RESIKO GANGGUAN JIWA PADA PASANGAN DENGAN BENTUK PERNIKAHAN PADA GELAHANG
DOI:
https://doi.org/10.51878/healthy.v3i4.4353Keywords:
pernikahan pada gelahang, gangguan jiwaAbstract
In Balinese social customs, there are three types of marriage, namely ordinary marriage, nyentana marriage, and gelahang marriage. A gelahang marriage is a marriage where neither party says goodbye and both parties decide to maintain their status as kapurusa in fulfilling their obligations (swadharma) and rights (swadikara) in their respective families. Marriages in this gelahang are generally carried out because both parties are determined not to leave their families, so that ordinary marriages or nyentana marriages cannot occur. These social stressors can result in the risk of mental disorders in couples undergoing a marriage system. Several studies show that the use of a traditional marriage system, the use of an arranged marriage system, or marriages involving extended families pose a risk for the emergence of mental disorders in a person. A wedding at a gelahang requires the bride and groom to fulfill their obligations as kapurusa to each side of the family in fulfilling swadharma and self-sufficiency, and in carrying on ancestral traditions. This must be done equally by one side of the family and the other by the bridal couple who are carrying out the wedding at the gelahang. In a wedding at Gelahang, the burden of obligations on both sides of the family must be fulfilled so that the burden of obligations carried out increases on each side of the bride and groom. This can be an emotional and psychological stressor for brides and grooms who get married at Gelahang. Weddings carried out with various rituals are an illustration of the value in each procession undertaken. In many cultures, families have very high expectations of married couples. The pressure to live up to social standards can be overwhelming for couples. Marriage in a gelahang is a risk of mental disorders
ABSTRAK
Dalam adat kemasyarakatan Bali, terdapat tiga jenis pernikahan yaitu pernikahan biasa, pernikahan nyentana, dan pernikahan pada gelahang. Pernikahan pada gelahang merupakan pernikahan dimana kedua belah pihak tidak ada yang melakukan mepamit dan kedua belah pihak memutuskan mempertahankan statusnya sebagai kapurusa dalam memenuhi kewajiban (swadharma) dan hak (swadikara) dalam masing-masing keluarga. Pernikahan pada gelahang ini umumnya dilakukan akibat kedua belah pihak bersih kukuh untuk tidak meninggalkan keluarganya, sehingga pernikahan biasa atau pernikahan nyentana tidak dapat terjadi. Stresor sosial ini dapat mengakibatkan munculnya risiko gangguan jiwa pada pasangan yang menjalani sistem pernikahan pada gelahang. Beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan sistem pernikahan secara tradisional, penggunaan sistem perjodohan, atau pernikahan yang melibatkan keluarga besar menjadi risiko munculnya gangguan jiwa pada seseorang. Pernikahan pada gelahang mewajibkan kedua belah pengantin untuk memenuhi kewajibannya sebagai kapurusa kepada masing-masing pihak keluarga dalam memenuhi swadharma dan swadikara, dan dalam meneruskan tradisi leluhur. Hal ini wajib dilakukan sama rata pada pihak keluarga satu dan yang lainnya oleh pasangan pengantin yang menjalankan pernikahan pada gelahang. pada pernikahan pada gelahang, beban kewajiban pada kedua belah pihak keluarga wajib dipenuhi sehingga beban kewajiban yang dijalankan bertambah pada masing-masih pihak pengantin. Hal ini yang dapat menjadikan stresor emosional dan psikologis kepada pengantin yang menjalankan pernikahan pada gelahang. Pernikahan yang dilakukan dengan berbagai ritual menjadi gambaran nilai dalam masing-masing prosesi yang dijalani. Dalam banyak budaya, keluarga memiliki harapan yang sangat tinggi terhadap pasangan yang menikah. Tekanan untuk memenuhi standar sosial bisa sangat membebani pasangan. Pernikahan pada gelahang sebagai resiko terjadinya gangguan jiwa
References
Abreu-Afonso, J., Ramos, M. M., Queiroz-Garcia, I., & Leal, I. (2022). How couple’s relationship lasts over time? A model for marital satisfaction. Psychological reports, 125(3), 1601-1627.
Adda, J., Pinotti, P., & Tura, G. (2020). There's more to marriage than love: the effect of legal status and cultural distance on intermarriages and separations.
Anthara, K. D. K., Dewi, P. E. T., & Tungga, B. (2024). PASUBAYA MAWARANG DALAM SISTEM PERKAWINAN PADA GELAHANG DALAM MELINDUNGI HAK ANAK PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN. RIO LAW JURNAL, 5(1).
Beyer, J., & Finke, P. (2019). Practices of traditionalization in Central Asia. Central Asian Survey, 38(3), 310-328.
Breger, R., & Hill, R. (Eds.). (2021). Cross-cultural marriage: Identity and choice. Routledge.
Dipa, I. W. A., Gelgel, I. P., & Dharmika, I. B. (2020). Dinamika Perkawinan Pada Gelahang Kajian Yuridis Dan Sosiologis. Unhi Press.
Dyatmikawati, P. (2011). Perkawinan pada gelahang dalam masyarakat hukum adat di provinsi bali ditinjau dari undang-undang no. 1 tahun 1974 tentang perkawinan. DiH: Jurnal Ilmu Hukum, 7(14), 240026.
Dyatmikawati, P. (2011). Perkawinan pada gelahang dalam masyarakat hukum adat di provinsi bali ditinjau dari undang-undang no. 1 tahun 1974 tentang perkawinan. DiH: Jurnal Ilmu Hukum, 7(14), 240026.
Dyatmikawati, P. (2015). Kewajiban pada perkawinan “Pada Gelahang” dalam perspektif hukum adat Bali. Jurnal Kajian Bali, 5(02).
Erawati, N. W. Y., & Arka, I. W. (2021). Pasobaya Mewarang Dalam Perkawinan Pada Gelahang Di Desa Adat Cau Tua Kecamatan Marga Kabupaten Tabanan. Kerta Dyatmika, 18(1)), 93-105.
Fadhillah, T. S., & Ratnasari, Y. (2022). Analysis of Emotional Suppression and Marital Distress in the First Five Years of Marriage. KnE Social Sciences, 157-167.
He, Y., Tom Abdul Wahab, N. E., Muhamad, H., & Liu, D. (2024). The marital and fertility sentiment orientation of Chinese women and its influencing factors–An analysis based on natural language processing. Plos one, 19(2), e0296910.
Li, X., Cao, H., Lan, J., Ju, X., Zheng, Y., Chen, Y., Zhou, N., & Fang, X. (2019). The association between transition pattern of marital conflict resolution styles and marital quality trajectory during the early years of Chinese marriage. Journal of Social and Personal Relationships, 36(1), 153-186.
Nejatian, M., Alami, A., Momeniyan, V., Delshad Noghabi, A., & Jafari, A. (2021). Investigating the status of marital burnout and related factors in married women referred to health centers. BMC women's health, 21, 1-9.
Paramartha, I. M. A., & Mahadewi, K. J. (2023). Perspektif Hukum Perkawinan pada Gelahang di Bali. Jurnal Kewarganegaraan, 7(1), 964-972.
Pursika, I. N., Arini, N. W. (2012). Pada Gelahang: Suatu Perkawinan Alternatif Dalam Mendobrak Kekuatan Budaya Patriarki Di Bali. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 1(2).
Puspitasari, N. P. E. Y., & Lestari, M. D. (2019). Penyesuaian diri pasangan dengan perkawinan Pada Gelahang di masyarakat Hindu Bali. Jurnal Psikologi Udayana, 186-200.
Raymo, J. M., Park, H., Xie, Y., & Yeung, W. J. J. (2015). Marriage and family in East Asia: Continuity and change. Annual review of sociology, 41(1), 471-492.
Sanjiwani, A. A. S., & Valentina, T. D. (2017). Kepuasan perkawinan pasangan pada Gelahang. Jurnal Psikologi Udayana, 4(1), 198-207.
Sudiana, N. P. A. T. R., & Susilawati, L. K. P. A. (2018). Dukungan Sosial pada Pasangan Pada Gelahang. Jurnal Psikologi Udayana, 5(2), 331.
Uecker, J. E. (2012). Marriage and mental health among young adults. Journal of health and social behavior, 53(1), 67-83.
Windia, W. P. (2018). Pernikahan ‘Pada Gelahang.’. Jurnal Bali Membangun Bali, 1(3), 219-226.
Zhang, Q., & Li, Z. (2023). Perceived Marriage Squeeze and Subjective Well-Being Among Unmarried Rural Men in China: The Mediating Role of Sense of Coherence. American Journal of Men's Health, 17(1), 15579883231157975.













