ANALISIS MAKNA SIMBOLIK TRADISI WETE WU’U PADA MASYARAKAT DESA RIANGKOTEK KECAMATAN LEWOLEMA

Authors

  • Maria Yosephina Uni Aran Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka
  • Yoakim Yolanda Mario Leu Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka
  • Rikardus Pande Rikardus Pande Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka

DOI:

https://doi.org/10.51878/teaching.v6i4.15905

Keywords:

Makna Simbolik, Tradisi, Wete Wu’u

Abstract

Modernization and generational transitions pose significant risks to the preservation of agrarian oral traditions in the Lamaholot region, while empirical documentation addressing the philosophical essence of harvest rituals remains scarce. This situation demonstrates a conceptual gap between the ongoing mechanical performance of rituals and the profound appreciation of their underlying cultural values. This study aims to identify and describe the symbolic meanings embodied in the Wete Wu’u customary tradition among the community of Riangkotek Village, Lewolema District, East Flores Regency. A descriptive qualitative design was employed, grounded in the triadic semiotic framework of Charles Sanders Peirce. Data were collected through field observations, in-depth interviews with customary elders (ata klake), and documentary studies of ritual artifacts. The findings reveal that ritual paraphernalia operates as an integrated sign system linking representamen, objects, and interpretants. Eight primary material symbols convey fundamental existential values: wete (foxtail millet) represents food security and gratitude, elephant tusks signify lineage honor, gold chains and stones (kaka bapa) symbolize perseverance, chickens and sacrificial blood embody spiritual purification, candlenuts represent generative fertility, white feathers validate ritual sanctity, and traditional palm arak cements communal solidarity. In conclusion, the Wete Wu’u tradition represents the cosmological philosophy of the Riangkotek community, sustaining a sacred equilibrium among humanity, the natural cosmos, and ancestral spirits.

ABSTRAK

Modernisasi dan pergeseran generasi memicu ancaman kepunahan pemahaman terhadap tradisi lisan agraris di wilayah Lamaholot, sementara dokumentasi ilmiah mengenai nilai filosofis ritual panen masih sangat terbatas. Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara keberlangsungan ritual fisik dan pemaknaan nilai luhur yang melandasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan makna simbolik yang terkandung dalam tradisi adat Wete Wu’u pada masyarakat Desa Riangkotek, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kerangka analisis semiotika model triadik (triangle of meaning) Charles Sanders Peirce. Data dihimpun melalui observasi langsung, wawancara mendalam bersama pemangku adat (ata klake), serta studi dokumentasi artefak ritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa entitas perlengkapan ritual berfungsi sebagai sistem tanda terpadu yang memadukan tanda (sign), objek (object), dan penafsir (interpretant). Delapan simbol material merefleksikan nilai-nilai fundamental, yaitu wete (jewawut) melambangkan ketahanan pangan dan rasa syukur, gading gajah melambangkan kehormatan trah, rantai emas dan batu (kaka bapa) menyimbolkan keteguhan hidup, ayam serta darah ayam merepresentasikan kurban penyucian spiritual, kemiri menandakan kesuburan regenerasi, bulu ayam putih menyimbolkan pengesahan sakral, dan tuak arak merekatkan ikatan kekerabatan sosial. Simpulan penelitian menegaskan bahwa tradisi Wete Wu’u merupakan representasi falsafah kosmologi masyarakat Riangkotek yang menjaga keselarasan sakral antara manusia, alam semesta, dan leluhur.

 

 

Downloads

Download data is not yet available.

References

Ahmad, H., Soeprabowati, T. R., & Purnaweni, H. (2022). Kearifan tradisi budaya sebagai sarana pelestarian lingkungan serta potensi ekowisata pada komunitas masyarakat di sekitar hutan lindung Petungkriyono (Studi kasus Nyadran Gebyog). Jurnal Pringgitan, 3(2), 68–81. https://doi.org/10.47256/prg.v3i2.165

Aulia, S. R., & Yuwita, N. (2025). Simbol dan identitas budaya dalam upacara Kasada suku Tengger: Perspektif teori konvergensi simbolik. Jurnal Ilmu Komunikasi Pattimura, 4(2), 276–288. https://doi.org/10.30598/transceiver.v4i2.3890

Danugroho, A., Rustinsyah, R., Adib, M., Ardyawin, I., Idris, U., & Habib, M. A. F. (2025). Ritual, ecology, and climate change: An ethnoecological study of agricultural communities in East Java. Social Sciences & Humanities Open, 12, Article 102061. https://doi.org/10.1016/j.ssaho.2025.102061

Dewi, N. R. S. (2022). Konsep simbol kebudayaan: Sejarah manusia beragama dan berbudaya. Abrahamic Religions: Jurnal Studi Agama-Agama, 2(2), 1–10. https://doi.org/10.22373/abrahamic.v2i2.14820

Ersyad, F. A. (2022). Semiotika komunikasi dalam perspektif Charles Sanders Peirce. Mitra Cendekia Media Group.

Kartika, N., Budasi, I. G., & Swandana, I. W. (2025). The cultural meaning of lexicons in “Ngusaba Bukakak” ritual in Giri Emas Village. IJLHE: International Journal of Language, Humanities and Education, 8(2), 635–646. https://doi.org/10.52217/kgftxd04

Kedoh, Y. (2023). Analisis makna simbolik ritual Nena Ura Wai pada masyarakat suku Tukan di Desa Pululera Kecamatan Wulanggitang Kabupaten Flores Timur. Jurnal Communicatio, 6(1), 31–39. https://doi.org/10.31004/jc.v6i1.1892

Kelen, H. L., & Wonda, H. (2026). Ritual adat Leta Urang sebagai wujud kearifan lokal masyarakat Lamaholot dan implikasinya bagi pendidikan dasar. Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, 11(4), 225–230. https://doi.org/10.36989/didaktik.v11i04.11150

Keriyono, K. (2024). Tradisi teori komunikasi semiotika. Pariwara: Jurnal Komunikasi dan Periklanan, 4(1), 1–8. https://doi.org/10.31294/pariwara.v4i1.3210

Koten, K. J. N., Leu, Y. Y. M., & Wissang, I. O. (2025). Analisis makna ukiran yang terdapat pada Korke di Desa Riangkotek Kecamatan Lewolema. Jurnal Education and Development, 13(3), 400–406. https://doi.org/10.37081/ed.v13i3.7546

Kusumastuti, S. Y. (2023). Metodologi penelitian kualitatif dalam pendidikan kebudayaan. PT Sonpedia Publishing Indonesia.

Magiman, M. M., Bakar, F. A., & Mandal, A. K. (2025). Cultural expressions of purity through religious and traditional symbols in Sarawak’s ethnic heritage. Pertanika Journal of Social Sciences & Humanities, 33(6), 15–32. https://doi.org/10.47836/jssh.33.6.15

Muizzuddin, M. S., Cahyo, S. B., & Muzaki, R. A. (2024). Simbol-simbol keagamaan dan budaya dalam identitas kolektif Desa Tunjungrejo melalui perspektif sosiologi budaya. Jurnal Insan Pendidikan dan Sosial Humaniora, 2(3), 133–144. https://doi.org/10.59581/jipsoshum-widyakarya.v2i3.3421

Pasaribu, J. H., Sianipar, T., Lubis, A. C., Sinulingga, J., & Sitorus, L. (2025). Makna simbolis upacara adat Nurun-Nurun dalam sistem kepercayaan masyarakat Batak Karo. KOPULA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan, 7(2), 495–502. https://doi.org/10.29303/kopula.v7i2.7272

Pisali, A., Jelly, R. F., Zainal, S., Rahman, M. K. A., Long, M. A., & Muka, A. U. (2025). Sacredness of food offerings for spirits in the spiritual healing practices of the Bajau Laut ethnic. Environment-Behaviour Proceedings Journal, 10(32), 271–276. https://doi.org/10.21834/e-bpj.v10i32.6849

Prasetyawati, A. E., Ginting, E. D., Chindy, Agustini, A. A. A. W., & Sahira, N. F. (2025). Pagit-Pagit sebagai tanda budaya: Analisis semiotika tipologi tanda Charles Sanders Peirce terhadap kuliner khas suku Karo. Jejak Digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 1(4), 1071–1077. https://doi.org/10.63822/3mkvz998

Prasetyo, S. F. (2023). Harmony of nature and culture: Symbolism and environmental education in ritual. Journal of Contemporary Rituals and Traditions, 1(2), 67–76. https://doi.org/10.15575/jcrt.361

Putri, N. S. (2024). Semiotika Roland Barthes: Makna tradisi Barikan oleh masyarakat Dusun Sumberejo Desa Kalisongo Dau Kabupaten Malang. Jurnal Sosiologi Nusantara, 10(1), 45–58. https://doi.org/10.33369/jsn.v10i1.2140

Rahmadayanti, H., Satria, I., & Astuti, D. P. J. (2025). Form, meaning, and functions of the Nundang Padi tradition: A qualitative study in Selali Village, South Bengkulu, Indonesia. ISEJ: Indonesian Science Education Journal, 4(1), 28–36. https://doi.org/10.62159/isej.v4i1.1241

Ruing, M. S., Wissang, I. O., & Lemba, V. (2025). Analisis nilai sosial tradisi Lefa dalam novel Lamafa karya Fince Bataona. Jurnal Education and Development, 13(3), 312–319. https://doi.org/10.37081/ed.v13i3.7483

Slamet, D., Narawati, T., & Budiman, A. (2025). The heroism value in Totokng dance at the Nurutni’ ceremony Dayak Salako community in West Kalimantan. Mudra: Jurnal Seni Budaya, 40(4), 293–311. https://doi.org/10.31091/mudra.v40i4.2950

Supriadi, S., Kurniawan, E., Saifullah, A. R., & Akbar, F. (2025). Language, land, and learning: Agraria spirituality and environment pedagogy in Makassar mantras. Journal of Pragmatics and Discourse Research, 5(2), 207–220. https://doi.org/10.51817/jpdr.v5i2.1319

Usman, A. R. (2024). Memahami makna simbol dalam proses komunikasi ritual kebudayaan. Sadida: Islamic Communications Media Studies, 4(2), 69–84. https://doi.org/10.22373/sadida.v4i2.5568

Wokal, M. (2025). Analisis makna simbolik dalam upacara adat Seru Padu masyarakat Kalike Aimatan Kecamatan Solor Selatan. KOPULA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan, 7(2), 583–603. https://doi.org/10.29303/kopula.v7i2.8192

Downloads

Published

2026-10-09

How to Cite

Aran, M. Y. U., Leu, Y. Y. M., & Rikardus Pande, R. P. (2026). ANALISIS MAKNA SIMBOLIK TRADISI WETE WU’U PADA MASYARAKAT DESA RIANGKOTEK KECAMATAN LEWOLEMA. TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, 6(4), 3312–3323. https://doi.org/10.51878/teaching.v6i4.15905

Issue

Section

Articles

Similar Articles

1 2 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.