ANALISIS BIO-HIDROLOGI UNTUK PENGENDALIAN MUKA AIR TANAH DI LAHAN RAWA KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA
DOI:
https://doi.org/10.51878/vocational.v7i1.16389Keywords:
Muka Air Tanah, Hidro-Kimia, Lahan Rawa, Lapisan Pirit, HAFSIM, Hulu Sungai Utara.Abstract
The wetland areas of Hulu Sungai Utara Regency are predominantly composed of backswamp and floodplain ecosystems that function under natural drainage without mechanical control structures. Uncontrolled drainage management risks depressing the shallow groundwater table below the pyritic layer (〖"FeS" 〗_2), which accelerates pyrite oxidation and triggers severe land degradation. This study aims to evaluate the interrelationships among groundwater table depth, pyritic layer depth, redox potential (E_h), soil acidity (pH), and electrical conductivity (EC) to formulate open-channel water management in North Amuntai and South Amuntai Districts. Field surveys and laboratory assessments were performed across 12 representative sampling points using the Hydrological Assessment Framework for Swamp Irrigation Management (HAFSIM). The findings reveal that the pyritic horizon is situated at depths of 40–100 cm, groundwater table depths fluctuate between 15–55 cm, soil E_h values range from +110 to +340 mV, pH levels vary from 4.5 to 5.8, and EC values remain within 0.08–0.18 mS/cm, confirming a non-saline freshwater regime. Weighted evaluations produced a composite score of 0.78 categorized as Undamaged, supporting civil-engineering recommendations to restrict drainage excavation depths above the pyrite layer and construct passive check structures (tabat) to sustain water levels during dry transitions.
ABSTRAK
Kawasan lahan rawa di Kabupaten Hulu Sungai Utara didominasi oleh ekosistem rawa lebak dan dataran banjir (floodplain) yang mengandalkan sistem drainase alami tanpa pintu air pengatur mekanis. Pengelolaan tata air yang tidak berbasis pada data hidro-kimia berisiko menurunkan muka air tanah (MAT) dangkal di bawah elevasi lapisan pirit (〖"FeS" 〗_2), sehingga memicu terjadinya oksidasi pirit dan degradasi produktivitas lahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan kedalaman MAT, lapisan pirit, potensial redoks (E_h), derajat keasaman (pH), dan daya hantar listrik (DHL) sebagai dasar penataan sistem tata air saluran terbuka di Kecamatan Amuntai Utara dan Amuntai Selatan. Pengujian dilakukan melalui survei lapangan dan analisis laboratorium pada 12 titik sampel representatif dengan menerapkan kerangka kerja Hydrological Assessment Framework for Swamp Irrigation Management (HAFSIM). Hasil penelitian menunjukkan lapisan pirit berada pada kedalaman 40–100 cm dengan posisi MAT berkisar antara 15–55 cm dari permukaan tanah, nilai E_h berkisar antara +110 mV hingga +340 mV, pH berkisar antara 4,5 hingga 5,8, serta nilai DHL sebesar 0,08–0,18 mS/cm yang mencerminkan tipologi air tawar non-salin. Evaluasi pembobotan menghasilkan skor komposit 0,78 dengan status lahan tergolong Tidak Rusak, sehingga rekomendasi rekayasa tata air difokuskan pada pembatasan kedalaman galian saluran agar tidak memotong pirit serta pemasangan sekat retensi pasif (tabat) pada akhir musim hujan.
Downloads
References
Ak, A. T., & Novitarini, E. (2020). Kajian usahatani padi di lahan pasang surut dan penerapan teknologi tepat guna di Desa Banyuurip Kecamatan Tanjung Lago Kabupaten Banyuasin. Jurnal Agribis, 13(2). https://doi.org/10.36085/agribis.v13i2.835
Arifin, A. (2026). Analisis neraca air pada periode kritis musim tanam padi untuk menilai keandalan sistem irigasi rawa lebak (Studi kasus: Daerah irigasi rawa Ampukung, Kabupaten Tabalong). Vocational: Jurnal Inovasi Pendidikan Kejuruan, 6(2), 75–84. https://doi.org/10.51878/vocational.v6i2.9622
Badan Riset dan Inovasi Nasional. (2026, 30 April). Model bioindustri tanaman-itik tingkatkan produktivitas lahan rawa lebak. https://brin.go.id/berita/model-bioindustri-tanaman-itik
Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Hulu Sungai Utara. (2026). Laporan kajian kerusakan lahan untuk produksi biomassa di Amuntai Selatan dan Amuntai Utara. Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Hairani, A., & Noor, M. (2014). Pengelolaan tata air lahan rawa pasang surut untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Jurnal Sumberdaya Lahan, 8(1), 59–68. https://doi.org/10.21082/jsdl.v8n1.2014.59-68
Hamdani, H., Santoso, D., & Rifiana, R. (2022). Economic value of environmental services of swamp land ecosystem: A case study in the Hulu Sungai Utara Regency, South Kalimantan. Tropical Wetlands Journal, 8(1), 1–15. https://doi.org/10.20527/twj.v8i1.109
Heryani, N., Kartiwa, B., Hamdani, A., & Sutrisno, N. (2020). Pengelolaan tanah dan air pada budidaya padi gogo dan palawija di bawah tegakan tanaman tahunan untuk meningkatkan produktivitas lahan. Jurnal Sumberdaya Lahan, 14(1), 1–14. https://doi.org/10.21082/jsdl.v14n1.2020.1-14
Noor, M. (2004). Lahan rawa: Sifat dan pengelolaan tanah bermasalah sulfat masam. PT RajaGrafindo Persada.
Page, S., Mishra, S., Agus, F., Anshari, G. Z., Dargie, G. C., Evers, S., Jauhiainen, J., Jaya, A., Jovani?Sancho, A. J., Laurén, A., Sjögersten, S., Ifo, S. A., Wijedasa, L. S., & Evans, C. (2022). Anthropogenic impacts on lowland tropical peatland biogeochemistry. Nature Reviews Earth & Environment, 3(7), 426–443. https://doi.org/10.1038/s43017-022-00289-6
Pemerintah Republik Indonesia. (2000). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 150 Tahun 2000 tentang Pengendalian Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa. Lembaran Negara RI Tahun 2000 Nomor 267.
Pramono, A. E., Sisno, S., & Sholichin, M. (2021). Study of water management development in Petung swamp areas at the province of East Kalimantan. Civil and Environmental Science, 4(2), 173–182. https://doi.org/10.21776/ub.civense.2021.00402.7
Prasetia, D., & Syaufina, L. (2020). Pengaruh tinggi muka air terhadap kejadian kebakaran hutan dan lahan gambut: Studi kasus di Kabupaten Musi Banyuasin. Jurnal Sylva Lestari, 8(2), 173–180. https://doi.org/10.23960/jsl28173-180
Rahmawati, L., Ashab, A., Abdillah, M. H., Iswahyudi, H., Lukmana, M., & Indayaty, A. (2025). Pengaruh pemberian abu boiler kelapa sawit terhadap pH, kadar air dan berat jenis tanah sulfat masam yang ditanami Mucuna bracteata. Ziraa'ah: Majalah Ilmiah Pertanian, 50(2), 393–401. https://doi.org/10.31602/zmip.v50i2.18430
Ramadhan, A. (2019). Analisis kesesuaian fungsi kawasan lahan basah di Kecamatan Sungai Pandan, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan (Tesis magister, Universitas Gadjah Mada).
Rasyid, S. A., Imanudin, M. S., Karimudin, Y., & Majid, A. M. S. A. (2021). Aplikasi pintu sorong di saluran tersier daerah reklamasi rawa pasang surut tipe luapan B untuk budidaya tanaman padi (Studi kasus Desa Mulyasari Banyuasin Sumatera Selatan). Jurnal Pertanian Terpadu, 3(1), 16–28.
Revina, S., Istiarto, I., & Pratiwi, E. P. A. (2023). Evaluation of irrigation network performance at the Anjir Serapat lowland irrigation area Central Kalimantan. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 1168(1), Article 012049. https://doi.org/10.1088/1755-1315/1168/1/012049
Riduan, R., & Candraqarina, W. (2020). Evaluasi elevasi lantai sekat kanal Gohong No. 9 dalam menaikan muka air tanah menggunakan pemodelan aliran air tanah. Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan), 6(2). https://doi.org/10.20527/jukung.v6i2.9263
Sekretariat Daerah Kabupaten Hulu Sungai Utara. (2026, 8 September). Tingkatkan produktivitas pertanian, Pemkab HSU dan BRIN susun strategi optimalisasi lahan rawa. https://hsukab.go.id/berita/optimalisasi-lahan-rawa
Subagyono, K., & Suriadikarta, D. A. (2006). Pengelolaan lahan sulfat masam untuk pertanian. Jurnal Litbang Pertanian, 25(4), 139–145.
Sulaiman, A., Osaki, M., Takahashi, H., Yamanaka, M. D., Susanto, R. D., Shimada, S., Kimura, K., Hirano, T., Wetadewi, R. I., Silsigia, S., Kato, T., Kozan, O., Kubo, H., Awaluddin, A., & Tsuji, N. (2023). Peatland groundwater level in the Indonesian maritime continent as an alert for El Niño and moderate positive Indian Ocean dipole events. Scientific Reports, 13(1), Article 939. https://doi.org/10.1038/s41598-023-27393-x
Syarifudin, A. (2022). Pengaruh pintu klep di saluran daerah pasang surut terhadap besarnya pergerakkan sedimen. Jurnal Teknik Sipil, 11(2), 45–49. https://doi.org/10.36546/tekniksipil.v11i2.515
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia & Asosiasi Pengelola Perhutanan Sosial Indonesia. (2026, 20 April). Urgensi kebijakan perlindungan hutan, ekosistem esensial rawa gambut dan upaya mitigasi perubahan iklim di Kabupaten Hulu Sungai Utara (Policy Brief). WALHI Kalimantan Selatan.
Wildayana, E., & Armanto, M. E. (2018). Formulating master plan of tidal wetlands based on hydro-topography in Delta Telang, South Sumatra, Indonesia. Journal of Wetlands Environmental Management, 6(2), 74–86. https://doi.org/10.20527/jwem.v6i2.174
Yuono, A., Putranto, D. D. A., & Tukirun, S. (2020). Effect of land use changes of upstream Komering sub watershed on declining water availability. Journal of Ecological Engineering, 21(2), 126–130. https://doi.org/10.12911/22998993/116331
Zelvi, Z., Istiarto, I., & Waluyati, L. R. (2022). Current condition in lowland irrigation area Tahai: Challenges and solutions. Dalam Advances in Biological Sciences Research (hlm. 147–156). Atlantis Press. https://doi.org/10.2991/978-94-6463-086-2_16









