TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan https://jurnalp4i.com/index.php/teaching <p><strong>TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan| <a href="https://sinta.kemdiktisaintek.go.id/journals/profile/11947">Terakreditasi Sinta 4 </a></strong> diterbitkan 4 kali setahun (Maret, Juni, September, dan Desember) oleh Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) yang berafiliasi dengan Perguruan Tinggi Indonesia. Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan keguruan dan ilmu pendidikan.<br /><strong>e-ISSN : </strong><strong>2775-7188 </strong><strong>| </strong><strong>p-ISSN :</strong> <strong>2775-717X</strong></p> en-US randi.popo@gmail.com (Randi Pratama Murtikusuma, M.Pd) ardhysmart7@gmail.com (Dr. Muhamad suhardi, M.Pd) Fri, 02 Jan 2026 12:51:03 +0000 OJS 3.2.1.1 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 MEMAHAMI KONSEP DASAR PENELITIAN KUALITATIF https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/8850 <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Qualitative research makes an important contribution to educational studies as it enables researchers to gain an in-depth understanding of learning processes, experiential meanings, and social contexts. Nevertheless, limitations in conceptual understanding among educational researchers persist, particularly with regard to the characteristics, procedures, and principles of trustworthiness in qualitative research. This article aims to examine and systematically synthesize the fundamental concepts of qualitative research in the field of education. The study employs a library-based research method with a descriptive-analytical approach, involving stages of literature searching, selection, classification, and critical analysis of relevant scholarly sources, including methodological books and reputable journal articles. The findings indicate that qualitative research is characterized by a naturalistic approach, a focus on meaning, inductive analysis, and the positioning of the researcher as a key instrument in data collection and analysis. Furthermore, the quality and trustworthiness of qualitative research data are ensured through the application of credibility, transferability, dependability, and confirmability criteria. This study concludes that a comprehensive understanding of the fundamental concepts and principles of qualitative research is a crucial prerequisite for producing systematic, academically accountable, and meaningful educational research in both academic and practical contexts.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian kualitatif memiliki kontribusi penting dalam kajian pendidikan karena memungkinkan peneliti memahami proses pembelajaran, makna pengalaman, serta konteks sosial secara mendalam. Meskipun demikian, masih dijumpai keterbatasan pemahaman konseptual di kalangan peneliti pendidikan terkait karakteristik, prosedur, dan prinsip keabsahan penelitian kualitatif. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji dan mensintesis konsep dasar penelitian kualitatif dalam bidang pendidikan secara sistematis. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui tahapan penelusuran, seleksi, klasifikasi, dan analisis kritis terhadap literatur ilmiah yang relevan, meliputi buku metodologi dan artikel jurnal bereputasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa penelitian kualitatif memiliki ciri utama berupa pendekatan naturalistik, orientasi pada makna, analisis induktif, serta penempatan peneliti sebagai instrumen kunci dalam pengumpulan dan analisis data. Selain itu, mutu dan keabsahan data dalam penelitian kualitatif ditentukan melalui penerapan kriteria kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Kajian ini menyimpulkan bahwa pemahaman yang komprehensif terhadap konsep dan prinsip dasar penelitian kualitatif menjadi prasyarat penting untuk menghasilkan penelitian pendidikan yang sistematis, dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, dan bermakna dalam konteks akademik maupun praktis.</p> M. Aris Akin, Ulfiani Rahman, Syarifuddin Ondeng Copyright (c) 2026 TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/8850 Sat, 10 Jan 2026 00:00:00 +0000 PERAN PENDIDIK PAI DALAM MEMBANGUN KETAHANAN MORAL MAHASISWA PADA ERA GLOBALISASI https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/8848 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Era globalisasi memberikan dampak signifikan terhadap pola pikir, perilaku, dan sistem nilai mahasiswa. Arus informasi yang sangat cepat melalui media digital seringkali mempengaruhi moralitas generasi muda, termasuk mahasiswa di lingkungan kampus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pendidik Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam membangun ketahanan moral mahasiswa STAI Al-Gazali Bulukumba dalam menghadapi tantangan globalisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidik PAI berperan dalam tiga fungsi utama yaitu: (1) sebagai pendidik dan pembimbing moral, (2) sebagai teladan, dan (3) sebagai fasilitator pembelajaran berbasis nilai Islami dan karakter. Strategi yang digunakan pendidik PAI meliputi penguatan akidah, internalisasi nilai keagamaan melalui pembelajaran, pembinaan spiritual, dan integrasi kurikulum berbasis karakter. Kendala yang ditemukan antara lain pengaruh budaya digital, kurangnya kontrol diri mahasiswa, dan minimnya lingkungan pendukung religius. Penelitian ini menegaskan bahwa pendidik PAI memiliki peran strategis dalam memperkuat moralitas mahasiswa agar mampu menghadapi tantangan globalisasi dengan karakter Islami yang kuat.</p> <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Globalization has brought significant impact on the values, perspectives, and behavior of university students. Rapid access to information through digital platforms affects students’ moral attitudes and lifestyle choices. This research aims to examine the role of Islamic Education (PAI) lecturers in developing moral resilience among students at STAI Al-Gazali Bulukumba. This study applied a descriptive qualitative method through interviews, observation, and documentation. The findings indicate that Islamic education lecturers have three strategic roles: (1) as moral educators and mentors, (2) as role models in Islamic values and behavior, and (3) as facilitators in value-based and character-oriented learning. Strategies used include strengthening aqidah, internalizing Islamic values through curriculum integration, spiritual guidance, and character-based evaluation. The challenges faced include digital cultural influence, weak self-control among students, and limited religious supporting environments. This research concludes that Islamic education lecturers play a crucial role in strengthening the moral resilience of students to face globalization based on Islamic values and character development.</p> Musfira Musfira, Asmaji Muchtar, Toha Makhshun Copyright (c) 2026 TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/8848 Mon, 12 Jan 2026 00:00:00 +0000 PENGARUH SELF-EFFICACY DAN ADVERSITY QUOTIENT TERHADAP MOTIVASI BELAJAR DALAM MATA KULIAH AKUNTANSI https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/8413 <p>Higher education plays a strategic role in producing superior human resources, but in practice there are still problems with declining student motivation, especially in accounting courses, which are highly complex and demanding in terms of analysis. Learning motivation is influenced by various internal factors, including self-efficacy and adversity quotient, which play a role in shaping students' self-confidence and resilience in facing academic challenges. This study aims to analyze the influence of self-efficacy and adversity quotient on student learning motivation in accounting courses. The study uses a quantitative approach with an associative method. The research population consists of students from the Accounting Education Study Program, Faculty of Economics and Business, Universitas Negeri Jakarta, with a sample of 65 students selected through purposive sampling. Data were collected using a Likert scale questionnaire and analyzed using SPSS version 25 through instrument testing, descriptive analysis, classical assumption testing, multiple linear regression, and hypothesis testing. The results of the study indicate that self-efficacy has a positive and significant effect on learning motivation, as does adversity quotient, which also has a positive and significant effect. Simultaneously, both variables were found to have a significant effect on student learning motivation, contributing 45.8%. These findings confirm that belief in one's abilities and resilience in the face of adversity are important factors in increasing student learning motivation, especially in accounting, which requires perseverance and high analytical skills.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, namun dalam praktiknya masih ditemukan permasalahan penurunan motivasi belajar mahasiswa, khususnya pada mata kuliah akuntansi yang memiliki tingkat kompleksitas dan tuntutan analisis yang tinggi. Motivasi belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor internal, di antaranya <em>self-efficacy</em> dan <em>adversity quotient</em>, yang berperan dalam membentuk keyakinan diri serta ketangguhan mahasiswa dalam menghadapi tantangan akademik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh <em>self-efficacy</em> dan <em>adversity quotient</em> terhadap motivasi belajar mahasiswa pada mata kuliah akuntansi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode asosiatif. Populasi penelitian adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta, dengan sampel sebanyak 65 mahasiswa yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert dan dianalisis dengan bantuan SPSS versi 25 melalui uji instrumen, analisis deskriptif, uji asumsi klasik, regresi linear berganda, serta uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa <em>self-efficacy</em> berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi belajar, demikian pula <em>adversity quotient</em> yang juga berpengaruh positif dan signifikan. Secara simultan, kedua variabel tersebut terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi belajar mahasiswa dengan kontribusi sebesar 45,8%. Temuan ini menegaskan bahwa keyakinan terhadap kemampuan diri dan kemampuan bertahan menghadapi kesulitan merupakan faktor penting dalam meningkatkan motivasi belajar mahasiswa, khususnya dalam pembelajaran akuntansi yang menuntut ketekunan dan kemampuan analitis yang tinggi.</p> Khalissa Devitasari, Salwa Nindya Najwa, Armina Armina, Shofiyyah Karimah Copyright (c) 2026 TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/8413 Thu, 15 Jan 2026 00:00:00 +0000 BUILDING BETTER LEARNERS: A REVIEW OF KINDNESS-CENTERED APPROACHES IN ENGLISH LANGUAGE TEACHING https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/9053 <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>This article analyzes the implementation of kindness oriented instructional approaches in English Language Teaching (ELT). English learning generally still emphasizes mastery of linguistic competencies, such as grammar, vocabulary, and academic achievement, while important aspects of character development, empathy, and social skills tend to receive less attention. This study uses a qualitative literature review method by carefully examining journal articles and other academic sources relevant to kindness-based pedagogy in the context of ELT and education. The literature review is supplemented with academic reflections involving four lecturers from different scholarly backgrounds, namely two lecturers in English pedagogy and two lecturers with expertise in moral education and positive values. The literature analysis results show that kindness-oriented instructional approaches, such as Social Emotional Learning (SEL), Loving Pedagogy, and Altruistic Teaching, significantly contribute to creating an inclusive and supportive learning environment. These approaches are related to improving language competence, emotional well-being, classroom interaction, as well as students’ interpersonal communication skills and collaborative learning abilities. The study concludes that the integration of kindness-oriented pedagogical approaches in ELT strongly supports academic achievement as well as holistic student development. The contribution of this article is providing a comprehensive conceptual review of kindness-based ELT that can serve as an alternative in effectively integrating character education into language learning.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Artikel ini menganalisis penerapan pendekatan pembelajaran berorientasi kebaikan (<em>kindness oriented instructional approaches</em>) dalam pembelajaran Bahasa Inggris (<em>English Language Teaching</em>/ELT). Pembelajaran Bahasa Inggris pada umumnya masih menitikberatkan pada penguasaan kompetensi linguistik, seperti tata bahasa, kosakata, dan pencapaian akademik, sementara aspek pengembangan karakter, empati, dan keterampilan sosial cenderung kurang mendapatkan perhatian. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka kualitatif dengan menelaah artikel jurnal dan sumber akademik yang relevan dengan pedagogi berbasis kebaikan dalam konteks ELT dan pendidikan. Kajian pustaka ini dilengkapi dengan refleksi akademik yang melibatkan empat dosen dari latar belakang keilmuan berbeda, yaitu dua dosen bidang pedagogi Bahasa Inggris dan dua dosen yang memiliki keahlian dalam pendidikan moral dan nilai-nilai positif. Hasil analisis literatur menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran berorientasi kebaikan, seperti <em>Social Emotional Learning</em> (SEL), <em>Loving Pedagogy</em>, dan <em>Altruistic Teaching</em>, berkontribusi terhadap terciptanya lingkungan belajar yang inklusif dan suportif. Pendekatan tersebut berkaitan dengan peningkatan kompetensi bahasa, kesejahteraan emosional, interaksi kelas, serta keterampilan komunikasi interpersonal peserta didik. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa integrasi pendekatan pedagogis berorientasi kebaikan dalam ELT mendukung pencapaian akademik sekaligus pengembangan peserta didik secara holistik. Kontribusi artikel ini adalah penyediaan tinjauan konseptual mengenai pembelajaran ELT berbasis kebaikan yang dapat menjadi alternatif dalam mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam pembelajaran bahasa.</p> Suci Tresna Dewi Handayani, Titania Sari, Rimba Krisnha Sukma Dewi, Multi Nadeak Copyright (c) 2026 TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/9053 Sat, 24 Jan 2026 00:00:00 +0000 IDENTIFIKASI KEBERAGAMAN PESERTA DIDIK SEBAGAI DASAR IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKUSIF: KAJIAN LITERATUR PSIKOLOGI PENDIDIKAN https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/9054 <p><strong>ABSTRACT </strong></p> <p>Inclusive education positions learner diversity as the main strength in the learning process, encompassing students with special needs as well as differences in learning styles, cognitive abilities, socio-emotional characteristics, and cultural backgrounds. In the practice of inclusive education, a commonly encountered problem is the suboptimal process of identifying learner diversity as the basis for instructional design; therefore, this study analyzes the utilization of the identification process in designing effective and equitable inclusive learning. This study employs a literature review method with a descriptive qualitative approach through stages of searching, selection, and content analysis of national and international scholarly articles published over the past ten years. The findings indicate that the success of inclusive education is influenced by educators’ ability to understand individual learner characteristics through continuous identification processes. The challenges faced include limitations of identification instruments, diverse teacher competencies, inadequate policy support, and limited parental involvement. To address these challenges, the implementation of instructional strategies such as differentiated instruction, Universal Design for Learning (UDL), and collaborative approaches is considered effective in accommodating learner diversity. The conclusion of this study emphasizes that the identification of learner diversity is a key element in realizing humanistic, equitable, and transformative education.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pendidikan inklusif menempatkan keberagaman peserta didik sebagai kekuatan utama dalam proses pembelajaran yang mencakup peserta didik berkebutuhan khusus serta perbedaan gaya belajar, kemampuan kognitif, karakter sosial-emosional, dan latar belakang budaya. Dalam praktik pendidikan inklusif, permasalahan yang sering dijumpai adalah belum optimalnya proses identifikasi keberagaman peserta didik sebagai dasar perancangan pembelajaran; oleh karena itu, kajian ini menganalisis pemanfaatan proses identifikasi tersebut dalam merancang pembelajaran inklusif yang efektif dan berkeadilan. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui tahapan penelusuran, seleksi, dan analisis isi terhadap artikel ilmiah nasional dan internasional dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif dipengaruhi oleh kemampuan pendidik dalam memahami karakteristik individual peserta didik melalui proses identifikasi yang berkelanjutan. Tantangan yang dihadapi meliputi keterbatasan instrumen identifikasi, kompetensi guru yang beragam, dukungan kebijakan yang belum optimal, serta keterlibatan orang tua yang terbatas. Untuk merespons tantangan tersebut, penerapan strategi pembelajaran seperti <em>differentiated instruction</em>, <em>Universal Design for Learning</em> (UDL), dan pendekatan kolaboratif dinilai efektif dalam mengakomodasi keberagaman peserta didik. Simpulan kajian ini menegaskan bahwa identifikasi keberagaman peserta didik merupakan elemen kunci dalam mewujudkan pendidikan yang humanis, adil, dan transformatif.</p> Rahmatia Thahir, Zaitun Zaitun, Anisa Anisa, Fatimah Azis Copyright (c) 2026 TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/9054 Sat, 24 Jan 2026 00:00:00 +0000 GAPS IN MANAGING BLENDED LEARNING PROCESSES IN BORDER AREA SCHOOLS: EVIDENCE FROM BENGKAYANG, INDONESIA https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/9288 <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Educational disparities between urban and border areas remain a critical issue within Indonesia’s education system. One manifestation of this disparity is the uneven management of blended learning-based instructional processes. This study aims to examine the gaps in managing blended learning processes in border area schools, using Bengkayang Regency as the context of analysis. This study employs a literature review approach by analyzing national and international journal articles, government reports, and relevant educational statistical data. Data were analyzed using thematic analysis to identify patterns, challenges, and characteristics related to the management of blended learning in border areas. The findings indicate that the implementation of blended learning in border areas faces multiple constraints, including limited technological infrastructure, low teacher readiness, insufficient institutional support, and sociocultural conditions that are not yet conducive to digital learning. These findings suggest that the success of blended learning is not solely determined by technological availability, but also by the quality of contextual and realistic instructional management. This study is expected to contribute theoretically and practically to the development of blended learning management in border area schools.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kesenjangan pendidikan antara daerah perkotaan dan perbatasan tetap menjadi isu kritis dalam sistem pendidikan Indonesia. Salah satu manifestasi kesenjangan ini adalah pengelolaan proses pembelajaran campuran yang tidak merata. Studi ini bertujuan untuk meneliti kesenjangan dalam pengelolaan proses pembelajaran bauran di sekolah-sekolah daerah perbatasan, dengan menggunakan Kabupaten Bengkayang sebagai konteks analisis. Studi ini menggunakan pendekatan tinjauan pustaka dengan menganalisis artikel jurnal nasional dan internasional, laporan pemerintah, dan data statistik pendidikan yang relevan. Data dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola, tantangan, dan karakteristik yang berkaitan dengan pengelolaan pembelajaran bauran di daerah perbatasan. Temuan menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran campuran di daerah perbatasan menghadapi berbagai kendala, termasuk infrastruktur teknologi yang terbatas, kesiapan guru yang rendah, dukungan kelembagaan yang tidak memadai, dan kondisi sosial budaya yang belum kondusif untuk pembelajaran digital. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran bauran tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan teknologi, tetapi juga oleh kualitas pengelolaan pembelajaran yang kontekstual dan realistis. Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi secara teoritis dan praktis terhadap pengembangan pengelolaan pembelajaran bauran di sekolah-sekolah daerah perbatasan.</p> Yosua Damas Sadewo, Pebria Dheni Purnasari, Totok Victor Didik Saputro, Silvester Silvester, Nurselam Hassen Yimer Copyright (c) 2026 TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/9288 Tue, 10 Feb 2026 00:00:00 +0000 INTEGRASI AGAMA DAN SAINS DALAM PERSPEKTIF ISMAIL RAJI AL-FARUQI DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/9429 <p>The sharp dichotomy between religious knowledge and science in the modern education system has triggered a significant epistemological crisis and moral degradation among Muslims. This study aims to explore and analyze Ismail Raji Al-Faruqi's thoughts on the integration of religion and science through the concept of the Islamization of knowledge, and its relevance in Islamic Religious Education (PAI) learning. By applying a qualitative approach based on library research methods, this study examines in depth Al-Faruqi's fundamental works along with contemporary interpretations of his ideas. The research findings show that Al-Faruqi made the principle of monotheism the absolute epistemological foundation for reuniting revelation and reason, while simultaneously rejecting secularism that separates the two. Through the formulation of twelve steps of the Islamization of knowledge, he attempted to reconstruct the structure of modern science to align with Islamic values ​​​​for the sake of achieving the welfare of the people and spiritual balance. In its implementation in PAI learning, this concept is applied by harmoniously integrating naqli arguments and scientific phenomena, so that science is understood as a manifestation of God's power. The main conclusion emphasizes that internalizing this integrative paradigm is very urgent to produce a complete generation of Muslims, namely individuals who have high intellectual intelligence as well as strong faith and morals in facing global challenges.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Dikotomi yang tajam antara ilmu agama dan sains dalam sistem pendidikan modern telah memicu krisis epistemologi dan degradasi moral yang signifikan di kalangan umat Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis pemikiran Ismail Raji Al-Faruqi mengenai integrasi agama dan sains melalui konsep Islamisasi ilmu pengetahuan, serta relevansinya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Dengan menerapkan pendekatan kualitatif berbasis metode studi kepustakaan, penelitian ini menelaah secara mendalam karya-karya fundamental Al-Faruqi beserta interpretasi kontemporer terkait gagasannya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Al-Faruqi menjadikan prinsip tauhid sebagai fondasi epistemologis mutlak untuk menyatukan kembali wahyu dan akal, sekaligus menolak sekularisme yang memisahkan keduanya. Melalui rumusan dua belas langkah Islamisasi ilmu, ia berupaya merekonstruksi bangunan ilmu pengetahuan modern agar selaras dengan nilai-nilai Islam demi tercapainya kesejahteraan umat dan keseimbangan spiritual. Dalam implementasinya pada pembelajaran PAI, konsep ini diterapkan dengan mengintegrasikan dalil naqli dan fenomena ilmiah secara harmonis, sehingga sains dipahami sebagai manifestasi kekuasaan Allah. Simpulan utama menegaskan bahwa internalisasi paradigma integratif ini sangat mendesak untuk mencetak generasi Muslim yang utuh, yakni pribadi yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi sekaligus kekokohan iman dan akhlak dalam menghadapi tantangan global.</p> Fathia Saidah Fahriah, Amril Amril Copyright (c) 2026 TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/9429 Tue, 17 Feb 2026 00:00:00 +0000 MENGELOLA PERILAKU GURU YANG MENCERMINKAN KEMATANGAN MORAL, EMOSIONAL, DAN SPIRITUAL SESUAI DENGAN KODE ETIK GURU https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/9430 <p>Teachers play a central role as role models who demand mastery of knowledge as well as moral, emotional, and spiritual maturity within the framework of the philosophy of science and the professional code of ethics. This study aims to analyze the management of teacher behavior at SDN Arjasari 03 to reflect personal and professional integrity according to ethical standards. Through a descriptive qualitative approach with intensive observation methods for three weeks in November 2025, in-depth interviews, and documentation studies, real behavioral patterns were found that align with teaching ethics. Field findings show strong indicators of moral maturity, specifically evidenced by the discipline of attendance of all teachers before 06.30 WIB and the application of the principle of objectivity in student assessment. In the emotional aspect, teachers demonstrate good self-regulation skills through self-calming techniques and a persuasive approach before giving reprimands, which impacts a conducive classroom climate. Spiritual maturity is reflected through the habit of consistent prayer at the beginning of learning throughout the class as a form of transcendental responsibility. This study concludes that the implementation of the five principles of the code of ethics—integrity, role model, emotional regulation, humanism, and spirituality—has been effective and has become a crucial foundation of school culture in shaping students' character, confirming that teacher behavior is a philosophical manifestation of dignified education.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Guru memegang peran sentral sebagai teladan yang menuntut penguasaan pengetahuan sekaligus kematangan moral, emosional, dan spiritual dalam bingkai filsafat ilmu dan kode etik profesi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengelolaan perilaku guru di SDN Arjasari 03 untuk mencerminkan integritas pribadi dan profesionalitas sesuai standar etika. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode observasi intensif selama tiga minggu pada November 2025, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, ditemukan pola perilaku nyata yang selaras dengan etika keguruan. Temuan lapangan menunjukkan indikator kematangan moral yang kuat, dibuktikan secara spesifik dengan kedisiplinan kehadiran seluruh guru sebelum pukul 06.30 WIB serta penerapan prinsip objektivitas dalam penilaian siswa. Pada aspek emosional, guru menunjukkan kemampuan regulasi diri yang baik melalui teknik <em>self-calming</em> dan pendekatan persuasif sebelum memberikan teguran, yang berdampak pada iklim kelas yang kondusif. Kematangan spiritual terefleksi melalui pembiasaan doa awal pembelajaran yang konsisten di seluruh kelas sebagai bentuk tanggung jawab transendental. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi lima prinsip kode etik—integritas, keteladanan, regulasi emosi, humanisme, dan spiritualitas—telah berjalan efektif dan menjadi fondasi budaya sekolah yang krusial dalam membentuk karakter peserta didik, menegaskan bahwa perilaku guru adalah manifestasi filosofis dari pendidikan yang bermartabat.</p> <p> </p> Fenia Marliana, Irawan Irawan Copyright (c) 2026 TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/9430 Tue, 17 Feb 2026 00:00:00 +0000 ANALISIS KEMAMPUAN GURU PAI DALAM MENYUSUN MODUL AJAR DI MTS https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/9432 <p>The digital era and the implementation of the Merdeka Curriculum require Islamic Religious Education (PAI) teachers to be able to effectively integrate technology, pedagogy, and content through the Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) framework in the preparation of teaching modules. This research aims to analyze the TPACK ability of PAI teachers at MTs Negeri 1 Bantul in developing teaching modules and to identify the challenges faced. The research method used is descriptive qualitative with a case study approach through in-depth interviews and a review of related literature. The results of the research show that PAI teachers have adequate mastery of the core components (TK, CK, PK), as evidenced by the use of digital tools such as Canva, Kahoot!, and Quizizz in the learning process. However, integrative abilities in the Technological Pedagogical Knowledge (TPK) and Technological Content Knowledge (TCK) aspects still show variation and are not evenly distributed. The main obstacles found include gaps in students' digital facilities, variations in students' technological competence, time constraints, and challenges in meaningfully integrating Islamic values into digital activities. The conclusion of this research emphasizes that TPACK ability is a crucial dynamic competence for PAI teachers to create innovative and contextual learning. Systemic support in the form of integration-based training and infrastructure strengthening is needed to optimize the quality of teaching modules in the digital era.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Era digital dan penerapan Kurikulum Merdeka menuntut guru Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk mampu mengintegrasikan teknologi, pedagogi, dan konten secara efektif melalui kerangka Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) dalam penyusunan modul ajar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan TPACK guru PAI di MTs Negeri 1 Bantul dalam menyusun modul ajar serta mengidentifikasi tantangan yang dihadapi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus melalui wawancara mendalam dan tinjauan literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI memiliki penguasaan yang memadai pada komponen inti (TK, CK, PK), yang dibuktikan dengan penggunaan perangkat digital seperti Canva, Kahoot!, dan Quizizz dalam proses pembelajaran. Namun, kemampuan integratif pada aspek Technological Pedagogical Knowledge (TPK) dan Technological Content Knowledge (TCK) masih menunjukkan variasi dan belum merata. Hambatan utama yang ditemukan meliputi kesenjangan fasilitas digital siswa, variasi kompetensi teknologi peserta didik, keterbatasan waktu, serta tantangan dalam mengintegrasikan nilai-nilai keislaman secara bermakna ke dalam aktivitas digital. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa kemampuan TPACK merupakan kompetensi dinamis yang krusial bagi guru PAI untuk menciptakan pembelajaran yang inovatif dan kontekstual. Diperlukan dukungan sistemik berupa pelatihan berbasis integrasi dan penguatan infrastruktur untuk mengoptimalkan kualitas modul ajar di era digital..</p> Willy Adam Ariyansyah, Mario Jufri, Samsul Hadi, Muhamad Nur Fiqih, Lovandri Dwanda Putra Copyright (c) 2026 TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/9432 Tue, 17 Feb 2026 00:00:00 +0000 PERAN IBU DALAM MENDORONG ANAK PEREMPUAN MEREKA UNTUK MELANJUTKAN PENDIDIKAN KE JENJANG LEBIH TINGGI https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/9431 <p>This article discusses the role of mothers in encouraging girls to continue their education to a higher level: Education is an important factor in improving the quality of life and future of girls. However, there are still various obstacles that prevent girls from continuing their education to a higher level, both economic and family environment factors. This article aims to discuss the role of mothers in encouraging girls' awareness of education to a higher level. The method used in writing this article is a literature study by reviewing various sources such as books, journals, and scientific articles that are relevant to the scientific topic. The results of the discussion show that mothers play an important role in encouraging girls' awareness of education through several forms of involvement, including providing motivation, managing household finances for the sake of continuing education, and providing guidance in making decisions about girls' education. Mothers' support in the form of attention, advice, and moral encouragement can increase girls' enthusiasm for learning and their confidence to continue their education. Thus, mothers play a very influential role in determining the success of girls' education to a higher level.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Artikel ini membahas peran ibu dalam mendorong anak perempuan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi : Pendidikan merupakan faktor penting dalam meningkatkan kualitas hidup dan masa depan anak perempuan. Namun, masih terdapat berbagai kendala yang menyebabkan anak perempuan tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, baik dari faktor ekonomi, maupun lingkungan keluarga . Artikel ini bertujuan untuk membahas peran ibu dalam mendorong kesadaran pendidikan anak perempuan ke jenjang yang lebih tinggi. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini studi literatur dengan mengkaji berbagai sumber seperti buku, jurnal, dan artikel ilmiah yang relevan dengan topik ilmiah. Hasil pembahasan menunjukan bahwa ibu berperan penting dalam mendorong kesadaran pendidikan anak perempuan melalui beberapa bentuk keterlibatan , antara lain memberi motivasi, mengelola keuangan rumah tangga demi keberlangsungan pendidikan serta pengarah dalam pengambilan keputusan pendidikan anak perempuan. Dukungan ibu yang berupa perhatian, nasihat, dan dorongan moral mampu meningkatkan semangat belajar serta kepercayaan diri anak perempuan untuk melanjutkan pendidikan. Dengan demikian, peran ibu sangat berpengaruh dalam menentukan keberhasilan pendidikan anak perempuan hingga kejenjang yang lebih</p> <p> </p> Della Safitri, Dian Lestari, Dwi Arimbi, Fira Duwi Novita Sari, Maya Annisa, Mirza Syadat Rambe Copyright (c) 2026 TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/9431 Tue, 17 Feb 2026 00:00:00 +0000 DIGITAL READING AND VOCABULARY DEVELOPMENT THROUGH LEARNING MANAGEMENT SYSTEM: A REVIEW OF INDONESIAN EFL STUDIES IN THE POST-PANDEMIC ERA https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/9501 <p><strong>ABSTRACT </strong></p> <p>The COVID-19 pandemic accelerated the adoption of Learning Management Systems (LMS) in English as a Foreign Language (EFL) instruction in Indonesia, and this practice has continued into the post-pandemic phase, particularly in the development of digital reading skills and vocabulary acquisition. This study aims to systematically examine empirical findings concerning the effectiveness of LMS in the Indonesian EFL context. The method employed was a systematic literature review following the PRISMA framework, analyzing twenty articles published between 2021 and 2025 through stages of identification, screening, eligibility assessment, and inclusion based on criteria requiring empirical studies focused on LMS use in Indonesian EFL settings and reporting data on reading or vocabulary outcomes. The data were analyzed using qualitative thematic synthesis to identify dominant patterns of findings. The results indicate that LMS expands access to authentic texts, enhances learning flexibility, and facilitates repeated exposure, contributing to improvements in reading comprehension and vocabulary mastery, particularly when combined with explicit tasks such as structured quizzes and digital glossaries. Its effectiveness is influenced by self-regulation, digital literacy, and the quality of instructional design. Conceptually, this review underscores the importance of integrating Self-Regulated Learning, managing Cognitive Load, and applying blended learning approaches as foundational principles for strengthening LMS-based EFL instructional design.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pandemi COVID-19 mempercepat adopsi <em>Learning Management System</em> (LMS) dalam pembelajaran Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (EFL) di Indonesia dan praktik tersebut berlanjut pada fase pascapandemi, khususnya dalam pengembangan keterampilan membaca digital dan penguasaan kosakata. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara sistematis temuan empiris terkait efektivitas LMS dalam konteks EFL Indonesia. Metode yang digunakan adalah <em>systematic literature review</em> dengan kerangka PRISMA terhadap dua puluh artikel terbitan 2021–2025 melalui tahapan identifikasi, penyaringan, uji kelayakan, dan inklusi berdasarkan kriteria artikel empiris, berfokus pada LMS dalam EFL Indonesia, serta melaporkan data membaca atau kosakata. Data dianalisis menggunakan sintesis tematik kualitatif untuk mengidentifikasi pola temuan utama. Hasil menunjukkan bahwa LMS memperluas akses teks autentik, meningkatkan fleksibilitas belajar, serta mendukung paparan berulang yang berdampak pada peningkatan pemahaman bacaan dan kosakata, terutama ketika disertai tugas eksplisit seperti kuis dan glosarium digital. Efektivitasnya dipengaruhi oleh regulasi diri, literasi digital, dan kualitas desain instruksional. Secara konseptual, kajian ini menegaskan pentingnya integrasi <em>Self-Regulated Learning</em>, pengelolaan <em>Cognitive Load</em>, dan pendekatan blended learning sebagai fondasi penguatan desain pembelajaran EFL berbasis LMS<strong>.</strong></p> Muhammad Andrie Bagia, Dwita Laksmita Rachmawati Copyright (c) 2026 TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/9501 Sat, 21 Feb 2026 00:00:00 +0000 METODE KOMUNIKASI INSTRUKSIONAL GURU PAUD CIKAL GEMILANG DALAM PEMBENTUKAN KEPERCAYAAN DIRI SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/9516 <p><strong>ABSTRACT </strong></p> <p>Instructional communication plays a strategic role in fostering self-confidence in early childhood, particularly within the context of inclusive education, which requires adaptive approaches to address the diversity of learners’ needs. Along with the increasing number of children with special needs in early childhood education settings, the demand for teachers’ readiness to implement effective, responsive, and learner-centered communication has become increasingly prominent. This study aims to describe and analyze the instructional communication practices employed by teachers at PAUD Cikal Gemilang, Sekolah Interaktif Gemilang Mutafannin, West Bandung Regency, in developing students’ self-confidence. A qualitative approach with a descriptive method was employed. Data were collected through in-depth interviews and non-participant observations involving five purposively selected informants. Data validity was ensured through source triangulation and member checking, while data analysis followed the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that teachers apply classical communication methods, individual interviews, and targeted stimulation tailored to students’ characteristics and needs. The study concludes that inclusive, flexible, and emotionally supportive instructional communication significantly contributes to enhancing self-confidence and socio-emotional development in early childhood learners.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Komunikasi instruksional guru memiliki peran strategis dalam membentuk kepercayaan diri anak usia dini, khususnya dalam konteks pendidikan inklusif yang menuntut pendekatan adaptif terhadap keberagaman kebutuhan peserta didik. Seiring dengan meningkatnya jumlah siswa berkebutuhan khusus di satuan PAUD, tuntutan terhadap kesiapan guru dalam menerapkan komunikasi yang efektif, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan individu siswa pun semakin menguat. Berikan saya versi bahasa inggrisnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis komunikasi instruksional guru PAUD Cikal Gemilang di Sekolah Interaktif Gemilang Mutafannin, Kabupaten Bandung Barat, dalam membentuk kepercayaan diri siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi non-partisipan terhadap lima informan yang dipilih secara purposive. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan member check, sedangkan analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menerapkan metode komunikasi klasikal, wawancara individu, dan stimulasi yang disesuaikan dengan karakteristik siswa. Simpulan penelitian menegaskan bahwa komunikasi instruksional yang inklusif, fleksibel, dan berorientasi pada hubungan emosional guru, siswa, dan berkontribusi signifikan dalam membangun kepercayaan diri dan perkembangan sosial-emosional anak usia dini.</p> Rismawaty Rais, Faiz Ardiansah Copyright (c) 2026 TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/9516 Sat, 21 Feb 2026 00:00:00 +0000 IMPLEMENTASI METODE TILAWATI DALAM MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR’AN SISWA KELAS 1 MADRASAH IBTIDAIYAH https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/9462 <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>At the elementary school level, learning to read the Qur’an serves as a fundamental foundation for instilling religious competence while shaping children’s character from an early age. This study aims to describe the implementation of the Tilawati method in improving Qur’anic reading skills among first-grade students at Madrasah Ibtidaiyah (MI) Pembangunan UIN Jakarta. The research employed a qualitative approach with a descriptive design. Data were collected through observations, interviews, and document analysis. The participants included the head of the madrasah, a certified Tilawati teacher, first-grade students, and their parents. The findings indicate that the Tilawati method was implemented through classical instruction, individual practice, and continuous evaluation, emphasizing the principles of talaqqi musyafahah, the use of the rost melody, and habituation in reading with tartil. The implementation was supported by teacher competence, the availability of learning facilities, a religious school environment, and parental involvement in assisting learning at home. The identified challenges included variations in students’ initial abilities and limited instructional time. Overall, the implementation of the Tilawati method demonstrated positive results in enhancing students’ Qur’anic reading skills, particularly in fluency, accuracy of makhraj pronunciation, application of tajwid rules, and the cultivation of proper etiquette in recitation. This study contributes to the development of Qur’anic learning strategies that are contextually relevant, systematically structured, and aligned with the developmental characteristics of early childhood learners in formal educational settings.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pada jenjang sekolah dasar, kegiatan belajar membaca Al-Qur’an menjadi landasan utama dalam menanamkan kemampuan religius sekaligus membentuk kepribadian anak sejak dini. Penelitian ini diarahkan untuk menguraikan penerapan metode Tilawati dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an pada siswa kelas I Madrasah Ibtidaiyah (MI) Pembangunan UIN Jakarta. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Data dikumpulkan melalui kegiatan observasi, wawancara, serta telaah dokumentasi. Partisipan dalam penelitian ini mencakup kepala madrasah, guru Tilawati yang telah memiliki sertifikasi, siswa kelas I, dan orang tua siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Tilawati diterapkan melalui tahapan pembelajaran klasikal, individual, dan evaluasi berkelanjutan dengan menekankan prinsip <em>talaqqi musyafahah</em>, penggunaan lagu <em>rost</em>, dan pembiasaan membaca tartil. Implementasi metode ini didukung oleh kompetensi guru, ketersediaan sarana pembelajaran, lingkungan madrasah yang religius, serta keterlibatan orang tua dalam pendampingan belajar di rumah. Kendala yang teridentifikasi dalam pelaksanaannya mencakup adanya variasi kemampuan awal antar siswa serta terbatasnya waktu yang tersedia untuk proses pembelajaran. Secara umum, penerapan metode Tilawati menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an siswa, khususnya pada aspek kelancaran, ketepatan pengucapan makhraj, penerapan kaidah tajwid, serta pembinaan adab dalam membaca. Studi ini memberikan sumbangan bagi pengembangan strategi pembelajaran Al-Qur’an yang relevan dengan konteks, tersusun secara terarah, serta selaras dengan karakteristik perkembangan anak usia dini di lingkungan pendidikan formal.</p> Moch. Nur Tian Darmawan Widayat, Asmaji Muchtar, Toha Makhsun Copyright (c) 2026 TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnalp4i.com/index.php/teaching/article/view/9462 Mon, 23 Feb 2026 00:00:00 +0000