AUTOKORELASI SPASIAL KASUS TUBERKULOSIS (TBC) DAN KAITANNYA DENGAN KEPADATAN PENDUDUK DI KOTA TANGERANG SELATAN

Authors

  • Azhari Dasra Kajian Pengembangan Perkotaan, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia
  • Chotib Chotib Kajian Pengembangan Perkotaan, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.51878/healthy.v5i3.12377

Keywords:

TBC, Kepadatan Penduduk, Moran's I, LISA, Periferal Urban

Abstract

Tuberculosis (tuberculosis/TB) remains a major public health problem in peripheral urban areas such as South Tangerang City. This study aims to map the spatial distribution patterns of TB across 54 sub-districts in South Tangerang City and to analyze its relationship with population density. The study employs an Exploratory Spatial Data Analysis (ESDA) approach using the Univariate Moran’s I and Local Indicators of Spatial Association (LISA) tests with GeoDa software, as well as the Spearman Rank correlation test using Stata. The results of the Moran’s I analysis show a value of 0.05802, indicating very weak positive spatial autocorrelation at the city-wide macro level. However, the local LISA analysis successfully identifies four sub-districts as hotspots (High–High) and two sub-districts as spatial outliers exhibiting contrasting characteristics with their surrounding areas. Furthermore, the Spearman Rank correlation test reveals that population density has no significant relationship with TB prevalence (p = 0.4158). These findings suggest that TB control policies cannot be based solely on macro-level population density but must instead focus on micro-scale spatial risk clusters and consider environmental and behavioral determinants.

ABSTRAK

Tuberkulosis (tuberculosis/TBC) masih menjadi masalah kesehatan utama di kawasan urban periferal seperti Kota Tangerang Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan pola persebaran spasial TBC pada 54 kelurahan di Kota Tangerang Selatan serta menganalisis hubungannya dengan kepadatan penduduk. Penelitian ini menggunakan pendekatan Exploratory Spatial Data Analysis (ESDA) melalui uji Univariate Moran’s I dan Local Indicators of Spatial Association (LISA) dengan perangkat GeoDa, serta uji korelasi Spearman Rank menggunakan Stata. Hasil analisis Moran’s I menunjukkan nilai indeks sebesar 0,05802 yang mengindikasikan adanya autokorelasi spasial positif sangat lemah pada tingkat makro kota. Namun, analisis lokal LISA berhasil mengidentifikasi empat kelurahan sebagai hotspot (High–High) serta dua kelurahan sebagai spatial outlier yang menunjukkan perbedaan karakteristik dengan wilayah sekitarnya. Selanjutnya, hasil uji korelasi Spearman Rank menunjukkan bahwa kepadatan penduduk tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan prevalensi TBC (p = 0,4158). Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi kebijakan pengendalian TBC tidak dapat hanya didasarkan pada kepadatan penduduk secara makro, tetapi perlu diarahkan pada skala mikro melalui identifikasi klaster risiko lokal serta mempertimbangkan faktor lingkungan dan perilaku masyarakat.

References

Alma, L. R., Olivionita, V., & Wardani, H. E. (2024). An ecological study of determinants of the incidence of tuberculosis in Malang Raya area. Preventia: The Indonesian Journal of Public Health, 9(1), 112–120. https://doi.org/10.17977/um044v9i12024p112-120

Artanti, E. M. (2026). Hubungan kepadatan penduduk dengan kejadian tuberkulosis di Provinsi Jawa Barat tahun 2022–2024. Nama Jurnal, 7(1), xx–xx.

Atillah, C. N., Wulandari, R. A., & Kurniasari, F. (2023). Environmental factors and the pulmonary tuberculosis cases in Bandung City in 2015–2019: An ecological study. Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat: Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat, 15(4), 167–175. https://doi.org/10.52022/jikm.v15i4.566

Dzakiyah, R. N., Karima, U. Q., Simanjorang, C., & Apriningsih. (2023). Determinan kejadian tuberkulosis paru pada usia dewasa di wilayah kerja Puskesmas Parungpanjang, Kabupaten Bogor. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes, 14. http://dx.doi.org/10.33846/sf14321

Gityarani, K. G. (2024). Kajian literatur tentang kepadatan hunian yang berhubungan dengan kejadian tuberkulosis pada anak. Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia, 9(9). https://doi.org/10.36418/syntax-literate.v9i9

Handayani, S., Musfirah, M., & Apriana, A. (2024). Determinant of pulmonary tuberculosis in outpatients at Daya Hospital, Makassar City. Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIKA), 6(1), 45–54. https://doi.org/10.36590/jika.v6i1.374

Haq, A., Achmadi, U. F., & Susanna, D. (2020). Analisis spasial (topografi) tuberkulosis paru di Kota Pariaman, Bukittinggi, dan Dumai tahun 2010–2016. Jurnal Ekologi Kesehatan, 18(3). https://doi.org/10.22435/jek.v3i18.80

Hastuti, T., Ahmad, L. O. A. I., & Ibrahim, K. (2016). Analisis spasial, korelasi dan tren kasus TB paru BTA positif menggunakan web sistem informasi geografis di Kota Kendari tahun 2013–2015. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat, 1(3).

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Profil kesehatan Indonesia 2024. Kementerian Kesehatan RI.

Kristianingrum, E. N. (2024). Hubungan antara kepadatan penduduk dengan penyakit tuberkulosis paru di Kota Surakarta tahun 2023 [Skripsi, Universitas Duta Bangsa Surakarta].

Laoli, H. A., Nazira, A., Faleria, I., Tarigan, B., & Girsang, V. I. (2024). Cases of pulmonary tuberculosis and population density (with spatial analysis approach). Mitra Husada Health International Conference (MIHHICo), 4(1).

Nafila, N., Setia, L., Ramdhani, A., & Riyana, A. (2024). Analisis determinan kejadian tuberkulosis di Puskesmas Martapura 1 (studi kasus berdasarkan karakteristik responden dan penilaian biokimia). Malahayati Nursing Journal, 6(8). https://doi.org/10.33024/mnj.v6i8.15690

Nafsi, A. Y., & Rahayu, S. R. (2020). Analisis spasial tuberkulosis paru ditinjau dari faktor demografi dan tingkat kesejahteraan keluarga di wilayah pesisir. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Masyarakat Indonesia, 1(1). https://doi.org/10.15294/jppkmi.v1i1.41419

Noerhalimah, T. (2020). The scope of PHBS in household and healthy home with the incidence of tuberculosis in West Java. Journal of Public Health Research and Community Health Development, 4(1). https://doi.org/10.20473/jphrecode.v4i1.15005

Nurdin, A., Putri, N. D., Nazillah, U., Maghvira, U., Azhari, H., Safitri, A., Lafiska, S., & Astini, D. (2025). Analisis faktor risiko kejadian tuberculosis di wilayah Puskesmas Syamtalira Bayu. Jurnal Kesehatan Yamasi Makassar, 9(2), 1–9. http://journal.yamasi.ac.id

Sihaloho, E. D., Amru, D. S., Agustina, N. I., & Purba Tambak, H. S. (2021). Pengaruh angka kemiskinan terhadap angka tuberkulosis di Indonesia. JABE (Journal of Applied Business and Economics), 7(3). https://doi.org/10.30998/jabe.v7i3.6470

Suryani, F. T., & Ibad, M. (2022). Analisis faktor kepadatan penduduk, cakupan rumah sehat dan sanitasi rumah tangga terhadap kejadian tuberkulosis tahun 2018. Jurnal Sosial Sains, 2(10). https://doi.org/10.36418/jurnalsosains.v2i10.468

Turner, R. D., Chiu, C., Churchyard, G. J., Esmail, H., Lewinsohn, D. M., Gandhi, N. R., & Fennelly, K. P. (2017). Tuberculosis infectiousness and host susceptibility. Journal of Infectious Diseases, 216(Suppl. 6), S636–S643. https://doi.org/10.1093/infdis/jix361

World Health Organization. (2025). Global tuberculosis report 2025. World Health Organization.

Downloads

Published

2026-06-24

How to Cite

Dasra, A., & Chotib, C. (2026). AUTOKORELASI SPASIAL KASUS TUBERKULOSIS (TBC) DAN KAITANNYA DENGAN KEPADATAN PENDUDUK DI KOTA TANGERANG SELATAN. HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan, 5(3), 317–326. https://doi.org/10.51878/healthy.v5i3.12377

Issue

Section

Articles