https://jurnalp4i.com/index.php/strategi/issue/feed STRATEGY : Jurnal Inovasi Strategi dan Model Pembelajaran 2026-01-13T06:26:22+00:00 Randi Pratama Murtikusuma, M.Pd randi.popo@gmail.com Open Journal Systems <p><strong>STRATEGY : Jurnal Inovasi Strategi dan Model Pembelajaran</strong> |<a href="https://sinta.kemdiktisaintek.go.id/journals/profile/15342"><strong> Terakreditasi Sinta 5</strong></a> |diterbitkan 4 kali setahun (Januari, April, Juli dan Oktober) oleh Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) yang berafiliasi dengan Perguruan Tinggi Indonesia. Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan Inovasi Strategi dan Model Pembelajaran<br /><strong>e-ISSN : 2798-5466 | p-ISSN : 2798-5725</strong></p> https://jurnalp4i.com/index.php/strategi/article/view/8661 USING THE COOPERATIVE LEARNING STRATEGY ON COMPARATIVE DEGREE OF THE FIFTH GRADERS AT FATHONA ISLAMIC SCHOOL PALEMBANG 2025-12-26T01:10:03+00:00 Yohana Cahya Kusumah yohanacahya@gmail.com Masagus Firdaus yohanayusuf2023@gmail.com <p><strong>ABSTRACT </strong></p> <p>The low level of elementary school students’ mastery of English grammatical structures, particularly comparative degrees, indicates the need for the implementation of more interactive and student-centered learning strategies. This study aims to examine the effectiveness of cooperative learning strategies in improving students’ understanding of comparative degrees among fifth-grade students at Fathona Islamic School Palembang. The study employed a quasi-experimental design using a pre-test and post-test non-equivalent control group model, involving 30 students who were divided into an experimental group and a control group. The experimental group received instruction through cooperative learning strategies, while the control group was taught using conventional teaching methods. The results of the analysis showed that the average post-test score of the experimental group (85.4) was higher than that of the control group (72.8). An independent samples t-test confirmed a statistically significant difference between the two groups (p &lt; 0.05). In addition to improving learning outcomes, cooperative learning was also found to enhance students’ active engagement in discussions and group work. These findings conclude that cooperative learning strategies are effective in improving students’ understanding of comparative degrees while also strengthening motivation and active participation in English language learning at the elementary school level.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Rendahnya penguasaan siswa sekolah dasar terhadap struktur tata bahasa Inggris, khususnya <em>comparative degree</em>, menunjukkan perlunya penerapan strategi pembelajaran yang lebih interaktif dan berorientasi pada keterlibatan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas strategi pembelajaran kooperatif dalam meningkatkan pemahaman <em>comparative degree</em> pada siswa kelas V di Sekolah Islam Fathona Palembang. Penelitian menggunakan desain quasi-eksperimental dengan model <em>pre-test</em> dan <em>post-test non-equivalent control group</em>, melibatkan 30 siswa yang terbagi ke dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen memperoleh pembelajaran dengan strategi kooperatif, sementara kelompok kontrol diajar menggunakan metode pembelajaran konvensional. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai rata-rata <em>post-test</em> kelompok eksperimen (85,4) lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (72,8). Uji <em>independent samples t-test</em> mengonfirmasi adanya perbedaan yang signifikan secara statistik antara kedua kelompok (p &lt; 0,05). Selain meningkatkan hasil belajar, pembelajaran kooperatif juga terbukti mendorong keterlibatan aktif siswa dalam diskusi dan kerja kelompok. Temuan ini menyimpulkan bahwa strategi pembelajaran kooperatif efektif dalam meningkatkan pemahaman <em>comparative degree</em> sekaligus memperkuat motivasi dan partisipasi siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar.</p> 2026-01-04T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Yohana Cahya Kusumah, Masagus Firdaus https://jurnalp4i.com/index.php/strategi/article/view/8696 EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN BERBASIS SOCIO-SCIENTIFIC ISSUES (SSI) DAN NATURE OF SCIENCE (NOS) DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN LITERASI SAINS SISWA 2025-12-27T13:57:35+00:00 Lia Laelatul Sholihath 20251310003@uniku.ac.id Agus Yadi Ismail 20251310003@uniku.ac.id <p>Scientific literacy is an essential 21st-century competence that reflects students’ ability to understand, apply, and evaluate scientific knowledge in real-life contexts. However, the scientific literacy achievement of Indonesian students remains relatively low, as reflected in the results of the <em>Programme for International Student Assessment</em> (PISA). One of the main contributing factors to this condition is science learning practices that are still predominantly focused on rote memorization of concepts, place limited emphasis on understanding the <em>Nature of Science</em>, and lack relevant social contexts. This article aims to comprehensively examine the effectiveness of the <em>Nature of Science</em> (NOS) and <em>Socio-Scientific Issues</em> (SSI) approaches in enhancing students’ scientific literacy through a <em>Systematic Literature Review</em> (SLR) method. The literature analyzed includes national and international journal articles addressing scientific literacy, the implementation of NOS, and SSI-based science learning. The synthesis of the reviewed studies indicates that explicitly and reflectively implemented NOS instruction significantly contributes to strengthening students’ epistemological understanding of science and critical thinking skills. Meanwhile, the SSI approach has been shown to be effective in improving contextual scientific literacy, with moderate gains based on <em>N-Gain</em> analysis and highly positive student learning responses, particularly in environmental-related issues. Furthermore, the findings suggest that the effectiveness of NOS and SSI is optimized when supported by innovative instructional models and authentic assessments that comprehensively measure the content, process, and contextual dimensions of science learning. Therefore, the integration of NOS and SSI is recommended as a comprehensive pedagogical strategy to strengthen scientific literacy among Indonesian students.</p> <p><strong>ABSTRAK<br /></strong>Literasi sains merupakan kompetensi esensial abad ke-21 yang mencerminkan kemampuan peserta didik dalam memahami, menggunakan, dan mengevaluasi pengetahuan sains dalam konteks kehidupan nyata. Namun, capaian literasi sains peserta didik di Indonesia masih relatif rendah, sebagaimana tercermin dalam hasil <em>Programme for International Student Assessment</em> (PISA). Salah satu faktor utama penyebab kondisi tersebut adalah praktik pembelajaran IPA yang masih berorientasi pada hafalan konsep, kurang menekankan pemahaman hakikat sains, serta minim konteks sosial yang relevan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif efektivitas pendekatan <em>Nature of Science</em> (NOS) dan <em>Socio-Scientific Issues</em> (SSI) dalam meningkatkan literasi sains peserta didik melalui metode <em>Systematic Literature Review</em> (SLR). Literatur yang dianalisis meliputi artikel nasional dan internasional yang membahas literasi sains, implementasi NOS, dan pembelajaran berbasis SSI. Hasil sintesis menunjukkan bahwa pembelajaran NOS yang diterapkan secara eksplisit dan reflektif berkontribusi signifikan dalam memperkuat pemahaman epistemologis sains dan kemampuan berpikir kritis siswa. Sementara itu, pendekatan SSI terbukti efektif dalam meningkatkan literasi sains secara kontekstual, dengan peningkatan kategori sedang berdasarkan analisis <em>N-Gain</em> serta respons belajar siswa yang sangat positif, khususnya pada isu lingkungan. Temuan lain menunjukkan bahwa efektivitas NOS dan SSI akan optimal apabila didukung oleh model pembelajaran inovatif dan asesmen autentik yang mampu mengukur dimensi konten, proses, dan konteks sains secara terpadu. Dengan demikian, integrasi NOS dan SSI direkomendasikan sebagai strategi pedagogis komprehensif untuk memperkuat literasi sains peserta didik di Indonesia.</p> 2026-01-08T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Lia Laelatul Sholihath, Agus Yadi Ismail https://jurnalp4i.com/index.php/strategi/article/view/8793 TRANSFORMASI PEDAGOGIS MELALUI DEEP LEARNING DALAM KURIKULUM MERDEKA: STUDI LITERATUR SISTEMATIS 2025-12-30T15:56:52+00:00 Rizal Bagus Syaifulloh a.r.syaifulloh2@gmail.com <p>Global developments in education have prompted a paradigm shift from knowledge transmission–oriented learning toward deep, reflective, and contextual conceptual understanding. In Indonesia, the <em>Deep Learning</em> (DL) approach has been introduced as a pedagogical strategy to strengthen the implementation of the <em>Merdeka Curriculum</em> by fostering 21st-century competencies articulated in the 6Cs framework. However, numerous studies indicate a gap between the ideal conception of DL and its classroom implementation, where it is often narrowly interpreted as the use of digital technology or specific instructional models. This study aims to examine teachers’ understanding, implementation patterns, and systemic challenges related to <em>Deep Learning</em> in Indonesia through a Systematic Literature Review (SLR) guided by the PRISMA protocol. The findings reveal that while teachers generally demonstrate positive perceptions of DL, comprehensive instructional understanding remains limited. Learning practices that integrate meaningful, mindful, and joyful principles have been shown to enhance student engagement and reasoning skills, particularly when supported by strong pedagogical beliefs and a collaborative school culture. Major barriers include limited professional development, infrastructure disparities, and administrative workloads that constrain pedagogical innovation. This study concludes that <em>Deep Learning</em> holds substantial potential as a vehicle for pedagogical transformation and educational equity; however, its sustainability requires systemic change through the strengthening of teacher capacity and the cultivation of a holistic learning culture.</p> <p><strong>ABSTRAK<br /></strong>Perkembangan pendidikan global mendorong terjadinya pergeseran paradigma pembelajaran dari sekadar transfer pengetahuan menuju pemahaman konseptual yang mendalam, reflektif, dan kontekstual. Di Indonesia, pendekatan <em>Deep Learning</em> (DL) diperkenalkan sebagai strategi pedagogis untuk memperkuat implementasi Kurikulum Merdeka melalui pengembangan kompetensi abad ke-21 yang dirumuskan dalam kerangka 6Cs. Namun, berbagai studi menunjukkan adanya kesenjangan antara konsep ideal dan praktik di lapangan, di mana DL kerap dipersepsikan sebatas penggunaan teknologi atau model pembelajaran tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman guru, bentuk implementasi, serta hambatan sistemik dalam penerapan <em>Deep Learning</em> di Indonesia melalui metode <em>Systematic Literature Review</em> (SLR) dengan mengacu pada protokol PRISMA. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun guru umumnya memiliki persepsi positif terhadap DL, tingkat pemahaman instruksional yang komprehensif masih terbatas. Implementasi yang mengintegrasikan prinsip meaningful, mindful, dan joyful learning terbukti meningkatkan keterlibatan serta kemampuan bernalar peserta didik, terutama ketika didukung oleh keyakinan pedagogis guru dan budaya sekolah yang kolaboratif. Hambatan utama meliputi keterbatasan pelatihan, ketimpangan infrastruktur, serta beban administratif yang menghambat inovasi pembelajaran. Penelitian ini menegaskan bahwa <em>Deep Learning</em> berpotensi menjadi instrumen transformasi pedagogis dan keadilan pendidikan, namun keberlanjutannya menuntut perubahan sistemik melalui penguatan kapasitas guru dan pengembangan budaya belajar secara menyeluruh.</p> 2026-01-08T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Rizal Bagus Syaifulloh https://jurnalp4i.com/index.php/strategi/article/view/8537 PENGUATAN KETERAMPILAN ABAD 21 GURU MIPA DALAM PEMBELAJARAN MIPA: TINJAUAN 4C, HOTS, DAN TPACK 2026-01-08T13:10:54+00:00 Ria Indria P ria.rancabungur@email.ac.id Sri Mulyati ria.rancabungur@gmail.com Lusy Rahayu ria.rancabungur@email.ac.id Risa Purnamasari ria.rancabungur@email.ac.id Nuzulia Karim ria.rancabungur@email.ac.id <p>Contemporary educational transformation requires educators, particularly in Mathematics and Natural Sciences (MIPA), to master competencies that are adaptive to global changes, technological innovation, and the learning needs of the digital generation. Twenty-first-century competencies encompass critical thinking, creativity, collaboration, and communication (4C), Higher Order Thinking Skills (HOTS), and Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK), which are considered fundamental in creating meaningful MIPA learning. The purpose of this article is to analyze the strategic importance of developing twenty-first-century competencies for MIPA educators within the Indonesian education system. A literature review approach was employed to examine research publications and educational regulations published between 2020 and 2025. The findings indicate a disparity between the expectations of twenty-first-century learning and the actual capacity of MIPA educators, particularly in facilitating HOTS and implementing pedagogy-based technology. The implementation of the Merdeka Curriculum, character building through the Pancasila Student Profile, and the performance of Indonesian students in science and mathematics literacy in global assessments such as PISA strengthen the argument for the importance of enhancing MIPA educators' capacity in twenty-first-century skills. This article proposes continuous professional development, educator communities of practice, and technology optimization through the TPACK framework as primary approaches to competency enhancement.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Transformasi pendidikan kontemporer mengharuskan pendidik, terutama dalam bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), menguasai kompetensi yang adaptif terhadap perubahan global, inovasi teknologi, dan kebutuhan pembelajaran generasi digital. Kompetensi abad ke-21 mencakup berpikir kritis (<em>critical thinking</em>), kreativitas (<em>creativity</em>), kolaborasi (<em>collaboration</em>), komunikasi (<em>communication</em>) atau disingkat 4C, keterampilan berpikir tingkat tinggi (<em>Higher Order Thinking Skills</em>/HOTS), dan pengetahuan teknologi pedagogi konten (<em>Technological Pedagogical Content Knowledge</em>/TPACK) yang dianggap fundamental dalam menciptakan pembelajaran MIPA bermakna. Tujuan penulisan artikel ini ialah menganalisis kepentingan strategis pengembangan kompetensi abad ke-21 bagi pendidik MIPA dalam sistem pendidikan Indonesia. Pendekatan kajian literatur digunakan untuk menelaah publikasi riset dan regulasi pendidikan yang terbit antara tahun 2020 hingga 2025. Temuan mengindikasikan adanya disparitas antara ekspektasi pembelajaran abad ke-21 dengan kapasitas riil pendidik MIPA, terutama pada aspek fasilitasi HOTS dan penerapan teknologi berbasis pedagogi. Pelaksanaan Kurikulum Merdeka, pembentukan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila, dan performa literasi sains serta matematika siswa Indonesia dalam evaluasi global seperti PISA memperkuat argumentasi pentingnya peningkatan kapasitas pendidik MIPA dalam keterampilan abad ke-21. Artikel ini mengusulkan pengembangan keprofesian berkelanjutan, komunitas praktik pendidik, dan optimalisasi teknologi melalui kerangka TPACK sebagai pendekatan utama dalam peningkatan kompetensi.</p> 2026-01-15T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Ria Indria P, Sri Mulyati, Lusy Rahayu, Risa Purnamasari, Nuzulia Karim https://jurnalp4i.com/index.php/strategi/article/view/8490 PENERAPAN DIGITAL LEARNING DALAM MENDUKUNG PEMBELAJARAN PESERTA DIDIK DI PUSAT KEGIATAN BELAJAR MASYARAKAT 2026-01-08T13:12:40+00:00 Firsta Bagus Sugiharto bagusfirsta@unitri.ac.id Kardiana Metha Rozhana bagusfirsta@unitri.ac.id Reni Wahyu Eka Sayekti bagusfirsta@unitri.ac.id Tomas Surandoko bagusfirsta@unitri.ac.id <p>The development of digital technology has encouraged Community Learning Centers (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat/PKBM) to adopt more flexible learning approaches that are responsive to learners’ needs. However, the implementation of digital learning in PKBM still faces limitations related to resource readiness and supporting infrastructure. This study aims to analyze the implementation of digital learning in supporting learners’ learning processes in PKBM, particularly in improving content comprehension, digital skills, and learning independence. The study employed a descriptive approach involving PKBM learners and tutors as research subjects. Data were collected through observation, questionnaires, and interviews, and analyzed using data reduction, data display, and conclusion drawing techniques. The findings indicate that the implementation of digital learning increases learners’ active participation, facilitates access to learning materials, and promotes the development of digital literacy and confidence in using technology. Despite challenges such as limited devices and unequal internet access, digital learning has been shown to contribute positively to the effectiveness of learning in PKBM and is worthy of further development as a learning strategy in nonformal education.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perkembangan teknologi digital mendorong Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) untuk mengadaptasi pembelajaran yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Namun, penerapan <em>digital learning</em> di PKBM masih menghadapi keterbatasan pada aspek kesiapan sumber daya dan sarana pendukung. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan <em>digital learning</em> dalam mendukung pembelajaran peserta didik di PKBM, khususnya pada peningkatan pemahaman materi, keterampilan digital, dan kemandirian belajar. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dengan subjek peserta didik dan tutor PKBM. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, angket, dan wawancara, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan <em>digital learning</em> meningkatkan partisipasi aktif peserta didik, mempermudah akses materi, serta mendorong peningkatan literasi digital dan kepercayaan diri dalam penggunaan teknologi. Meskipun masih terdapat kendala berupa keterbatasan perangkat dan akses internet, penerapan <em>digital learning</em> terbukti memberikan kontribusi positif terhadap efektivitas pembelajaran di PKBM dan layak dikembangkan sebagai strategi pembelajaran pendidikan nonforma</p> <p> </p> 2026-01-15T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Firsta Bagus Sugiharto, Kardiana Metha Rozhana, Reni Wahyu Eka Sayekti, Tomas Surandoko https://jurnalp4i.com/index.php/strategi/article/view/8959 PENGARUH IMPLEMENTASI CASE METHOD DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MATA KULIAH AKUNTANSI PERPAJAKAN PADA MAHASISWA S1 PENDIDIKAN EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO 2026-01-08T13:11:48+00:00 Fatmawaty Damiti fatmawatydamiti@ungac.id Rierind Koniyo fatmawatydamiti@ungac.id <p>This study aims to determine the effect of Case Method implementation and learning motivation on learning outcomes of tax accounting courses for undergraduate students of Economics Education at Gorontalo State University. The research approach is quantitative and correlational research method. The sample in the study was 58 people. Data collection using interviews, questionnaires, documentation and observation. The data analysis technique used is SEM-PLS. The results showed that (1) The implementation of the Case Method learning method has a positive and significant effect on learning motivation in tax accounting courses for undergraduate students of Economics Education at Gorontalo State University. (2) The implementation of the Case Method learning method has a positive and insignificant effect on the learning outcomes of tax accounting courses for undergraduate students of Economics Education at Gorontalo State University. (3) Learning motivation has a positive and significant effect on the learning outcomes of tax accounting courses for undergraduate students of Economic Education, Gorontalo State University. (4) The implementation of the Case Method learning method through learning motivation has a positive and significant effect on the learning outcomes of tax accounting courses for undergraduate students of Economics Education Gorontalo State University.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh implementasi <em>Case Method</em> dan motivasi belajar terhadap hasil belajar mata kuliah akuntansi perpajakan pada mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo. Pendekatan penelitian adalah kuantitatif dan metode penelitian korelasional. Sampel dalam penelitian sebanyak 58 orang. Pengumpulan data menggunakan wawancara, kuisioner, dokumentasi dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu SEM-PLS. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Implementasi metode pembelajaran Case Method berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi belajar mata kuliah akuntansi perpajakan pada mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo. (2) Implementasi metode pembelajaran <em>Case Method</em> berpengaruh positif tidak signifikan terhadap hasil belajar mata kuliah akuntansi perpajakan pada mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo. (3) Motivasi belajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar mata kuliah akuntansi perpajakan pada mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo. (4) Implementasi metode pembelajaran <em>Case Method</em> melalui motivasi belajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar mata kuliah akuntansi perpajakan pada mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo.</p> <p> </p> <p> </p> 2026-01-15T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Fatmawaty Damiti, Rierind Koniyo https://jurnalp4i.com/index.php/strategi/article/view/8299 THE IMPACT OF SYNTAX MASTERY ON STUDENTS’ WRITING ACCURACY 2025-12-18T10:41:46+00:00 Aisyah Amru amruaisyah@gmail.com Nadia Wulandari wulandarivivoy22@gmail.com Nasywa Sakinah sakinahnasywa@gmail.com Izzati Amirah Sari izzatiamirag@gamil.com Siti Ismahani sitiismahani@uinsu.ac.id <p>This study investigates the effect of students’ syntax mastery on writing accuracy in English as a Foreign Language (EFL). Writing accuracy is closely related to the correct application of syntactic rules, including sentence structure, word order, and grammatical relationships. An experimental research design was employed involving ten first-semester EFL students. Data were collected through a syntax mastery test and a writing task designed to measure students’ accuracy in constructing grammatical sentences. Pre-test and post-test scores were analyzed to examine the relationship between syntax mastery and writing performance. The results indicate that students with higher levels of syntax mastery achieved significantly better writing accuracy compared to those with lower mastery. These students demonstrated greater ability to produce grammatically correct and well-structured sentences. The findings underscore the importance of syntax instruction in enhancing EFL learners’ writing accuracy. Consequently, the integration of syntax-focused teaching strategies is recommended to support the development of accurate writing skills in EFL classroom contexts.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini menyelidiki pengaruh penguasaan sintaksis siswa terhadap akurasi menulis dalam konteks Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (EFL). Akurasi menulis sangat berkaitan dengan penerapan aturan sintaksis yang benar, termasuk struktur kalimat, urutan kata, dan hubungan gramatikal. Desain penelitian eksperimen digunakan dengan melibatkan sepuluh mahasiswa EFL semester pertama. Data dikumpulkan melalui tes penguasaan sintaksis dan tugas menulis yang dirancang untuk mengukur akurasi siswa dalam membangun kalimat yang gramatikal. Skor pre-test dan post-test dianalisis untuk mengkaji hubungan antara penguasaan sintaksis dan performa menulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan tingkat penguasaan sintaksis yang lebih tinggi memperoleh akurasi menulis yang secara signifikan lebih baik dibandingkan siswa dengan penguasaan rendah. Siswa tersebut menunjukkan kemampuan lebih besar dalam menghasilkan kalimat yang gramatikal dan tersusun dengan baik. Temuan ini menegaskan pentingnya pembelajaran sintaksis dalam meningkatkan akurasi menulis siswa EFL. Oleh karena itu, integrasi strategi pengajaran yang berfokus pada sintaksis direkomendasikan untuk mendukung pengembangan keterampilan menulis yang akurat dalam konteks kelas EFL.</p> 2026-01-15T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Aisyah Amru, Nadia Wulandari, Nasywa Sakinah, Izzati Amirah Sari, Siti Ismahani https://jurnalp4i.com/index.php/strategi/article/view/8301 LEARNING A WRITING POETRY THROUGH PRAGMATIC ANALYSIS 2025-12-31T23:44:46+00:00 Dodi Erwin Prasetyo ddodierwiniprasetyo@stiepemnas.ac.id Abdul Hadi ddodierwiniprasetyo@stiepemnas.ac.id <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Writing is a language skill that is developed through continuous practice, including in poetry writing. However, in instructional practice, poetry writing activities tend to focus mainly on aesthetic aspects of language and have not widely incorporated more contextual linguistic approaches, particularly pragmatic analysis. In addition, scholarly studies integrating poetry writing with a pragmatic perspective remain relatively limited. Therefore, this study aims to explore poetry writing through a pragmatic analysis approach and to examine its contribution to the development of students’ critical thinking and writing skills. This research employs a qualitative approach using a library research method by systematically reviewing textbooks, journal articles, and previous studies relevant to poetry writing and pragmatics. The research stages include collecting relevant literature, analyzing the concepts of writing and poetry, examining pragmatic contexts, and synthesizing the relationship between pragmatics and the poetry writing process. The findings indicate that integrating pragmatic analysis into poetry writing instruction has the potential to enhance students’ ability to generate and develop ideas, understand contextual meanings, and foster critical language awareness. The main conclusion of this study emphasizes that a pragmatic approach can serve as a strategic alternative in poetry writing instruction, with pedagogical implications highlighting the need for collaboration between educators and curriculum developers, as well as opportunities for further research examining the relationship among pragmatics, poetry, and learners’ levels of language proficiency.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat terlatih dan memerlukan proses pembiasaan yang berkelanjutan, termasuk dalam penulisan puisi. Namun, dalam praktik pembelajaran, kegiatan menulis puisi masih cenderung terbatas pada aspek estetika bahasa dan belum banyak memanfaatkan pendekatan linguistik yang lebih kontekstual, khususnya analisis pragmatik. Selain itu, kajian ilmiah yang mengintegrasikan penulisan puisi dengan perspektif pragmatik masih relatif jarang ditemukan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penulisan puisi melalui pendekatan analisis pragmatik serta mengkaji kontribusinya terhadap pengembangan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan menulis peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan, melalui penelaahan sistematis terhadap buku teks, artikel jurnal, dan hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan penulisan puisi dan pragmatik. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan sumber pustaka, analisis konsep menulis dan puisi, kajian konteks pragmatik, serta sintesis hubungan antara pragmatik dan proses penulisan puisi. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi analisis pragmatik dalam pembelajaran menulis puisi berpotensi meningkatkan kemampuan siswa dalam menemukan dan mengembangkan ide, memahami konteks makna, serta menumbuhkan kepekaan berbahasa secara kritis. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan pragmatik dapat menjadi alternatif strategis dalam pembelajaran menulis puisi, dengan implikasi pedagogik berupa perlunya kolaborasi antara pendidik dan pengembang kurikulum, serta peluang penelitian lanjutan yang mengkaji hubungan pragmatik, puisi, dan tingkat kebahasaan peserta didik.</p> 2026-01-15T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Dodi Erwin Prasetyo, Abdul Hadi https://jurnalp4i.com/index.php/strategi/article/view/8832 STRATEGI PEMBENTUKAN KEPERCAYAAN DIRI REMAJA PASCA MENGHADAPI BULLYING DI YOGYAKARTA 2026-01-08T00:55:36+00:00 Icha Septiani ichaseptianii78@gmail.com Ratna Yunita Setiyani S ichaseptianii78@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Bullying is a serious problem that impacts adolescents' self-confidence. This study aims to analyze strategies for building self-confidence in adolescents after experiencing bullying in Yogyakarta. This qualitative research with a case study approach involved one main subject (female, 20 years old) and two significant others (subject's mother, 53 years old; close friend, 21 years old) selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, then analyzed using thematic analysis based on Lauster's four aspects of self-confidence: believing in one's abilities, acting independently in decision-making, having a positive self-concept, and being brave in expressing opinions. The results show that the subject successfully rebuilt self-confidence through internal strategies such as positive affirmations, self-reflection, and self-concept reinforcement, as well as external strategies such as social support from family and friends, and the independent decision to change schools. These findings indicate the effectiveness of combining positive affirmations and social support in recovering self-confidence among adolescent bullying victims, with recommendations for implementing group counseling programs and positive affirmation interventions in schools to support psychological recovery.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><em>Bullying</em> adalah masalah serius yang berdampak pada kepercayaan diri remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi membangun kepercayaan diri pada remaja setelah mengalami <em>bullying</em> di Yogyakarta. Penelitian kualitatif ini dengan pendekatan studi kasus melibatkan satu subjek utama (perempuan, 20 tahun) dan dua orang signifikan lainnya (ibu subjek, 53 tahun; teman dekat, 21 tahun) yang dipilih melalui <em>purposive sampling.</em> Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik berdasarkan empat aspek kepercayaan diri Lauster: percaya pada kemampuan sendiri, bertindak mandiri dalam pengambilan keputusan, memiliki konsep diri positif, dan berani mengungkapkan pendapat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek berhasil membangun kembali kepercayaan diri melalui strategi internal seperti afirmasi positif, refleksi diri, dan penguatan konsep diri serta strategi eksternal seperti dukungan sosial dari keluarga dan teman, serta keputusan mandiri untuk pindah sekolah. Temuan ini menunjukkan efektifitas kombinasi afirmasi positif dan dukungan sosial dalam pemulihan kepercayaan korban <em>bullying</em> remaja, dengan rekomendasi penerapan program konseling kelompok dan intervensi afirmasi positif di sekolah untuk mendukung pemulihan psikologis.</p> 2026-01-15T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Icha Septiani, Ratna Yunita Setiyani S https://jurnalp4i.com/index.php/strategi/article/view/9008 PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA MENGIDENTIFIKASI STRUKTUR ISI TEKS ANEKDOT DI MAN 2026-01-11T02:29:51+00:00 Siti Aminah aminahsiti99145@gmail.com2 Sujinah Sujinah aminahsiti99145@gmail.com <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Text-based Indonesian language learning requires students not only to comprehend textual content but also to systematically analyze the structural elements that construct a text. One type of text studied at the Madrasah Aliyah level is the anecdote text, which is characterized by a specific structure consisting of abstraction, orientation, crisis, reaction, and coda. Classroom realities indicate that students still experience difficulties in accurately identifying these structural components. This study aims to examine the effectiveness of implementing the Discovery Learning model in improving students’ ability to identify the structural elements of anecdote texts. This research employed a quantitative approach using a pre-experimental method with a One Group Pretest–Posttest design. The research subjects were tenth-grade students of MAN 1 Merangin. Data were collected through tests measuring students’ ability to identify text structure, classroom observations, and documentation. The Discovery Learning model was implemented through stages of stimulation, problem identification, data collection and processing, verification, and conclusion drawing. The findings reveal a significant improvement in students’ abilities following the implementation of the Discovery Learning model. Both the mean scores and the percentage of learning mastery increased across all structural aspects of anecdote texts. In addition, students demonstrated higher levels of active engagement in text analysis and a deeper understanding of the function of each structural component. Therefore, the Discovery Learning model is proven to be effective and suitable as an alternative instructional approach for text-based Indonesian language learning at the Madrasah Aliyah level.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis teks menuntut kemampuan siswa untuk memahami isi sekaligus menganalisis struktur pembangun teks secara sistematis. Salah satu jenis teks yang dipelajari di Madrasah Aliyah adalah teks anekdot yang memiliki struktur khas, meliputi abstrak, orientasi, krisis, reaksi, dan koda. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi struktur tersebut secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas penerapan model <em>Discovery Learning</em> dalam meningkatkan kemampuan siswa mengidentifikasi struktur isi teks anekdot. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pre-eksperimental melalui desain <em>One Group Pretest–Posttest</em>. Subjek penelitian adalah siswa kelas X MAN 1 Merangin. Pengumpulan data dilakukan melalui tes kemampuan identifikasi struktur teks, observasi aktivitas pembelajaran, dan dokumentasi. Model <em>Discovery Learning</em> diterapkan melalui tahapan pemberian rangsangan, identifikasi masalah, pengumpulan dan pengolahan data, verifikasi, serta penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan siswa yang signifikan setelah penerapan model <em>Discovery Learning</em>. Nilai rata-rata dan persentase ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan pada seluruh aspek struktur teks anekdot. Selain itu, siswa menunjukkan keterlibatan yang lebih aktif dalam menganalisis teks dan memahami fungsi setiap bagian struktur secara mendalam. Dengan demikian, model <em>Discovery Learning</em> terbukti efektif dan layak digunakan sebagai alternatif pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis teks di Madrasah Aliyah.</p> 2026-01-20T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Siti Aminah, Sujinah Sujinah https://jurnalp4i.com/index.php/strategi/article/view/8983 PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN TAHFIDZ JUZ 30 MELALUI PENDEKATAN TALQIN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGHAFAL AL-QUR’AN ANAK USIA DINI 2026-01-09T00:49:50+00:00 Dewi Rosfita dewiderosfita@gmail.com Asmaji Muchtar asmajimochtar@yahoo.co.id Toha Makhshun toham@unissula.ac.id <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pembelajaran tahfidz Al-Qur’an pada anak usia dini memerlukan model pembelajaran yang dirancang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak, terutama pada aspek kognitif, bahasa, dan sosial-emosional. Anak usia dini memiliki kemampuan menghafal yang baik apabila proses pembelajaran dilakukan secara bertahap, berulang, dan menyenangkan. Pendekatan <em>talqin</em> merupakan salah satu pendekatan yang relevan dalam pembelajaran tahfidz karena menekankan pada proses mendengarkan, menirukan, dan mengulang bacaan secara konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran tahfidz Juz 30 berbasis pendekatan <em>talqin</em> bagi anak usia dini di TK Izzatul Ummah Grobogan serta menganalisis tingkat kelayakan, kepraktisan, dan efektivitas model yang dikembangkan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (<em>Research and Development</em>). Tahapan penelitian meliputi analisis kebutuhan pembelajaran, perancangan model pembelajaran, validasi ahli materi dan ahli pembelajaran, uji coba terbatas, serta revisi produk berdasarkan hasil uji coba. Subjek penelitian adalah anak usia dini kelompok B di TK Izzatul Ummah Grobogan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran tahfidz Juz 30 berbasis pendekatan <em>talqin</em> dinyatakan layak oleh para ahli, praktis digunakan oleh guru, dan efektif dalam meningkatkan kemampuan hafalan surat-surat Juz 30 pada anak usia dini. Dengan demikian, model pembelajaran yang dikembangkan dapat digunakan sebagai alternatif inovatif dalam pembelajaran tahfidz Al-Qur’an di lembaga pendidikan anak usia dini.<br /><br /></p> <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Tahfidz learning for early childhood requires an instructional model that is designed in accordance with children’s developmental characteristics, particularly in cognitive, language, and socio-emotional aspects. Early childhood learners tend to have strong memorization abilities when learning activities are conducted gradually, repeatedly, and in an enjoyable manner. The <em>talqin</em> approach is considered relevant in tahfidz learning as it emphasizes listening, imitation, and consistent repetition of Qur’anic recitation. This study aims to develop a <em>talqin</em>-based tahfidz learning model for Juz 30 for early childhood students at TK Izzatul Ummah Grobogan and to analyze the feasibility, practicality, and effectiveness of the developed model. This research employed a <em>Research and Development</em> method. The research stages included learning needs analysis, instructional model design, validation by material and instructional experts, limited trials, and product revision based on trial results. The research subjects were group B early childhood students at TK Izzatul Ummah Grobogan. Data were collected through observation, interviews, questionnaires, and documentation. The results indicate that the <em>talqin</em>-based tahfidz learning model for Juz 30 is feasible according to expert judgment, practical for teachers to implement, and effective in improving early childhood students’ memorization of Juz 30 surahs. Therefore, the developed learning model can be used as an innovative alternative for tahfidz learning in early childhood education institutions.</p> <p><br /><br /></p> 2026-01-20T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Dewi Rosfita, Asmaji Muchtar, Toha Makhshun https://jurnalp4i.com/index.php/strategi/article/view/7960 PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN SAVI DAN MINAT TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DPIB 2025-12-15T14:39:56+00:00 Meta Maliana Sitio metasitio@mhs.unimed.ac.id Nathanael Sitanggang nathanaelsitanggang@unimed.ac.id <p><strong>ABSTRACT </strong></p> <p>Students’ learning outcomes in the Road and Bridge Construction component at vocational high schools (SMK) have not yet reached an optimal level. This condition is presumed to be related to the limited variation in instructional models used as well as differences in students’ learning interests. This study was conducted to examine the effects of implementing the SAVI learning model and Direct Instruction, students’ levels of learning interest, and the interaction between these two variables on the learning outcomes of Grade XI DPIB students at SMK Negeri 2 Medan. The study employed a quasi-experimental approach using a 2×2 factorial design and involved a comparison group that was administered both a pretest and a posttest. The research subjects were Grade XI DPIB students in the 2025/2026 academic year, selected through purposive sampling. Learning outcome data were collected through tests, while learning interest was measured using a questionnaire. Data analysis began with prerequisite testing, including tests of normality and homogeneity, followed by a two-way analysis of variance (ANOVA) at a significance level of 0.05. The results indicated that the data were normally distributed and homogeneous. Hypothesis testing showed that the calculated F value exceeded the critical F value, indicating significant differences in learning outcomes between students taught using the SAVI model and those taught using Direct Instruction. Significant differences in learning outcomes were also found when viewed in terms of students’ levels of learning interest, and an interaction was identified between the instructional model and students’ learning interest. The findings reveal that the implementation of the SAVI learning model yields more optimal results for students with high learning interest, whereas the Direct Instruction model demonstrates greater effectiveness for students with lower levels of learning interest. Therefore, alignment between the instructional model and students’ learning interest characteristics plays an important role in improving learning achievement.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Hasil belajar siswa pada elemen Konstruksi Jalan dan Jembatan di SMK belum optimal, hal ini diduga berkaitan dengan pemilihan model pembelajaran yang kurang variatif serta perbedaan minat belajar siswa. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh penerapan model pembelajaran SAVI dan Direct Instruction, tingkat minat belajar siswa, serta interaksi antara kedua variabel tersebut terhadap hasil belajar siswa kelas XI DPIB di SMK Negeri 2 Medan. Penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan kuasi eksperimental, menerapkan rancangan faktorial 2×2, serta melibatkan kelompok pembanding yang diberikan tes awal dan tes akhir. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI DPIB tahun ajaran 2025/2026 yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data hasil belajar diperoleh melalui tes, sedangkan minat belajar diukur menggunakan angket. Tahap analisis data dimulai dengan pengujian prasyarat berupa uji normalitas dan uji homogenitas, selanjutnya dilakukan analisis varians dua arah (ANAVA) dengan tingkat signifikansi sebesar 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data berdistribusi normal dan homogen. Hasil pengujian hipotesis memperlihatkan bahwa nilai F hitung melampaui F tabel, sehingga dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang bermakna pada hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model SAVI dan Direct Instruction, terdapat perbedaan capaian belajar ditinjau dari tingkat minat belajar, serta ditemukan interaksi antara model pembelajaran dan minat belajar siswa. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa penerapan model pembelajaran SAVI memberikan hasil yang lebih optimal pada siswa yang memiliki minat belajar tinggi, sementara model Direct Instruction menunjukkan efektivitas yang lebih besar pada siswa dengan tingkat minat belajar rendah. Oleh karena itu, kesesuaian antara model pembelajaran dan karakteristik minat belajar siswa berperan penting dalam upaya meningkatkan capaian hasil belajar.</p> 2026-01-21T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Meta Maliana Sitio, Nathanael Sitanggang https://jurnalp4i.com/index.php/strategi/article/view/7961 PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR KELAS X DPIB 2025-12-15T14:41:06+00:00 Kesia Trinita Saragih kesiatrinitasaragih@mhs.unimed.ac.id Nathanael Sitanggang nathanaelsitanggang@unimed.ac.id <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>The implementation of appropriate learning models contributes to the achievement of student learning outcomes, particularly when viewed in relation to differences in learning motivation levels. This study aims to analyze the effect of implementing the Inquiry learning model and students learning motivation levels on learning outcomes, as well as to examine the interaction between these two variables in the subject Basic Principles of Design Modeling and Building Information for tenth grade DPIB students at SMK Negeri 2 Medan. This study employed a quasi experimental method with a 2 × 2 factorial design, which included the administration of a pretest, the learning process, and a posttest. The research sample consisted of two classes: class X DPIB 1, comprising 36 students as the experimental group that applied the Inquiry learning model, and class X DPIB 2 with the same number of students as the control group that used the Direct Instruction model. The research instruments included a learning outcomes test and a learning motivation questionnaire, both of which had been tested for validity and reliability. The homogeneity test indicated that the data were derived from a homogeneous population. Data analysis using two way ANOVA revealed differences in learning outcomes influenced by the learning model and learning motivation level, as well as an interaction between the two variables. Students with high learning motivation achieved more optimal learning outcomes when the Inquiry model was applied, whereas students with low learning motivation tended to obtain better results through the Direct Instruction model. These findings are expected to serve as a basis for teachers in adjusting the selection of learning models according to students learning motivation characteristics.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penerapan model pembelajaran yang tepat berkontribusi terhadap pencapaian hasil belajar siswa, terutama jika ditinjau berdasarkan perbedaan tingkat motivasi belajar. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penerapan model pembelajaran <em>Inquiry</em> dan tingkat motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa, serta mengkaji adanya interaksi antara kedua variabel tersebut pada mata pelajaran Dasar-Dasar Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan siswa kelas X DPIB di SMK Negeri 2 Medan. Penelitian ini menerapkan metode kuasi eksperimen dengan rancangan faktorial 2 × 2 yang mencakup pelaksanaan pretest, proses pembelajaran, dan posttest. Sampel penelitian melibatkan dua kelas, yaitu kelas X DPIB 1 yang berjumlah 36 siswa sebagai kelompok eksperimen yang menerapkan model pembelajaran <em>Inquiry</em>, serta kelas X DPIB 2 dengan jumlah siswa yang sama sebagai kelompok kontrol yang menggunakan model <em>Direct Instruction</em>. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi tes untuk mengukur hasil belajar serta angket motivasi belajar yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Uji homogenitas menunjukkan data berasal dari populasi homogen. Hasil pengolahan data melalui ANAVA dua jalur menunjukkan adanya perbedaan hasil belajar yang dipengaruhi oleh model pembelajaran dan tingkat motivasi belajar, serta adanya interaksi antara kedua variabel tersebut. Siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi menunjukkan capaian hasil belajar yang lebih optimal ketika diterapkan model <em>Inquiry</em>, sementara siswa dengan motivasi belajar rendah cenderung memperoleh hasil yang lebih baik melalui model <em>Direct Instruction</em>. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan bagi guru dalam menyesuaikan pemilihan model pembelajaran dengan karakteristik motivasi belajar siswa.</p> 2026-01-21T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Kesia Trinita Saragih, Nathanael Sitanggang https://jurnalp4i.com/index.php/strategi/article/view/8812 STUDENTS’ ATTITUDES TOWARD LEARNING ENGLISH PRONUNCIATION IN PHONETICS AND PHONOLOGY COURSE AT POHUWATO UNIVERSITY 2026-01-05T23:24:42+00:00 Gusfin Maulidyawanti Moonti gusfinmaulidya@gmail.com Monalysa Laonga gusfinmaulidya@gmail.com <p><strong>ABSTRACT </strong></p> <p>Pronunciation plays a crucial role in effective English communication, particularly for students learning English as a foreign language. This study aims to investigate students’ attitudes toward learning English pronunciation in the <em>Phonetics and Phonology</em> course at Pohuwato University. The focus of the study is on students’ attitudes, which include cognitive, affective, and behavioral aspects in learning English pronunciation. This research employed a descriptive quantitative research design. The sample consisted of 30 students from the English Education Study Program who had completed the <em>Phonetics and Phonology</em> course. Data were collected through a questionnaire using a five-point Likert scale and analyzed using descriptive statistics in the form of mean scores. The results indicate that students generally have a positive attitude toward learning English pronunciation. The cognitive attitude aspect obtained the highest mean score, indicating that students have strong awareness and beliefs about the importance of correct pronunciation in English communication. The behavioral attitude aspect was also categorized as positive, showing that students are willing to practice and accept feedback in pronunciation learning. However, the affective attitude aspect revealed that some students still experience anxiety and lack confidence when practicing pronunciation. Although students demonstrate good understanding and learning behaviors toward English pronunciation, emotional factors remain a challenge. Therefore, it is recommended that lecturers create a supportive learning environment, increase pronunciation practice activities, and utilize learning technology to help reduce anxiety and improve students’ pronunciation skills.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pengucapan merupakan salah satu aspek penting dalam pembelajaran bahasa Inggris karena berpengaruh langsung terhadap kejelasan dan keberhasilan komunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap mahasiswa terhadap pembelajaran pengucapan Bahasa Inggris pada Mata Kuliah Phonetics and Phonology di Universitas Pohuwato. Fokus penelitian ini adalah sikap mahasiswa yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan perilaku dalam pembelajaran pengucapan bahasa Inggris. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian terdiri dari 30 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang telah mengikuti mata kuliah Phonetics and Phonology. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan skala Likert lima tingkat dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif berupa nilai mean. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa secara umum memiliki <strong>sikap positif</strong> terhadap pembelajaran pengucapan bahasa Inggris. Aspek sikap kognitif memperoleh nilai mean tertinggi, yang menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kesadaran dan keyakinan yang kuat akan pentingnya pengucapan yang benar dalam komunikasi Bahasa Inggris. Aspek sikap perilaku juga berada pada kategori positif, yang menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kemauan untuk berlatih dan menerima umpan balik dalam pembelajaran pengucapan. Namun, aspek sikap afektif menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa masih mengalami kecemasan dan kurang percaya diri ketika mempraktikkan pengucapan. Meskipun mahasiswa memiliki pemahaman dan perilaku belajar yang baik terhadap pengucapan bahasa Inggris, faktor emosional masih menjadi tantangan. Oleh karena itu, dosen disarankan untuk menciptakan suasana pembelajaran yang mendukung, meningkatkan aktivitas praktik pengucapan, serta memanfaatkan teknologi pembelajaran untuk membantu mengurangi kecemasan dan meningkatkan kemampuan pengucapan mahasiswa.</p> 2026-01-22T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Gusfin Maulidyawanti Moonti, Monalysa Laonga https://jurnalp4i.com/index.php/strategi/article/view/9098 ADOPSI ASESMEN AUTENTIK PADA PEMBELAJARAN DEEP LEARNING: KAJIAN PERSEPSI GURU BERDASARKAN ATRIBUT INOVASI ROGERS 2026-01-13T06:26:22+00:00 Devi Hidayat devihidayat@upi.edu Dina Siti Logayah devihidayat@upi.edu Mamat Ruhimat devihidayat@upi.edu <p>The implementation of <em>deep learning</em> requires assessment practices that are able to capture learning processes, higher-order thinking skills, and students’ performance in a meaningful way. In this context, authentic assessment is widely regarded as relevant; however, its adoption in schools has not yet been consistently realized. This study aims to explore teachers’ perceptions of authentic assessment adoption in <em>deep learning</em> by examining its characteristics through five innovation attributes: relative advantage, compatibility, complexity, trialability, and observability. A qualitative approach with a single case study design was employed in a public junior high school in Karawang Regency, Indonesia. Ten teachers from diverse subject areas were purposively selected as participants. Data were collected through in-depth interviews, classroom observations, and document analysis, and were analyzed thematically. The findings reveal that teachers perceive authentic assessment as advantageous for assessing learning processes, higher-order thinking skills, and student performance, particularly in practice-oriented subjects. Nevertheless, variations were found in terms of compatibility and observability across subjects, while implementation complexity emerged as a major constraint. Overall, authentic assessment adoption remains at an early stage and requires stronger school-level policy support, more structured assessment instruments, and continuous development of teachers’ assessment competence to ensure sustainable implementation.</p> <p><strong>ABSTRAK<br /></strong>Penerapan pembelajaran <em>deep learning</em> menuntut sistem asesmen yang mampu merepresentasikan proses belajar, kemampuan berpikir tingkat tinggi, dan capaian belajar siswa secara bermakna. Dalam konteks ini, asesmen autentik dipandang relevan, namun implementasinya di tingkat sekolah belum berlangsung secara konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi guru terhadap adopsi asesmen autentik dalam pembelajaran <em>deep learning</em> dengan menelaah karakteristik adopsinya melalui lima atribut inovasi, yaitu keunggulan relatif, kesesuaian, kompleksitas, kemungkinan dicoba, dan keteramatan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal yang dilaksanakan di salah satu SMP negeri di Kabupaten Karawang. Informan penelitian terdiri atas sepuluh guru dari berbagai mata pelajaran yang dipilih secara purposive. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi pembelajaran, dan analisis dokumen, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memersepsikan asesmen autentik memiliki keunggulan dalam menilai proses belajar, kemampuan berpikir tingkat tinggi, dan unjuk kerja siswa, terutama pada mata pelajaran berbasis praktik. Namun demikian, tingkat kesesuaian dan keteramatannya bervariasi antar mata pelajaran, sementara kompleksitas penerapan menjadi hambatan utama. Secara keseluruhan, adopsi asesmen autentik masih berada pada tahap awal dan memerlukan dukungan kebijakan sekolah, ketersediaan perangkat asesmen yang terstruktur, serta penguatan kompetensi guru agar implementasinya berkelanjutan.</p> 2026-01-22T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Devi Hidayat, Dina Siti Logayah, Mamat Ruhimat https://jurnalp4i.com/index.php/strategi/article/view/9071 ANALISIS BIBLIOMETRIK TREN PENELITIAN PENDIDIKAN BIOLOGI BERBASIS KEARIFAN LOKAL 2026-01-13T06:25:14+00:00 Imelda Puji Astuti 20231310009@uniku.ac.id Agus Yadi Ismail 20231310009@uniku.ac.id <p>This study aims to examine research trends and thematic patterns in biology <em>education</em> studies that incorporate <em>local wisdom</em> in Indonesia during the 2021–2026 period, as well as to identify the dominant research directions within this field. The study is grounded in the growing concern over declining ecological awareness and the weakening integration of local cultural values in biology learning amid the globalization of science <em>education</em>. A quantitative bibliometric approach was employed using publication data retrieved from Google Scholar. A total of 972 relevant articles were analyzed with the assistance of <em>VOSviewer</em> to visualize keyword networks, thematic clusters, and interrelationships among research topics. The findings indicate that biology <em>education</em> research based on <em>local wisdom</em> primarily focuses on the development of locally grounded <em>learning resources</em>, the integration of project-based learning, and the application of contextual learning approaches to strengthen students’ ecological character. Bibliometric mapping reveals six major interconnected clusters, with <em>local wisdom</em>, <em>learning resources</em>, and <em>environmental education</em> serving as central themes. These results highlight the strategic role of <em>local wisdom</em> in fostering meaningful and sustainable biology learning. Future research is recommended to investigate the effectiveness of <em>local wisdom</em>-based instructional models through experimental approaches across diverse <em>education</em>al settings.</p> <p><strong>ABSTRAK<br /></strong>Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kecenderungan dan pola perkembangan kajian pendidikan biologi yang mengintegrasikan kearifan lokal di Indonesia selama periode 2021–2026, serta memetakan tema-tema utama yang mendominasi arah penelitian pada bidang tersebut. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada semakin berkurangnya perhatian terhadap kesadaran ekologis dan nilai budaya lokal dalam pembelajaran biologi seiring dengan menguatnya arus globalisasi pendidikan sains. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis bibliometrik dengan sumber data publikasi ilmiah yang diperoleh dari Google Scholar. Sebanyak 972 artikel yang relevan dianalisis menggunakan perangkat lunak <em>VOSviewer</em> untuk memvisualisasikan jejaring kata kunci, pemetaan kluster, serta keterkaitan antartema penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa penelitian pendidikan biologi berbasis kearifan lokal didominasi oleh tema pengembangan sumber belajar berbasis potensi lokal, penerapan pembelajaran berbasis proyek, dan penggunaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran biologi. Visualisasi bibliometrik mengidentifikasi enam kluster utama yang saling terhubung, dengan fokus pada <em>local wisdom</em>, <em>learning resources</em>, dan <em>environmental education</em>. Temuan ini menegaskan bahwa kearifan lokal memiliki peran strategis dalam membangun pembelajaran biologi yang relevan, bermakna, dan berkelanjutan. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji efektivitas implementasi pembelajaran berbasis kearifan lokal melalui pendekatan eksperimental pada berbagai konteks pendidikan.</p> 2026-01-22T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Imelda Puji Astuti, Agus Yadi Ismail