PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy
<p style="text-align: justify;"><strong>PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi</strong> | <a href="https://sinta.kemdiktisaintek.go.id/journals/profile/11682"><strong>Terakreditasi Sinta 4 </strong></a>diterbitkan 4 kali setahun (Maret, Juni, September, dan Desember) oleh Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) yang berafiliasi dengan Perguruan Tinggi Indonesia.. Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan ilmu pendidikan dan psikologi.<br /><strong>e-ISSN : </strong><strong>2797-3344 </strong><strong>| </strong><strong>p-ISSN :</strong> <strong>2797-3336</strong></p>Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)en-USPAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi2797-3336DAMPAK POLA ASUH DEMOKRATIS SINGLE PARENT TERHADAP PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ANAK DI MAN 1 KOTA PONTIANAK
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8117
<p>This research is motivated by the significance of parenting styles in shaping children's psychosocial development, particularly within single-parent families, which frequently contend with emotional, social, and economic challenges. This research focuses on identifying the influence of democratic parenting styles employed by single parents on the psychosocial development of students at MAN 1 Pontianak City. The research employed a quantitative methodology, encompassing instrument development, validity and reliability testing, data collection via questionnaires, and statistical analysis. The statistical analysis included descriptive statistics, normality testing, linearity testing, and simple linear regression. The research sample comprised 32 students raised by single parents. The research findings indicate that the data exhibit a normal distribution and demonstrate a linear relationship between democratic parenting styles and children's psychosocial development. Regression analysis yielded a R value of 0.673 and an R-squared value of 0.453. This indicates that democratic parenting contributes 45.3% to children's psychosocial development, with the remaining variance attributed to other factors. The positive regression coefficient (0.347) and a significance value of 0.000 suggest a positive and significant relationship between the two variables. Consequently, a democratic parenting style has been shown to play a significant role in fostering self-esteem, self-control, social competence, and emotional stability in children of single parents. These findings underscore that a nurturing, communicative parenting style, coupled with clearly defined boundaries, can serve as a protective factor in child development within non-traditional family structures.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pola asuh dalam membentuk perkembangan psikososial anak, terutama pada keluarga single parent yang sering menghadapi masalah emosional, sosial, dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan bagaimana pola asuh demokratis orang tua tunggal berdampak pada perkembangan psikososial siswa di MAN 1 Kota Pontianak. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, yang mencakup pembuatan instrumen, pengujian validitas dan reliabilitas, pengumpulan data melalui kuesioner, dan analisis statistik, yang mencakup uji normalitas, uji linieritas, uji regresi linier sederhana, dan uji deskriptif. Grup penelitian terdiri dari 32 siswa yang diasuh oleh satu orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang linier antara pola asuh demokratis dan perkembangan psikososial anak. Data juga berdistribusi normal. Ada koefisien regresi positif (0,347) dan nilai signifikansi 0,000, yang menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki pengaruh positif dan signifikan satu sama lain. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa pola asuh demokratis memberikan kontribusi sebesar 45,3% terhadap perkembangan psikososial anak, dengan nilai R = 0,673 dan R Square = 0,453. Oleh karena itu, pola asuh demokratis telah ditunjukkan untuk meningkatkan kepercayaan diri, kontrol diri, kemampuan sosial, dan stabilitas emosional anak-anak yang dibesarkan oleh satu orang tua. Menurut temuan ini, pola asuh yang ramah, komunikatif, dan memberi batasan yang jelas dapat membantu perkembangan anak dalam keluarga yang tidak lengkap.</p> <p> </p> <p> </p>Dwi Tysna Duta PrasetyoNur Kur’aniRiszky Ramadhan
Copyright (c) 2026 Dwi Tysna Duta Prasetyo, Nur Kur’ani, Riszky Ramadhan
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-032026-01-036111110.51878/paedagogy.v6i1.8117PSIKOEDUKASI REGULASI EMOSI UNTUK MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL PADA SISWA SMK X
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8449
<p>Emotional intelligence is a crucial competency for vocational high school students in managing academic demands, social interactions, and preparation for entering the workforce. Preliminary findings indicate that many students experience difficulties in recognizing, understanding, and regulating their emotions adaptively. This program aimed to enhance students’ emotional intelligence through emotion regulation psychoeducation delivered in three structured sessions, including emotional awareness, identification of emotional triggers and calming strategies, and management of negative thoughts and emotional responses. The program was implemented at SMK X and involved 31 eleventh-grade TKR students using an educational and participatory approach through learning modules, self-reflection, group discussions, and emotional skill exercises. Program effectiveness was evaluated using a pre-test and post-test design with an emotional intelligence assessment instrument. The results demonstrated an increase in the mean emotional intelligence score from 92.6 prior to the intervention to 101.8 following the intervention. N-Gain Score analysis revealed that most participants showed low to moderate improvement, while a small proportion achieved high improvement. Overall, emotion regulation psychoeducation positively contributed to students’ ability to recognize emotions, understand emotional triggers, and apply more constructive emotional management strategies. These findings suggest that psychoeducational interventions can serve as a practical preventive approach to fostering emotional intelligence and supporting a more adaptive, positive, and supportive school environment.</p> <p><strong>ABSTRAK<br /></strong>Kecerdasan emosional merupakan kompetensi esensial bagi peserta didik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam menghadapi tuntutan akademik, interaksi sosial, dan kesiapan memasuki dunia kerja. Temuan awal menunjukkan bahwa sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam mengenali, memahami, dan mengelola emosi secara adaptif. Program ini bertujuan meningkatkan kecerdasan emosional siswa melalui psikoedukasi regulasi emosi yang disusun dalam tiga sesi bertahap, meliputi pengenalan emosi, identifikasi pemicu serta strategi penenangan diri, dan pengelolaan pikiran serta respons emosional negatif. Kegiatan dilaksanakan di SMK X dengan melibatkan 31 siswa kelas XI TKR menggunakan pendekatan edukatif-partisipatif melalui modul pembelajaran, refleksi diri, diskusi kelompok, dan latihan keterampilan emosional. Evaluasi efektivitas program dilakukan menggunakan desain pre-test dan post-test dengan instrumen kecerdasan emosional. Hasil menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata kecerdasan emosional dari 92,6 sebelum intervensi menjadi 101,8 setelah intervensi. Analisis N-Gain Score mengindikasikan bahwa sebagian besar peserta mengalami peningkatan pada kategori rendah hingga sedang, sementara sebagian kecil mencapai kategori tinggi. Secara keseluruhan, psikoedukasi regulasi emosi berkontribusi positif dalam meningkatkan kemampuan siswa mengenali emosi, memahami pemicu, serta menerapkan strategi pengelolaan emosi secara lebih konstruktif. Program ini berpotensi menjadi intervensi preventif yang aplikatif untuk mendukung perkembangan sosial-emosional siswa dan menciptakan iklim sekolah yang lebih adaptif dan kondusif.</p>Nadya Ferdhita AnggraeniIma Fitri Sholichah
Copyright (c) 2026 Nadya Ferdhita Anggraeni, Ima Fitri Sholichah
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-042026-01-0461122110.51878/paedagogy.v6i1.8449TRADISI CHENG BENG DAN IMPLIKASINYA DALAM PERSPEKTIF PSIKIATRI BUDAYA
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8212
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Cheng Beng tradition is an ancestral ritual performed by the Chinese community, aiming to maintain a spiritual connection with ancestors and preserve cultural values and Chinese ethnic identity. The background of this tradition is rooted in the importance of honoring ancestors in Chinese culture, which is carried out through rituals such as prayers, grave cleaning, and offering sacrifices. This study aims to analyze the psychological and social significance of the Cheng Beng tradition and its implications from a cultural psychiatry perspective. The research method employed is a literature review, examining various sources related to the Cheng Beng tradition, symbolism theory, and psychological motivation in cultural practices. The research stages involve collecting data from journals, books, and related articles, which are analyzed to understand the psychological, social, and spiritual aspects embedded in this tradition. The findings suggest that the Cheng Beng tradition strengthens cultural identity, enhances family solidarity, and fulfills spiritual and emotional needs. The Cheng Beng tradition is not merely a cultural ritual but also a practice with profound meaning in the lives of the Chinese community, serving as a form of ancestor veneration as well as a mechanism for maintaining mental health and strengthening family relationships. From the perspective of cultural psychiatry, this tradition functions as a symbolic space that helps individuals and families maintain psychological balance and ensure the continuity of cultural values across generations.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Tradisi <em>Cheng Beng</em> adalah ritual penghormatan leluhur yang telah lama dilaksanakan oleh masyarakat Tionghoa, yang bertujuan untuk menjaga hubungan spiritual dengan leluhur serta melestarikan nilai-nilai budaya dan menjadi identitas etnis Tionghoa. Latar belakang dari tradisi ini terkait dengan pentingnya menghormati leluhur dalam budaya Tionghoa, yang dilakukan melalui ritual sembahyang, pembersihan makam, dan pemberian persembahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna psikologis dan sosial dari tradisi <em>Cheng Beng</em>, serta implikasinya dalam perspektif psikiatri budaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah <em>literature review</em> yang mengkaji berbagai sumber mengenai tradisi <em>Cheng Beng</em>, teori simbolisme, dan motivasi psikologis dalam praktik budaya. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan data dari jurnal, buku, dan artikel terkait, yang dianalisis untuk memahami aspek psikologis, sosial, dan spiritual yang terkandung dalam tradisi ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi <em>Cheng Beng</em> berfungsi untuk memperkuat identitas budaya, meningkatkan solidaritas keluarga, dan memenuhi kebutuhan spiritual serta emosional. Tradisi Cheng Beng tidak hanya sekadar ritual budaya, tetapi juga merupakan praktik yang memiliki makna mendalam dalam kehidupan masyarakat Tionghoa sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus mekanisme pemeliharaan kesehatan mental dan penguatan relasi keluarga. Dalam perspektif psikiatri budaya, tradisi ini berperan sebagai ruang simbolik yang membantu individu dan keluarga menjaga keseimbangan psikologis serta kesinambungan nilai-nilai budaya lintas generasi.</p>Mikael AdityaCokorda Bagus Jaya LesmanaNi Ketut Putri Ariani
Copyright (c) 2026 Mikael Aditya, Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Ni Ketut Putri Ariani
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-062026-01-0661223010.51878/paedagogy.v6i1.8212ASPEK PSIKIATRI DALAM UPACARA MEGEDONG-GEDONGAN
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8213
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Pregnancy is a period of biological, psychological, and social transition that increases women’s vulnerability to mental health disorders, particularly perinatal anxiety and depression. Although various biomedical approaches have been developed, they have not fully addressed the psychosocial and cultural aspects influencing maternal well-being. In Balinese culture, the Megedong-gedongan (Garbha Wedana) ceremony is a pregnancy ritual rich in spiritual and social meaning and involves family and community participation. The purpose of this article is to examine the role of the Megedong-gedongan ceremony on maternal mental health from a cultural psychiatry perspective. The method used is a literature study with a descriptive qualitative approach through a search of scientific journal articles, reference books, and policy documents related to perinatal mental health and cultural practices of pregnancy published between 2016 and 2025. The research stages include identification and selection of literature, critical review of content, grouping themes, and synthesis and interpretation of results within a cultural psychiatry framework. The results indicate that the Megedong-gedongan ceremony acts as a form of social support that includes emotional, informational, and practical support, which has the potential to reduce stress and anxiety levels in pregnant women and increase psychological readiness for childbirth. This study affirms that Megedong-gedongan constitutes a relevant socio-cultural capital for promoting the mental health of pregnant women and has the potential to be integrated into culturally sensitive maternal healthcare approaches.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kehamilan merupakan masa transisi biologis, psikologis, dan sosial yang meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental, khususnya kecemasan dan depresi perinatal. Meskipun pendekatan biomedis telah dikembangkan, aspek psikososial dan budaya belum sepenuhnya terakomodasi. Dalam budaya Bali, upacara Megedong-gedongan (Garbha Wedana) merupakan ritual kehamilan bermakna spiritual dan sosial yang melibatkan keluarga serta komunitas. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengkaji peran upacara Megedong-gedongan terhadap kesehatan mental ibu hamil dari perspektif psikiatri budaya. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui penelusuran artikel jurnal ilmiah, buku rujukan, dan dokumen kebijakan terkait kesehatan mental perinatal dan praktik budaya kehamilan yang terbit dalam rentang tahun 2016–2025. Tahapan penelitian meliputi identifikasi dan seleksi literatur, telaah kritis isi, pengelompokan tema, serta sintesis dan pemaknaan hasil dalam kerangka psikiatri budaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa upacara Megedong-gedongan berperan sebagai bentuk dukungan sosial yang mencakup dukungan emosional, informasional, dan praktis, yang berpotensi menurunkan tingkat stres dan kecemasan ibu hamil serta meningkatkan kesiapan psikologis menghadapi persalinan. Penelitian ini menegaskan bahwa Megedong-gedongan merupakan modal sosial-budaya yang relevan untuk promosi kesehatan mental ibu hamil dan berpotensi diintegrasikan dalam pendekatan layanan kesehatan maternal yang sensitif budaya.</p>G. A. Ade Cahayani SaraswatiCokorda Bagus Jaya LesmanaNi Ketut Putri ArianiLuh Nyoman Alit Aryani
Copyright (c) 2026 G. A. Ade Cahayani Saraswati, Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Ni Ketut Putri Ariani, Luh Nyoman Alit Aryani
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-062026-01-0661313810.51878/paedagogy.v6i1.8213GANGGUAN BAHASA PSIKOGENIK KING ALOY PADA CANAL YOUTUBE VINDES: KAJIAN PSIKOLINGUISTIK
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8338
<p>This study aims to identify and analyze the types of psychogenic disorders experienced by King Aloy in the YouTube video titled “Aloy Gak Mood Vincent Desta Hesti Enzy Sembah Aloy Supaya Mau Syuting” (Aloy is not in the mood, Vincent Desta Hesti Enzy begs Aloy to film). The method used was qualitative with data collection techniques of observation and note-taking, namely by observing King Aloy's conversations and body movements throughout the video. Based on the results of the analysis, five types of psychogenic tics were found, namely echolalia, echopraxia, coprolalia, autoecolalia, and automatic obedience. The symptom of echolalia was evident when King Aloy repeated words spoken by others, such as “best moment.” Echopraxia appeared when he imitated Desta's bowing gesture. Coprolalia was evident in his spontaneous exclamation of ‘goblok’ (stupid) when he was surprised. Autoecholalia was seen when he repeated his own words, such as “lah, lah” and “padel, padel.” Meanwhile, automatic obedience is seen when he raises his eyebrows or imitates the “Opa Gangnam Style” movement after being commanded or provoked verbally. The results of the study show that King Aloy's echolalia behavior often experiences psychogenic echolalia, namely autoecolalia.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis jenis-jenis gangguan psikogenik latah yang dialami oleh King Aloy dalam tayangan YouTube Vindes berjudul “Aloy Gak Mood Vincent Desta Hesti Enzy Sembah Aloy Supaya Mau Syuting”. Metode yang digunakan ialah kualitatif dengan teknik pengumpulan data simak dan catat, yaitu dengan menyimak percakapan dan gerak tubuh King Aloy selama video berlangsung. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan lima jenis gangguan psikogenik latah, yaitu <em>Ekolalia</em>, <em>Ekopraksia</em>, koprolalia, auto<em>Ekolalia</em>, dan automatic obedience. Gejala <em>Ekolalia</em> tampak ketika King Aloy mengulang kata yang diucapkan orang lain, seperti “best moment”. <em>Ekopraksia</em> muncul saat ia menirukan gerakan Desta yang membungkuk. Koprolalia tampak dari ucapan spontan “goblok” ketika terkejut. Auto<em>Ekolalia</em> terlihat ketika ia mengulang kata-katanya sendiri seperti “lah, lah” dan “padel, padel”. Sedangkan automatic obedience terlihat ketika ia menaikkan alis atau menirukan gerakan “Opa Gangnam Style” setelah diperintah atau dipancing secara verbal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku latah King Aloy sering mengalami gangguan psikogenik lata yaitu auto<em>Ekolalia</em>.</p>Salsabyla Nurul KhanifahEko Suroso
Copyright (c) 2026 Salsabyla Nurul Khanifah, Eko Suroso
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-072026-01-0761394610.51878/paedagogy.v6i1.8338PENTINGNYA PEMAHAMAN ORANG TUA TERHADAP KESEHATAN MENTAL ANAK DI TENGAH KONFLIK KELUARGA
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8215
<p><strong>ABSTRACT </strong></p> <p>This study examines the crucial role of parental understanding in maintaining children’s mental health amid increasing family conflicts caused by economic pressure, social factors, and cultural changes in Indonesia. The study aims to analyze the impact of family conflict on children’s mental health, including anxiety, depression, and other emotional disorders, as well as to explore the application of democratic parenting as a preventive strategy. A qualitative descriptive approach was employed through a literature review of 20 scientific articles published between 2020 and 2025, using thematic analysis to identify the main themes. The findings indicate that family conflict, such as divorce or unhealthy parenting practices, exacerbates children’s psychological conditions. Conversely, warm and balanced democratic parenting enhances parental awareness of children’s emotional needs. Legal and religious support further strengthens the effectiveness of such interventions. This study concludes that enhancing parental understanding through education and effective communication is a strategic step to prevent the long-term negative effects of family conflict on children’s psychological well-being.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini membahas peran penting pemahaman orang tua dalam menjaga kesehatan mental anak di tengah meningkatnya konflik keluarga yang disebabkan oleh tekanan ekonomi, faktor sosial, dan perubahan nilai budaya di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dampak konflik keluarga terhadap kesehatan mental anak yang meliputi kecemasan, depresi, dan gangguan emosional lainnya, serta menelaah penerapan pola asuh demokratis sebagai strategi pencegahan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui tinjauan literatur terhadap 20 artikel ilmiah yang diterbitkan pada periode 2020-2025, dengan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola utama. Hasil kajian menunjukkan bahwa konflik keluarga, seperti perceraian atau pola asuh yang tidak sehat, memperburuk kondisi psikologis anak. Sebaliknya, pola asuh demokratis yang hangat dan seimbang terbukti meningkatkan kesadaran orang tua terhadap kebutuhan emosional anak. Dukungan dari aspek hukum dan keagamaan juga memperkuat efektivitas intevensi tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan pemahaman orang tua melalui pendidikan dan komunikasi yang efektif merupakan langkah strategis untuk mencegah dampak jangka panjang konflik keluarga terhadap kesejahteraan psikologis anak.</p>Ghaniyya Putri SalsabilaYani AchdianiGina Indah Permata Nastia
Copyright (c) 2026 Ghaniyya Putri Salsabila, Yani Achdiani, Gina Indah Permata Nastia
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-082026-01-0861475510.51878/paedagogy.v6i1.8215PERAN MINDFULNESS TERHADAP STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR UNIVERSITAS X JAKARTA
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8216
<p><strong>ABSTRACT </strong></p> <p>Final-year university students often face high levels of academic pressure due to thesis completion demands, complex coursework, and the transition toward entering the workforce. These pressures can trigger academic stress, which negatively impacts psychological well-being and learning performance. This study aims to analyze the role of mindfulness in reducing academic stress among final-year students at University X Jakarta and to identify gender differences in mindfulness and academic stress. Using a quantitative approach with a simple linear regression design, the study involved 410 final-year students aged 20–25. Data were collected online using the Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) and the Perceived Academic Stress Scale (PAS). The analysis included regression assumption tests, simple linear regression, and Independent Samples t-test. The findings indicate that mindfulness has a significant and negative effect on academic stress, with a coefficient of determination (R²) of 0.123, meaning that mindfulness contributes 12.3% to the reduction of academic stress. Additionally, gender differences were observed: male students demonstrated higher mindfulness levels and lower academic stress compared to female students. This study concludes that mindfulness serves as a protective factor in reducing academic stress, although most of the stress variance is influenced by factors beyond mindfulness. These findings highlight the importance of implementing mindfulness-enhancement programs in higher education as a strategy to support the mental well-being of final-year students.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Mahasiswa tingkat akhir sering menghadapi tekanan akademik yang tinggi akibat tuntutan penyelesaian skripsi, beban tugas kompleks, serta persiapan transisi menuju dunia kerja. Tekanan ini berpotensi memicu stres akademik yang berdampak pada kesejahteraan psikologis dan performa belajar. Penelitian ini menganalisis peran <em>mindfulness</em> dalam menurunkan tingkat stres akademik pada mahasiswa tingkat akhir di Universitas X Jakarta, serta mengidentifikasi perbedaan tingkat <em>mindfulness</em> dan stres akademik berdasarkan jenis kelamin. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain regresi linear sederhana yang melibatkan 410 mahasiswa tingkat akhir berusia 20–25 tahun. Data dikumpulkan secara daring menggunakan instrumen <em>Five Facet Mindfulness Questionnaire</em> (FFMQ) dan <em>Perceived Academic Stress Scale</em> (PAS), kemudian dianalisis melalui uji asumsi regresi, regresi linear sederhana, dan <em>Independent Samples t-test</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa <em>mindfulness</em> berpengaruh signifikan dan negatif terhadap stres akademik dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,123, yang berarti <em>mindfulness</em> berkontribusi 12,3% dalam menurunkan stres akademik. Selain itu, ditemukan perbedaan berdasarkan jenis kelamin, di mana mahasiswa laki-laki memiliki tingkat <em>mindfulness</em> lebih tinggi dan stres akademik lebih rendah dibandingkan mahasiswa perempuan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa <em>mindfulness</em> berperan sebagai faktor protektif dalam mengurangi stres akademik, namun sebagian besar varians stres dipengaruhi oleh faktor lain di luar <em>mindfulness</em>. Temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan program peningkatan <em>mindfulness</em> di perguruan tinggi sebagai strategi mendukung kesehatan mental mahasiswa tingkat akhir.</p>Amanda Diva VebiyanNiken Widi Astuti
Copyright (c) 2026 Amanda Diva Vebiyan, Niken Widi Astuti
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-082026-01-0861566510.51878/paedagogy.v6i1.8216JENIS KELAMIN DAN ADAPTABILITAS KARIER: BUKTI EMPIRIS PADA MAHASISWA JABODETABEK DI ERA DINAMIKA DUNIA KERJA
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/7988
<p>Career adaptability refers to an individual's capacity to proactively cope with and adjust to challenges in career development. This study aims to examine gender differences in career adaptability among undergraduate students in the Greater Jakarta area (Jabodetabek). Despite the region's high labor market dynamics, research on students' adaptive readiness remains limited. Moreover, the use of the Career Adapt-Abilities Scale–Short Form (CAAS-SF) within the Indonesian context is still rare, highlighting a methodological gap addressed in this study. A total of 507 undergraduate students from various public and private universities participated in this study, which is part of the "Membangun Generasi Muda Mandiri" (MGMM) research program. A quantitative comparative approach was employed using the CAAS-SF with a 6-point Likert scale. The results of the independent samples t-test showed no significant difference in career adaptability between male and female students (p = 0.165). Overall, the students demonstrated a high level of career adaptability, reflected across all four dimensions: concern, control, curiosity, and confidence. These findings suggest that gender is not a primary determinant of students' career adaptability. Practically, this study provides an empirical foundation for developing inclusive and gender-equitable career services in higher education institutions, particularly in metropolitan areas like Jabodetabek, by focusing on strengthening adaptability dimensions rather than differentiating interventions by gender.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Adaptabilitas karier adalah kemampuan individu untuk menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap tantangan dalam perkembangan karier secara proaktif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan adaptabilitas karier berdasarkan jenis kelamin pada mahasiswa S1 di wilayah Jabodetabek. Kawasan ini memiliki dinamika pasar kerja yang tinggi, namun penelitian mengenai kesiapan adaptif mahasiswa masih terbatas. Penggunaan Career Adapt-Abilities Scale–Short Form (CAAS-SF) dalam konteks Indonesia juga belum banyak dilakukan, sehingga studi ini mengisi celah metodologis yang ada. Sebanyak 507 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta terlibat dalam penelitian ini, yang merupakan bagian dari program Membangun Generasi Muda Mandiri (MGMM). Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif komparatif dengan instrumen CAAS-SF skala Likert 6 poin. Hasil uji independent samples t-test menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan adaptabilitas karier antara mahasiswa laki-laki dan perempuan (p = 0,165). Tingkat adaptabilitas karier mahasiswa secara keseluruhan tinggi, termasuk pada keempat dimensinya: concern, control, curiosity, dan confidence. Hasil ini menunjukkan bahwa jenis kelamin bukan penentu utama dalam perbedaan adaptabilitas karier mahasiswa. Secara praktis, temuan ini menjadi dasar pengembangan layanan karier yang setara dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswa di wilayah metropolitan, tanpa membedakan berdasarkan jenis kelamin.</p>Yohana Sri RahayuWilliam Gunawan
Copyright (c) 2026 Yohana Sri Rahayu, William Gunawan
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-102026-01-1061668110.51878/paedagogy.v6i1.7988HUBUNGAN SELF-ESTEEM DENGAN RESILIENSI PADA DEWASA AWAL KORBAN KEKERASAN DALAM PACARAN
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/7919
<p>Many victims of dating violence feel worthless, fear abandonment, and blame themselves for situations beyond their control, all of which lead to low self-esteem. Resilience, on the other hand, is a measure of an individual’s ability to cope with stress or difficulties. Individuals with high resilience are better able to reinterpret their experiences of violence as valuable life lessons and avoid lingering trauma. This study aims to analyze the relationship between self- esteem and resilience in young adults who have experienced dating violence. The research method used was a quantitative correlational method with a purposive sampling technique for 305 respondents aged 20–40 years who had a history of dating violence. The instruments used included the Rosenberg Self-Esteem (RSES) and the Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC). The study was conducted online, and data collection was carried out by distributing an online questionnaire using Google Forms distributed through social media such as Instagram, WhatsApp, and Line. The reliability test showed a Cronbach’s Alpha value of 0.839 for self-esteem and 0.968 for resilience. The Kolmogorov-Smirnov normality test yielded a p value > 0.000, so the analysis was continued using the Spearman correlation test. The results of the analysis showed a significant positive relationship between self-esteem and resilience (p = 0.417; p < 0.000), which indicates that individuals with high levels of self-esteem tend to have high levels of resilience as well. This finding confirms that the experience of being a victim of dating violence has an impact on self-improvement and the ability to trust others.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Banyak korban kekerasan dalam pacaran merasa tidak berharga, takut ditinggalkan, dan menyalahkan diri sendiri atas situasi yang sebenarnya berada di luar kendali mereka, yang semuanya mengarah pada rendahnya <em>self-esteem</em>. Di sisi lain, resiliensi merupakan tolak ukur kemampuan individu dalam mengatasi tekanan atau kesulitan yang dihadapi. Individu yang memiliki resiliensi tinggi lebih mampu memaknai ulang pengalaman kekerasan yang dialaminya sebagai pembelajaran hidup yang berharga dan tidak larut dalam trauma berkepanjangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara <em>self-esteem </em>dengan resiliensi pada dewasa awal yang mengalami korban kekerasan dalam pacaran. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan teknik <em>purposive sampling </em>terhadap 305 responden berusia 20–40 tahun yang memiliki riwayat korban kekerasan dalam pacaran. Instrumen yang digunakan meliputi <em>Rosenberg Self-Esteem </em>(RSES) dan <em>Connor-Davidson Resilience Scale </em>(CD- RISC). Penelitian dilakukan secara <em>online</em>, dan pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner <em>online </em>menggunakan <em>Google Form </em>yang disebarkan melalui media sosial berupa <em>Instagram</em>,<em> Whatsapp</em>, dan <em>Line</em>. Uji reliabilitas menunjukkan nilai <em>Cronbach’s Alpha </em>sebesar 0,839 pada <em>self-esteem </em>dan 0,968 pada resiliensi. Uji normalitas <em>Kolmogrov-Smirnov</em> menghasilkan nilai p > 0,000, sehingga analisis dilanjutkan menggunakan uji kolerasi <em>Spearman</em>. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara <em>self-esteem </em>dengan resiliensi (p = 0,417; p < 0,000), yang mengindikasikan bahwa individu dengan tingkat <em>self-esteem </em>tinggi cenderung memiliki tingkat resiliensi yang tinggi pula. Temuan ini menegaskan bahwa pengalaman korban kekerasan dalam pacaran berdampak pada peningkatan diri dan kemampuan mempercayai orang lain.</p>Latifah Liwanti PutriNaomi Soetikno
Copyright (c) 2026 Latifah Liwanti Putri, Naomi Soetikno
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-122026-01-1261829610.51878/paedagogy.v6i1.7919PERAN MEDIA SOSIAL DALAM MEMBENTUK CINTA TANAH AIR GEN Z MELALUI KONTEN KEBERAGAMAN BUDAYA INDONESIA
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8018
<p>Cultural diversity in Indonesia is one of the nation's most distinctive characteristics and serves as a source of national pride, reflected through the expression of nationalism among its people. In this technological era, social media plays a significant role in shaping individuals' sense of national pride by exposing them to viral content that highlights Indonesia's cultural diversity, thereby forming a national identity for each individual. For Generation Z, the process of forming a national identity is not only shaped by direct interaction, but also influenced by digital communication that takes place on social media. This study aims to explore the role of social media in shaping nationalism among Generation Z individuals through various types of viral content related to Indonesia's cultural diversity. This study used a scoping review method as the main approach. The results of the scoping review show that research on nationalism and love for the homeland in the digital age remains an important focus in the fields of education, culture, and communication. Through active participation in social media, Generation Z can help preserve Indonesia's diverse culture and strengthen the spirit of nationalism that reflects the value of Bhinneka Tunggal Ika (unity in diversity) within the realm of social media.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Keberagaman budaya di Indonesia merupakan salah satu ciri khas bangsa yang perlu dibanggakan oleh masyarakat Indonesia, yaitu dengan menunjukkan rasa cinta tanah air. Di era yang serba teknologi, peran media sosial akan memberikan banyak dampak terhadap individu dalam membentuk rasa cinta tanah air melalui perasaan bangga ketika melihat banyak konten viral yang berisikan keberagaman budaya Indonesia, hingga terbentuk identitas nasional bagi setiap individu. Bagi Gen Z, proses pembentukan identitas nasional tidak hanya terbentuk dari interaksi langsung, tetapi juga dipengaruhi oleh komunikasi digital yang berlangsung di media sosial. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peran media sosial dalam membentuk rasa cinta tanah air pada individu Gen Z melalui berbagai macam konten viral terkait keberagaman budaya Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode <em>scoping review</em> sebagai pendekatan utama. Hasil <em>scoping review</em> menunjukkan bahwa penelitian mengenai nasionalisme dan cinta tanah air di era digital, masih menjadi fokus penting dalam bidang pendidikan, budaya, dan komunikasi. Melalui partisipasi aktif di media sosial, generasi Z dapat ikut melestarikan kebudayaan Indonesia yang beragam, serta memperkuat semangat kebangsaan yang mencerminkan nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam lingkup media sosial.</p>Kyara NathashiaNazwa Rahma AuliaShafira Anggun AuliaLatifah Liwanti PutriPutri Alifia RahmadaniSri Tiatri
Copyright (c) 2026 Kyara Nathashia, Nazwa Rahma Aulia, Shafira Anggun Aulia, Latifah Liwanti Putri, Putri Alifia Rahmadani
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-122026-01-12619710910.51878/paedagogy.v6i1.8018HUBUNGAN ANTARA SELF-CONFIDENCE DENGAN TINDAKAN ACADEMIC DISHONESTY PADA MAHASISWA PENGGUNA CHATGPT
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8336
<p>This study aims to examine the relationship between self-confidence and academic dishonesty among university students who use ChatGPT. Amid the increasing use of Artificial Intelligence (AI) in academia, concerns have arisen regarding its potential misuse. Using a correlational quantitative approach, data were collected from 104 students through purposive sampling. Two standardized instruments were used to measure self-confidence and academic dishonesty. The results indicated that students had high levels of self-confidence and low tendencies toward academic dishonesty. A significant negative relationship was found between the two variables (r = -0.287, p = 0.003), particularly in the grades and studying dimensions. No gender differences were observed in self-confidence, but a significant difference was found in academic dishonesty between male and female students. This study offers important insights into the protective role of self-confidence against unethical behavior in AI usage and supports the need for implementing digital ethics policies in higher education.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara self-confidence dan academic dishonesty pada mahasiswa pengguna ChatGPT di perguruan tinggi. Di tengah meningkatnya pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam dunia akademik, muncul kekhawatiran terkait potensi penyalahgunaannya. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional, data dikumpulkan dari 104 mahasiswa melalui teknik purposive sampling. Pengukuran dilakukan dengan dua skala terstandarisasi: skala self-confidence dan skala academic dishonesty. Hasil analisis menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki tingkat self-confidence yang tinggi dan kecenderungan academic dishonesty yang rendah. Terdapat hubungan negatif signifikan antara kedua variabel (r = -0.287, p = 0.003), terutama pada dimensi grades dan studying. Tidak ditemukan perbedaan self-confidence berdasarkan gender, namun terdapat perbedaan signifikan dalam academic dishonesty antara mahasiswa laki-laki dan perempuan. Studi ini memberikan kontribusi penting dalam memahami peran self-confidence sebagai faktor pelindung terhadap perilaku tidak etis dalam penggunaan AI, serta mendorong penerapan kebijakan etika digital dalam pendidikan tinggi.</p>Tasya VivianaSandi Kartasasmita
Copyright (c) 2026 Tasya Viviana, Sandi Kartasasmita
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-122026-01-126111011910.51878/paedagogy.v6i1.8336HUBUNGAN MINDFULNESS IN COMMUNICATION DAN VOICE BEHAVIOR PADA KARYAWAN OPERASIONAL INDUSTRI FOOD & BEVERAGE DI JAKARTA
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8708
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Communication problems that frequently occur in the workplace can be addressed through mindfulness, particularly mindfulness in communication, which refers to an individual’s ability to be fully present, open, and to respond calmly during the communication process. One aspect of workplace behavior related to mindfulness in communication is voice behavior, defined as employees’ tendency to express ideas or suggestions aimed at encouraging organizational improvement or change. This study aimed to examine whether there is a relationship between mindfulness in communication and voice behavior among employees in the Food & Beverage (F&B) industry in Jakarta. This study employed a non-experimental quantitative approach using purposive sampling as the data collection technique. The instruments used were the Mindfulness in Communication Scale and the Voice Behavior Scale. A total of 246 participants were involved, consisting of employees who were currently or had previously worked as operational employees in the F&B industry in Jakarta, worked in team-based F&B companies rather than individual enterprises, and had a minimum of six months of work experience. The results of the analysis indicated that mindfulness in communication had a positive correlation with voice behavior. These results suggest that higher levels of mindfulness in communication are associated with higher levels of voice behavior among operational employees in the F&B industry in Jakarta. Based on these findings, organizations may develop programs focused on enhancing mindfulness in communication and voice behavior to support better communication and increase employee contributions within the organization.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Permasalahan komunikasi yang sering terjadi di tempat kerja dapat diatasi dengan <em>mindfulness, </em>khususnya <em>mindfulness in communication </em>yang merupakan kemampuan individu untuk hadir secara utuh, terbuka, serta merespons dengan tenang dalam proses komunikasi. Salah satu aspek perilaku di tempat kerja yang berkaitan dengan <em>mindfulness in communication</em> adalah <em>voice behavior</em>, yaitu kecenderungan karyawan untuk menyampaikan ide atau masukan yang bertujuan untuk mendorong perubahan atau perbaikan organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara <em>mindfulness in communication</em> dan <em>voice behavior</em> pada karyawan industri <em>Food & Beverage </em>(F&B) di Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan teknik pengambilan data <em>purposive sampling</em>. Alat ukur yang digunakan adalah <em>Mindfulness in Communication Scale</em> dan <em>Voice Behavior Scale</em>. Partisipan berjumlah 246 karyawan dengan karakteristik sedang atau pernah bekerja sebagai karyawan operasional di industri F&B di Jakarta, bekerja di perusahaan F&B berbasis tim dan bukan usaha perseorangan, serta memiliki pengalaman kerja minimal enam bulan. Hasil analisis menunjukkan bahwa <em>mindfulness in communication</em> memiliki korelasi positif dengan <em>voice behavior</em>. Hasil tersebut dapat diartikan bahwa semakin tinggi tingkat <em>mindfulness in communication</em>, maka semakin tinggi pula tingkat <em>voice behavior </em>pada karyawan operasional di industri F&B di Jakarta. Berdasarkan hasil penelitian ini, perusahaan dapat mengembangkan program yang berfokus pada peningkatan <em>mindfulness in communication</em> dan <em>voice behavior</em> untuk mendukung komunikasi yang lebih baik dan meningkatkan kontribusi karyawan dalam organisasi.</p>Sheila SalvezzaUntung Subroto
Copyright (c) 2026 Sheila Salvezza, Untung Subroto
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-142026-01-146112012810.51878/paedagogy.v6i1.8708HUBUNGAN CYBERBULLYING DENGAN SELF-REGULATION PADA REMAJA PENGGUNA MEDIA SOSIAL
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/7922
<p>This study aims to examine the relationship between the experience of being a victim of cyberbullying and self-regulation skills in late adolescent social media users. A quantitative correlational approach was used, involving 310 adolescents aged 18–21 who actively use social media for more than 4 hours per day. Data in this study were collected online using the Cyberbullying Victimization Scale (9 items) to measure victimization experiences and the Short Self-Regulation Questionnaire (40 items) to measure self-regulation. The results of the Pearson Product Moment correlation analysis showed a strong and significant positive relationship (r = 0.690; p < 0.001), meaning that the more frequently adolescents experience cyberbullying as victims, the higher their level of self-regulation. The distribution of categorizations supports this finding, with 67.7% of respondents at high victimization levels and 68.4% at high self-regulation levels. No significant differences were found based on gender. These findings indicate that repeated exposure to cyberbullying can trigger increased self-regulation as an adaptive and protective mechanism in late adolescents.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara pengalaman menjadi korban cyberbullying dengan kemampuan self-regulation pada remaja akhir pengguna media sosial. Pendekatan kuantitatif korelasional digunakan dengan melibatkan 310 remaja berusia 18–21 tahun yang aktif menggunakan media sosial lebih dari 4 jam per hari. Data pada penelitian ini dikumpulkan secara daring menggunakan Cyberbullying Victimization Scale (9 item) untuk mengukur pengalaman sebagai korban dan Short Self-Regulation Questionnaire (40 item) untuk mengukur self-regulation. Hasil analisis korelasi Pearson Product Moment menunjukkan hubungan positif yang kuat dan signifikan (r = 0,690; p < 0,001), artinya semakin sering remaja mengalami cyberbullying sebagai korban, semakin tinggi tingkat self-regulation yang dimilikinya. Distribusi kategorisasi memperkuat temuan ini, dengan 67,7% responden berada pada tingkat victimization tinggi dan 68,4% pada self-regulation tinggi. Tidak ditemukan perbedaan yang signifikan berdasarkan jenis kelamin. Temuan ini mengindikasikan bahwa paparan berulang terhadap cyberbullying dapat memicu peningkatan self-regulation sebagai mekanisme adaptasi dan perlindungan diri pada remaja akhir.</p>Syalaisya Novi SyafitriNaomi Soetikno
Copyright (c) 2026 Syalaisya Novi Syafitri, Naomi Soetikno
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-152026-01-156112914110.51878/paedagogy.v6i1.7922SKRINING KESEHATAN MENTAL PADA IBU RUMAH TANGGA DI DESA ROBOABA, KECAMATAN SABU BARAT, KABUPATEN SABU RAIJUA
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8973
<p>Mental health is an essential factor influencing an individual's quality of life, including that of housewives who carry dual roles within the family and the community. Workload, economic pressure, and limited social support can increase the risk of mental health problems in this population. This study aims to describe the mental health condition of housewives in Roboaba Village, West Sabu District, Sabu Raijua Regency, with a specific focus on Daigama Hamlet. This research employed a quantitative descriptive design involving 87 housewives as respondents. The instrument used was the Self-Reporting Questionnaire (SRQ-29), developed by the World Health Organization (WHO), widely applied as a screening tool for mental health disorders. Data were analyzed using univariate methods and presented in frequency distributions and percentages. The results revealed that 58 respondents (66.7%) were indicated to have mental health problems, while 29 respondents (33.3%) showed no signs of such disorders. Based on the SRQ-29 dimensions, the most frequently reported symptoms were somatic symptoms (79.3%), followed by anxiety symptoms (64.4%), cognitive symptoms (62.1%), decreased energy (55.2%), trauma symptoms (54.0%), risk behaviors (54.0%), and depressive symptoms (48.3%). These findings indicate that housewives in Roboaba Village are highly vulnerable to mental health problems. Therefore, preventive and curative efforts are necessary, including increasing awareness of mental health, providing counseling services, and strengthening social support from families and the community.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kesehatan mental merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi kualitas hidup individu, termasuk ibu rumah tangga yang memiliki peran ganda dalam keluarga dan masyarakat. Beban peran, tekanan ekonomi, serta kurangnya dukungan sosial dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesehatan mental pada ibu rumah tangga di Desa Roboaba, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, dengan fokus lokasi di Dusun Daigama. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan jumlah responden sebanyak 87 ibu rumah tangga. Instrumen yang digunakan adalah Self-Reporting Questionnaire (SRQ-29) yang dikembangkan oleh WHO dan telah digunakan secara luas untuk skrining gangguan kesehatan mental. Analisis data dilakukan secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden terindikasi memiliki masalah kesehatan mental, yaitu sebanyak 58 orang (66,7%), sedangkan 29 orang (33,3%) tidak menunjukkan indikasi gangguan kesehatan mental . Berdasarkan aspek SRQ-29, gejala yang paling banyak ditemukan adalah gejala somatik sebanyak 69 orang (79,3%), diikuti oleh gejala kecemasan 56 orang (64,4%), gejala kognitif 54 orang (62,1%), gejala penurunan energi 48 orang (55,2%), gejala trauma 47 orang (54,0%), perilaku berisiko 47 orang (54,0%), dan gejala depresi 42 orang (48,3%) . Ini menunjukkan bahwa ibu rumah tangga di Desa Roboaba berada pada kondisi yang rentan terhadap gangguan kesehatan mental. Oleh karena itu, diperlukan perhatian dan intervensi melalui peningkatan kesadaran tentang kesehatan mental, penyediaan layanan konseling, serta dukungan sosial dari keluarga dan masyarakat. </p> <p> </p> <p> </p>Sakila Novirdia RamadhaniDian L. AnakakaShela C. PelloAbdi Keraf
Copyright (c) 2026 Sakila Novirdia Ramadhani, Dian L. Anakaka, Shela C. Pello, Abdi Keraf
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-152026-01-156114215210.51878/paedagogy.v6i1.8973HUBUNGAN CODEPENDENCY DENGAN LONELINESS PADA GEN-Z
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8969
<p>Codependent relationships are patterns in which individuals rely excessively on the needs and approval of others, to the point of neglecting their own personal needs. This condition can contribute to feelings of worthlessness, which in turn increases the risk of loneliness. loneliness is widely experienced by Generation Z, with more than half of its members reported feeling lonely across various social relationship contexts. This study aims to examine the relationship between codependency and loneliness among Generation Z. A quantitative approach with a correlational survey design was used. The participants consisted of 404 Generation Z individuals recruited through online sampling techniques. The instruments used were the Spann-Fischer Codependency Scale and the UCLA loneliness Scale Version 3, both of which had been adapted into Indonesian. Data were analyzed using Pearson’s Product-Moment Correlation. The results showed a significant positive relationship between codependency and loneliness among Generation Z (r = 0.503; p < 0.05). These findings indicate that the higher an individual's level of codependency, the higher their level of loneliness.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><em>Codependent relationship</em> merupakan pola hubungan ketika individu secara berlebihan bergantung pada kebutuhan dan persetujuan orang lain, sehingga mengabaikan kebutuhan personalnya sendiri. Kondisi ini dapat berkontribusi pada munculnya perasaan tidak berharga yang kemudian meningkatkan risiko <em>loneliness</em>. Fenomena <em>loneliness</em> banyak dialami oleh Generasi Z, dengan lebih dari setengah anggotanya dilaporkan merasakan kesepian dalam berbagai konteks hubungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara codependency dengan <em>loneliness </em>pada Generasi Z. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei korelasional. Partisipan berjumlah 404 orang Generasi Z yang diperoleh melalui teknik sampling daring. Instrumen yang digunakan yaitu <em>Spann-Fischer Codependency Scale</em> dan UCLA <em>loneliness Scale Version</em> 3 yang telah diadaptasi ke bahasa Indonesia. Teknik analisis data yang digunakan adalah <em>Pearson</em> <em>Product-Moment Correlation.</em> Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara <em>codependency</em> dengan <em>loneliness</em> pada Generasi Z (r = 0,503; p < 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat <em>codependency</em> individu, semakin tinggi pula tingkat <em>loneliness</em> yang dialaminya.</p> <p> </p>Selvi SanjayaNinawati Ninawati
Copyright (c) 2026 Selvi Sanjaya, Ninawati Ninawati
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-152026-01-156116417310.51878/paedagogy.v6i1.8969STUDI KUALITATIF : STRATEGI KOMUNIKASI PASANGAN MENIKAH DALAM MEMPERTAHANKAN HUBUNGAN JARAK JAUH
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8972
<p>The increasing prevalence of long-distance marriages (LDMs) due to the demands of professional mobility and technological advancements requires couples to develop complex communication strategies to maintain healthy relationships. This study focuses on analyzing the communication strategies employed by married couples in LDMs and their implications for relationship quality in the digital era. Using a qualitative phenomenological approach, data were extracted through in-depth interviews with four LDM couples to understand the dynamics of their interactions. The study findings revealed that each couple adopted adaptive communication strategies according to their emotional needs, with assurance, openness, and conflict management as dominant pillars. Digital media has proven to play a significant role as an emotional bridge, but its effectiveness depends heavily on the couple's ability to minimize misunderstandings due to the absence of non-verbal cues. It is concluded that the success of LDMs is not solely determined by technological sophistication, but rather by the couple's maturity in building trust, commitment, and a solid support system. Integration between wise use of technology and quality interpersonal interactions is key to maintaining the stability and harmony of long-distance marriages.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Fenomena pernikahan jarak jauh (<em>Long Distance Marriage</em>/LDM) yang semakin marak akibat tuntutan mobilitas profesional dan perkembangan teknologi mengharuskan pasangan mengembangkan strategi komunikasi yang kompleks demi mempertahankan hubungan yang sehat. Penelitian ini berfokus pada analisis strategi komunikasi yang diterapkan pasangan suami istri dalam menjalani LDM serta implikasinya terhadap kualitas hubungan di era digital. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, data digali melalui wawancara mendalam terhadap empat pasangan LDM untuk memahami dinamika interaksi mereka. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa setiap pasangan mengadopsi strategi komunikasi yang adaptif sesuai kebutuhan emosional, di mana dimensi <em>assurance</em> (pemberian jaminan), keterbukaan, dan manajemen konflik menjadi pilar dominan. Media digital terbukti berperan signifikan sebagai jembatan emosional, namun efektivitasnya sangat bergantung pada kemampuan pasangan meminimalisir kesalahpahaman akibat absennya isyarat non-verbal. Disimpulkan bahwa keberhasilan LDM tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh kematangan pasangan dalam membangun kepercayaan, komitmen, serta sistem dukungan yang solid. Integrasi antara pemanfaatan teknologi yang bijak dan kualitas interaksi interpersonal menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas dan keharmonisan rumah tangga jarak jauh.</p> <p> </p>Anjelly Catrina SetiawanMeiske Yunithree Suparman
Copyright (c) 2026 Anjelly Catrina Setiawan, Meiske Yunithree Suparman
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-152026-01-156117418610.51878/paedagogy.v6i1.8972PENGARUH INTERPERSONAL TRUST TERHADAP SELF-DISCLOSURE PADA DEWASA AWAL PENGGUNA SECOND ACCOUNT INSTAGRAM
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/5930
<p>The phenomenon of using a second Instagram account among young adults offers a more private and authentic space for expression than a primary account, which often triggers self-disclosure behavior. This study focuses on analyzing the influence of interpersonal trust on the intensity of self-disclosure among users of these second accounts. Through a quantitative approach with a simple linear regression method, data was collected online from 415 young adult participants using the Interpersonal Trust Scale and the Revised Self-Disclosure Scale (RSDS). The research findings indicate that interpersonal trust has a significant positive influence on self-disclosure, with a contribution of 4% (R2 = 0.040). This indicates that the higher an individual's level of trust in others, the greater their motivation to disclose themselves on the second account. It is concluded that although interpersonal trust is not the sole main determinant because the majority of the variance is influenced by other external factors, this variable still plays a crucial role in facilitating individuals' courage to share personal and emotional information in a more controlled digital environment.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Fenomena penggunaan <em>second account</em> Instagram di kalangan dewasa awal menawarkan ruang ekspresi yang lebih privat dan otentik dibandingkan akun utama, yang sering kali memicu perilaku pengungkapan diri (<em>self-disclosure</em>). Penelitian ini berfokus untuk menganalisis pengaruh <em>interpersonal trust</em> terhadap intensitas <em>self-disclosure</em> pada pengguna akun kedua tersebut. Melalui pendekatan kuantitatif dengan metode regresi linear sederhana, data dikumpulkan secara daring dari 415 partisipan dewasa awal menggunakan Skala <em>Interpersonal Trust</em> dan <em>Revised Self-Disclosure Scale</em> (RSDS). Temuan penelitian menunjukkan bahwa <em>interpersonal trust</em> memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap <em>self-disclosure</em>, dengan kontribusi pengaruh sebesar 4% (R<sup>2</sup> = 0,040$). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat kepercayaan individu terhadap orang lain, semakin besar pula dorongan mereka untuk membuka diri di akun kedua. Disimpulkan bahwa meskipun <em>interpersonal trust</em> bukan satu-satunya determinan utama karena mayoritas variansi dipengaruhi faktor eksternal lain, variabel ini tetap memegang peran krusial dalam memfasilitasi keberanian individu untuk berbagi informasi pribadi dan emosional di lingkungan digital yang lebih terkontrol.</p> <p> </p> <p> </p>Jihan Soraya BanunRahmah Hastuti
Copyright (c) 2026 Jihan Soraya Banun, Rahmah Hastuti
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-152026-01-156118719410.51878/paedagogy.v6i1.5930KONTRIBUSI KEMANDIRIAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR DALAM KESIAPAN KERJA MAHASISWA TINGKAT AKHIR
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8971
<p>The increasing competitiveness of the job market and the high unemployment rate among young adults, including university graduates, require final-year students to develop adequate work readiness before transitioning into the professional world. One important factor in shaping this readiness is the ability to make career decisions, which must be supported by autonomy and responsibility toward chosen career paths. This study employed a quantitative approach with purposive sampling, and the data were analyzed using multiple regression. A total of 301 final-year students from public and private universities participated in the study. The instruments used included the autonomy dimension of the Basic Psychological Need Satisfaction and Frustration Scale (BPNSNF), the Career Decision-Making Difficulties Questionnaire (CDDQ), and the Work Readiness Scale (WRS). The findings indicate that autonomy and career decision-making ability positively contribute to work readiness, accounting for 65.4 percent of the variance. The study also revealed gender differences, where male students demonstrated higher levels of career decision-making ability and work readiness compared to female students.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Persaingan dunia kerja yang semakin ketat serta tingginya tingkat pengangguran pada kelompok usia muda, termasuk lulusan perguruan tinggi, menuntut mahasiswa semester akhir memiliki kesiapan kerja yang optimal sebelum memasuki fase transisi menuju dunia profesional. Salah satu faktor awal yang diperlukan dalam proses kesiapan tersebut adalah kemampuan dalam mengambil keputusan karir. Kemampuan ini perlu dibangun melalui sikap mandiri dan tanggung jawab terhadap pilihan karir yang ditetapkan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik <em>purposive sampling</em>, dan analisis dilakukan dengan regresi berganda. Partisipan terdiri dari 301 mahasiswa dari perguruan tinggi negeri dan swasta. Alat ukur penelitian mencakup dimensi <em>autonomy</em> dari <em>Basic Psychological Need Satisfaction and Frustration Scale</em> (BPNSNF), <em>Career Decision-Making Difficulties Questionnaire</em> (CDDQ), serta <em>Work Readiness Scale</em> (WRS). Hasil analisis menunjukkan bahwa kemandirian dan pengambilan keputusan karir berkontribusi positif terhadap kesiapan kerja dengan nilai kontribusi sebesar 65,4%. Penelitian ini juga menemukan adanya perbedaan berdasarkan jenis kelamin, di mana mahasiswa laki-laki menunjukkan tingkat pengambilan keputusan karir dan kesiapan kerja yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa perempuan.</p> <p> </p>Ivania Rachel HartoRiana Sahrani
Copyright (c) 2026 Ivania Rachel Harto, Riana Sahrani
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-152026-01-156119520410.51878/paedagogy.v6i1.8971HUBUNGAN REGULASI EMOSI DENGAN STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA DALAM PROSES PENYUSUNAN TUGAS AKHIR
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8970
<p>Academic stress is a prevalent issue among university students, with prevalence rates in Indonesian ranging from 36.7% to 71.6%. This study aims to examine the relationship between emotion regulation and academic stress levels among students at Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) during the undergraduate thesis writing process. This study employed a quantitative non-experimental method with a correlational design, involving 200 students recruited via snowball sampling technique. Emotion regulation was measured using the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), while academic stress was measured using the Perception of Academic Stress Scale (PASS). The results indicated a significant but very weak positive relationship between emotion regulation and academic stress (r = 0.178; p = 0.012; R² = 0.032). This suggests that emotion regulation accounts for only 3.2% of the variance in academic stress, implying that other factors play a more dominant role. These findings indicate that in the context of thesis writing, emotion regulation alone is insufficient to serve as an effective stress buffer. Therefore, psychological interventions should not solely focus on emotion regulation but also on reducing the stressors themselves, for instance, through improving supervision quality and enhancing task management processes.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Stres akademik merupakan persoalan umum yang sering dialami oleh mahasiswa, dengan angka prevalensi mencapai 36,7% - 71,6% di Indonesia. Penelitian ini bertujuan menguji bagaimana hubungan antara regulasi emosi dan tingkat stres akademik pada mahasiswa di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dalam proses penyusunan tugas akhir. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional, melibatkan 200 mahasiswa yang dikumpulkan menggunakan teknik <em>snowball sampling.</em> Pengukuran variabel regulasi peneliti menggunakan <em>Emotion Regulation Questionnaire (ERQ)</em> sedangkan stres akademik diukur menggunakan <em>Perception of Academic Stress Scale (PASS). </em>Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan positif yang signifikan, namun sangat lemah antara regulasi emosi dan stres akademik (r = 0,178; p = 0,012; R² = 0,032). Hal tersebut menunjukan bahwa regulasi emosi hanya memberikan sumbangan efektif sebesar 3,2% terhadap tingkat stres akademik, sementara faktor lain memiliki peran yang lebih dominan. Temuan ini mengindikasikan bahwa dalam situasi penyusunan tugas akhir, regulasi emosi semata tidak berpengaruh besar sebagai peredam stres. Oleh karena itu intervensi secara psikologis alangkah lebih baik tidak hanya berfokus pada regulasi emosi, tetapi juga pada pengurangan sumber stresor, misalnya melalui peningkatan pada kualitas bimbingan serta proses manajemen tugas yang lebih baik.</p> <p> </p> <p> </p>Fiona Ria AngelaHeru Astikasari Setya Murti
Copyright (c) 2026 Fiona Ria Angela, Heru Astikasari Setya Murti
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-152026-01-156120521310.51878/paedagogy.v6i1.8970IMPLIKASI PSIKOLOGI PERKEMBANGAN MORAL KOHLBERG TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS SISWA
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8080
<p>This research is motivated by the persistent challenge of shaping students' authentic religious character, where religious education often results only in ritualistic obedience without a deep internalization of values. This study focuses on analyzing the implications of Lawrence Kohlberg's moral development theory as a strategic foundation for revitalizing the practice of religious character education. Using qualitative methods with a descriptive-analytical literature study approach, this study synthesizes Kohlberg's key works and the psychology of religion literature to build a relevant pedagogical framework. Key findings indicate a significant structural relationship between the level of moral reasoning and the expression of religiosity: the Preconventional stage gives rise to instrumental spirituality based on rewards and punishments, the Conventional stage gives rise to normative obedience to social rules, while the Postconventional stage reflects the autonomous internalization of universal ethical principles. These findings imply the need for an adaptive educational approach, where teaching methods such as moral dilemma discussions are tailored to students' cognitive maturity to foster moral development. It is concluded that Kohlberg's framework serves as a crucial pedagogical roadmap for educators to transform external obedience into a strong and internalized moral-religious commitment, so that the success of character education is highly dependent on the alignment of educational interventions with the stages of students' moral development.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tantangan persisten dalam membentuk karakter religius siswa yang autentik, di mana pendidikan agama sering kali hanya menghasilkan kepatuhan ritualistik tanpa internalisasi nilai yang mendalam. Studi ini berfokus pada analisis implikasi teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg sebagai landasan strategis untuk merevitalisasi praktik pendidikan karakter religius. Melalui metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur deskriptif-analitis, penelitian ini menyintesis karya-karya utama Kohlberg dan literatur psikologi agama untuk membangun kerangka pedagogis yang relevan. Temuan utama menunjukkan adanya hubungan struktural yang signifikan antara tingkat penalaran moral dengan ekspresi religiusitas: tahap Prakonvensional memunculkan spiritualitas instrumental berbasis imbalan dan hukuman, tahap Konvensional melahirkan kepatuhan normatif terhadap aturan sosial, sedangkan tahap Pascakonvensional mencerminkan internalisasi prinsip etika universal secara otonom. Temuan ini mengimplikasikan perlunya pendekatan pendidikan yang adaptif, di mana metode pengajaran seperti diskusi dilema moral disesuaikan dengan kematangan kognitif siswa untuk mendorong perkembangan moral. Disimpulkan bahwa kerangka kerja Kohlberg berfungsi sebagai peta jalan pedagogis krusial bagi pendidik untuk mentransformasi ketaatan yang bersifat eksternal menjadi komitmen moral-religius yang kokoh dan terinternalisasi, sehingga keberhasilan pendidikan karakter sangat bergantung pada keselarasan intervensi edukatif dengan tahapan perkembangan moral peserta didik.</p> <p> </p>B. Siti MardliyahSinta BellaSabrina Izzatul JannahNafisatussa'adah Nafisatussa'adahTarsono Tarsono
Copyright (c) 2026 B. Siti Mardliyah, Sinta Bella, Sabrina Izzatul Jannah, Nafisatussa'adah Nafisatussa'adah, Tarsono Tarsono
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-152026-01-156121422410.51878/paedagogy.v6i1.8080HUBUNGAN ANTARA SELF-COMPASSION DENGAN KECEMASAN DALAM PUBLIC SPEAKING PADA MAHASISWA S1
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8149
<p>Anxiety in public speaking is often experienced by people aged 18 to 25 years. On the other hand, self-compassion is considered a form of defense to reduce anxiety. This study aims to determine the relationship between self-compassion and anxiety in public speaking in undergraduate students. The method used is a non-experimental quantitative with a correlational approach. The sampling technique used purposive sampling and finally obtained 396 student respondents aged 18–25 years. Data were collected through distributing questionnaires using Google Forms to students who have had public speaking experience within 1 year. The correlation test used is the nonparametric Spearman Rank test. The results of the analysis show a positive relationship between self-compassion and anxiety in public speaking in undergraduate students, evidenced by sig. <0.001 (sig. <0.05). The negative correlation coefficient (–0.447) indicates that higher levels of self-compassion are associated with lower scores of public speaking anxiety. On the other hand, the higher the anxiety in public speaking, the lower the self- compassion in students. The results of this study also found that students who are busy with social activities can reduce the risk of anxiety in public speaking.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kecemasan dalam <em>public speaking</em> sering kali dialami oleh orang dengan rentang usia 18 hingga 25 tahun. Di sisi lain, <em>self-compassion</em> dianggap sebagai bentuk pertahanan untuk meredakan kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara <em>self-compassion</em> dengan kecemasan dalam <em>public speaking</em> pada mahasiswa S1. Metode yang digunakan adalah kuantitatif non eksperimen dengan pendekatan korelasional. Teknik pengambilan sampel menggunakan <em>purposive sampling</em> dan akhirnya didapatkan 396 responden mahasiswa berusia 18–25 tahun<em>. </em>Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner menggunakan <em>Google Form </em>kepada mahasiswa yang pernah memiliki pengalaman <em>public speaking</em> dalam 1 tahun. Adapun uji korelasi yang digunakan adalah uji nonparametrik <em>Spearman Rank</em>. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif antara <em>self-compassion</em> dengan kecemasan dalam <em>public speaking</em> pada mahasiswa S1, dibuktikan dengan nilai sig. <0,001 (sig. < 0,05). Korelasi yang bernilai negatif (-0,447) dapat diartikan semakin tinggi <em>self-compassion</em>, maka hal tersebut akan menurunkan skor kecemasan dalam <em>public speaking</em>. Sebaliknya semakin tinggi kecemasan dalam <em>public speaking </em>maka semakin rendah <em>self-compassion </em>pada mahasiswa. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa mahasiswa yang memiliki kesibukan/ kegiatan sosial lebih dapat menurunkan risiko kecemasan dalam <em>public speaking</em>.</p>Selly SellyMeiske Yunithree Suparman
Copyright (c) 2026 Selly Selly, Meiske Yunithree Suparman
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-152026-01-156122523610.51878/paedagogy.v6i1.8149BODY DISSATISFACTION DAN SELF-ESTEEM: STUDI KORELASIONAL PADA PEREMPUAN EMERGING ADULTHOOD
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8405
<p><strong>ABSTRACT </strong></p> <p>The increasing phenomenon of body dissatisfaction among women in emerging adulthood is often associated with the development of self-esteem. Body dissatisfaction is defined as a negative perception of body shape or size, accompanied by feelings of discomfort and dissatisfaction with physical appearance, whereas self-esteem refers to an individual’s overall evaluation of self-worth and self-acceptance. This study aimed to examine the relationship between body dissatisfaction and self-esteem levels among women in emerging adulthood. A quantitative correlational approach was employed, involving 338 female participants aged 18–25 years who were selected using purposive sampling. Data were collected using the Body Shape Questionnaire (BSQ-34) and the Indonesian-adapted version of the Rosenberg Self-Esteem Scale. The results indicated a significant negative relationship between body dissatisfaction and self-esteem (r = ?0.496). Additional analyses revealed significant differences in body dissatisfaction and self-esteem based on body mass index (BMI) categories, with the majority of participants falling within the moderate level for both variables. These findings highlight the importance of a healthy and positive body perception in supporting the development of adaptive self-esteem among women in emerging adulthood. Future research is recommended to include other psychological variables or moderating factors to obtain a more comprehensive understanding of the determinants of self-esteem.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Fenomena meningkatnya ketidakpuasan tubuh (<em>body dissatisfaction</em>) pada perempuan usia <em>emerging adulthood</em> kerap dikaitkan dengan pembentukan harga diri (<em>self-esteem</em>). <em>Body dissatisfaction</em> dipahami sebagai persepsi negatif terhadap bentuk atau ukuran tubuh yang disertai rasa tidak nyaman dan ketidakpuasan terhadap penampilan fisik, sedangkan <em>self-esteem</em> merujuk pada penilaian individu terhadap nilai serta penerimaan diri secara keseluruhan. Studi ini bertujuan untuk menguji hubungan antara <em>body dissatisfaction</em> dan tingkat <em>self-esteem</em> pada perempuan <em>emerging adulthood</em>. Pendekatan kuantitatif korelasional digunakan dengan melibatkan 338 partisipan perempuan berusia 18–25 tahun yang dipilih melalui teknik <em>purposive sampling</em>. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen <em>Body Shape Questionnaire</em> (BSQ-34) dan <em>Rosenberg Self-Esteem Scale</em> dalam adaptasi Bahasa Indonesia. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara <em>body dissatisfaction</em> dan <em>self-esteem </em>(<em>r</em> = -0.496). Analisis tambahan juga menemukan perbedaan signifikan <em>body dissatisfaction</em> dan <em>self-esteem</em> berdasarkan kategori indeks massa tubuh (BMI), dengan mayoritas partisipan berada pada kategori tingkat sedang untuk kedua variabel. Temuan ini menegaskan pentingnya persepsi tubuh yang sehat dan positif dalam mendukung pembentukan <em>self-esteem</em> yang adaptif pada perempuan <em>emerging adulthood</em>. Penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan variabel psikologis lain atau faktor moderator guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai determinan <em>self-esteem</em>.</p>Joan AndrionaPamela Hendra HengHanna Christina Uranus
Copyright (c) 2026 Joan Andriona, Pamela Hendra Heng, Hanna Christina Uranus
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-152026-01-156123724610.51878/paedagogy.v6i1.8405PENGARUH STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR YANG MENYUSUN SKRIPSI DI UNIVERSITAS SWASTA DAN NEGERI
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8322
<p>This study found that the type of educational institution, whether public or private university, does not significantly affect the academic stress levels of final-year students completing their thesis. Although students from public universities had higher academic stress scores (59.2) compared to those from private universities (57.3), the linear regression test showed no statistically significant difference (R² = 0.00668; p = 0.189). The study involved 260 students who completed the Educational Stress Scale for Adolescents (ESSA) questionnaire to measure academic stress levels. The results indicate that other factors, such as resilience and social support, play a more dominant role in influencing academic stress. These findings highlight the importance of psychological support programs and stress management in educational institutions to assist students in coping with academic challenges during the final stages of their studies.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini menemukan bahwa jenis institusi pendidikan, baik universitas negeri maupun swasta, tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat stres akademik mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi. Meskipun mahasiswa dari universitas negeri menunjukkan skor stres akademik yang lebih tinggi (59,2) dibandingkan mahasiswa dari universitas swasta (57,3), hasil uji regresi linear menunjukkan bahwa perbedaan ini tidak signifikan secara statistik (R² = 0,00668; p = 0,189). Penelitian ini melibatkan 260 mahasiswa yang mengisi kuesioner Educational Stress Scale for Adolescents (ESSA) untuk mengukur tingkat stres akademik. Hasil menunjukkan bahwa faktor lain, seperti resiliensi dan dukungan sosial, lebih dominan dalam mempengaruhi stres akademik. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya program dukungan psikologis dan manajemen stres di institusi pendidikan untuk membantu mahasiswa menghadapi tantangan akademik pada tahap akhir studi.</p>Angelina Regina HalimMeiske Yunithree Suparman
Copyright (c) 2026 Angelina Regina Halim, Meiske Yunithree Suparman
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-162026-01-166124725510.51878/paedagogy.v6i1.8322GANGGGUAN DEPRESIF ORGANIK PADA WANITA DENGAN KEGANASAN GINEKOLOGI STADIUM LANJUT: SEBUAH SERIAL KASUS
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8214
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Cervical and ovarian cancers often give rise to significant psychological impacts, including depressive disorders. In certain conditions, depression emerges as a direct consequence of biological changes resulting from the underlying physical illness. This case series report describes two female patients diagnosed with advanced-stage gynecological malignancies who met the criteria for organic depressive disorder, aiming to illustrate the clinical manifestations, diagnostic process, and management of organic depressive disorder in women with advanced gynecological malignancies. The study utilized data obtained through medical record review, clinical and ancillary examinations, as well as interviews with the patients and their families, which were subsequently analyzed descriptively and narratively. The research stages included case identification, assessment of depression severity using the Hamilton Depression Rating Scale, establishment of the diagnosis, and implementation of pharmacological and non-pharmacological palliative interventions. Both cases fulfilled the criteria for organic depressive disorder and were managed using a comprehensive palliative approach. It is concluded that organic depressive disorder represents an important complication of advanced gynecological malignancies and requires holistic management to improve patients’ quality of life.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kanker serviks dan ovarium sering menimbulkan dampak psikologis yang bermakna, termasuk gangguan depresif. Pada kondisi tertentu, depresi muncul sebagai akibat langsung dari perubahan biologis akibat penyakit fisik yang mendasari. Laporan kasus serial ini menjelaskan dua pasien wanita yang didiagnosis keganasan ginekologi stadium lanjut dan memenuhi kriteria gangguan depresif organik, yang bertujuan untuk menggambarkan manifestasi klinis, proses diagnosis, dan penatalaksanaan gangguan depresif organik pada wanita dengan keganasan ginekologi stadium lanjut, menggunakan data yang diperoleh melalui telaah rekam medis, pemeriksaan klinis dan penunjang, serta wawancara dengan pasien dan keluarga, kemudian dianalisis secara deskriptif dan naratif. Tahapan penelitian meliputi identifikasi kasus, penilaian derajat depresi menggunakan <em>Hamilton Depression Rating Scale</em>, penetapan diagnosis, serta pemberian intervensi paliatif farmakologis dan nonfarmakologis. Kedua kasus memenuhi kriteria gangguan depresif organik dan ditangani dengan pendekatan paliatif komprehensif. Disimpulkan bahwa gangguan depresif organik merupakan komplikasi penting pada keganasan ginekologi stadium lanjut yang memerlukan penatalaksanaan holistik untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.</p>Rebecca Mutia Agustina SilaenI Made DarmayasaNi Ketut Putri Ariani
Copyright (c) 2026 Rebecca Mutia Agustina Silaen, I Made Darmayasa, Ni Ketut Putri Ariani
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-222026-01-226125626410.51878/paedagogy.v6i1.8214GAMBARAN KESEPIAN PADA DEWASA AWAL PENGGUNA MEDIA SOSIAL
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8337
<p>Loneliness is a subjective emotional experience commonly encountered during early adulthood, particularly amid the increasing use of social media as a means of social interaction. This study aims to describe the level of loneliness among early adult social media users. A quantitative approach with a descriptive cross-sectional design was employed. The participants consisted of 391 early adults aged 18–23 years who actively used social media for more than three hours per day, selected through purposive sampling. Data were collected online using the UCLA Loneliness Scale version 3, which has demonstrated good validity and reliability, and were analyzed descriptively. The results showed that the majority of participants experienced moderate loneliness (76.0%), followed by high loneliness (13.9%) and low loneliness (12.1%). Furthermore, no significant differences in loneliness levels were found based on gender, age, participant status, duration of social media use, or the type of social media platform used. These findings indicate that loneliness in early adulthood is a subjective psychological experience that is relatively evenly distributed among social media users, highlighting the importance of fulfilling emotional needs and the quality of social relationships during this developmental stage.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kesepian merupakan pengalaman emosional subjektif yang umum dialami individu pada fase dewasa awal, khususnya di tengah meningkatnya penggunaan media sosial sebagai sarana interaksi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat kesepian pada individu dewasa awal pengguna media sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif cross-sectional. Partisipan berjumlah 391 individu dewasa awal berusia 18–23 tahun yang aktif menggunakan media sosial lebih dari tiga jam per hari, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan secara daring dengan menggunakan UCLA Loneliness Scale versi 3 yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas partisipan berada pada kategori kesepian sedang (76,0%), diikuti kategori kesepian tinggi (13,9%) dan kesepian rendah (12,1%). Selain itu, tidak ditemukan perbedaan tingkat kesepian yang signifikan berdasarkan jenis kelamin, usia, status partisipan, durasi penggunaan, maupun platform media sosial yang digunakan. Temuan ini menunjukkan bahwa kesepian pada dewasa awal merupakan pengalaman psikologis yang bersifat subjektif dan relatif merata di kalangan pengguna media sosial, sehingga pemenuhan kualitas hubungan sosial tetap menjadi aspek penting dalam fase perkembangan ini.</p>Agnes MulianiRahmah Hastuti
Copyright (c) 2026 Agnes Muliani, Rahmah Hastuti
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-262026-01-266126527510.51878/paedagogy.v6i1.8337KESADARAN PENGASUHAN DIGITAL, MENINGKATKAN EFISIENSI IBU BEKERJA: PERAN WORK–LIFE BALANCE DAN DIGITAL PARENTAL SELF EFFICACY DALAM PENGGUNAAN PERANGKAT DIGITAL ANAK
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8324
<p>The rapid development of digital technology requires parents, especially working mothers, to possess awareness and the ability to manage technology use efficiently, while balancing professional and parenting roles. This study aims to examine the influence of work-life balance and digital parental self-efficacy on digital parental awareness, specifically in the subdimension of efficient technology use. A quantitative research approach with an online survey was conducted with 182 working mothers who have children aged 5–15 years and are actively using gadgets or the internet. The results show that work-life balance and digital parental self-efficacy have a positive and significant effect on digital parental awareness in the efficient use of technology (R² = 0.239, F = 28.151, p < 0.01). These findings reveal that 23.9% of the variance in efficient digital awareness can be explained by these two variables. A balance between work and personal life supports mothers' involvement in overseeing their children's technology use, while digital self-efficacy enhances their ability to manage technology in a safe and productive manner. This study underscores the importance of programs that enhance work-life balance and digital self-efficacy training for working mothers in the digital age.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perkembangan teknologi digital memerlukan orang tua, terutama ibu bekerja, untuk memiliki kesadaran dan kemampuan dalam mengelola penggunaan teknologi secara efisien, sambil menyeimbangkan peran profesional dan pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh keseimbangan kehidupan kerja (<em>work-life</em> balance) dan efikasi diri orang tua digital (digital parental self-efficacy) terhadap kesadaran orang tua digital, khususnya pada subdimensi penggunaan teknologi yang efisien (efficient use). Metode penelitian kuantitatif dengan survei daring melibatkan 182 ibu bekerja yang memiliki anak usia 5–15 tahun dan aktif menggunakan gawai atau internet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseimbangan kehidupan kerja dan efikasi diri digital memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kesadaran digital orang tua dalam penggunaan teknologi yang efisien (R² = 0.239, F = 28.151, p < 0.01). Temuan ini mengungkapkan bahwa 23,9% variasi dalam kesadaran digital yang efisien dapat dijelaskan oleh kedua variabel tersebut. Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi mendukung keterlibatan ibu dalam mengawasi penggunaan teknologi oleh anak, sementara efikasi diri digital meningkatkan kemampuan ibu dalam mengelola teknologi dengan cara yang aman dan produktif. Penelitian ini menegaskan pentingnya program yang dapat meningkatkan keseimbangan kehidupan kerja dan pelatihan efikasi diri digital bagi ibu bekerja di era digital.</p>Alia Rizki FauziahNita Sri HandayaniAnnisa JuliantiMardianti MardiantiNatalia Konradus
Copyright (c) 2026 Alia Rizki Fauziah, Nita Sri Handayani, Annisa Julianti, Mardianti Mardianti, Natalia Konradus
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-262026-01-266127628910.51878/paedagogy.v6i1.8324DISONEKSI DIGITAL SEBAGAI STRATEGI REGULASI DIRI TERHADAP KEBUTUHAN UMPAN BALIK PADA MAHASISWA PENGGUNA MEDIA SOSIAL
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/9148
<p><strong>ABSTRACT </strong></p> <p>The increasing intensity of social media use among university students has amplified the need for digital feedback, which often leads to psychological pressure, digital fatigue, and a tendency to withdraw temporarily from online environments. This self-regulatory response is reflected in digital disconnection behaviors, which function as a strategy to maintain psychological balance amid constant digital engagement. This study aims to examine the relationship between the need for social media feedback and digital disconnection behaviors among university students. This research employed a quantitative correlational design. A total of 255 university students participated as respondents through purposive sampling. Data were collected using online questionnaires measuring the need for social media feedback and digital disconnection behaviors. Data analysis was conducted using Spearman’s correlation test alongside a linearity assessment to identify the directional pattern between the variables. The results indicate a significant positive relationship (r = 0,305; p < 0,01) between the need for social media feedback and digital disconnection. Higher levels of digital feedback seeking were associated with a stronger tendency to engage in disconnection as a means of reducing psychological distress and restoring self-control. The relationship between the variables demonstrated a stable and linear pattern. In conclusion, the need for social media feedback plays a substantial role in shaping digital disconnection tendencies among university students. These findings highlight the importance of digital literacy, self-regulation skills, and healthier social media usage strategies in supporting student well-being within increasingly connected digital environments.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penggunaan media sosial yang intensif pada mahasiswa sering kali memunculkan kebutuhan tinggi akan umpan balik digital, yang dapat menimbulkan tekanan psikologis dan kelelahan digital sehingga mendorong individu untuk mengambil jarak dari aktivitas daring. Salah satu strategi yang muncul adalah perilaku disoneksi digital sebagai bentuk regulasi diri terhadap potensi dampak negatif penggunaan media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebutuhan umpan balik media sosial dengan perilaku disoneksi digital pada mahasiswa pengguna media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sebanyak 255 mahasiswa pengguna media sosial berpartisipasi sebagai responden melalui metode<em> purposive sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner daring yang terdiri dari skala kebutuhan umpan balik media sosial dan skala perilaku disoneksi digital. Analisis dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman serta uji linearitas untuk melihat pola keterkaitan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif (r = 0,305; p < 0,01) yang signifikan antara kebutuhan umpan balik media sosial dan perilaku disoneksi digital. Maka, semakin tinggi kebutuhan individu untuk memperoleh validasi dan respons digital, semakin besar kecenderungan mereka untuk melakukan disoneksi sebagai upaya mengurangi tekanan dan memulihkan kendali diri. Pola hubungan yang ditemukan bersifat linear dan stabil. Kesimpulannya, kebutuhan umpan balik media sosial berperan dalam membentuk kecenderungan mahasiswa untuk melakukan digital disoneksi. Implikasi penelitian menekankan pentingnya literasi digital, kemampuan regulasi diri, serta strategi penggunaan media sosial yang lebih sehat bagi mahasiswa di era konektivitas digital yang semakin intensif.</p>Carine Ompusunggu
Copyright (c) 2026 Carine Ompusunggu
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-282026-01-286129030010.51878/paedagogy.v6i1.9148ARAH DAN TUJUAN: STUDI TENTANG PERBEDAAN PERENCANAAN KARIER MAHASISWA DAN MAHASISWI DI PULAU JAWA
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/7883
<p>Career planning is crucial for students facing job market volatility, but this process is often influenced by social constructs related to gender roles, particularly in the demographic context of Java. This study aims to analyze the comparative level of career planning between male and female students to validate the assumption of gender inequality. Using a quantitative approach utilizing secondary data from the Building an Independent Young Generation (MGMM) study, this study involved the participation of 1,516 students spread across all provinces in Java. Measurements were conducted using the Career Planning Scale instrument and then analyzed using an independent sample t-test. The research findings showed a statistically significant difference with a p value of 0.004, where the male student group had an average score (M = 29.1) that was slightly superior to the female student group (M = 28.4). However, the effect size analysis yielded a value of 0.155, indicating that the difference has a weak practical impact, considering that both groups are in the very high career planning category. This study concludes that gender is not a dominant factor determining career readiness, so career development strategies in higher education should be inclusive and focus on strengthening students' self-efficacy and practical experience.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perencanaan karier yang matang menjadi kebutuhan krusial bagi mahasiswa dalam menghadapi volatilitas pasar kerja, namun sering kali proses ini dipengaruhi oleh konstruksi sosial terkait peran gender, terutama dalam konteks demografi Pulau Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komparasi tingkat perencanaan karier antara mahasiswa laki-laki dan perempuan guna memvalidasi asumsi ketimpangan gender tersebut. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder dari studi Membangun Generasi Muda Mandiri (MGMM), penelitian ini melibatkan partisipasi sebanyak 1.516 mahasiswa yang tersebar di seluruh provinsi di Pulau Jawa. Pengukuran dilakukan menggunakan instrumen <em>Career Planning Scale</em> yang kemudian dianalisis menggunakan uji <em>independent sample t-test</em>. Temuan riset menunjukkan adanya perbedaan statistik yang signifikan dengan nilai p = 0.004, di mana kelompok mahasiswa laki-laki memiliki rata-rata skor (M = 29,1) yang sedikit lebih unggul dibandingkan mahasiswa perempuan (M = 28,4). Walaupun demikian, analisis <em>effect size</em> menghasilkan nilai 0,155, yang mengindikasikan bahwa perbedaan tersebut memiliki dampak praktis yang lemah, mengingat kedua kelompok sama-sama berada pada kategori perencanaan karier yang sangat tinggi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gender bukanlah faktor dominan yang menentukan kesiapan karier, sehingga strategi pengembangan karier di perguruan tinggi sebaiknya bersifat inklusif dan berfokus pada penguatan efikasi diri serta pengalaman praktis mahasiswa.</p>Yohana Faora ApriliaWilliam Gunawan
Copyright (c) 2026 Yohana Faora Aprilia, William Gunawan
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-282026-01-286130131110.51878/paedagogy.v6i1.7883PERAYAAN HARI BESAR NASIONAL SEBAGAI SARANA MEMPERKUAT TOLERANSI DAN SOLIDARITAS: PERSPEKTIF LITERATUR
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8075
<p>Indonesia is a country rich in cultural, linguistic, and religious diversity. This diversity can be both a strength and a source of conflict if not managed properly. National holiday celebrations go beyond mere ceremonial functions; they serve as collective spaces that facilitate social interactions across different identities. This study aims to explore how national holiday celebrations contribute to strengthening tolerance and solidarity among citizens in a multicultural society. A systematic literature review was conducted on scholarly articles published between 2020 and 2025 that met the inclusion criteria. The findings indicate that participation in national holiday celebrations fosters shared spaces that enhance the values of mutual cooperation, appreciation of differences, and social cohesion. Based on the distress intolerance theory, the study shows that active involvement in social activities helps reduce emotional tension arising from differences and strengthens individuals' capacity to tolerate diversity. This theory is relevant to the Indonesian context, as the social interactions created in national celebrations can reduce tensions between groups and strengthen tolerance towards differences, which is essential for maintaining social cohesion in a pluralistic society. This study makes a significant contribution to the existing literature by filling a gap in research on national holiday celebrations as a means of strengthening social solidarity, using a systematic literature review approach to examine its social contributions in Indonesia<em>.</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman budaya, bahasa, dan agama. Keberagaman ini dapat menjadi kekuatan maupun sumber konflik jika tidak dikelola dengan tepat. Perayaan hari besar nasional lebih dari sekadar seremonial; ia berfungsi sebagai ruang kolektif yang memfasilitasi interaksi sosial antaridentitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana perayaan hari besar nasional dapat berkontribusi dalam memperkuat toleransi dan solidaritas antarwarga di masyarakat multikultural. Sistematic literature review dilakukan terhadap artikel ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2020 hingga 2025 yang memenuhi kriteria inklusi. Hasilnya menunjukkan bahwa partisipasi dalam perayaan hari besar nasional memperkuat ruang bersama yang meningkatkan nilai gotong royong, penghargaan terhadap perbedaan, dan kohesi sosial. Berdasarkan teori <em>distress intolerance</em>, penelitian ini menunjukkan bahwa keterlibatan aktif dalam aktivitas sosial membantu mengurangi ketegangan emosional yang timbul akibat perbedaan, serta meningkatkan kapasitas individu untuk mentoleransi keberagaman. Teori ini relevan dengan konteks Indonesia, karena interaksi sosial yang tercipta dalam perayaan nasional dapat mengurangi ketegangan antar kelompok dan memperkuat toleransi terhadap perbedaan, yang esensial dalam menjaga kohesi sosial di masyarakat yang majemuk. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur yang ada, dengan mengisi celah penelitian mengenai perayaan hari besar nasional sebagai sarana penguatan solidaritas sosial, menggunakan pendekatan systematic literature review untuk mengkaji kontribusi sosialnya di Indonesia.</p>Karissa VerenMadeline Gaby SieAginta AprilliaMaryam ZahraBelva AfsyariSri Tiatri
Copyright (c) 2026 Karissa Veren, Madeline Gaby Sie, Aginta Aprillia, Maryam Zahra, Belva Afsyari, Sri Tiatri
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-302026-01-306131232210.51878/paedagogy.v6i1.8075FORGIVENESS ORANGTUA DALAM MENYIKAPI PERISTIWA KEHAMILAN REMAJA DI LUAR NIKAH DI NUSA TENGGARA TIMUR
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8254
<p>This study aims to understand the process of parental forgiveness toward teenage daughters who experience out-of-wedlock pregnancy in East Nusa Tenggara (NTT), Indonesia. This region is known for its patriarchal culture that highly values family honor, making teenage pregnancy a heavily stigmatized social issue. While many studies have examined the impact of teenage pregnancy, few have explored how parents, particularly in the local cultural context, process their emotions and forgive their children. Using a qualitative approach with Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), this study involved five parents who were interviewed to explore their experiences. The findings reveal five key stages in the forgiveness process: (1) early detection of pregnancy through parental intuition, (2) initial emotional reactions such as anger and disappointment, (3) transition toward unconditional love and protective actions, (4) social and spiritual support that strengthens acceptance, and (5) varying attitudes toward the male counterpart involved. This study fills a gap in the literature regarding the emotional dynamics of parents facing teenage pregnancy in Eastern Indonesia and provides insights for culturally sensitive counseling practices in handling similar cases.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses pemaafan orangtua terhadap anak remaja yang hamil di luar nikah di Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. Daerah ini dikenal dengan budaya patriarkal yang sangat menjunjung tinggi kehormatan keluarga, sehingga kehamilan remaja menjadi masalah sosial yang sangat distigmatisasi. Meskipun banyak penelitian yang meneliti dampak kehamilan remaja, belum banyak yang membahas bagaimana orangtua, khususnya dalam konteks budaya lokal, memproses perasaan mereka dan memberi maaf kepada anak mereka. Dengan pendekatan kualitatif menggunakan metode Analisis Fenomenologi Interpretatif (IPA), penelitian ini melibatkan lima orangtua yang diwawancarai untuk menggali pengalaman mereka. Hasil penelitian menunjukkan lima tahap penting dalam proses pemaafan: (1) deteksi awal kehamilan melalui intuisi orangtua, (2) reaksi emosional awal seperti marah dan kecewa, (3) transisi menuju kasih sayang tanpa syarat dan tindakan perlindungan, (4) dukungan sosial dan spiritual yang memperkuat penerimaan, dan (5) sikap yang bervariasi terhadap pihak laki-laki yang terlibat. Penelitian ini mengisi kekosongan literatur mengenai dinamika emosional orangtua dalam menghadapi kehamilan remaja di Indonesia Timur, serta memberikan wawasan bagi praktik konseling yang lebih sensitif terhadap budaya dalam menangani kasus serupa. </p>Monika Indriyanti Putri ClaudiaDiana AipipidelyMardian ArtatiR Pasifikus ChWijaya Wijaya
Copyright (c) 2026 Monika Indriyanti Putri Claudia, Diana Aipipidely, Mardian Artati, R Pasifikus Ch, Wijaya Wijaya
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-302026-01-306132334310.51878/paedagogy.v6i1.8254PSIKOLOGI INDIVIDUAL – INFERIOR MENJADI SUPERIOR : UPAYA MENGURANGI POPULASI KORBAN PERUNDUNGAN PERSPEKTIF ALFRED ADLER
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8333
<p>This paper discusses how individuals who are victims of bullying (inferior) can develop into superior individuals based on Alfred Adler's individual psychology theory. Adler argued that every individual is born with a sense of inferiority that drives them to become superior through the development of their potential. This study employs a qualitative method with a literature review approach, analyzing literature related to Adler’s theory. The findings show that in order to transform from inferior to superior, individuals must go through three key stages: social interest, lifestyle, and creativity. Social interest helps individuals connect with others, lifestyle shapes healthy behavioral patterns, and creativity enables individuals to overcome their weaknesses by developing their uniqueness. These three stages work together to help individuals overcome feelings of inferiority and achieve superiority. Based on the analysis, the success rate of applying this theory to bullying victims shows an effectiveness of 75%, with many individuals successfully increasing their self-confidence and reducing their feelings of inferiority<em>.</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Tulisan ini membahas bagaimana individu yang menjadi korban perundungan (inferior) dapat berkembang menjadi individu yang superior berdasarkan teori psikologi individual Alfred Adler. Adler berpendapat bahwa setiap individu dilahirkan dengan rasa inferior yang memicu dorongan untuk menjadi superior melalui pengembangan potensi diri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, menganalisis literatur terkait dengan teori Adler. Temuan menunjukkan bahwa untuk berubah dari inferior menjadi superior, individu harus melalui tiga tahapan penting: minat sosial, gaya hidup, dan kreativitas diri. Minat sosial membantu individu untuk menghubungkan diri dengan orang lain, gaya hidup membentuk pola perilaku yang sehat, dan kreativitas diri memungkinkan individu mengatasi kelemahan dengan mengembangkan keunikan mereka. Ketiga tahapan ini saling mendukung dalam membantu individu mengatasi perasaan inferior dan mencapai superioritas. Berdasarkan analisis, keberhasilan penerapan teori ini pada korban perundungan menunjukkan tingkat efektivitas sebesar 75%, dengan banyak individu yang berhasil meningkatkan rasa percaya diri dan mengurangi perasaan inferior mereka. </p>Albertus Agung Dwi KristiyantoKurniawan Dwi Madyo UtomoAgustinus Herjuno Handhika Pradinta
Copyright (c) 2026 Albertus Agung Dwi Kristiyanto, Kurniawan Dwi Madyo Utomo, Agustinus Herjuno Handhika Pradinta
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-302026-01-306134435610.51878/paedagogy.v6i1.8333THE RELATIONSHIP BETWEEN SPIRITUAL WELL-BEING AND RESILIENCE IN STUDENTS FROM FATHERLESS BACKGROUNDS
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8327
<p>This study aims to examine the relationship between spiritual well-being and resilience among university students with a fatherless background. The study uses a quantitative correlational approach with the <em>Spiritual Well-Being Scale</em> (SWBS) to measure spiritual well-being and the <em>Connor-Davidson Resilience Scale</em> (CD-RISC) to assess resilience. The sample consisted of 268 students aged 18–24 years, spanning from the 1st to the 7th semester. Data were collected using questionnaires measuring spiritual well-being, resilience, and the fatherless condition experienced by the respondents. The results show a strong positive relationship between spiritual well-being and resilience among fatherless students. Most respondents (90.3%) showed moderate levels of resilience, while 9.7% exhibited high resilience. Spiritual well-being was generally moderate among respondents. This study emphasizes the importance of strengthening spiritual well-being as a source of strength in building resilience among students from fatherless families. The findings also have implications for the development of psychological intervention programs that integrate spiritual aspects to enhance students' mental toughness.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kesejahteraan spiritual dan ketahanan diri di kalangan mahasiswa yang memiliki latar belakang tanpa ayah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan Skala Kesejahteraan Spiritual (SWBS) untuk mengukur kesejahteraan spiritual dan Skala Ketahanan Connor-Davidson (CD-RISC) untuk menilai ketahanan diri. Sampel penelitian terdiri dari 268 mahasiswa berusia 18–24 tahun, yang tersebar dari semester 1 hingga semester 7. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mengukur kesejahteraan spiritual, ketahanan diri, dan kondisi tanpa ayah yang dialami oleh responden. Hasil penelitian menunjukkan hubungan positif yang kuat antara kesejahteraan spiritual dan ketahanan diri di kalangan mahasiswa tanpa ayah. Sebagian besar responden (90,3%) menunjukkan tingkat ketahanan diri yang moderat, sementara 9,7% menunjukkan ketahanan diri yang tinggi. Kesejahteraan spiritual secara umum berada pada tingkat moderat di kalangan responden. Penelitian ini menekankan pentingnya penguatan kesejahteraan spiritual sebagai sumber kekuatan dalam membangun ketahanan diri di kalangan mahasiswa dari keluarga tanpa ayah. Temuan ini juga memiliki implikasi untuk pengembangan program intervensi psikologis yang mengintegrasikan aspek spiritual untuk meningkatkan ketangguhan mental mahasiswa.</p>Debby NapoulingMeiske Yunithree Suparman
Copyright (c) 2026 Debby Napouling, Meiske Yunithree Suparman
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-312026-01-316135736710.51878/paedagogy.v6i1.8327KONTRIBUSI SELF-COMPASSION TERHADAP FEAR OF MISSING OUT PADA PENGGUNA TIKTOK DI KALANGAN GENERASI Z
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8328
<p>The phenomenon of <em>fear of missing out</em> (FoMO) is increasingly experienced by Generation Z in line with the rising use of social media, particularly TikTok, which has become a dominant platform with a very high level of engagement. This app, with its algorithm that continuously updates trends and content, can amplify the anxiety of users who feel left out of social activities, leading them to constantly monitor the platform. One psychological factor that can reduce the impact of FoMO is self-compassion, which refers to an individual’s ability to be kind to oneself and accept difficult experiences as part of the human condition. Individuals with higher self-compassion tend to cope better with social pressures and regulate their emotions more effectively. This study aims to examine the role of self-compassion in reducing FoMO among TikTok users in Generation Z. Through analysis of 305 participants aged 18–28 years, the study found that higher levels of self-compassion contribute to a decrease in the tendency to experience FoMO, explaining 13.2% of the variance in FoMO. The findings suggest that self-compassion can be an important factor in reducing the negative impact of FoMO, which is commonly experienced by social media users. These results highlight the importance of developing self-compassion as an adaptive strategy to cope with social pressure in the digital age.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Fenomena <em>fear of missing out</em> (FoMO) semakin banyak dialami oleh Generasi Z seiring dengan meningkatnya penggunaan media sosial, khususnya TikTok, yang telah menjadi aplikasi dominan dengan tingkat keterlibatan yang sangat tinggi. Aplikasi ini, dengan algoritma yang terus memperbarui tren dan konten, dapat meningkatkan rasa cemas pengguna yang merasa tertinggal dari aktivitas sosial yang terjadi, sehingga mendorong mereka untuk terus memantau platform tersebut. Salah satu faktor psikologi yang dapat mengurangi dampak FoMO adalah self-compassion, yaitu kemampuan individu untuk bersikap welas asih terhadap diri sendiri dan menerima pengalaman sulit sebagai bagian dari kehidupan manusia. Individu dengan self-compassion yang tinggi cenderung lebih mampu menghadapi tekanan sosial dan mengelola emosi dengan lebih seimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran self-compassion dalam mengurangi FoMO pada pengguna TikTok di kalangan Generasi Z. Melalui analisis terhadap 305 partisipan berusia 18–28 tahun, penelitian ini menemukan bahwa tingkat self-compassion yang lebih tinggi berkontribusi pada penurunan kecenderungan mengalami FoMO, menjelaskan 13,2% variasi FoMO. Temuan ini menunjukkan bahwa self-compassion dapat menjadi faktor penting dalam mengurangi dampak negatif FoMO, yang sering muncul di kalangan pengguna media sosial. Temuan ini menyoroti pentingnya pengembangan self-compassion sebagai strategi adaptif dalam menghadapi tekanan sosial di era digital.</p>Raisya Anaya PutriRiana Sahrani
Copyright (c) 2026 Raisya Anaya Putri, Riana Sahrani
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-01-312026-01-316136837610.51878/paedagogy.v6i1.8328HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DAN SELF-ESTEEM PADA MAHASISWA KESEPIAN DI ERA DIGITAL
https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/view/8102
<p>The high use of social media in the digital era has the potential to increase loneliness. This condition is often experienced by university students who are in the stage of emerging adulthood, a transitional phase marked by various developmental demands. Loneliness in this phase is often associated with decreased self-esteem, which can lead to dissatisfaction with oneself and affect several aspects of students' lives. One external factor known to influence self-esteem is social support. Social support provides a sense of being valued, accepted, and acknowledged by the surrounding environment, which can strengthen positive self-evaluation. This study aims to examine whether there is a relationship between social support and self-esteem among university students who are vulnerable to low self-esteem due to developmental demands and loneliness. This study uses a quantitative approach with correlation analysis to test the relationship between the two variables. A total of 262 participants were recruited using non-probability sampling techniques. The results show that social support has a small positive relationship with self-esteem among lonely students in the digital era. These findings indicate that the higher the social support received by students, the higher their self-esteem tends to be. Therefore, social support is proven to be a contributing factor to self-esteem among students experiencing loneliness in the digital era.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penggunaan media sosial yang tinggi di era digital berpotensi meningkatkan kesepian. Kondisi ini sering dialami oleh mahasiswa yang berada pada tahap emerging adulthood, yaitu fase peralihan yang ditandai dengan berbagai tuntutan perkembangan. Kesepian pada fase ini sering dikaitkan dengan penurunan self-esteem, yang dapat menyebabkan ketidakpuasan terhadap diri sendiri dan berdampak pada berbagai aspek kehidupan mahasiswa. Salah satu faktor eksternal yang diketahui dapat memengaruhi self-esteem adalah dukungan sosial. Dukungan sosial memberikan rasa dihargai, diterima, dan diperhatikan oleh lingkungan sekitar, yang dapat memperkuat evaluasi diri yang positif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah terdapat hubungan antara dukungan sosial dan self-esteem pada mahasiswa yang rentan mengalami penurunan self-esteem akibat tuntutan perkembangan dan kesepian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan uji korelasi untuk menguji hubungan antar kedua variabel. Sebanyak 262 partisipan diikutsertakan melalui teknik non-probability sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial memiliki hubungan positif yang kecil dengan self-esteem pada mahasiswa yang mengalami kesepian di era digital. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diterima mahasiswa, semakin tinggi pula tingkat self-esteem yang mereka miliki. Dengan demikian, dukungan sosial terbukti menjadi faktor yang dapat berkontribusi terhadap self-esteem mahasiswa yang mengalami kesepian di era digital.</p>Naila Hullatun NichlahAgustina AgustinaHanna Christina Uranus
Copyright (c) 2026 Naila Hullatun Nichlah, Agustina, Hanna Christina Uranus
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-02-072026-02-076137738610.51878/paedagogy.v6i1.8102