokoh bagi keteraturan sosial dan penguatan karakter masyarakat yang berakar kuat pada nilai kearifan lokal.</p>2026-03-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9721SINERGI PEMBINAAN KEWIRAUSAHAAN BAGI PEMUDA DI KABUPATEN SLEMAN2026-03-02T01:24:10+00:00Endang Dwi Ratnasariratnasari.red@gmail.comR. Widodo Triputroratnaanisa2916@gmail.com<p>Entrepreneurship development for youth is crucial to welcoming the Golden Indonesia Era in 2045, ensuring that this era brings benefits in the form of increased national economic development. Youth are expected to contribute to the nation's economic independence. Capacity building through entrepreneurship development is carried out so that young people are no longer dependent on job providers but are instead able to become entrepreneurs. Entrepreneurship development for youth is certainly the responsibility of all parties, especially local governments through authorized regional apparatus. In 2024, Sleman Regency received the "Kabupaten Layak Wiramuda" or "Young Entrepreneur" award from the Ministry of Youth and Sports. This achievement demonstrates the local government's role in fostering entrepreneurship. However, youth entrepreneurship development still faces various challenges, such as limited skills, access to capital, unstable psychological conditions of young people, and a lack of ongoing mentoring. This study uses qualitative research methods to describe the synergy between several Regional Government Organizations (OPDs) in fostering entrepreneurship for young entrepreneurs. The aim is to analyze the synergy of entrepreneurship development for young people involving several regional government organizations (OPDs). The results of the study indicate that comprehensive synergy between Regional Government Organizations (OPDs) in fostering entrepreneurship for young people can increase the number of young entrepreneurs in Sleman Regency. This synergy in fostering entrepreneurship can provide more facilities for entrepreneurs, ranging from training, business permit services, even market access and business networks. Challenges in fostering entrepreneurship for young entrepreneurs include the clarity of the division of roles between Regional Government Organizations (OPDs) and the intensity of coordination.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pembinaan kewirausahaan bagi pemuda penting dilakukan untuk menyongsong Indonesia Emas tahun 2045 agar era tersebut membawa keuntungan berupa kenaikan pembangunan ekonomi nasional. Pemuda diharapkan mampu berkontribusi dalam kemandirian ekonomi suatu bangsa. Peningkatan kapasitas berupa pembinaan kewirausahaan dilakukan agar pemuda tidak lagi tergantung pada penyedia pekerjaan, melainkan mampu berwirausaha. Pembinaan kewirausahaan bagi pemuda tentu menjadi tanggungjawab semua pihak, terutama pemerintah daerah melalui perangkat daerah yang berwenang. Tahun 2024 Kabupaten Sleman mendapatkan penghargaan Kabupaten Layak Wiramuda atau Wirausaha Muda oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga, prestasi ini menjadi bukti bahwa pemerintah daerah telah berperan dalam pembinaan kewirausahaan tersebut. Namun, pengembangan kewirausahaan pemuda masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan keterampilan, akses permodalan, kondisi psikis pemuda yang belum stabil, serta kurangnya pendampingan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk menggambarkan sinergi beberapa Organisai Perangkat Daerah (OPD) dalam pembinaan kewirausahaan bagi wirausaha muda. Tujuannya untuk menganalisis sinergi pembinaan kewirausahaan bagi pemuda yang melibatkan beberapa organisasi pemerintah daerah (OPD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinergi antar Organisai Perangkat Daerah (OPD) dalam pembinaan kewirausahaan bagi pemuda yang dilakukan secara komprehensif mampu meningkatkan jumlah wirausahawan muda di Kabupaten Sleman. Sinergi pembinaan kewirausahaan mampu memberikan fasilitasi lebih bagi para wirausahawan mulai dari pelatihan, pelayanan ijin berusaha, bahkan akses pasar dan jejaring usaha. Tantangan dari sinergi pembinaan kewiraushaan bagi wirausahawan muda yakni ketegasan dalam pembagian peran antar Organisai Perangkat Daerah (OPD dan keintensifan koordinasi.</p>2026-03-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9723PERANAN KARANG TARUNA REMAND’S DALAM MENINGKATKAN KEPEDULIAN SOSIAL DI DESA MANDAN, KABUPATEN SUKOHARJO2026-03-02T01:24:32+00:00Rika Amelia Putririkaamell33@gmail.comMaria Helena Sri Rahayurikaamell33@gmail.com<p>Karang Taruna is an organization that plays a role in increasing social awareness among youth at the village level. However, individualism and changes in social dynamics pose challenges in optimizing the role of Karang Taruna Remand's. The purpose of this study is to describe the role of Karang Taruna Remand's in increasing social awareness, identify the constraints faced, and analyze solutions to optimize the role of Karang Taruna in increasing social awareness among youth in Mandan Village, Sukoharjo Regency in a sustainable manner. This study uses a descriptive qualitative approach. Data collection techniques in this study include interviews, observation, and documentation. Data validity used is data triangulation and method. Data analysis used is data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that Karang Taruna Remand's plays a role as a facilitator, motivator, participation driver, mediator, and agent of social change through social and community activities. According to this study, there are four indicators: each member cares about the welfare of others, has a desire to establish close relationships, follows moral intuition, and has a tendency to imitate the behavior of others. The implementation of Karang Taruna Remand's activities faces constraints within the organization, youth participation, facilities and infrastructure, and activity funding. Therefore, solutions are needed to strengthen the organization's internal capacity, develop strategies to increase youth participation, optimize supporting facilities and infrastructure, and strengthen synergy between Karang Taruna, the village government, and the community. This study concludes that Karang Taruna Remand's has the potential to be an effective means of increasing social awareness.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Karang taruna merupakan organisasi yang memiliki peranan dalam meningkatkan kepedulian sosial pemuda di tingkat desa. Akan tetapi, sikap individualisme dan perubahan dinamika sosial menjadi tantangan dalam optimalisasi peranan Karang Taruna Remand’s. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan peranan Karang Taruna Remand’s dalam meningkatkan kepedulian sosial, mengidentifikasi faktor kendala yang dihadapi, dan menganalisis solusi untuk mengoptimalkan peranan karang taruna dalam meningkatkan kepedulian sosial pemuda di Desa Mandan, Kabupaten Sukoharjo secara berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Validitas data yang digunakan adalah triangulasi data dan metode. Analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Karang Taruna Remand’s memiliki peranan sebagai fasilitator, motivator, penggerak partisipasi, mediator, serta agen perubahan sosial melalui kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Menurut penelitian ini, terdapat empat indikator yaitu setiap anggota peduli terhadap kesejahteraan orang lain, memiliki keinginan untuk menjalin hubungan erat, mengikuti intuisi moral, dan memiliki kecenderungan untuk mengikuti perilaku orang lain. Pelaksanaan kegiatan Karang Taruna Remand’s menghadapi faktor kendala dalam internal organisasi, partisipasi pemuda, sarana dan prasarana, serta dana kegiatan. Dengan demikian, diperlukan solusi untuk penguatan kapasitas internal organisasi, strategi peningkatan partisipasi pemuda, optimalisasi sarana dan prasarana pendukung, serta penguatan sinergi antara karang taruna, pemerintah desa, dan masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Karang Taruna Remand’s memiliki potensi menjadi sarana efektif dalam meningkatkan kepedulian sosial.</p> <p> </p>2026-03-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9583PENGEMBANGAN MEDIA SCRAPBOOK UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPAS MATERI KERAGAMAN BUDAYA SISWA KELAS IV SD2026-03-07T02:22:32+00:00Rezza Sari Febrianirezzasari48@students.unnes.ac.idFitria Dwi PrasetyaningtyasRezzasari48@students.unnes.ac.id<p>The use of ineffective learning media that is not suited to student characteristics has resulted in low student learning outcomes in the subject of Indonesian Cultural Diversity in IPAS (Integrated Science and Mathematics) lessons. The purpose of this study was to develop scrapbook learning media and analyse its feasibility and effectiveness in improving the learning outcomes of Grade IV students at Podorejo 01 State Elementary School in Semarang City. The research used the Research and Development (R&D) method with the Borg and Gall model, which was carried out up to the product testing stage. The research subjects consisted of 24 fourth-grade students who were divided into two testing stages, namely small-scale testing and large-scale testing. Data collection techniques consisted of observation, interviews, pretest–posttest, validation questionnaires, and response questionnaires. The validation results showed that the scrapbook media was deemed very feasible, with a percentage of 97% from media experts and 87.5% from subject matter experts. The effectiveness test results showed that student learning outcomes had improved. In the small-scale trial, the average score increased from 71.3 to 81.3, while in the large-scale trial, it increased from 61.5 to 88.6. Statistical analysis using the paired samples t-test and Wilcoxon signed-rank test showed a statistically significant difference in learning outcomes (p < 0.05). The N-Gain calculation results obtained a value of 0.67 in a small-scale trial with a moderate category and 0.89 in a large-scale trial with a high category. Thus, scrapbook learning media is declared feasible and effective for use in IPAS learning in Grade IV of elementary school.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pemanfaatan media pembelajaran yang tidak efektif dan tidak sesuai dengan karakteristik siswa menyebabkan hasil belajar siswa rendah pada materi Keragaman Budaya Indonesia dalam pembelajaran IPAS. Tujuan dari penelitian ini untuk mengembangkan media pembelajaran <em>scrapbook</em> serta menganalisis kelayakan dan keefektifannya dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri Podorejo 01 Kota Semarang. Penelitian menggunakan metode<em> Research and Development </em>(R&D) dengan model Borg and Gall yang dilaksanakan sampai pada tahap uji coba produk. Subjek penelitian berjumlah 24 siswa kelas IV yang dibagi ke dalam dua tahap uji coba, yakni uji coba skala kecil dan uji coba skala besar. Teknik pengumpulan data terdiri atas observasi, wawancara, tes <em>pretest–posttest</em>, angket validasi, dan angket tanggapan. Hasil validasi memperlihatkan bahwa media <em>scrapbook</em> dinyatakan sangat layak dengan persentase 97% dari ahli media dan 87,5% dari ahli materi. Hasil uji keefektifan menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Pada uji coba skala kecil, nilai rata-rata meningkat dari 71,3 menjadi 81,3, sedangkan pada uji coba skala besar meningkat dari 61,5 menjadi 88,6. Analisis statistik menggunakan uji <em>paired samples t-test</em> dan uji Wilcoxon signed-rank test menunjukkan adanya perbedaan hasil belajar yang signifikan secara statistik (p < 0,05). Hasil perhitungan N-Gain memperoleh nilai 0,67 pada uji coba skala kecil dengan kategori sedang dan 0,89 pada uji coba skala besar dengan kategori tinggi. Dengan demikian, media pembelajaran <em>scrapbook</em> dinyatakan layak dan efektif digunakan dalam pembelajaran IPAS kelas IV sekolah dasar.</p> <p> </p>2026-03-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9725PENGUATAN KOMPETENSI WIDYAISWARA ERA DIGITAL BERBASIS MANAJEMEN TALENTA DI BALAI DIKLAT KEAGAMAAN MAKASSAR2026-03-02T01:25:20+00:00Hanafi Pelusilawanehanafi@gmail.comRosmiati Rosmiatisilawanehanafi@gmail.comJuairia Pelusilawanehanafi@gmail.comSipa Pelusilawanehanafi@gmail.com<p>Strengthening the competencies of lecturers in the digital era through a talent management framework is a strategic investment in optimizing human capital to produce precise, adaptive learning innovations that have a significant impact on the effectiveness of bureaucratic transformation. The purpose of this study is to analyze the success rate of the talent management approach in addressing the technological skill gap of ASN lecturers at the Makassar Religious Training Center, as well as to formulate strategies for strengthening digital competencies to improve the effectiveness of religious training in the digital era. Qualitative research methods and descriptive research types were used in this study. The results of the study show that the implementation of talent management and competency development for widiyaiswara through a systematic approach integrated with digital technology can improve the quality of learning and overcome technological skill gaps among widiyaiswara. Through talent strategies integrated with digital technology, such as online platform-based training, hybrid learning, and digital competency assessments, the Makassar Religious Training Center can contribute to the development of more adaptive, effective, and efficient learning in the future.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penguatan kompetensi widyaiswara di era digital melalui kerangka manajemen talenta merupakan investasi strategis dalam mengoptimalkan modal insani guna menghasilkan inovasi pembelajaran yang presisi, adaptif, dan berdampak signifikan terhadap efektivitas transformasi birokrasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat keberhasilan pendekatan manajemen talenta dalam mengatasi gap skill teknologi Widyaiswara ASN di Balai Diklat Keagamaan Makassar, serta merumuskan strategi penguatan kompetensi digital untuk meningkatkan efektivitas pelatihan keagamaan era digital. Metode Penelitian Kualitatif dan Jenis Penelitian Deskriptif yang digunakan pada penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, implementasi manajemen talenta dan pengembangan kompetensi widiyaiswara melalui pendekatan sistematis yang berintegrasi dengan teknologi digital dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan mengatasi ketidaksesuaian skill teknologi di kalangan widiyaiswara. Melalui strategi talenta yang terintegrasi dengan teknologi digital, seperti pelatihan berbasis platform online, pembelajaran hybrid, dan asesmen kompetensi digital, Balai Diklat Keagamaan Makassar dapat berkontribusi pada pengembangan pembelajaran yang lebih adaptif, efektif, dan efisien di masa depan.</p> <p> </p>2026-03-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9724SUSTAINABILITY ISSUES IN FINANCIAL ACCOUNTING RESEARCH2026-03-02T01:24:56+00:00Muhammad Putra Aprullahaprullahmuhammad145@gmail.comRaida Fuadiaprullahmuhammad145@gmail.comIndrayani Indrayaniaprullahmuhammad145@gmail.comZahara Zaharaaprullahmuhammad145@gmail.comAgus Adriaaprullahmuhammad145@gmail.comMuhammad Sayuthiaprullahmuhammad145@gmail.comSalsabilla Julnadiaprullahmuhammad145@gmail.comWilliam Ben Gunawanaprullahmuhammad145@gmail.com<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>In financial accounting, sustainability is predominantly analyzed through corporate social responsibility (CSR) and environmental, social, and governance (ESG) frameworks, both of which are now integral to economic decision-making. Sustainability has become a central concern in global business and investment. The purpose of this essay is to review the literature on sustainability issues in financial accounting, with particular emphasis on information related to ESG practices. This study employs a literature review, analyzing journal articles to synthesize key findings and identify prevailing patterns. ESG research in financial accounting predominantly examines implications for financial performance, firm value, and capital costs from the perspectives of investors and creditors. While long-term benefits are acknowledged, concerns persist that ESG may obscure accounting malpractices, such as earnings management, which can erode its credibility with stakeholders. This study is not deeply explaining about behavioural factors, fraudulent practices, and creative accounting in the relationship between ESG practices and accounting variables. This study views comprehensively to prevent fraudulent accounting practices, such as earnings management and fraud. Therefore, the role of internal control systems and public auditors must be to ensure the reliability of the company's ESG information, as more and more investors, creditors, and other stakeholders use ESG information in assessing the company's business prospects and risks. This essay provides a timely synthesis that highlights the ESG paradox in financial accounting, contrasting its value as a sustainability indicator with its potential to enable opportunistic behavior. The analysis emphasizes the urgent need for regulatory intervention.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Dalam akuntansi keuangan, keberlanjutan sebagian besar dianalisis melalui tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan kerangka kerja lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), yang keduanya kini menjadi bagian integral dari pengambilan keputusan ekonomi. Keberlanjutan telah menjadi perhatian utama dalam bisnis dan investasi global. Tujuan esai ini adalah untuk meninjau literatur tentang isu-isu keberlanjutan dalam akuntansi keuangan, dengan penekanan khusus pada informasi yang berkaitan dengan praktik ESG. Studi ini menggunakan tinjauan literatur, menganalisis artikel jurnal untuk mensintesis temuan utama dan mengidentifikasi pola yang berlaku. Penelitian ESG dalam akuntansi keuangan sebagian besar mengkaji implikasi terhadap kinerja keuangan, nilai perusahaan, dan biaya modal dari perspektif investor dan kreditor. Meskipun manfaat jangka panjang diakui, kekhawatiran tetap ada bahwa ESG dapat mengaburkan praktik akuntansi yang salah, seperti manajemen laba, yang dapat mengikis kredibilitasnya di mata pemangku kepentingan. Studi ini tidak menjelaskan secara mendalam tentang faktor perilaku, praktik curang, dan akuntansi kreatif dalam hubungan antara praktik ESG dan variabel akuntansi. Studi ini melihat secara komprehensif untuk mencegah praktik akuntansi curang, seperti manajemen laba dan kecurangan. Oleh karena itu, peran sistem pengendalian internal dan auditor publik harus memastikan keandalan informasi ESG perusahaan, karena semakin banyak investor, kreditor, dan pemangku kepentingan lainnya menggunakan informasi ESG dalam menilai prospek bisnis dan risiko perusahaan. Esai ini memberikan sintesis tepat waktu yang menyoroti paradoks ESG dalam akuntansi keuangan, membandingkan nilainya sebagai indikator keberlanjutan dengan potensinya untuk memungkinkan perilaku oportunistik. Analisis ini menekankan kebutuhan mendesak akan intervensi regulasi.</p> <p> </p>2026-03-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9728EKSISTENSI TRADISI ADAT BELANG SEBAGAI CIVIC CULTURE MASYARAKAT BANDA NAIRA2026-03-02T01:25:52+00:00Ima Triayana Hatapayoimatriayana@gmail.comLouisa Metekohyimatriayana@gmail.comJumiati Tuhareaimatriayana@gmail.com<p>This study aims to analyze the existence of the Adat Belang tradition as the civic culture of the Banda Naira community. Local cultural expressions that grow within a community reflect the distinctive values of the region and become the collective identity of an ethnic group or community. The existence of Adat Belang is not only about tradition, but also about efforts to preserve national identity through the preservation of culture that is deeply rooted in the lives of the local community. The type of research is qualitative research, with the research location being community and religious leaders. The data collection techniques are observation and documentation. The data is analyzed descriptively and qualitatively. The results of the research show that the Belang Custom is not just a boat race or a means of transportation, but a very sacred sociological instrument for the people of Banda Naira. This tradition internalizes civic values such as mutual cooperation (gotong royong), social solidarity, moral responsibility, and harmonious teamwork, which form the foundation of the local community's character. The sustainability of the Belang tradition is highly dependent on the active role of the local community, including traditional leaders, religious leaders, and youth. Through collective involvement in the ritual procession, from the construction to the launching of the boat into the sea, the community has succeeded in preserving their collective memory and maritime identity amid the challenges of modernization and globalization.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis eksistensi tradisi adat belang sebagai <em>civic culture </em>masyarakat Banda Naira. Ekspresi budaya lokal yang tumbuh di tengah masyarakat mencerminkan nilai-nilai khas daerah dan menjadi identitas kolektif suatu etnis atau komunitas. eksistensi Adat Belang, tidak hanya membicarakan tentang sebuah tradisi, melainkan juga tentang upaya menjaga jati diri bangsa melalui pelestarian budaya yang berakar kuat dalam kehidupan masyarakat lokal. Tipe penelitian adalah penelitian kualitatif, lokasi penelitian Subjek dalam penelitian adalah tokoh masyarakat dan tokoh agama. Teknik pengumpulan data adalah observasi dan dokumentasi. data dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian bahwa Tradisi Adat Belang bukan sekadar perlombaan perahu atau sarana transportasi, melainkan instrumen sosiologis yang sangat sakral bagi masyarakat Banda Naira. Tradisi ini menginternalisasi nilai-nilai kewargaan seperti gotong royong (<em>maren</em>), solidaritas sosial, tanggung jawab moral, dan kerja sama tim yang harmonis, yang menjadi fondasi karakter masyarakat setempat. Keberlanjutan tradisi Belang sangat bergantung pada peran aktif masyarakat lokal, termasuk tokoh adat, tokoh agama, dan pemuda. Melalui keterlibatan kolektif dalam prosesi ritual, mulai dari pembuatan hingga penurunan perahu ke laut, masyarakat berhasil menjaga ingatan kolektif dan identitas maritim mereka di tengah tantangan modernisasi dan globalisas</p> <p> </p>2026-03-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9717KEPEMIMPINAN DIGITAL SEBAGAI PENGGERAK TRANSFORMASI MANAJEMEN SEKOLAH MENUJU PEMBELAJARAN BERBASIS CHROMEBOOK DI SMP2026-03-02T01:22:32+00:00Eny Ratnawatienyratna1973@gmail.comNihan Kristiyanienyratna1973@gmail.comAzainil Azainilenyratna1973@gmail.comDwi Nugrohoenyratna1973@gmail.comMuhammad Ramli Bukarienyratna1973@gmail.com<p>The development of information and communication technology (ICT) has shifted the paradigm of educational management from conventional systems to systems based on data and digital technology. In the 21st-century learning era, principals are required to possess digital leadership competencies to facilitate the transformation of technology-based learning and school management. This study aims to describe and analyze the role of digital leadership in the transformation of school management toward Chromebook-based learning at SMP Negeri 1 Anggana, as well as to identify obstacles and strategies for sustainable implementation. A descriptive qualitative approach was used to describe the digital leadership phenomenon based on documentation and observations of the implementation of Chromebook-based learning at the school. The study results indicate that the principal plays a strategic role in developing a digital vision, organizing teacher training, and integrating technology into the learning management system. This digital transformation improves administrative efficiency, collaboration between teachers, and student engagement in cloud-based learning. Key obstacles include limited teacher digital competency, network infrastructure, and resistance to change. Therefore, sustainability strategies are directed at strengthening digital culture, continuous professional development, and regional-level policy support. This study confirms that digital leadership is a key driver in creating an innovative Chromebook-based learning ecosystem.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah mengubah paradigma manajemen pendidikan dari sistem konvensional menuju sistem berbasis data dan teknologi digital. Di era pembelajaran abad ke-21, kepala sekolah dituntut untuk memiliki kompetensi kepemimpinan digital agar mampu memfasilitasi transformasi pembelajaran dan manajemen sekolah berbasis teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis peran kepemimpinan digital dalam transformasi manajemen sekolah menuju pembelajaran berbasis Chromebook di SMP Negeri 1 Anggana, serta mengidentifikasi hambatan dan strategi keberlanjutan implementasinya. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan untuk menggambarkan fenomena kepemimpinan digital berdasarkan dokumentasi dan observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran berbasis Chromebook di sekolah tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa kepala sekolah berperan strategis dalam membangun visi digital, mengorganisasi pelatihan guru, dan mengintegrasikan teknologi dalam sistem manajemen pembelajaran. Transformasi digital ini meningkatkan efisiensi administrasi, kolaborasi antar guru, dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran berbasis cloud. Kendala utama meliputi keterbatasan kompetensi digital guru, infrastruktur jaringan, serta resistensi perubahan. Oleh karena itu, strategi keberlanjutan diarahkan pada penguatan budaya digital, pengembangan profesional berkelanjutan, dan dukungan kebijakan tingkat daerah. Penelitian ini menegaskan bahwa kepemimpinan digital merupakan penggerak utama dalam menciptakan ekosistem pembelajaran inovatif berbasis Chromebook.</p>2026-03-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9727EKSISTENSI NILAI-NILAI NASIONALISME PENINGGALAN MOHAMMAD HATTA DAN SUTAN SJAHRIR DI PULAU BANDA2026-03-02T01:25:41+00:00Asriana Yantoasrianayanto04@gmail.comLouisa Metekohyasrianayanto04@gmail.comSusi Anita Patmawatiasrianayanto04@gmail.com<p>This study aims to analyze the existence of the values of nationalism left behind by Mohammad Hata and Sultan Sjahrir on Banda Island. The importance of nationalism values for the Indonesian nation, the nationalism values that need to be instilled include love for the homeland, willingness to sacrifice, pride in diverse cultures, appreciation for the services of heroes, and prioritizing the public interest. Connecting the past and emphasizing the nationalism values instilled through history and their relevance in the era of disruption, directly connecting the importance of preserving the traces of heroes with the formation of the nation's character. The type of research is qualitative. The research location is Banda Island, Central Maluku Regency, Maluku Province. The subjects of this research are the community responsible for maintaining the Cultural Heritage Site or the managers of the exile house, traditional leaders, community leaders, and the people of Banda Naira. The data collection techniques are observation and documentation. The data is analyzed using descriptive qualitative methods. The research results show that the values of nationalism contained in the historical traces of Mohammad Hatta and Sutan Sjahrir on Banda Island are reflected through their attitudes, thoughts, and activities during their exile. Translated with DeepL.com (free version) These values include love for the homeland, fighting spirit, sacrifice, unity, and efforts to educate the public through education and intellectual enlightenment. The historical traces left behind are proof of the existence of the nationalist values of these two figures. The preservation and utilization of the historical relics of Mohammad Hatta and Sutan Sjahrir on Banda Island play an important role in shaping the historical awareness and nationalism of the community. These historical relics not only serve as historical evidence, but also as a means of education and learning that can foster a love for the homeland and pride in the nation's history.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis eksistensi nilai-nilai nasionalisme peninggalan Mohammad Hata dan Sultan Sjahrir di Pulau Banda. Pentingnya nilai-nilai nasionalisme bagi bangsa Indonesia, Nilai-nilai nasionalisme yang perlu ditanamkan antara lain cinta tanah air, rela berkorban, bangga pada budaya yang beragam, menghargai jasa para pahlawan serta mengutamakan kepentingan umum. menghubungkan masalalu dan penekanan pada nilai-nilai nasionalisme yang ditanamkan melalui sejarah dan relevansinya di era disrupsi, secara langsung menghubungkan pentingnya pelestarian jejak pahlawan dengan pembentukan karakter bangsa, Tipe dalam penelitian ini adalah kualitatif. Lokasi penelitian pada Pulau Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku Subjek dalam penelitian ini adalah masyarakat yang bertanggung jawab menjaga Cagar Budaya atau pengelola rumah pengasingan,<a name="_Toc201046965"></a> tokoh adat, tokoh masyarakat, serta masyarakat Banda Naira. Teknik pengumpulan data adalah observasi dan Dokumentasi. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil Penelitian bahwa Nilai-nilai nasionalisme yang terkandung dalam jejak-jejak sejarah Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir di Pulau Banda tercermin melalui sikap, pemikiran, dan aktivitas mereka selama masa pengasingan. Nilai-nilai tersebut meliputi cinta tanah air, semangat perjuangan, pengorbanan, persatuan, serta upaya mencerdaskan masyarakat melalui pendidikan dan pencerahan intelektual. Jejak sejarah yang ditinggalkan menjadi bukti eksistensi nilai-nilai nasionalisme kedua tokoh tersebut. Pelestarian dan pemanfaatan peninggalan sejarah Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir di Pulau Banda memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran sejarah dan nasionalisme masyarakat. Peninggalan sejarah tersebut tidak hanya berfungsi sebagai bukti sejarah, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan pembelajaran yang dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air serta kebanggaan terhadap sejarah bangsa.</p>2026-03-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9651PENERAPAN COOPERATIVE LEARNING TIPE STAD BERBANTUAN MIND MAP CANVA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPS2026-03-02T01:23:46+00:00Atila Zifa Yulestianatilazifayulestian01@students.unnes.ac.idLukki Lukitawatiatilazifayulestian01@students.unnes.ac.id<p>This study was motivated by the low level of student engagement and learning outcomes in social studies (IPS) learning, which is still dominated by conventional teaching methods. The research aimed to examine the effect of implementing the <em>Student Teams Achievement Divisions</em> (STAD) cooperative learning model assisted by Canva-based mind mapping on improving students’ learning outcomes in the topic of Population Dynamics for eighth-grade students at SMP N 12 Semarang. The study employed a quantitative approach using a <em>Quasi-Experimental Non-equivalent Control Group Design</em>. The sample consisted of two classes selected through purposive sampling, namely class VIII B as the experimental group and class VIII C as the control group, each comprising 31 students. The research instrument was a validated and reliable achievement test (Cronbach’s Alpha = 0.950). Data were analyzed using normality and homogeneity tests, Independent Sample t-Test, and N-Gain analysis. The results revealed a statistically significant difference in learning outcomes between the experimental and control groups, with a Sig. (2-tailed) value of 0.034 < 0.05. The N-Gain score of the experimental class was 0.83, while that of the control class was 0.82, both categorized as high, although the experimental group demonstrated a more optimal improvement. Therefore, the implementation of the STAD model assisted by Canva-based mind mapping has a positive and significant effect on improving students’ social studies learning outcomes.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterlibatan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS yang masih didominasi metode konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan model cooperative learning tipe <em>Student Teams Achievement Divisions</em> (STAD) berbantuan mind map berbasis aplikasi Canva terhadap peningkatan hasil belajar IPS materi Dinamika Penduduk siswa kelas VIII SMP N 12 Semarang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain <em>Quasi-Experimental Non-equivalent Control Group Design</em>. Sampel penelitian terdiri atas dua kelas yang dipilih melalui teknik purposive sampling, yaitu kelas VIII B sebagai kelas eksperimen dan VIII C sebagai kelas kontrol, masing-masing berjumlah 31 siswa. Instrumen penelitian berupa tes hasil belajar yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya (Cronbach’s Alpha = 0,950). Analisis data dilakukan melalui uji normalitas, uji homogenitas, uji Independent Sample t-Test, serta perhitungan N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,034 < 0,05. Nilai N-Gain pada kelas eksperimen sebesar 0,83 dan kelas kontrol sebesar 0,82 yang keduanya berada pada kategori tinggi, namun kelas eksperimen menunjukkan peningkatan yang lebih optimal. Dengan demikian, penerapan model STAD berbantuan mind map Canva berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan hasil belajar IPS siswa.</p>2026-03-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9731EKSISTENSI TATA PEMERINTAHAN ADAT DI MALUKU2026-03-02T01:26:42+00:00Belyon Talabessybelyontalabessy@gmail.comEvan Tanalepybelyontalabessy@gmail.comBayumi Kilbarenbelyontalabessy@gmail.comYunus Bogerbelyontalabessy@gmail.comFricean Tutuarimabelyontalabessy@gmail.comLouisa Metekohybelyontalabessy@gmail.com<p>Customary governance in Maluku, known through the terms negeri, ohoi, hena, and aman, is a valuable cultural heritage that has constitutional recognition based on Article 18B Paragraph 2 of the 1945 Constitution. However, its existence faces significant pressure from the currents of modernization and globalization that have the potential to erode the original identity of indigenous legal communities. This study aims to analyze the existence of this government structure in the midst of a modern state administration system. The method used is a qualitative approach with a literature study approach, which systematically examines scientific articles and regional regulations through content analysis techniques. The results of the study indicate that customary governance still exists structurally with the continued use of traditional nomenclature such as Raja, Badan Saniri, Kepala Soa, and Kewang in the regions of Central Maluku, Ambon, Seram, and Southeast Maluku. Field findings reveal the main challenges in the form of bureaucratization and selective legal recognition that often force the integration of customary systems into the formal village administration system, so that the essence of indigenous leadership is marginalized. The main conclusion emphasizes that while customary governance still operates according to tradition, a more serious regulatory commitment is needed to protect the flexibility of local systems from the threat of cultural homogenization. This governance system has proven capable of preserving the environment and social order if given genuine autonomy as a self-governing, independent, and sustainable community.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Tata pemerintahan adat di Maluku, yang dikenal melalui istilah negeri, ohoi, hena, dan aman, merupakan warisan budaya berharga yang memiliki pengakuan konstitusional berdasarkan Pasal 18B Ayat 2 UUD 1945. Namun, keberadaannya menghadapi tekanan signifikan dari arus modernisasi dan globalisasi yang berpotensi menggerus identitas asli masyarakat hukum adat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis eksistensi struktur pemerintahan tersebut di tengah sistem administrasi negara modern. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, yang menelaah artikel ilmiah, dan regulasi daerah secara sistematis melalui teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata pemerintahan adat masih eksis secara struktural dengan tetap digunakannya nomenklatur tradisional seperti Raja, Badan Saniri, Kepala Soa, dan Kewang di wilayah Maluku Tengah, Ambon, Seram, hingga Maluku Tenggara. Temuan lapangan mengungkap tantangan utama berupa birokratisasi dan pengakuan hukum selektif yang sering kali memaksa integrasi sistem adat ke dalam sistem administrasi desa formal, sehingga esensi kepemimpinan asli menjadi terpinggirkan. Simpulan utama menegaskan bahwa meskipun pemerintahan adat masih berjalan sesuai tradisi, diperlukan komitmen regulasi yang lebih serius untuk melindungi fleksibilitas sistem lokal dari ancaman homogenisasi budaya. Tata kelola ini terbukti mampu menjaga kelestarian lingkungan dan tatanan sosial jika diberikan ruang otonomi murni sebagai komunitas pengatur diri sendiri secara mandiri serta berkelanjutan.</p> <p> </p>2026-03-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9722PARTISIPASI KARANG TARUNA TUNAS HARAPAN DALAM KEGIATAN JIMPITAN UNTUK MENINGKATKAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL 2026-03-02T01:24:21+00:00Devi Permatasaridevi.permatasarri@gmail.comMaria Helena Sri Rahayudevi.permatasarri@gmail.com<p>Karang Taruna Tunas Harapan in Ngelosari, Sambirejo, Jumantono, Karanganyar manages jimpitan activities as a means of social learning due to the lack of participation and social responsibility of the younger generation. The purpose of this study is to describe the participation of Karang Taruna Tunas Harapan in jimpitan activities to increase social responsibility and describe the inhibiting and supporting factors. This study uses a descriptive qualitative approach that focuses on Karang Taruna Tunas Harapan as the subject and jimpitan activities as the object that impacts social responsibility. The informants include the Head of the RT, the Head of the RW, the Head of the youth organization, and five members of the youth organization. Data collection techniques through participant observation, interviews, and documentation. The validity of the data used is triangulation of sources and techniques. Then analyzed through data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Karang Taruna's participation in jimpitan activities includes participation in decision-making through deliberation, scheduled implementation for male and female members, utilization of funds for organizational activities, and routine evaluation of the organization down to the RW level. This activity has proven effective in increasing members' social responsibility, as demonstrated by indicators of self-control, effort and participation, self-direction, and helping others. Impediments identified included bad weather, human error, and time constraints. However, its success was bolstered by internal solidarity, a sense of mutual cooperation, and the full support of parents and community leaders. The participation of youth groups in the jimpitan activity, a positive initiative effectively and consistently managed by the Tunas Harapan Youth Organization, can foster and foster active participation and social responsibility among youth.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Karang Taruna Tunas Harapan di Ngelosari, Sambirejo, Jumantono, Karanganyar mengelola kegiatan jimpitan sebagai sarana pembelajaran sosial untuk meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab sosial generasi muda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan partisipasi Karang Taruna Tunas Harapan dalam kegiatan jimpitan untuk meningkatkan tanggung jawab sosial serta mendeskripsikan faktor penghambat dan pendukungnya. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif deskriptif yang fokus pada Karang Taruna Tunas Harapan sebagai subjek dan kegiatan jimpitan sebagai objek yang berdampak pada tanggung jawab sosial. Informannya antara lain Ketua RT, Ketua RW, Ketua karang taruna, dan lima anggota karang taruna. Teknik pengumpulan data melalui observasi partisipan, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi sumber dan teknik. Kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Partisipasi Karang Taruna dalam kegiatan jimpitan meliputi partisipasi pengambilan keputusan secara musyawarah, pelaksanaan terjadwal bagi anggota laki-laki dan perempuan, pemanfaatan dana untuk kegiatan organisasi, serta evaluasi rutin organisasi hingga tingkat RW. Kegiatan ini telah terbukti efektif meningkatkan tanggung jawab sosial anggota, yang ditunjukkan oleh indikator kontrol diri, usaha dan partisipasi, pengarahan diri, dan membantu sesama. Faktor penghambat yang ditemukan meliputi cuaca buruk, <em>human error,</em> dan kendala waktu. Namun, keberhasilannya didukung oleh solidaritas internal, kesadaran bergotong-royong, dan dukungan penuh dari orang tua serta tokoh masyarakat. Partisipasi karang taruna dalam kegiatan jimpitan sebagai kegiatan positif yang dikelola secara efektif dan konsisten oleh Karang Taruna Tunas Harapan dapat membentuk serta meningkatkan partisipasi aktif dan tanggung jawab sosial pemuda.</p>2026-03-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9730PERAN TIM PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KEKERASAN (TPPK) DALAM TINDAKAN PERUNDUNGAN DI SEKOLAH SMP2026-03-02T01:26:29+00:00Elisabet Indri Papilayaelisabetpapilaya18@gmail.comHerpie Lambiombirelisabetpapilaya18@gmail.comTitus Gaiteelisabetpapilaya18@gmail.com<p>Bullying remains a critical issue in the educational environment, thus the formation of the Violence Prevention and Handling Team (TPPK) at SMP Lab School Unpatti is the primary focus of this research. This study aims to evaluate the team's role in mitigating bullying while identifying various operational barriers in the field. Using a descriptive qualitative approach, the research stages included purposive sampling and data collection through observation and documentation. The analysis shows that the TPPK plays an active role through preventive measures such as education during the School Environment Introduction Period and tiered handling procedures. Quantitative data confirms that the team's performance has reached seventy percent effectiveness in controlling aggressive acts, thus creating a relatively safe school environment. However, crucial inhibiting factors were identified, including limited time for coaching due to teachers' heavy teaching workloads and parents' defensive tendencies in defending their children. Furthermore, a lack of supporting facilities and students' reluctance to report cases also impacted program optimization. The main conclusion of the study confirms that while the TPPK (Teacher-Based Team) has a strategic position, its success depends heavily on strengthening collective synergy between schools, parents, and students to comprehensively break the chain of bullying, creating a friendly, dignified educational ecosystem that supports the development of positive character for each individual in the future.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perundungan tetap menjadi isu kritis di lingkungan pendidikan, sehingga pembentukan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di SMP Lab School Unpatti menjadi fokus utama penelitian ini. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi peran tim tersebut dalam memitigasi perundungan sekaligus mengidentifikasi berbagai hambatan operasional di lapangan. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, tahapan penelitian meliputi pengambilan subjek secara purposive sampling serta pengumpulan data melalui observasi dan dokumentasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa TPPK berperan aktif melalui langkah preventif seperti edukasi saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah dan prosedur penanganan berjenjang. Data kuantitatif mengonfirmasi bahwa tingkat efektivitas kinerja tim telah mencapai tujuh puluh persen dalam mengendalikan tindakan agresif, sehingga menciptakan suasana sekolah yang relatif aman. Namun, ditemukan faktor penghambat krusial berupa keterbatasan waktu pembinaan akibat beban tugas mengajar guru yang tinggi serta sikap orang tua yang cenderung defensif dalam membela anak. Selain itu, kurangnya sarana pendukung dan keengganan siswa untuk melaporkan kasus turut memengaruhi optimalisasi program. Simpulan utama penelitian menegaskan bahwa meskipun TPPK memiliki posisi strategis, keberhasilannya sangat bergantung pada penguatan sinergi kolektif antara pihak sekolah, orang tua, dan peserta didik guna memutus rantai perundungan secara menyeluruh demi terwujudnya ekosistem pendidikan yang ramah, bermartabat, serta mampu mendukung pembentukan karakter positif bagi setiap individu di masa depan nanti.</p> <p> </p>2026-03-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9548PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN TEAMS GAMES TOURNAMENT BERBANTUAN FLASH CARD TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS2026-03-02T01:23:12+00:00Yustrian Bawono Saputroyustrianbawono@students.unnes.ac.idLukki Lukitawatiyustrianbawono@students.unnes.ac.id<p>Social Studies learning in schools is often still dominated by conventional teaching methods, which may lead to low student learning interest. This study aimed to examine the effect of the <em>Teams Games Tournament</em> (TGT) learning model assisted by <em>Flash Card</em> media on students’ learning outcomes and learning interest in Social Studies. The study employed a quantitative approach using a quasi-experimental method with a <em>Nonequivalent Control Group Design</em>. The participants were eighth-grade students of SMP Negeri 12 Semarang, where class VIII G was assigned as the experimental group and class VIII F as the control group. Data were collected using learning outcome tests (pretest–posttest) and a learning interest questionnaire, and were analyzed using the Independent Sample t-test. The results indicated that the experimental group achieved higher learning outcomes and learning interest compared to the control group. The t-test results showed a significance value of 0.032 for learning outcomes and 0.002 for learning interest (p < 0.05), indicating that the implementation of the TGT learning model assisted by <em>Flash Card</em> media had a significant effect. Therefore, the TGT learning model assisted by <em>Flash Card </em>media is effective in improving students’ learning outcomes and learning interest in Social Studies.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pembelajaran IPS di sekolah seringkali masih didominasi metode konvensional yang berdampak pada rendahnya minat belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan model pembelajaran <em>Teams Games Tournament</em> (TGT) berbantuan media <em>Flash Card</em> terhadap hasil belajar dan minat belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis <em>quasi experiment</em> dan desain <em>Nonequivalent Control Group Design</em>. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 12 Semarang, dengan kelas VIII G sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII F sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data menggunakan tes hasil belajar (pretest–posttest) dan angket minat belajar, sedangkan analisis data dilakukan menggunakan uji <em>Independent Sample t-test</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar dan minat belajar siswa pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol, serta diperoleh nilai signifikansi uji t sebesar 0,032 pada hasil belajar dan 0,002 pada minat belajar (p < 0,05), yang menunjukkan adanya pengaruh signifikan penerapan model pembelajaran TGT berbantuan media <em>Flash Card</em>. Dengan demikian, model pembelajaran TGT berbantuan media <em>Flash Card</em> terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar dan minat belajar siswa pada mata pelajaran IPS.</p>2026-03-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9720STRATEGI PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DI KAPANEWON PALIYAN2026-03-02T01:23:57+00:00Subandriyo SubandriyoBandrimania@gmail.comSupardal SupardalBandrimania@gmail.com<p>Public services at the sub-district level play a strategic role in ensuring the fulfillment of administrative and community service needs effectively and responsively. However, several challenges related to service quality and the optimization of apparatus performance are still encountered. This study aims to analyze strategies for improving the quality of public services through optimizing the performance of government apparatus in Kapanewon Paliyan. This research employed a qualitative method with a descriptive approach. Data were collected through in-depth interviews with government officials and documentation studies related to public service implementation. Data analysis was conducted through data reduction, data display, and conclusion drawing. The results indicate that strategies to improve service quality were implemented through strengthening work discipline, enhancing apparatus competence, improving service facilities and infrastructure, and strengthening internal organizational coordination. Supporting factors include leadership commitment and regulatory support, while inhibiting factors consist of limited resources and workload constraints. The study concludes that optimizing apparatus performance is a key factor in achieving effective, efficient, and community-oriented public services.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pelayanan publik pada tingkat kapanewon memiliki peran strategis dalam menjamin terpenuhinya kebutuhan administrasi dan pelayanan masyarakat secara efektif dan responsif. Namun, masih ditemukan berbagai kendala yang berkaitan dengan kualitas pelayanan dan optimalisasi kinerja aparatur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi peningkatan kualitas pelayanan publik melalui optimalisasi kinerja aparatur di Kapanewon Paliyan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan aparatur pemerintah kapanewon serta studi dokumentasi terhadap dokumen pelayanan. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi peningkatan kualitas pelayanan dilakukan melalui penguatan disiplin kerja, peningkatan kompetensi aparatur, pemanfaatan sarana prasarana pelayanan, serta koordinasi internal organisasi. Faktor pendukung meliputi komitmen pimpinan dan dukungan regulasi, sedangkan faktor penghambat mencakup keterbatasan sumber daya dan beban kerja aparatur. Penelitian ini menyimpulkan bahwa optimalisasi kinerja aparatur menjadi kunci dalam mewujudkan pelayanan publik yang lebih efektif, efisien, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat.</p>2026-03-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9732PENGARUH MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE JIGSAW DALAM PEMBELAJARAN IPS TERHADAP SIKAP KEPEDULIAN SOSIAL PESERTA DIDIK KELAS VII SMP2026-03-02T01:26:51+00:00Umi Thohirohumithohiroh@students.unnes.ac.idYadi Suryadiumithohiroh@students.unnes.ac.id<p>This research is motivated by the decline in students' social awareness, characterized by low levels of empathy, cooperation, and responsibility in Social Studies learning. This study aims to analyze the differences and examine the effect of the Jigsaw Cooperative Learning model on the social awareness of seventh-grade students at SMPN 7 Semarang. This study employed a quantitative approach using a quasi-experimental design with a non-equivalent control group design. The research sample consisted of 60 students, with Class VII B as the experimental group and Class VII F as the control group. Data were collected using a Likert-scale questionnaire that had been tested for validity and reliability (Cronbach’s Alpha = 0.914). Data analysis included normality and homogeneity tests, followed by hypothesis testing using an independent samples t-test. The results showed that the mean posttest score of the experimental group (103.40) was higher than that of the control group (84.20). The hypothesis testing revealed a Sig. (2-tailed) value of 0.000 < 0.05 and a t-value of 16.892 > 2.002, indicating that H₀ was rejected and Hₐ was accepted. Therefore, the Jigsaw Cooperative Learning model has a significant effect on improving students' social awareness in Social Studies learning.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh menurunnya sikap kepedulian sosial peserta didik yang ditandai dengan rendahnya empati, kerja sama, dan tanggung jawab dalam pembelajaran IPS. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan serta menguji pengaruh model <em>Cooperative Learning</em> tipe <em>Jigsaw</em> terhadap sikap kepedulian sosial peserta didik kelas VII SMPN 7 Semarang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain <em>quasi experimental</em> jenis <em>non-equivalent control group design</em>. Sampel penelitian berjumlah 60 peserta didik yang terdiri atas kelas VII B sebagai kelas eksperimen dan VII F sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data menggunakan angket skala Likert yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya (Cronbach’s Alpha = 0,914). Analisis data meliputi uji normalitas, homogenitas, dan uji hipotesis menggunakan <em>independent sample t-test</em>. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata <em>posttest</em> kelas eksperimen (103,4) lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol (84,20). Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 < 0,05 dan t hitung 16,892 > t tabel 2,002, sehingga H₀ ditolak dan Hₐ diterima. Dengan demikian, model <em>Cooperative Learning</em> tipe <em>Jigsaw</em> berpengaruh signifikan terhadap peningkatan sikap kepedulian sosial peserta didik pada pembelajaran IPS.</p>2026-03-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPShttps://jurnalp4i.com/index.php/social/article/view/9729ANALISIS PEMANFAATAN APLIKASI GEMINI DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DI KELAS XI SMA2026-03-02T01:26:18+00:00Windy E. M. Ohoinerwindyohoiner@gmail.comFatimah Sialanawindyohoiner@gmail.comAisa Abaswindyohoiner@gmail.com<p>This study aims to analyze the use of the Gemini application in increasing student interest in learning Pancasila education in grade XI at SMA Negeri 1 Tual. Advances in information technology have changed students' learning patterns. Today's young generation, especially Generation Z, tends to be more interested in interactive, visual, and digital technology-based learning media. This phenomenon requires teachers to innovate in utilizing technology as a learning tool. The younger generation today, especially Generation Z, tends to be more interested in interactive, visual, and technology-based learning media. This phenomenon requires teachers to innovate in utilizing technology as a learning tool, including in teaching Pancasila education material, which has often been considered monotonous by some students. This study uses a qualitative approach with a descriptive research type. The subjects of this research consisted of students and teachers. The data collection techniques were observation and documentation. The data were analyzed using qualitative descriptive analysis. The results of the study showed that the use of the Gemini application in Pancasila Education learning in class XI at SMA Negeri 1 Tual has been running well as a learning support medium. This application helps students understand conceptual and normative material through the presentation of information that is simpler, contextual, and easy to understand, as well as supporting the role of teachers in planning and implementing learning. The Gemini application plays a role in shaping the character of students' digital citizenship, particularly in fostering critical thinking, responsibility, and ethics in the use of digital technology. Students not only use Gemini to obtain information, but also learn to select, evaluate, and use information wisely in accordance with the values of Pancasila. The use of the Gemini application in building students' interest in learning is influenced by supporting and inhibiting factors. Supporting factors include school support, teacher readiness, ease of use, and the characteristics of students as the digital generation. Meanwhile, inhibiting factors include limited internet access, differences in digital literacy, and the potential for distraction from the use of gadgets in learning.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis analisis pemanfaatan aplikasi gemini dalam meningkatkan minat belajar siswa pada pembelajaran pendidikan pancasila di kelas xi SMA Negeri 1 Tual. Kemajuan teknologi informasi telah mengubah pola belajar siswa. Generasi muda saat ini, khususnya generasi Z, cenderung lebih tertarik pada media pembelajaran yang interaktif, visual, dan berbasis teknologi digital Fenomena ini menuntut guru untuk berinovasi dalam memanfaatkan teknologi sebagai sarana pembelajaran, termasuk dalam mengajarkan materi Pendidikan Pancasila yang selama ini sering dianggap monoton oleh sebagian siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian ini terdiri dari siswa dan guru. Teknik pengumpulan data adalah observasi dan dokumentasi. data dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian bahwa Pemanfaatan aplikasi Gemini dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila di kelas. XI SMA Negeri 1 Tual telah berjalan dengan baik sebagai media pendukung pembelajaran. Aplikasi ini membantu siswa memahami materi yang bersifat konseptual dan normatif melalui penyajian informasi yang lebih sederhana, kontekstual, dan mudah dipahami, serta mendukung peran guru dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Aplikasi Gemini berperan dalam membentuk karakter kewarganegaraan digital siswa, khususnya dalam menumbuhkan sikap kritis, tanggung jawab, dan etika dalam menggunakan teknologi digital. Siswa tidak hanya memanfaatkan Gemini untuk memperoleh informasi, tetapi juga belajar menyeleksi, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara bijak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.Pemanfaatan aplikasi Gemini dalam membangun minat belajar siswa dipengaruhi oleh faktor pendukung dan penghambat. Faktor pendukung meliputi dukungan sekolah, kesiapan guru, kemudahan aplikasi, dan karakteristik siswa sebagai generasi digital. Sementara itu, faktor penghambat mencakup keterbatasan jaringan internet, perbedaan literasi digital, serta potensi distraksi penggunaan gawai dalam pembelajaran.</p> <p> </p>2026-03-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS