MAKNA SIMBOLIK TENTANG PELETAKAN BATU PERTAMA RUMAH ADAT: STUDI ETNOGRAFI DI NEGERI NENIARI GUNUNG KECAMATAN TANIWEL KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT

Authors

  • Lenda Lumatalale Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, FKIP, Universita Pattimura
  • Fricean Tutuarima Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, FKIP, Universita Pattimura
  • Louisa Metekohy Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, FKIP, Universita Pattimura

DOI:

https://doi.org/10.51878/social.v6i1.9726

Keywords:

Makna Simbolik, Rumah Adat, Neniari Gunung

Abstract

The indigenous people of Negeri Neniari Gunung, West Seram, view traditional houses or Baileo as more than just physical structures, but rather centers of cultural sacredness whose essence must be consistently maintained amidst the tide of modernization. This study aims to analyze the symbolic meaning behind the ritual of laying the first stone of a traditional house through an in-depth ethnographic study. Using a qualitative approach with a phenomenological paradigm, this study involved the king of the village, traditional leaders, and the community as key informants. The research stages were carried out systematically, including field observations and in-depth interviews, which were then processed through a process of data reduction, presentation, and drawing objective conclusions. The research findings reveal that the laying of the first stone is a sacred symbol of beginnings, functioning as a form of respect for ancestors and asking for blessings from God for collective salvation. Philosophically, the stone symbolizes the foundation of life and the steadfastness of customary principles passed down from generation to generation. In addition to the spiritual dimension, the preservation of this ritual is interpreted as an embodiment of civic culture that strengthens the values ​​of participation, mutual cooperation, and adherence to social norms. This ritual also serves as a strategic civic education medium for the younger generation, helping them internalize social responsibility and national identity. The main conclusion emphasizes that this ceremony is not merely a technical ceremony, but rather a solid foundation for social order and strengthening community character, deeply rooted in local wisdom.

ABSTRAK

Masyarakat adat di Negeri Neniari Gunung, Seram Bagian Barat, memandang rumah adat atau Baileo bukan sekadar konstruksi fisik, melainkan pusat sakralitas budaya yang esensinya harus dijaga secara konsisten di tengah arus modernisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna simbolik di balik ritual peletakan batu pertama rumah adat melalui studi etnografi yang mendalam. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma fenomenologi, penelitian ini melibatkan raja negeri, tokoh adat, serta masyarakat sebagai informan kunci. Tahapan penelitian dilaksanakan secara sistematis meliputi observasi lapangan dan wawancara mendalam, yang kemudian diolah melalui proses reduksi, penyajian data, serta penarikan simpulan objektif. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa peletakan batu pertama merupakan simbol awal yang sakral, berfungsi sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan permohonan restu kepada Tuhan demi keselamatan kolektif. Secara filosofis, batu tersebut melambangkan dasar kehidupan dan keteguhan prinsip adat yang diwariskan secara turun-temurun. Selain dimensi spiritual, pelestarian ritual ini dimaknai sebagai pengejawantahan civic culture yang memperkuat nilai partisipasi, gotong royong, dan kepatuhan terhadap norma sosial. Ritual ini juga bertindak sebagai media pendidikan kewargaan yang strategis bagi generasi muda untuk menginternalisasi tanggung jawab sosial dan jati diri negeri. Simpulan utama menegaskan bahwa upacara ini bukan sekadar seremoni teknis, melainkan fondasi kokoh bagi keteraturan sosial dan penguatan karakter masyarakat yang berakar kuat pada nilai kearifan lokal.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Aksa, A. H. (2024). Nilai-nilai dan tradisi sebagai perekat: Studi sosiologis pada komunitas Sunni-Syi’ah di Jepara. Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA), 7(1), 15. https://doi.org/10.30829/jisa.v7i1.18983

Arifah, K. A., & Saputra, M. (2023). Strategi konservasi nilai kearifan lokal di era modern oleh masyarakat adat Osing Kemiren. Jurnal Moral Kemasyarakatan, 8(2), 191. https://doi.org/10.21067/jmk.v8i2.8519

Badarussyamsi, B., & Ermawati, E. (2022). The contributions of Asian Muslims’ local wisdom in the Seloko Adat Jambi for empowering social tolerance. Insaniyat Journal of Islam and Humanities, 7(1), 57. https://doi.org/10.15408/insaniyat.v7i1.25371

B?rzi?a, D. (2024). Between crime and commemoration: Human–object relationships in the treasure hunting for World War II objects. Critical Criminology, 32(1), 139. https://doi.org/10.1007/s10612-023-09738-0

Chumairo, C., & Sufyanto, S. (2022). Ojung as a cultural tradition of calling for rain in Tongas Kulon village, Probolinggo. Kanal Jurnal Ilmu Komunikasi, 11(1), 1. https://doi.org/10.21070/kanal.v11i1.1709

Dole, F. B., & Sumbi, A. K. (2022). Pendidikan karakter dalam upacara Koe Toko pada masyarakat adat Unggu (Kajian semiotika). Edukatif Jurnal Ilmu Pendidikan, 4(2), 2582. https://doi.org/10.31004/edukatif.v4i2.2439

Firnaherera, V. A., & Lazuardi, A. (2022). Pembangunan Ibu Kota Nusantara: Antisipasi persoalan pertanahan masyarakat hukum adat. Jurnal Studi Kebijakan Publik, 1(1), 71. https://doi.org/10.21787/jskp.1.2022.71-84

Gadjong, A. A. (2023). Legal consequences of violating the endogamy marriage system in Indonesia: A study of legislation. SIGn Jurnal Hukum, 5(1), 141. https://doi.org/10.37276/sjh.v5i1.229

Gainau, H., Maramis, R. A., Kalalo, M. E., & Waha, C. J. J. (2023). The existence of the rights of indigenous people in the implementation of regional autonomy. International Journal of Applied Business and International Management, 8(2), 67. https://doi.org/10.32535/ijabim.v8i2.2426

Hamida, N. A. (2022). Adat law and legal pluralism in Indonesia: Toward a new perspective? Indonesian Journal of Law and Society, 3(1), 1. https://doi.org/10.19184/ijls.v3i1.26752

Hijriyana, S. P., Lestari, R. Y., & Juwandi, R. (2023). Sinergitas peran pemerintah daerah dan masyarakat adat dalam menjaga kearifan lokal. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 13(1), 1. https://doi.org/10.20527/kewarganegaraan.v13i1.15699

Ichwan, M., Reskiani, U., Indah, A. L., Makmur, A. N. A. F., & Djafar, E. M. (2021). Pasang ri Kajang: Tradisi lisan masyarakat adat Ammatoa suku Kajang dalam pembentukan karakter konservasi. Ideas Jurnal Pendidikan Sosial dan Budaya, 7(4), 133. https://doi.org/10.32884/ideas.v7i4.495

Januariawan, I. G., & Nadra, I. N. (2022). Validitas dan efektivitas hukum adat tentang pengelolaan lingkungan hidup di Desa Adat Penglipuran. Vyavahara Duta, 17(2), 78. https://doi.org/10.25078/vyavaharaduta.v17i2.1978

Lestawi, I. N., & Kusuma, I. M. W. (2023). “Menyama Braya”: The roots of religious moderation in Singaraja Bali. Anubhava Jurnal Ilmu Komunikasi Hindu, 3(2), 464. https://doi.org/10.25078/anubhava.v3i2.2691

Lina, V. B., & Sadipun, B. (2021). Nilai-nilai kearifan lokal “Ka Po’o” pada masyarakat Ende Lio sebagai dasar pendidikan karakter. Sosial Budaya, 18(2), 108. https://doi.org/10.24014/sb.v18i2.12961

Neununy, D. J. (2021). Urgensi Omnibus Law (Undang-Undang Cipta Kerja) terhadap hak masyarakat adat di wilayah pesisir. Balobe Law Journal, 1(2), 119. https://doi.org/10.47268/balobe.v1i2.653

Nur, D. M. M., Aini, A. N., Musdalifah, M., Azizah, O., & Albab, M. U. (2024). Makna simbolik dan nilai kearifan lokal dalam tradisi Meron di desa Sukolilo Kabupaten Pati. Journal on Education, 6(4), 18772. https://doi.org/10.31004/joe.v6i4.5783

Nuranisa, N., Aprilia, A., Halimah, S. N., & Mandasari, M. (2023). Kepercayaan masyarakat adat dan modernisasi di Kampung Naga Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya. Jurnal Dinamika Sosial Budaya, 25(2), 337. https://doi.org/10.26623/jdsb.v25i4.8088

Rachmawati, Y. (2020). Pengembangan model etnoparenting Indonesia pada pengasuhan anak. Jurnal Obsesi Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(2), 1150. https://doi.org/10.31004/obsesi.v5i2.706

Rambe, H. F. A.-K., & Sami, Y. (2023). Makna adat Batak sebagai ide seni lukis kontemporer. Jurnal Pendidikan Tambusai, 7(3), 26523. https://doi.org/10.31004/jptam.v7i3.10884

Riza, K., Lubis, I. H., & Suwalla, N. (2022). Kepastian hukum terhadap putusan peradilan adat Aceh dalam penyelesaian tindak pidana pencurian. Jurnal Ilmiah Hukum dan Hak Asasi Manusia, 2(1), 39. https://doi.org/10.35912/jihham.v2i1.1580

Rohimi, R. (2020). Sejarah dan prosesi tradisi ziarah makam keleang. Sosial Budaya, 17(1), 12. https://doi.org/10.24014/sb.v17i1.7520

Sasmita, S., Dewi, C., Nasrum, M., Hendra, H., & Badollahi, M. Z. (2022). Symbols and meanings in the Mematua ritual procession among the Kaili indigenous people. SIGn Journal of Social Science, 3(1), 26. https://doi.org/10.37276/sjss.v3i1.320

Sudarwati, S., Andari, N., & Dewi, N. S. K. (2023). Pemertahanan budaya lokal melalui pemberdayaan kelompok seni di Desa Jenisgelaran Jombang. Prosiding Seminar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat, 3(1), 1. https://doi.org/10.33086/snpm.v3i1.1226

Suyitno, I., Pratiwi, Y., Andajani, K., & Arista, H. D. (2023). The cultural meaning in ritual traditions for the character of Osing people Banyuwangi, Indonesia. The Qualitative Report. https://doi.org/10.46743/2160-3715/2023.6156

Swara, N. N. A. A. V., Wulandari, N. L. A. A., & Kawiana, I. G. P. (2022). Nilai kearifan lokal Nyepi Segara sebagai modal sosial pembangunan berkelanjutan daerah pesisir Nusa Penida. Jurnal Penelitian Agama Hindu, 6(4), 213. https://doi.org/10.37329/jpah.v6i4.1604

Wahid, B., Ishomuddin, I., Wahyudi, W., & Kartono, R. (2021). Power politics contestation in symbolic relations of Tidore local leader election. MIMBAR Jurnal Sosial dan Pembangunan, 37(2). https://doi.org/10.29313/mimbar.v37i2.8286

Wardani, L. K., Sitindjak, R. H. I., & Nilasari, P. F. (2020). Sustainability of Betang House’s cultural wisdom in Central Kalimantan. KnE Social Sciences. https://doi.org/10.18502/kss.v4i12.7582

Waruwu, D., Nyandra, M., & Erfiani, N. M. D. (2020). Pemberdayaan modal sosial sebagai model pencegahan radikalisme untuk menciptakan harmoni sosial di Bali. Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies), 10(2), 515. https://doi.org/10.24843/jkb.2020.v10.i02.p08

Wiratraman, H. P. (2022). Adat court in Indonesia’s judiciary system: A socio-legal inquiry. Journal of Asian Social Science Research, 4(1), 43. https://doi.org/10.15575/jassr.v4i1.62

Yusuf, M., Sileuw, M., Muhandy, R. S., & Mulyanita, N. (2021). Som tradition for interreligious harmony and natural preservation. Walisongo Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan, 29(1), 79. https://doi.org/10.21580/ws.29.1.8103

Downloads

Published

2026-03-14

How to Cite

Lumatalale, L., Tutuarima, F. ., & Metekohy, L. . (2026). MAKNA SIMBOLIK TENTANG PELETAKAN BATU PERTAMA RUMAH ADAT: STUDI ETNOGRAFI DI NEGERI NENIARI GUNUNG KECAMATAN TANIWEL KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT. SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS, 6(1), 326-337. https://doi.org/10.51878/social.v6i1.9726

Issue

Section

Articles