TRANSFORMASI NILAI BUDAYA DALAM TRADISI MERARIQ DI ERA MODERN
DOI:
https://doi.org/10.51878/knowledge.v5i3.6800Keywords:
Merariq, Transformasi Budaya, ModernisasiAbstract
The merariq tradition is a customary marriage practice of the Sasak community in Cendi Manik Village, Lombok, which embodies values of ritual sanctity, social responsibility, and respect for customary structures. This study aims to identify these cultural values and examine their transformation in the context of modernization, national law, and social change. The findings reveal a shift in the meaning and function of merariq from a symbol of cultural commitment to a justification for child marriage that often disregards parental consent, legal age requirements, and official registration. Using a qualitative ethnographic approach, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and field documentation with 12 informants consisting of traditional leaders, parents, and youth. The results indicate that communal values have shifted toward individual orientations, while cultural hybridization has emerged as a response to legal and human rights demands. This study emphasizes that the transformation of cultural values in the merariq tradition necessitates policy efforts to harmonize customary and national law, particularly to prevent child marriage and to strengthen community-based cultural education.
ABSTRAK
Tradisi merariq merupakan praktik pernikahan adat masyarakat Sasak di Desa Cendi Manik, Lombok, yang sarat dengan nilai kesakralan ritual, tanggung jawab sosial, dan penghormatan terhadap struktur adat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi nilai budaya tersebut serta menelaah bentuk transformasinya dalam konteks modernisasi, hukum nasional, dan perubahan sosial. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran makna dan fungsi merariq, dari simbol komitmen budaya menjadi justifikasi pernikahan dini yang kerap mengabaikan persetujuan orang tua, batas usia legal, dan pencatatan hukum. Dengan menggunakan pendekatan etnografi kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi lapangan terhadap 12 informan yang terdiri dari tokoh adat, orang tua, dan pemuda. Temuan mengindikasikan bahwa nilai komunal bergeser menjadi orientasi individual, sementara muncul bentuk hibridisasi budaya sebagai respons terhadap tuntutan hukum dan hak asasi manusia. Penelitian ini menegaskan bahwa transformasi nilai budaya dalam tradisi merariq memerlukan kebijakan harmonisasi antara hukum adat dan hukum nasional, khususnya untuk mencegah pernikahan dini serta memperkuat pendidikan budaya lokal berbasis komunitas.
Downloads
References
Aini, N., & Hadi, L. A. (2022). Transformasi nilai budaya dalam perkawinan merariq di tengah modernitas. Jurnal Antropologi Indonesia, 41(1), 30. https://doi.org/10.7454/jai.v41i1.30
Arman Budiman, A., Rumadi, R., & Dli’fain, A. F. (2025). The contestation of state, religious, and customary laws on child marriage: A legal pluralism perspective. Hikmatuna: Journal for Integrative Islamic Studies, 11(1), 1–15. https://doi.org/10.28918/hikmatuna.v11i1.11004
Asrizal, P. A., Afriadi, P., & Bashori. (2019). Tradisi pemberian sumbanga dalam hajatan pernikahan perspektif Fiqhul Islam. Teraju: Jurnal Syariah dan Hukum, 1(2), 60.
Aulia, F. (2021). Revitalisasi tradisi merariq dalam perspektif hukum adat dan hukum negara. Jurnal Hukum dan Masyarakat Adat, 8(1), 27.
Azwar, W., Mayasari, D., Winata, A., Garba, M. M., Isnaini, I., et al. (2024). Exploration of the merariq tradition in Sasak Lombok, Indonesia: Analysis in Islamic law and socio-cultural dynamics perspectives. Ibda: Jurnal Kajian Islam dan Budaya, 22(1), Article 10766. https://doi.org/10.24090/ibda.v22i1.10766
Cherlin, A. J. (2004). The deinstitutionalization of American marriage. Journal of Marriage and Family, 66(4), 848–861. https://doi.org/10.1111/j.0022-2445.2004.00058.x
Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (4th ed.). Sage.
Erwinsya, E., Handoyo, E., & Arsal, T. (2020). Merariq tradition of Sasak tribe in social construction and national law. Journal of Educational Social Studies (JESS), 9(1), 48–55. https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jess/article/view/40418
Giddens, A. (2002). Runaway world: How globalisation is reshaping our lives. London: Profile Books.
Guest, G., Namey, E., & Mitchell, M. (2013). Collecting qualitative data: A field manual for applied research. Sage.
Haryatmoko. (2007). Etika komunikasi (p. 107). Yogyakarta: Kanisius.
Haviland, W. A. (2002). Antropologi budaya (p. 134). Jakarta: Erlangga.
Hofstede, G. (2001). Culture’s consequences: Comparing values, behaviors, institutions, and organizations across nations (p. 73). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
Ibrahim, J. (2006). Teori dan metodologi penelitian hukum normatif. Malang: Bayumedia.
Kartika, D., & Sutrisno, E. (2022). Antara tradisi dan hak asasi: Analisis hukum atas praktik merariq. Jurnal HAM, 13(2), 112.
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi (p. 180). Jakarta: Rineka Cipta.
Komisarof, A., & Akaliyski, P. (2023). New developments in Hofstede’s Individualism-Collectivism: A guide for scholars, educators, trainers, and other practitioners. Frontiers in Psychology, 14, 1122334. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2023.1122334
Lukma, W. (2014). Ekistensi perkawinan masyarakat suku Sasak Lomok (Merariq) dalam muara pluralisme hukum. Jurnal IUS: Kajian Hukum dan Keadilan, 2(6), 443.
Lon, Y. S., & Widyawati, F. (2021). Customary law before religion and state laws regarding marriage in Manggarai, Eastern Indonesia. Jurnal Cita Hukum, 9(1), 93–110. https://doi.org/10.15408/jch.v9i1.16510
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). Sage.
Minkov, M., Dutt, P., Schachner, M., Morales, O., Sánchez, C., Jandosova, J., Khassenbekov, Y., & Mudd, B. (2017). A revision of Hofstede’s Individualism-Collectivism dimension: A new national index from a 56-country study. Cross Cultural & Strategic Management, 24(3), 386–404. https://doi.org/10.1108/CCSM-11-2016-0197
Moleong, L. J. (2017). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Ningsih, O. (2019). Eksistensi hukum adat dalam aspek perkawinan di masyarakat Desa Bayan Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara (Skripsi tidak dipublikasikan). Fakultas Hukum, Universitas Gunung Rinjani, Selong.
Nurhidayah. (2022). Pendidikan budaya lokal: Menjaga warisan nilai tradisional dalam arus modernisasi. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 26(3), 41.
Nowell, L. S., Norris, J. M., White, D. E., & Moules, N. J. (2017). Thematic analysis: Striving to meet the trustworthiness criteria. International Journal of Qualitative Methods, 16(1), 1–13. https://doi.org/10.1177/1609406917733847
Rahmah, S. (2020). Pendidikan dan kesadaran hukum masyarakat dalam tradisi merariq. Jurnal Pendidikan Sosial, 5(2), 145.
Sedyawati, E. (2006). Budaya dalam perspektif global (p. 102). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Soekanto, S. (2000). Hukum adat Indonesia. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Spradley, J. P. (1979). The ethnographic interview. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Suhardi, L. (2020). Dinamika perubahan sosial dalam tradisi merariq masyarakat Sasak. Jurnal Sosial Budaya, 15(2), 113.
Suparlan, P. (2004). Manusia, kebudayaan dan lingkungan (p. 91). Jakarta: Pustaka Jaya.
Supratiknya, A. (2004). Kebudayaan dan transformasi sosial. Kanisius.
Syamsuddin, R. M. L. M. (2018). Hukum adat Sasak dan eksistensinya dalam masyarakat modern. Mataram: Pustaka Sasak.
Sztompka, P. (2007). Sosiologi perubahan sosial (p. 58). Jakarta: Prenada Media.
Taras, V., Steel, P., & Kirkman, B. L. (2017). Three decades of research on national culture in the workplace: Do the differences still make a difference? Organizational Dynamics, 46(1), 7–17. https://doi.org/10.1016/j.orgdyn.2016.09.002
Wahyuni. (2020). Pernikahan dini dalam perspektif hukum dan sosial budaya di Lombok. Jurnal Hukum dan Pembangunan, 50(3), 412.
Yani, L. A. (2021). Budaya lokal dalam pusaran hukum modern: Studi kasus tradisi merariq. Jurnal Sosio Legal, 13(1), 78.
Yuliana, F. (2021). Penyalahgunaan tradisi merariq untuk melegitimasi kawin anak di NTB. Jurnal Hukum & Gender, 9(1), 56.
Zainuddin, L. (2020). Tradisi Merariq: Praktik dan makna dalam budaya Sasak. Jurnal Antropologi Indonesia, 40(2).














