ANALISIS SEMIOTIKA TRADISI MAKAN BERADAB PADA PERNIKAHAN ADAT MELAYU DI KABUPATEN LANGKAT
DOI:
https://doi.org/10.51878/social.v6i3.14240Keywords:
Semiotika Roland Barthes, Tradisi Makan Beradab, Pernikahan Adat MelayuAbstract
The makan beradab tradition is an integral part of the Malay traditional wedding ceremony in Langkat Regency and serves as a medium for transmitting cultural values through a series of symbolic practices. However, social and cultural changes brought about by modernization have increasingly led this tradition to be perceived merely as a ceremonial procession, while the symbolic meanings embedded in each stage have gradually diminished, particularly among younger generations. This phenomenon highlights the need for an in-depth study to uncover the symbolic meanings preserved within the makan beradab tradition as an effort to preserve Malay cultural heritage. This study aims to describe the denotative, connotative, and mythical meanings represented in the makan beradab tradition of the Malay traditional wedding ceremony in Langkat Regency based on Roland Barthes' semiotic theory. This research employed a qualitative approach using a cultural semiotic study design. Data were collected through observations, interviews with Malay traditional leaders and other informants knowledgeable about the makan beradab tradition, documentation, and a literature review. The data were analyzed using the qualitative data analysis model proposed by Miles, Huberman, and Saldaña, combined with Roland Barthes' concepts of denotation, connotation, and myth. The findings reveal that every stage of the makan beradab tradition embodies symbolic meanings associated with responsibility, cooperation, affection, respect, mutual care, gratitude, and family harmony. Furthermore, these meanings have evolved into cultural myths that are transmitted across generations as moral guidelines for building harmonious family life in accordance with Malay cultural values. Therefore, the makan beradab tradition should not merely be regarded as a component of the wedding ceremony but also as a medium for transmitting cultural values and strengthening the cultural identity of the Malay community in Langkat Regency.
ABSTRAK
Tradisi makan beradab merupakan salah satu rangkaian penting dalam upacara pernikahan adat Melayu di Kabupaten Langkat yang sarat dengan makna simbolik dan berfungsi sebagai media pewarisan nilai-nilai budaya. Namun, perkembangan modernisasi dan perubahan pola pikir masyarakat menyebabkan tradisi ini semakin sering dipahami hanya sebagai bagian dari prosesi seremonial, sementara makna simbolik yang terkandung dalam setiap tahapannya mulai mengalami pendangkalan, terutama di kalangan generasi muda. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kajian yang mampu mengungkap kembali makna simbolik yang terkandung dalam tradisi makan beradab sebagai upaya pelestarian budaya Melayu. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna denotatif, konotatif, dan mitos pada tradisi makan beradab dalam upacara pernikahan adat Melayu di Kabupaten Langkat berdasarkan teori semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi semiotika budaya. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dengan tokoh adat dan informan yang memahami tradisi makan beradab, dokumentasi, serta studi pustaka. Data dianalisis menggunakan model analisis Miles, Huberman, dan Saldaña yang dipadukan dengan konsep denotasi, konotasi, dan mitos Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap tahapan dalam tradisi makan beradab mengandung makna simbolik yang merepresentasikan nilai tanggung jawab, kerja sama, kasih sayang, penghormatan, kepedulian, rasa syukur, dan keharmonisan dalam kehidupan rumah tangga. Makna-makna tersebut selanjutnya membentuk mitos budaya yang diwariskan secara turun-temurun sebagai pedoman moral masyarakat Melayu dalam membangun keluarga. Dengan demikian, tradisi makan beradab tidak hanya berfungsi sebagai rangkaian upacara pernikahan, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai budaya dan penguatan identitas masyarakat Melayu di Kabupaten Langkat.
Downloads
References
Aida Nuraida, & Harahap, T. H. (2023). Analisis semiotik Roland Barthes terhadap prosesi pernikahan tradisional Sunda Sawer Penganten. Jurnal Bimas Islam, 16(1). https://jurnalbimasislam.kemenag.go.id/jbi/article/view/880/211
Alamsyah, A. G., Nugraha, A., Reza, M., Sazali, H., & Dalimunthe, M. A. (2022). Budaya Melayu dan pengaruh Islam dalam upacara pernikahan di Tanjung Balai. MUKADIMAH: Jurnal Pendidikan, Sejarah, dan Ilmu-Ilmu Sosial, 6(2), 410–413. https://doi.org/10.30743/mkd.v6i2.5532
Alviliniyo, D. A., & Flora, D. A. (2025). Tradisi dan nilai adat Melayu di Tanjung Pura, Langkat. TERPADU: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 3(1), 401–404. https://pelitaaksara.or.id/index.php/terpadu/article/view/60
Armiyani, A., Wahida, S., & Susanti, T. (2023). Analisis tradisi malam berinai pada perkawinan penduduk Melayu di Desa Pambang Pesisir menurut perspektif hukum Islam. Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Keislaman, 3(2), 135–141. https://doi.org/10.55883/jipkis.v3i2.60
Barthes, R. (1967). Elements of semiology (A. Lavers & C. Smith, Trans.). Jonathan Cape.
Barthes, R. (2003). Mythen des Alltags. Suhrkamp.
Batubara, T., Badrun, B., & Muhajir, A. (2022). Tradisi tepung tawar: Integrasi agama dan kebudayaan pada masyarakat Melayu di Sumatera Utara. Local History & Heritage, 2(1), 10–16. https://doi.org/10.57251/lhh.v2i1.288
Elmustian, Marsha, V. J., Elisia, Fitri, N. A., Amri, N., Fitriani, H., Darma, S., & Triski, W. (2024). Eksplorasi warisan budaya Melayu: Seni, kuliner, dan festival yang menyatu di masyarakat. Sinar Dunia: Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Ilmu Pendidikan, 3(4), 286–298. https://doi.org/10.58192/sidu.v3i4.2782
Gusti, U. A., Islami, A., Ardi, A., Almardiyah, A., Rahayu, R. G., & Tananda, O. (2021). Tinjauan penyebaran tradisi lisan di Sumatera Barat. Jurnal Adat dan Budaya Indonesia, 3(1), 1–5. https://doi.org/10.23887/jabi.v3i1.39261
Hendra, D. F. (2022). Tepuk tepung tawar sebagai simbol ritual budaya Melayu Kabupaten Karimun. Dance and Theatre Review, 5(1), 1–8. https://journal.isi.ac.id/index.php/DTR/article/view/7657
Lestari, S. P. (2024). Eine Studie über die Berinai-Tradition bei den Mischehenhochzeiten in Kabupaten Langkat (Undergraduate thesis, Universitas Negeri Medan). Repository Universitas Negeri Medan. https://digilib.unimed.ac.id/id/eprint/64865/
Lubis, S. N., Siregar, Y. D., & Yasmin, N. (2023). Nilai-nilai Islam dalam tradisi pernikahan masyarakat etnis Melayu di Tanjung Balai. Warisan: Journal of History and Cultural Heritage, 4(2), 74–85. https://doi.org/10.34007/warisan.v4i2.1925
Maini. (2023). Die Analyse der Bedeutung von der Hochzeitszeremonie Tepung Tawar in der Tradition von Melayu Riau (Undergraduate thesis, Universitas Negeri Medan). Repository Universitas Negeri Medan. https://digilib.unimed.ac.id/id/eprint/58111/
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.
Nainggolan, D. J. S., Siregar, J., & Silitonga, I. D. B. (2025). Analisis Parjambaron sebagai simbol kebudayaan pernikahan Batak Toba (kajian semiotika). Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sosial, 4(4), 786–793. https://doi.org/10.58540/jipsi.v4i4.1195
Nasution, M. M., Vahlepi, S., Sholihah, M., & Izar, J. (2025). Analisis makna kultural pada prosesi pernikahan adat Bugis: Kajian etnolinguistik. SeBaSa, 8(1), 1–21. https://doi.org/10.29408/sbs.v8i1.28643
Nurbaiti, Ginting, S. U. B., & Alisidiqin, M. (2023). Makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya makan beradapan di Desa Bubun Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat: Kajian semiotika sosial. Jurnal Serunai Ilmu Pendidikan, 9(1), 118–128. https://ejournal.stkipbudidaya.ac.id/index.php/ja/article/view/947
Nur Muharromah, M., Alfiah, A., & Zaidah, N. (2024). Analisis semiotika Roland Barthes pada tradisi siraman dalam pernikahan adat Jawa di Aksara Wedding Organizer Semarang. Ranah Research: Journal of Multidisciplinary Research and Development, 6(5), 2041–2053. https://doi.org/10.38035/rrj.v6i5.1045
Pardosi, N. M. V., Dinda, A. N., Nainggolan, I. Br., Saragih, Y. V., Siallagan, L., & Simanjuntak, S. M. (2024). Makna adat Sulang-Sulang Hariapan pada masyarakat Batak Toba. Jurnal Adat dan Budaya Indonesia, 6(2), 252–257. https://doi.org/10.23887/jabi.v6i2.78726
Putri, H. R., & Aman, A. (2022). Pergeseran adat perkawinan masyarakat Meranjat, Ogan Ilir Sumatra Selatan. Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, 24(2), 137–147. https://doi.org/10.25077/jantro.v24.n2.p137-147.2022
Rahmah, K., Habsy, B. A., & Naqiyah, N. (2024). Nilai-nilai tradisi pantang larang Melayu sebagai proses pembentukan karakter anak. G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling, 9(1), 106–115. https://doi.org/10.31316/gcouns.v9i1.6297
Suriyati, S., Sudirman, P., Suriati, S., Jamaluddin, J., & Hafid, N. (2026). Peran kearifan lokal dalam menjaga keberagaman budaya di Kabupaten Sinjai. Jurnal Adat dan Budaya Indonesia, 8(1), 87–97. https://doi.org/10.23887/jabi.v8i1.97195
Vrianti, Y. E., & Rachman, A. K. (2024). Makna dan mitos pernikahan adat Jawa pada prosesi Temu Manten di Desa Tambakasri: Kajian semiotika. Disastra: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 6(1), 14–31. https://doi.org/10.29300/disastra.v6i1.3306
Yulia Sofiana, & Yanti, F. (2025). Makna tradisi makan beradap pada acara pernikahan adat Melayu di Pulau Moro. Historia: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, 10(2), 128–142. https://www.journal.unrika.ac.id/index.php/journalhistoria/article/view/8914
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.















