REKONSTRUKSI HAK KONSTITUSIONAL MASYARAKAT ADAT ATAS WILAYAH KELOLA RAKYAT DALAM PARADIGMA UU CIPTA KERJA: DIALEKTIKA INVESTASI DAN KEDAULATAN RUANG HIDUP
DOI:
https://doi.org/10.51878/cendekia.v6i3.10444Keywords:
Masyarakat Hukum Adat, UU Cipta Kerja, Putusan MK No. 35/2012Abstract
This study analyzes the tension between accelerated investment through National Strategic Projects (PSN) in Law Number 6 of 2023 (the Job Creation Law) and the constitutional rights of indigenous peoples (MHA). Following Constitutional Court Decision No. 35/PUU-X/2012, customary forests have been normatively separated from state forests. However, the Job Creation Law introduces a centralized risk-based licensing and land acquisition mechanism that has the potential to marginalize local living space sovereignty. Using a juridical-normative research method through legislative and conceptual approaches, this study finds normative inconsistencies between the spirit of constitutional recognition and administrative formalism in the derivative regulations of the Omnibus Law. The study recommends legal reconstruction through the adoption of substantive Free, Prior, and Informed Consent (FPIC) principles and the zoning of indigenous territories (Red, Yellow, and Green Zones) to balance national development interests with the protection of traditional rights. A paradigm shift from state-centric to community-based protection is essential to avoid the escalation of structural agrarian conflicts.
ABSTRAK
Penelitian ini menganalisis ketegangan antara percepatan investasi melalui Proyek Strategis Nasional (PSN) dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 (UU Cipta Kerja) dengan hak konstitusional masyarakat hukum adat (MHA). Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi No. 35/PUU-X/2012, status hutan adat secara normatif telah dipisahkan dari hutan negara. Namun, UU Cipta Kerja memperkenalkan mekanisme sentralisasi perizinan berbasis risiko dan pengadaan tanah yang berpotensi memarginalkan kedaulatan ruang hidup lokal. Dengan menggunakan metode penelitian yuridis-normatif melalui pendekatan perundang-undangan dan konseptual, penelitian ini menemukan adanya inkonsistensi normatif, antara semangat pengakuan konstitusional dengan formalisme administratif dalam regulasi turunan Omnibus Law. Hasil penelitian merekomendasikan rekonstruksi hukum melalui pengadopsian prinsip Free, Prior and Informed Consent (FPIC) yang substantif dan pembagian zonasi wilayah adat (Zona Merah, Kuning, Hijau) untuk menyeimbangkan kepentingan pembangunan nasional dengan perlindungan hak tradisional. Transformasi paradigma dari state-centric menuju community-based protection menjadi prasyarat mutlak guna menghindari eskalasi konflik agraria struktural.
Downloads
References
Adnyani, N. K. S., Pradana, G. Y. K., & Sudantra, I. K. (2021). Four conditions for recognition of traditional society in the constitution and state revenue income. Journal of Indonesian Legal Studies, 6(2), 307–332. https://doi.org/10.15294/jils.v6i2.48044
Amar, K. (2025). Penerapan asas in dubio pro natura dalam sengketa tata usaha negara bidang lingkungan hidup. Artikel Ilmiah Hakim PTUN Ambon. https://ptun-ambon.go.id/artikel/penerapan-asas-in-dubio-pro-natura
Ayu, N., Ilmi, A., Evandy, M., Nurdin, & Jumaynah, F. (2026). Relasi kuasa negara dan masyarakat adat dalam konflik agraria Mesuji. Pubmedia Social Sciences and Humanities, 3(3), 10–10. https://doi.org/10.47134/pssh.v3i3.542
Bakue, M. S. (2019). Analisis putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012 tentang kehutanan [Skripsi, Universitas Negeri Gorontalo]. Repository UNG. http://repository.ung.ac.id/skripsi/show/241141154/analisis-putusan-mahkamah-konstitusi-nomor-35-puu-x-2012-tentang-kehutanan.html
Bustam, M. R. (2021). Peran lembaga swadaya masyarakat dalam penetapan Taman Nasional Lore Lindu: Studi Yayasan Tanah Merdeka dalam memperjuangkan hak masyarakat Katu. Journal of Social Development Studies, 2(1), 52–66. https://doi.org/10.22146/jsds.1358
Christmas, S. K., & Hardiyanti, M. (2020). Implementasi pengakuan dan penghormatan terhadap masyarakat hukum adat Dayak Iban Semunying dan kaitannya dalam Sustainable Development Goals. Jurnal Meta Yuridis, 3(2), 1–16. https://doi.org/10.26877/jm-y.v3i2.5739
Fadilla, A. N., dkk. (2024). Pengakuan dan perlindungan hak ulayat dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Jurnal Hukum, 12(8), 1965–1978. https://doi.org/10.36417/jh.v12i8.1022
Fariz, T., & Kodiyat, B. A. (2023). Perlindungan hukum hak masyarakat adat atas tanah ulayat pasca Undang-Undang Cipta Kerja. EduYustisia: Jurnal Hukum dan Peradilan, 1(3), 36–42. https://doi.org/10.51749/eduyustisia.v1i3.88
Firnaherera, V. A., & Lazuardi, A. (2022). Pembangunan Ibu Kota Nusantara: Antisipasi persoalan pertanahan masyarakat hukum adat. Jurnal Studi Kebijakan Publik, 1(1), 71–84. https://doi.org/10.21787/jskp.1.2022.71-84
Herwansyah, H. (2025). Analisis dampak kehadiran Hak Pengelolaan (HPL) bagi tanah ulayat masyarakat adat pasca disahkannya UU Cipta Kerja. Jurnal Fundamental Justice, 6(2), 165–176. https://doi.org/10.30812/jfj.v6i2.4210
ICEL. (2023). Amici curiae brief: Judicial review UU Cipta Kerja cluster proyek strategis nasional. Indonesian Center for Environmental Law. https://icel.or.id/publikasi/amici-curiae-uu-cipta-kerja-psn/
Ilyasa, R. M. A. (2020). Prinsip pembangunan infrastruktur yang berlandaskan HAM terhadap eksistensi masyarakat hukum adat di Indonesia. SASI, 26(3), 380–380. https://doi.org/10.47268/sasi.v26i3.296
Julianova, T., Flambonita, S., & Apriyani, L. (2025). Penerapan meaningful participation dalam pembentukan UU No. 6 Tahun 2023 [Skripsi, Universitas Sriwijaya]. Repository UNSRI. http://repository.unsri.ac.id/14521/
Kadir, M. I., & Hippy, J. (2025). Hutan adat pasca putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012. Arus Jurnal Sosial dan Humaniora, 5(1), 828–837. https://doi.org/10.57250/ajsh.v5i1.1001
Kristiani, V. (2020). Hukum yang berkeadilan bagi hak ulayat masyarakat hukum adat (kajian dan implementasi). ADIL: Jurnal Hukum, 11(1). https://doi.org/10.33476/ajl.v11i1.1449
Lambu, A. M. (2025). Dilema hukum dan keadilan: Kajian yuridis atas rencana penghapusan tanah adat di Indonesia Tahun 2026. Jurnal Hukum Lex Generalis, 6(3). https://doi.org/10.56370/jhlg.v6i3.892
Lubis, dkk. (2025). Integrasi hukum adat dalam sistem hukum agraria nasional: Tantangan dan solusi dalam pengakuan hak ulayat. Tunas Agraria, 8(2), 143–158. https://doi.org/10.31292/jta.v8i2.315
Mandala, M. H., Muryani, M. A., & Rofiq, M. K. (2025). The threat of green grabbing to indigenous peoples’ rights in the implementation of Law Number 32 of 2024. JUSTISI, 11(3), 874–888. https://doi.org/10.33506/js.v11i3.4601
Muthmainnah, L., Mustansyir, R., & Tjahyadi, S. (2020). Kapitalisme, krisis ekologi, dan keadilan inter-generasi: Analisis kritis atas problem pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia. MOZAIK HUMANIORA, 20(1), 57–57. https://doi.org/10.20473/mozaik.v20i1.15754
Nabil, M. M., Salim, Z. Q., Pramesthi, A. N., & Tinambunan, I. P. (2025). Analisis ketiadaan kepastian hukum bagi masyarakat adat dalam proyek strategis nasional guna mendorong revisi kebijakan pembangunan nasional berdasarkan prinsip pluralisme hukum. Amandemen: Jurnal Hukum dan Kenegaraan, 2(3), 194–205. https://doi.org/10.62383/amandemen.v2i3.1060
Nugroho, A. W. (2021). Membaca arah perubahan tata kelola kehutanan pasca-terbitnya Undang-Undang Cipta Kerja. Jurnal Hukum Lingkungan Indonesia, 7(2), 280–305. https://doi.org/10.38011/jhli.v7i2.327
Nugroho, B. E. (2022). Perlindungan hak masyarakat adat dalam pemindahan ibukota negara. JISIP UNJA (Jurnal Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Jambi), 6(1), 83–97. https://doi.org/10.22437/jisipunja.v6i1.17417
Poro, S. M., Imron, A., & Shanty, W. Y. (2021). Perlindungan hukum hak tradisional masyarakat hukum adat terhadap tindakan individualisasi tanah ulayat untuk tujuan komersial. Bhirawa Law Journal, 2(1), 73–78. https://doi.org/10.26905/blj.v2i1.5857
Prastyo. (2022). Tata kelola partisipatif dalam pembentukan undang-undang. Jurnal Hukum dan Peradilan, 11(2), 257–278. https://doi.org/10.25216/jhp.11.2.2022.257-278
Pratama, D. M., Pratiwi, D., & Lestari, N. O. (2025). Konflik agraria dan keadilan ekologis: Tinjauan hukum atas hak masyarakat adat terhadap tanah ulayat. Indonesian Journal of Law and Justice, 3(2), 10–10. https://doi.org/10.47134/ijlj.v3i2.5248
Sari, R. M. (2021). Potensi perampasan wilayah masyarakat hukum adat dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Mulawarman Law Review, 6(1), 1–14. https://doi.org/10.30872/mulrev.v6i1.506
Setyawati, E., & Siswanto, R. (2020). Partisipasi perempuan dalam pengelolaan sampah yang bernilai ekonomi dan berbasis kearifan lokal. JAMBURA GEO EDUCATION JOURNAL, 1(2), 55–65. https://doi.org/10.34312/jgej.v1i2.6899
Shah, S. F., dkk. (2025). Eksistensi prinsip in dubio pro natura dalam penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran lingkungan hidup. Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik, 5(6), 5179–5193. https://doi.org/10.47233/jihhp.v5i6.1245















