IMPLIKASI UANG JAPUIK DALAM KEHARMONISAN BERUMAH TANGGA
DOI:
https://doi.org/10.51878/cendekia.v6i2.9345Keywords:
Uang Japuik, Keharmonisan Rumah Tangga, Perceraian, Padang PariamanAbstract
The tradition of Uang Japuik in Padang Pariaman is philosophically a form of respect for the groom within the matrilineal system. However, contemporary phenomena indicate a shift in the meaning of this tradition into an instrument of social prestige, triggering economic and psychosocial burdens for the bride's family. This study aims to analyze the implications of the shifting meaning of the Uang Japuik tradition on marital harmony amidst the high divorce rates in the region. The method used is descriptive qualitative with a literature study approach, synthesizing sociocultural literature and statistical data from the Pariaman Religious Court. The results show that high nominal expectations based on social status often become a source of internal conflict and a trigger for post-marital disharmony. Statistical trends over the last five years (2019-2023) recorded a total of 5,483 divorce cases at the Pariaman Religious Court, where continuous disputes were the dominant factor. The conclusion of this study emphasizes that to realize a harmonious family (sakinah) in accordance with the mandate of Law Number 1 of 1974, a renegotiation of the meaning of Uang Japuik is required to return it to its original function as a symbol of appreciation and strengthening kinship, rather than a financial burden that undermines domestic stability.
ABSTRAK
Tradisi Uang Japuik di Padang Pariaman secara filosofis merupakan bentuk penghormatan terhadap mempelai laki-laki dalam sistem matrilineal. Namun, fenomena kontemporer menunjukkan adanya pergeseran makna tradisi ini menjadi instrumen prestise sosial yang memicu beban ekonomi dan psikososial bagi keluarga perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implikasi pergeseran makna tradisi Uang Japuik terhadap keharmonisan rumah tangga di tengah tingginya angka perceraian di wilayah tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, menyintesis literatur sosiokultural serta data statistik dari Pengadilan Agama Pariaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspektasi nominal yang tinggi berdasarkan status sosial sering kali menjadi sumber konflik internal dan pemicu ketidakharmonisan pasangan pasca-pernikahan. Data tren lima tahun terakhir (2019-2023) mencatat total 5.483 kasus perceraian di PA Pariaman, di mana perselisihan terus-menerus menjadi faktor dominan. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa untuk mewujudkan keluarga yang sakinah sesuai amanat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, diperlukan renegosiasi pemaknaan Uang Japuik agar kembali pada fungsi asalnya sebagai simbol penghargaan dan penguat kekerabatan, bukan beban finansial yang mencederai stabilitas domestik.
Downloads
References
Afdhal, A. (2023). An examination of traditional customs in Minangkabau leadership tradition: Continuity and changes in the modern era. Publicus: Jurnal Administrasi Publik, 1(2), 119–134. https://doi.org/10.30598/publicusvol1iss2p119-134
Anugerahayu, A. A., & S, N. P. (2025). Penyuluhan hukum: Pencegahan pernikahan usia dini menyiapkan generasi emas di Desa Penujak, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Community: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 5(2), 375–384. https://doi.org/10.51878/community.v5i2.7167
D, L. P. T., & Setiawan, M. R. (2025). Serial hukum keluarga: Perlindungan perempuan terhadap perkawinan dini dan implikasi harta kekayaan pasca perceraian. Community: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 5(2), 507–516. https://doi.org/10.51878/community.v5i2.7023
Dari, I. W., Agustina, L., Saragih, P. N. B., Saputri, F., & Syafrini, D. (2025). Makna tradisi uang japuik di Padang Pariaman. Social Empirical, 2(1), 10–18. https://doi.org/10.24036/scemp.v2i1.97
Erman, E., Meria, A., Doni, S., & Hakim, L. (2020). Media massa dan wacana pemikiran Islam: Analisis surat kabar Islam-Komunis di Minangkabau. Tsaqafah, 16(2), 245–266. https://doi.org/10.21111/tsaqafah.v16i2.4866
Gusriani, A., Yuniarti, L., & Yanti, P. (2025). Psycho-indigenous tradisi uang japuik dalam pernikahan budaya Pariaman. eScience Humanity Journal, 6(1), 63–70. https://idebahasa.or.id/escience/index.php/home/article/view/316
Hak, N., Yusdani, Y., & Arfaizar, J. (2022). Pergeseran makna esensi pernikahan di Kecamatan Pedamaran Kabupaten Ogan Komering Ilir Provinsi Sumatera Selatan – Studi kasus sosiologi hukum keluarga. Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial, 16(2), 169–182. https://doi.org/10.56997/almabsut.v16i2.686
Hariyanto, D., & Difa, M. F. A. (2021). Communication of opinion leader in commodifying contract marriage in siri marriage village in Pasuruan. Kanal: Jurnal Ilmu Komunikasi, 10(1), 28–35. https://doi.org/10.21070/kanal.v9i3.1574
Indriani, D. A., Yuliatin, Y., Alqadri, B., & Atsar, A. (2025). Faktor penyebab dan dampak terjadinya pernikahan usia anak di Dusun Ekas Desa Ekas Buana Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur. Social: Jurnal Inovasi Pendidikan IPS, 5(1), 118–127. https://doi.org/10.51878/social.v5i1.4655
Januari, N. (2023). Menggali akar masalah: Analisis kasus perceraian di Indonesia. Akademik: Jurnal Mahasiswa Humanis, 3(3), 120–128. https://doi.org/10.37481/jmh.v3i3.613
Karimullah, S. S. (2021). Urgensi pendidikan pra nikah dalam membangun keluarga sejahtera perspektif Khoiruddin Nasution. Kariman: Jurnal Pendidikan Keislaman, 9(2), 229–246. https://doi.org/10.52185/kariman.v9i2.184
Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor 172 Tahun 2022 tentang Petunjuk Teknis Bimbingan Perkawinan Calon Pengantin. (2022). https://simbi.kemenag.go.id/pustaka/images/perpustakaan/file_dokumen/Kepdirjen_172_Tahun_2022_Bimwin.pdf
Khair, M. R., Tang, M., & Alwi, U. (2024). Peran tokoh agama dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam pada remaja di Desa Naru Barat Kecamatan Sape Kabupaten Bima. Learning: Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran, 4(3), 711–720. https://doi.org/10.51878/learning.v4i3.3188
Leliya, L., Nursyamsudin, N., & Mujahidin, M. (2022). Pemberdayaan masyarakat Desa Keraton terhadap kursus pra nikah bagi calon pengantin dalam mewujudkan keluarga sakinah dan sejahtera. Mahkamah: Jurnal Kajian Hukum Islam, 7(2), 181–192. https://doi.org/10.24235/mahkamah.v7i2.11549
Lestari, S. (2020). Psikologi keluarga: Penanaman nilai dan penanganan konflik dalam keluarga (Ed. ke-2). Kencana.
Madhatillah, D. P., Saifullah, S., & Adynata, A. (2024). Tradisi bajapuik dalam perkawinan adat Minangkabau di Padang Pariaman Sumatera Barat. Nusantara: Journal for Southeast Asian Islamic Studies, 19(2), 69–80. https://doi.org/10.24014/nusantara.v19i2.28321
Mardhiah, H., & Hidayat, M. (2023). Fungsi tradisi bajapuik pada orang Pariaman. Culture & Society: Journal of Anthropological Research, 5(2), 114–122. https://doi.org/10.24036/csjar.v5i2.144
Nadira, N., Kurniati, Y., & Sari, W. J. (2023). Penerapan tradisi uang japuik dalam perkawinan di Kecamatan VII Koto Padang Pariaman dalam perspektif hukum Islam. Jurnal Kebaruan, 1(1), 113–125. http://paramarta.web.id/index.php/jurnalkebaruan/article/view/330
Ningsih, D. P., & Rahmadi, D. S. (2020). Dampak pernikahan dini di Desa Keruak Kecamatan Keruak Kabupaten Lombok Timur. Jurnal Ilmiah Mandala Education, 6(2), 187–195. https://doi.org/10.58258/jime.v6i2.1452
Nuroniyah, W., & Maula, B. S. (2022). Muslim women adhering to Minangkabau’s bajapuik tradition in Cirebon, West Java: Compromizing a gendered culture in Islamic law. Ijtihad: Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan, 22(2), 135–154. https://doi.org/10.18326/ijtihad.v22i2.135-154
Pabbajah, M., Hannani, H., Pabbajah, T. H., & Deraman, D. (2022). Beragama di ruang digital: Pergeseran orientasi dari pemahaman agama ke spirit beragama. Dialektika, 15(2), 1–15. https://doi.org/10.33477/da.v15i2.4028
Pengadilan Agama Pariaman. (2023). Laporan tahunan statistik perkara tahun 2019-2023. PA Pariaman. https://www.pa-pariaman.go.id/informasi-umum/laporan-tahunan
Pitrotussaadah, P. (2022). Konseling pranikah untuk membentuk keluarga sakinah dan menekan angka perceraian. Jurnal Perspektif, 6(1), 25–34. https://doi.org/10.15575/jp.v6i1.164
Raden, A. N. F. A., Fariska, A. F., & Mariana, M. (2021). Peralihan cara pandang masyarakat terhadap praktik pernikahan dini. Adliya: Jurnal Hukum dan Kemanusiaan, 15(2), 47–62. https://doi.org/10.15575/adliya.v15i2.13778
Rahmadiah, N. (2023). Dialektika hukum Islam dan hukum adat terkait uang japuik dalam perkawinan masyarakat adat Padang Pariaman Sumatera Barat [Tesis, UIN Sunan Kalijaga]. Digital Library UIN Sunan Kalijaga. http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/63445
Ramdesta, A., Syahrizal, S., & Anwar, H. (2023). Negosiasi budaya pada amalgamasi (Studi kasus suku bangsa Bugis dengan Minangkabau di Kelurahan Tagaraja). Sosial Budaya, 20(2), 208–220. https://doi.org/10.24014/sb.v20i2.25863
Renic, G. Y., Syarif, D., & Kurniasari, D. (2022). Commodification and shifting of functions in the tradition of ngadatangkeun in Sundanese society. Temali: Jurnal Pembangunan Sosial, 5(2), 141–152. https://doi.org/10.15575/jt.v5i2.20455
Samud, S., Jamhuri, A., & Syafrudin, S. (2022). Penerapan Peraturan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam No: DJ.II/542 Tahun 2013 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kursus Pra Nikah di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Talun Kabupaten Cirebon. Inklusif: Jurnal Pengkajian Penelitian Ekonomi dan Hukum Islam, 7(1), 30–45. https://doi.org/10.24235/inklusif.v7i1.10876
Shanputra, G. A. A., Ladapase, E. M., & Gaharpung, M. M. H. (2025). Pemberian konseling dengan pendekatan client centered therapy pada kasus pernikahan usia dini di Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak di Kabupaten Sikka. Community: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 5(1), 149–158. https://doi.org/10.51878/community.v5i1.6206
Sururie, R. W., Athoillah, M., & Ulhaq, M. I. Z. (2023). Strategies to prevent increasing divorce rates for Muslim families in Indonesia. Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam, 7(2), 734–752. https://doi.org/10.22373/sjhk.v7i2.14819
Syarifuddin, S., Asmi, A. R., & Susanti, H. (2022). Pergeseran tata cara pelaksanaan adat pernikahan di Palembang 1990-2010. Mozaik Humaniora, 21(2), 239–250. https://doi.org/10.20473/mozaik.v21i2.22816
Tiswarni, T. (2015). Urgensi kelompok sadar hukum bagi wanita single parent: Pengalaman pengabdian masyarakat di Pesisir Selatan Sumatera Barat. Kafa`ah: Journal of Gender Studies, 4(2), 219–232. https://doi.org/10.15548/jk.v4i2.103
Tumarjio, A. E., & Sukadari, S. (2025). Pengaruh lingkungan sosial budaya, gaya hidup, dan media sosial terhadap perilaku sosial pada mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta. Social: Jurnal Inovasi Pendidikan IPS, 5(4), 1421–1432. https://doi.org/10.51878/social.v5i4.8034
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. (1974). https://peraturan.bpk.go.id/Details/47034/UU-No-1-Tahun-1974















