REPRESENTASI KEBAHAGIAAN DAN OBSESI CINTA DALAM PUISI PEMUJA KARYA MELINDA WAHYU GIANTI: ANALISIS PSIKOLOGI SASTRA
DOI:
https://doi.org/10.51878/academia.v6i2.11373Keywords:
Kebahagiaan, Obsesi Cinta, Psikoanalisis, Semiotik, HermeneuticAbstract
The poem “Pemuja” by Melinda Wahyu Gianti represents the psychological complexity of human emotions in confronting happiness and love obsession. This study aims to reveal the symbolic meaning of happiness and love obsession through a qualitative approach using semiotic and hermeneutic methods based on Sigmund Freud’s psychoanalytic theory. Data were obtained from the poem text and analyzed by interpreting signs, symbols, and the mental structure of the lyrical persona. The findings show that the happiness expressed in the lines “Rona merona wajah memesona” and “Tawa memecah suasana” reflects external joy controlled by the ego to channel the impulses of the id. Meanwhile, the obsession with love appears in “Kekasih bilang akan datang ke pelaminan” and “Tak mau pinta untuk datang ke perpisahan”, indicating an excessive desire for emotional possession. The conflict among the id, ego, and superego forms the inner tension of the persona in balancing personal desire and social norms. Thus, the poem illustrates that genuine happiness and love are not solely derived from emotional satisfaction but from moral awareness and self-control. This study reinforces the notion that literature serves as a xreflection of the human psyche, containing profound psychological meanings.
ABSTRAK
Puisi Pemuja karya Melinda Wahyu Gianti merepresentasikan kompleksitas psikologis manusia dalam menghadapi kebahagiaan dan obsesi cinta. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolik kebahagiaan dan obsesi cinta dalam puisi tersebut melalui pendekatan kualitatif dengan metode semiotik dan hermeneutik yang berpijak pada teori psikoanalisis Sigmund Freud. Data diperoleh dari teks puisi yang dianalisis dengan menafsirkan tanda-tanda, simbol, serta struktur kejiwaan tokoh lirik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebahagiaan yang tampak pada larik “Rona merona wajah memesona” dan “Tawa memecah suasana” merupakan bentuk ekspresi lahiriah yang dikendalikan oleh ego untuk menyalurkan dorongan id. Sementara itu, obsesi cinta muncul pada larik “Kekasih bilang akan datang ke pelaminan” dan “Tak mau pinta untuk datang ke perpisahan” yang memperlihatkan hasrat kepemilikan berlebihan terhadap objek cinta. Konflik antara id, ego, dan superego menjadi dasar terbentuknya ketegangan batin tokoh lirik dalam menyeimbangkan hasrat pribadi dan norma sosial. Dengan demikian, puisi ini menggambarkan bahwa kebahagiaan dan cinta sejati tidak hanya berakar pada pemenuhan emosi, tetapi juga pada kesadaran moral dan pengendalian diri. Hasil penelitian ini mempertegas bahwa karya sastra merupakan cermin kejiwaan manusia yang menyimpan makna psikologis mendalam.
Downloads
References
Asaniah, A., & Nida, N. (2024). Psychoanalytic dynamics in the poem Ajmalu Al-Hubb by Mahmoud Darwish from the perspective of Sigmund Freud. Muaddib: Journal of Arabic Language and Literature, 1(1), 38–49. https://doi.org/10.51190/muaddib.v01i01.16
Ayuparaswati, I., & Amalia, N. (2023). Kajian psikologis tokoh utama dalam film Dua Garis Biru karya Gina S. Noer. Asas: Jurnal Sastra, 12(1), 27–35. https://doi.org/10.24114/ajs.v12i1.42212
Azizah, B. N., Saskia, N. L., & Nashrullah, N. (2023). Analisis puisi Uhibbuki Jiddan karya Nizar Qabbani: Kajian psikoanalisa Sigmund Freud. Afshaha: Jurnal Bahasa Dan Sastra Arab, 2(2), 128–146. https://doi.org/10.18860/afshaha.v2i2.19655
Buana, D. R. (2020). Analisis perilaku masyarakat Indonesia dalam menghadapi pandemi virus corona (Covid-19) dan kiat menjaga kesejahteraan jiwa. SALAM: Jurnal Sosial Dan Budaya Syar-i, 7(3), 191–208. https://doi.org/10.15408/sjsbs.v7i3.15082
Ernawati, E. (2020). Psikologis dalam seni: Katarsis sebagai representasi dalam karya seni rupa. Deskovi: Art and Design Journal, 2(2), 105–112. https://doi.org/10.51840/deskovi.v2i2.521
Habsy, B. A., Mufidha, N., Shelomita, C., Rahayu, I., & Muckorobin, M. I. (2023). Filsafat dasar dalam konseling psikoanalisis: Studi literatur. Indonesian Journal of Educational Counseling, 7(2), 189–199. https://doi.org/10.30653/001.202372.266
Helminiak, D. A. (2023). A comprehensive theory of spirituality: Humanistic, theist, and theotic. Khazanah Theologia, 5(2), 131–144. https://doi.org/10.15575/kt.v5i2.21587
Idzha, G. N. (2024). Mekanisme pertahanan ego pada anak jalanan. Cognicia, 1(1), 45–54. https://doi.org/10.22219/cognicia.v1i1.1448
Irving, B., Kavanagh, C., Fischer, R., & Yuki, M. (2024). Dance for the dead: The role of top-down beliefs for social cohesion and anxiety management in naturally occurring collective rituals. PLoS ONE, 19(3), Artikel e0291655. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0291655
Nugroho, A. T., Yuningsih, C. R., & Wiguna, I. P. (2025). Katarsis sebagai ide penciptaan karya seni lukis surealis dengan menggunakan teknik otomatisme. Kalatanda: Jurnal Desain Grafis Dan Media Kreatif, 7(2), 115–124. https://doi.org/10.25124/kalatanda.v7i2.9971
Octavia, V., & Fauziah, M. (2024). Spiritual resilience as immunity to stress during COVID-19 pandemic: A sociological perspective. JISPO: Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 13(1), 61–82. https://doi.org/10.15575/jispo.v13i1.23725
Palupi, A. S., & Nugroho, A. (2022). Perbandingan penggunaan gaya bahasa pada puisi Gurauan Senja karya Wahyuwiji Astuti dengan puisi Perjamuan Malam karya Joko Pinurbo. Kalangwan: Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa Dan Sastra, 12(1), 103–108. https://doi.org/10.25078/kalangwan.v12i1.784
Primanda, A. (2023). Katarsis dalam kumpulan karya Mufti Priyanka di pameran “Selama ini dan Begitu Adanya.” JIIP: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 6(3), 2133–2137. https://doi.org/10.54371/jiip.v6i3.1908
Qadriani, N., Hidi, A. J., Sari, M., Daut, S. P. M., Pangestu, V. R., & Suryati, N. (2023). “Menjadi Yang Lain” sebuah pertahanan identitas dalam cerpen Ratu Kecantikan karya Danthy Margareth. Jurnal Onoma: Pendidikan Bahasa Dan Sastra, 9(2), 1457–1468. https://doi.org/10.30605/onoma.v9i2.2829
Rabi, F., Ahmad, D., Hussain, A., & Ullah, W. (2025). The conflict between personal integrity and societal expectations: A psychoanalytic analysis of Mere Pass Tum Ho. The Critical Review of Social Sciences Studies, 3(1), 1816–1830. https://doi.org/10.59075/nvxg6x86
Rahariyoso, D., & Azzahra, L. S. (2022). Analisis transformasi metafora ‘kucing anggora’, ‘naga’, dan ‘cinta’ dalam kumpulan puisi esai Roti Untuk Hati karya Denny J.A menggunakan kajian metafora Paul Ricoeur. CrossOver, 2(2), 48–66. https://doi.org/10.22515/crossover.v2i2.5623
Rerung, A. E. (2022). Bunuh diri bukan kehendak bebas perspektif neurosains dan psikoanalisis Sigmund Freud. Danum Pambelum: Jurnal Teologi Dan Musik Gereja, 2(1), 45–59. https://doi.org/10.54170/dp.v2i1.76
Rochim, A. I. (2025). Sebelum adanya kamu: Analisis struktur, makna, dan romantisisme dalam puisi Agustina E. Sianipar. Tanda, 5(2), 1–12. https://doi.org/10.69957/tanda.v5i02.2066
Salsabila, E. Z. R., & Khoiriyasdien, A. D. (2026). Resiliensi istri pertama yang menjalani kehidupan poligami. PAEDAGOGY: Jurnal Ilmu Pendidikan Dan Psikologi, 6(2), 888–899. https://doi.org/10.51878/paedagogy.v6i2.8783
Saputro, A. (2025). Antologi puisi bentuk-bentuk suara. Neliti. https://www.neliti.com/publications/650926/antologi-puisi-bentuk-bentuk-suara
Siavash, T. (2025a). Healing limerence: An integrative model for treating obsessive love through attachment repair and somatic regulation. Zenodo. https://doi.org/10.5281/zenodo.17527298
Siavash, T. (2025b). Attachment loops and limerence: A theoretical integration of early attachment patterns and adult obsessive love. Zenodo. https://doi.org/10.5281/zenodo.17527122
Simon, A. S. (2022). Psikoanalisis pada sajak Khada’uha karya Ahmad Syauqi (Kajian psikologi sastra). Borneo Journal of Language and Education, 2(1), 84–99. https://doi.org/10.21093/benjole.v2i1.6147
Subawa, N. S., Baykal, E., Basmantra, I. N., Mimaki, C. A., & Yorulmaz, H. (2024). A cross-cultural analysis of spiritual transcendence and its impact on job satisfaction, job security, and life satisfaction in Bali and Türkiye: Mediator effect of earthquake anxiety. Frontiers in Psychology, 15, Artikel 1402685. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2024.1402685
Sutherland, K. (2022). Divine madness: On the aetiology of romantic obsession. Journal of Consciousness Studies, 29(1), 79–112. https://doi.org/10.53765/20512201.29.1.079
Topino, E., Cacioppo, M., Dell’Amico, S., & Gori, A. (2024). Risk Factors for love addiction in a sample of young adult students: A multiple mediation model exploring the role of adult attachment, separation anxiety, and defense mechanisms. Behavioral Sciences, 14(12), Artikel 1222. https://doi.org/10.3390/bs14121222
Ulinsa, U., Golontalo, D., & Syahrul, N. (2022). Representasi nilai estetis dalam syair Karambangan Suku Pamona (Aesthetic value representation in the Karambangan poem of the Pamona tribe). Indonesian Language Education and Literature, 7(2), 401–415. https://doi.org/10.24235/ileal.v7i2.9404
Wissang, I. O., Halla, N., Nggaruaka, T., & Wanaelo, A. (2021). Bahasa figuratif sebagai spirit solidaritas dalam Kitab Amsal. Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia, 6(6), 2813–2825. https://doi.org/10.36418/syntax-literate.v6i6.2918
Yanti, Z. P. (2022). Analisis kumpulan puisi “Esok Yang Selalu Kemarin” karya Ragdi F. Daye menggunakan pendekatan pragmatik. Jurnal Pendidikan Tambusai, 6(2), 12467–12472. https://doi.org/10.31004/jptam.v6i2.3745
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Lely Nur Tachi, Eko Suroso

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.













