PERAN KELEMBAGAAN DALAM PENGEMBANGAN ECOTOURISM BERBASIS MANGROVE LIBSANGAJ DI DESA POHEA KECAMATAN SANANA UTARA KABUPATEN KEPULAUAN SULA
DOI:
https://doi.org/10.51878/knowledge.v5i4.7620Keywords:
Ecotourism, Mangrove, Peran Kelembagaan, Pengembangan BerkelanjutanAbstract
Libsangaj Mangrove Tourism is managed by BUMDes Manayana, there are findings that the lack of socialization and control function of institutions in the mangrove-based ecotourism development program in Pohea Village and the benefits are less felt by the surrounding community and the low quality of local human resources (limited reliable human resources in environmental management and tourism development) in addition to the lack of institutional roles as facilitators in cooperation between institutional concerns so that there is a lack of maintenance of existing infrastructure, as well as a lack of attention or cooperation with stakeholders. The number of respondents in this study was 35 respondents consisting of 20 people from the community elements directly adjacent to the mangrove ecosystem, 10 people from tourists and 5 people from government elements both from the Tourism Office and the Village Government. Qualitative Descriptive Analysis and SWOT Analysis, are used to describe the development plan and the role of institutions in the development of mangrove ecotourism. Stakeholders involved in the development of Mangrove ecotourism in Pohea Village, North Sanana District are classified into 6 elements which are included, including Bappeda of Sula Islands Regency, Environmental Service, Forestry Service, Tourism, Pohea Village Government and Village Community2. (Diversification Strategy) is one of the strategies that can be used based on the results of SWOT calculations to support the development of mangrove ecotourism in Pohea Village, North Sanana District.
ABSTRAK
Wisata Mangrove Libsangaj dikelola oleh BUMDes Manayana terdapat temuan bahwa kurangnya sosialisasi dan fungsi kontrol dari kelembagaan pada program pengembangan ekowisata berbasis mangrove di Desa Pohea dan kurang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar dan rendahnya kualitas sumber daya manusia lokal (keterbatasan sumber daya manusia yang handal dalam pengelolaan lingkungan dan pengembangan pariwisata) selain itu kurangnya peran kelembagaan sebagai fasilitator dalam kerja sama antar perhatian dari kelembagaan sehingga terdapat kurangnya perawatan terhadap infrastruktur yang telah tersedia, serta kurangnya perhatian atau kerja sama dengan para stakeholders. Jumlah Responden dalam penelitian ini berjumlah 35 responden yang terdiri dari 20 orang dari unsur Masyarakat berbatasan langsung dengan ekosistem mangrove, 10 orang dari wisatawan dan 5 orang dari unsur pemerintah baik dari Dinas Pariwisata dan Pemerintah Desa. Analisis Deskriptif Kualitatif dan Analisis SWOT, digunakan untuk mendeskripsikan rencana pengembangan serta peran kelambagaan dalam peengembangan ekowisata mangrove. Stakeholder yang terlibat dalam pengembangan ekowisata Mangrove Desa Pohea Kecamatan Sanana Utara diklasifikasikan menjadi 6 elemen yang tergabung antara lain Bappeda Kabupaten Kepulauan Sula, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kehutanan, Pariwisata, Pemerintah Desa Pohea dan Masyarakat Desa2. (Diversifikasi Strategi) merupakan salah satu strategi yang dapat diguanakan berdasarkan hasil perhitungan SWOT agar mendukung pengembangan ekowisata mangrove di Desa Pohea Kecamatan Sanana Utara.
References
Amalyah, R., Hamid, D., & Hakim, L. (2016). Peran stakeholder pariwisata dalam pengembangan Pulau Samalona sebagai destinasi wisata bahari. Jurnal Administrasi Bisnis (JAB), 37(1), 158–163. Universitas Brawijaya. https://repository.ub.ac.id/118947
Anantanyu, S. (2011). Kelembagaan petani: Peran dan strategi pengembangan kapasitasnya. SEPA: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, 7(2), 102–109. https://doi.org/10.20961/sepa.v7i2.48895
Andiny, P. (2020). Dampak pengembangan ekowisata hutan mangrove terhadap sosial dan ekonomi masyarakat di Desa Kuala Langsa, Aceh. Jurnal Samudra Ekonomi dan Bisnis, 11(1), 1–10. https://doi.org/10.33059/jseb.v11i1.1809
Ayesha, I., Rizal, A., & Gusvita, H. (2020). Analisis kelembagaan agribisnis padi sawah di Nagari Lubuk Pandan Kecamatan 2X11 Enam Lingkung Kabupaten Padang Pariaman. Journal of Scientech Research and Development, 3(1), 45–53. https://doi.org/10.56670/jsrd.v2i1.10
Gunawan, A., Hidayat, A., & Anggraini, E. (2018). Analisis kelembagaan rehabilitasi mangrove di Karangsong, Indramayu, Jawa Barat. Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan, 6(1), 29–38. https://doi.org/10.22500/sodality.v6i1.18130
Guntur, M. (2017). Kajian kelembagaan pengelolaan wilayah pesisir Teluk Kiluan, Provinsi Lampung, sebagai kawasan pariwisata. Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Tropis, 9(2), 135–145. http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/91036
Jaelani, J., Marsudi, H., Hidayat, A., & Triyanto, T. (2024). Kajian potensi ekowisata di kawasan Kampung Purba Dayu Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar. Janaka: Jurnal Pengabdian Masyarakat Kewirausahaan Indonesia, 2(1), 33–41. https://doi.org/10.36600/janaka.v5i1.372
Mandar, K. P., & Alfira, R. (2014). Identifikasi potensi dan strategi pengembangan ekowisata mangrove pada kawasan Suaka Margasatwa Mampie di Kecamatan Wonomulyo. Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan, 5(2), 67–76. https://files.core.ac.uk/download/pdf/25497082.pdf
Noor, S. (2014). Penerapan analisis SWOT dalam menentukan strategi pemasaran Daihatsu Luxio di Malang. Jurnal INTEKNA: Informasi Teknik dan Niaga, 14(2), 23–30. https://doi.org/10.31284/j.intekna.2014.v14i2
Puspita, Y., Diartho, H. C., Prananta, R., & Santoso, E. (2022). Reservacation: Aplikasi berbasis mobile untuk pengembangan ekowisata Kampung Blekok Desa Klatakan Kendit Kabupaten Situbondo menuju national destination tourism. Majalah Ilmiah Pelita Ilmu, 5(1), 45–54. https://doi.org/10.37849/mipi.v5i2.303
Rahayu, A. D., & Amrin, R. N. (2022). Peran stakeholder dalam pengadaan tanah untuk pembangunan Bendungan Bener di Kabupaten Wonosobo. Tunas Agraria, 5(2), 67–75. https://doi.org/10.31292/jta.v5i3.182
Saputra, S., Sugianto, S., & Djufri, D. (2016). Sebaran mangrove sebelum dan sesudah tsunami di Kecamatan Kuta Raja, Kota Banda Aceh. JESBIO: Jurnal Edukasi dan Sains Biologi, 5(1), 12–19. https://doi.org/10.24815/jesbio.v5i1.5931
Suting, H., Hamsiah, H., & Danial, D. (2020). Kajian pengembangan ekowisata mangrove berbasis masyarakat di Desa Poreang, Kecamatan Tanalili, Kabupaten Luwu Utara. Jurnal Akuakultur, Teknologi, dan Manajemen Perikanan Tangkap dan Ilmu Kelautan, 1(1), 77–86. https://doi.org/10.33096/joint-fish.v3i2.76
Tamrin, M. H., & Rifti, L. (2023). Analisis stakeholder dalam pengelolaan BUMDes “Sumber Rejeki” Desa Jiwan Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun. Jurnal Ilmiah Wahana Bhakti Praja, 13(1), 89–98. https://doi.org/10.33701/jiwbp.v13i1.2303
Warningsih, T., Hidayah, W., & Hamidi, R. (2020). Kelembagaan lokal dalam pengelolaan ekosistem mangrove di Desa Kelapa Pati. Jurnal Sosioteknologi, 19(3), 275–284. https://doi.org/10.5614/sostek.itbj.2020.19.3.5














