ANALISIS SEMIOTIKA BALE PADA ADAT PERNIKAHAN MELAYU PESISIR
DOI:
https://doi.org/10.51878/social.v6i3.14238Keywords:
Bale, semiotika, Roland Barthes, pernikahan adat, Melayu PesisirAbstract
Bale is an important component of Coastal Malay traditional weddings that contains various symbolic meanings and cultural values. Social changes and modernization have caused some members of the community, particularly younger generations, to recognize Bale merely as part of the wedding ceremony without fully understanding the meanings embedded in its components. Research on Bale using Roland Barthes’s semiotic approach among the Coastal Malay community in Langkat Regency remains limited. This study aims to analyze the denotative, connotative, and mythical meanings embedded in Bale used in Coastal Malay traditional weddings. The study employed a descriptive qualitative method with Roland Barthes’s semiotic analysis. Data were collected through observation, interviews, documentation, and literature review. The participants consisted of 12 informants selected through purposive sampling, including five parents, two married individuals who had conducted their weddings according to Malay customs, three adolescents, one traditional wedding facilitator (telangkai), and one Bale maker. The findings indicate that eight Bale components contain symbolic meanings: the structure and tiers of Bale, yellow glutinous rice, kemuncak flowers, eggs and egg flowers, inti, chicken, golden-yellow color, and flags. These meanings are associated with marital harmony, unity, happiness, prosperity, offspring, responsibility, honor, and cultural identity. This study demonstrates that Bale functions not merely as a traditional wedding accessory but also as a cultural sign system integrating Malay customary values, family life, and Islamic teachings through Roland Barthes’s three levels of meaning. These findings emphasize the importance of understanding the symbolic meanings of Bale as part of efforts to preserve Coastal Malay cultural heritage.
ABSTRAK
Bale merupakan salah satu perlengkapan penting dalam adat pernikahan Melayu Pesisir yang mengandung berbagai makna simbolik dan nilai budaya. Perubahan sosial dan perkembangan zaman menyebabkan sebagian masyarakat, terutama generasi muda, masih mengenal Bale sebagai bagian dari upacara tanpa memahami makna yang terkandung dalam setiap komponennya. Penelitian mengenai Bale dengan pendekatan semiotika Roland Barthes pada masyarakat Melayu Pesisir Kabupaten Langkat masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna denotasi, konotasi, dan mitos yang terkandung dalam Bale pada pernikahan adat Melayu Pesisir. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan analisis semiotika Roland Barthes. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Informan penelitian berjumlah 12 orang yang dipilih secara purposive sampling, terdiri atas lima orang tua, dua orang yang telah menikah dan menggunakan adat Melayu, tiga orang remaja, satu orang telangkai, dan satu orang pembuat Bale. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat delapan komponen Bale yang memiliki makna simbolik, yaitu struktur dan tingkatan Bale, pulut kuning, bunga kemuncak, telur dan bunga telur, inti, ayam, warna kuning keemasan, dan bendera. Makna tersebut berkaitan dengan keharmonisan rumah tangga, persatuan, kebahagiaan, kesejahteraan, keturunan, tanggung jawab, kehormatan, dan identitas budaya. Penelitian ini menunjukkan bahwa Bale tidak hanya berfungsi sebagai perlengkapan adat, tetapi juga membentuk sistem tanda budaya yang mengintegrasikan nilai adat Melayu, kehidupan kekeluargaan, dan ajaran Islam melalui tiga tingkat pemaknaan Roland Barthes. Temuan ini menegaskan pentingnya pemahaman makna simbolik Bale sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya Melayu Pesisir.
Downloads
References
Badriyah, R. L., Adiyadmo, D. A., & D, Y. (2025). Analisis makna simbolik etika dalam seloko adat pernikahan masyarakat Desa Belanti Jaya. Jurnal Ilmiah Dikdaya, 15(2), 588–597. https://doi.org/10.33087/dikdaya.v15i2.869
Barthes, R. (1968). Elements of semiology. Hill and Wang.
Barthes, R. (1972). Mythologies (A. Lavers, Trans.). Hill and Wang. (Original work published 1957).
Barthes, R. (2010). Mythen des Alltags. Suhrkamp.
Barus, E., Aisyah, A., Siregar, E. F., & Risnawaty. (2025). An analysis of Roland Barthes' semiotic theory: Focusing on denotation, connotation, and myth. International Journal of Educational Research Excellence (IJERE), 4(2), 355–363. https://doi.org/10.55299/ijere.v4i2.1438
Chairunnisa, T. (2021). Kajian semiotika tipologi tanda pada tepak sirih dan bale di Medan Deli. Melayu Arts and Performance Journal, 4(1), 55–68. https://doi.org/10.26887/mapj.v4i1.1688
Chandler, D. (2007). Semiotics: The basics (2nd ed.). Routledge.
Engelhardt, M. (2016). Roland Barthes. In C. Steuerwald (Ed.), Klassiker der Soziologie der Künste (pp. 523–543). Springer VS.
Harth, D. (2014). Riten und Rituale: Rituale im Zwielicht. Universitätsbibliothek Heidelberg.
Lubis, S. N., & D. Y. (2023). Nilai-nilai Islam dalam tradisi pernikahan masyarakat etnis Melayu di Tanjung Balai. Journal of History and Cultural Heritage, 74–85. https://doi.org/10.34007/warisan.v4i2.1925
Mawaddah, H. M., & Supena, A. (2024). Analisis semiotika teori Roland Barthes dalam kumpulan puisi "Kopi, Kretek, Cinta" karya Agus R. Sarjono. Bahtera Indonesia: Jurnal Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia, 9(2), 554–563. https://doi.org/10.31943/bi.v9i2.729
Miles, M. B., & Huberman, A. M. (2014). Qualitative data analysis (3rd ed.). SAGE Publications.
Nomleni, I. S., Mas'ud, F., Benu, A., Bulu, D. M., Ay, S. W. O., & Gudhu, Y. N. (2025). Globalisasi dan pergeseran dimensi budaya lokal: Tantangan pelestarian nilai tradisional. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(4), 293–301. https://journal.unpas.ac.id/index.php/pendas/article/view/40013
Posner, R., Robering, K., & Sebeok, T. A. (Eds.). (2003). Semiotik: Ein Handbuch zu den zeichentheoretischen Grundlagen von Natur und Kultur. Walter de Gruyter.
Rahmadhanty, R., Rahmawati, R. D., & Gustiwi, T. (2024). Tepuk tepung tawar: Tradisi kebudayaan masyarakat Melayu Riau. TSAQIFA NUSANTARA: Jurnal Pembelajaran dan Isu-Isu Sosial, 3(1), 15–26. https://doi.org/10.24014/tsaqifa.v3i1.23450
Rahmatia, A. D., Sudrajat, A., & Putri, R. T. (2025). Interaksi sosial dan makna simbolis tradisi Manten Tebu di Pabrik Gula Gempolkerep dalam membentuk sinergi sosial. SABANA: Jurnal Sosiologi, Antropologi, dan Budaya Nusantara, 4(3), 371–379. https://doi.org/10.55123/sabana.v4i3.5457
Ramadan, R. N. S., et al. (2025). Makna simbolik bale dalam ritual keagamaan Melayu Muslim Tanjungbalai: Studi fenomenologis. Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, 215–227. https://ejournal.iainkerinci.ac.id/index.php/islamika/article/view/6164
Ramadhani, A. D., & Yasnel. (2025). Budaya Melayu dan pengaruh Islam dalam upacara pernikahan di Kecamatan Siak. Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS), 34–42. https://doi.org/10.62567/ijis.v1i1.404
Sukmawati, A. R. (2026). Makna simbolik perlengkapan pernikahan dan fungsi nilai kearifan lokal budaya dalam tradisi tepung tawar adat Melayu masyarakat Rantauprapat. JIMU: Jurnal Ilmiah Multidisipliner, 4(3), 310–320. https://ojs.smkmerahputih.com/index.php/jimu/article/view/2711
Tania, D. A., Sudaryanto, M., & Martha, N. U. (2026). Penggunaan simbolisme dalam novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori: Kajian semiotika. Jurnal Kajian Ilmiah, 26(1), 61–70. https://doi.org/10.31599/1ydxd334
Tunliu, D. R., Mas'ud, F., Benu, A., Klau, K. L., Dollu, T. M. A., & Nenotek, A. D. (2025). Pengaruh globalisasi terhadap mobilitas sosial budaya di masyarakat modern. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(4). https://journal.unpas.ac.id/index.php/pendas/article/view/36889
Warni, R. A. (2020). Analisis ungkapan tradisional Melayu Jambi. Sosial Budaya, 1–12. https://doi.org/10.24014/sb.v17i2.10585
Yani, F., Wuriyani, E. P., & Harahap, R. (2022). Makna simbolik tradisi berbalas pantun pada perkawinan adat Melayu Langkat. JOEL: Journal of Educational and Language Research, 1(10), 1495–1502. https://bajangjournal.com/index.php/JOEL/article/view/2292
Zaleha, S. S. F. (2024). Analisis semiotik pantun pada upacara pernikahan adat Melayu Serdang Bedagai. Sastra Indonesia, 13(1), 379–391. https://doi.org/10.24114/sasindo.v13i1.56884
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.















