EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran https://jurnalp4i.com/index.php/educational <p><strong>EDUCATIONAL: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran | <a href="https://sinta.kemdiktisaintek.go.id/journals/profile/12049">Terakreditasi Sinta 5 </a></strong>diterbitkan 4 kali setahun (Februari, Mei, Agustus dan November) oleh Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) yang berafiliasi dengan Perguruan Tinggi Indonesia. Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pedidikan dan pengajaran.<br /><strong>e-ISSN : </strong><strong>2775-2593 </strong><strong>| </strong><strong>p-ISSN :</strong> <strong>2775-2585</strong></p> Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) en-US EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran 2775-2585 SOCIOLINGUISTIC STUDY NARRATIVE STRUCTURE AND LANGUAGE FUNCTION IN CATCH ME IF YOU CAN https://jurnalp4i.com/index.php/educational/article/view/8504 <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>Language plays a central role in shaping and legitimizing professional identity across various social interactional contexts. This study aims to examine how the character Frank Abagnale Jr. constructs and sustains multiple professional identities through language use in the film <em>Catch Me If You Can</em> (2002). The analysis focuses on patterns of linguistic variation that emerge when the main character impersonates a pilot, a doctor, and a lawyer, with particular attention to register management, speech style adaptation, and language functions within institutional settings. This research adopts a descriptive qualitative approach by analyzing selected dialogues transcribed from key scenes in the film. The analysis involves identifying lexical choices, levels of formality, interactional patterns, and communicative purposes that reflect the professional demands of each assumed role. The findings indicate that language use aligned with professional norms and expectations through the deployment of technical terminology, formal registers, and authoritative speech styles plays a crucial role in shaping perceptions of competence and gaining social recognition. These findings underscore that language functions as a primary performative resource in the construction of professional identity, in which membership and legitimacy within professional communities are interactionally achieved rather than solely determined by formal qualifications.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Bahasa memiliki peran sentral dalam membentuk serta melegitimasi identitas profesional dalam berbagai situasi interaksi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana tokoh Frank Abagnale Jr. membangun dan mempertahankan beragam identitas profesional melalui penggunaan bahasa dalam film <em>Catch Me If You Can</em> (2002). Kajian difokuskan pada praktik variasi bahasa yang muncul ketika tokoh utama menyamar sebagai pilot, dokter, dan pengacara, dengan menyoroti pengelolaan register, penyesuaian gaya tutur, serta fungsi bahasa dalam konteks institusional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan menganalisis dialog-dialog terpilih yang ditranskripsikan dari adegan penting dalam film. Analisis dilakukan melalui identifikasi pilihan leksikal, tingkat formalitas, pola interaksi, dan tujuan komunikatif yang mencerminkan tuntutan profesional masing-masing peran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa yang selaras dengan norma dan ekspektasi profesi tertentu melalui pemanfaatan istilah teknis, register formal, dan gaya tutur berotoritas berperan penting dalam membangun persepsi kompetensi dan memperoleh pengakuan sosial. Temuan ini menegaskan bahwa bahasa berfungsi sebagai perangkat performatif utama dalam konstruksi identitas profesional, di mana keanggotaan dan legitimasi dalam komunitas profesional dibentuk secara interaksional, bukan semata-mata ditentukan oleh kualifikasi formal.</p> Muhammad Rahman Darmawan Muhammad Rafi Ikhsandi Yanti Rosalinah Copyright (c) 2026 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-01-07 2026-01-07 6 1 1 10 10.51878/educational.v6i1.8504 ESTETIKA, ETIKA, DAN IDENTITAS DALAM PEMBELAJARAN MUSIK TRADISIONAL UNTUK ANAK USIA DINI https://jurnalp4i.com/index.php/educational/article/view/8534 <p>Traditional music learning in early childhood plays an important role not only in the development of musical abilities, but also in the formation of character, emotional sensitivity, and the strengthening of cultural identity. This article aims to examine traditional music education from a philosophy of education perspective by positioning aesthetics, ethics, and identity as the three main pillars of arts education. The study employs a normative qualitative approach through a literature review and conceptual reflection on traditional music learning practices in early childhood education institutions in Indonesia. The findings indicate that traditional music functions as a holistic educational medium that integrates aesthetic experiences, the cultivation of moral virtues, and the reinforcement of children’s cultural identity. Aesthetic values are reflected in the process of appreciating harmony, rhythm, and musical expression, which foster children’s sensitivity and creativity. Ethical dimensions develop through collective musical practices that instill discipline, responsibility, cooperation, and empathy. Meanwhile, identity values play a role in strengthening a sense of nationalism and appreciation for local cultural heritage amid globalization. These findings affirm that traditional music learning is a sustainable educational strategy that supports the formation of well-rounded individuals.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pembelajaran musik tradisional pada anak usia dini memiliki peran penting tidak hanya dalam pengembangan kemampuan musikal, tetapi juga dalam pembentukan karakter, kepekaan rasa, dan penguatan identitas budaya. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pembelajaran musik tradisional dari perspektif filsafat pendidikan dengan menempatkan estetika, etika, dan identitas sebagai tiga pilar utama pendidikan seni. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif normatif melalui studi literatur dan refleksi konseptual terhadap praktik pembelajaran musik tradisional di lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa musik tradisional berfungsi sebagai media pendidikan holistik yang mengintegrasikan pengalaman estetis, pembentukan kebajikan moral, serta penguatan jati diri budaya anak. Nilai estetika tercermin dalam proses apresiasi harmoni, ritme, dan ekspresi musikal yang menumbuhkan kepekaan dan kreativitas anak. Dimensi etika berkembang melalui praktik musikal kolektif yang menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan empati. Sementara itu, nilai identitas berperan dalam memperkuat rasa kebangsaan dan kecintaan terhadap warisan budaya lokal di tengah arus globalisasi. Temuan ini menegaskan bahwa pembelajaran musik tradisional merupakan strategi pendidikan berkelanjutan yang mendukung pembentukan manusia seutuhnya.</p> Dina Christina Eliendra Yetti Dian Herdiati Copyright (c) 2026 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-01-07 2026-01-07 6 1 11 19 10.51878/educational.v6i1.8534 ETIKA BERMEDIA SOSIAL DALAM PERSPEKTIF TAFSIR AL-QUR’ANUL MAJID AN-NUR DAN RELEVANSINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM https://jurnalp4i.com/index.php/educational/article/view/8403 <p><strong>ABSTRACT </strong></p> <p>The rapid development of social media has transformed patterns of religious and social communication within Muslim society. On the one hand, digital media facilitates the dissemination of information and da’wah; on the other hand, it generates serious ethical challenges such as hoaxes, hate speech, slander, and violations of personal dignity that threaten social harmony. This condition necessitates the formulation of a solid digital ethics framework rooted in Qur’anic values. This study aims to analyze the concept of social media ethics in Tafsir al-Qur’anul Majid an-N?r by Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy and to examine its relevance for strengthening Islamic digital literacy within Islamic Religious Education. The study employs a qualitative approach using library research. The research stages include the selection of Qur’anic verses related to communication ethics, data collection from tafsir texts and scholarly literature, content analysis, and contextual interpretation of the findings in relation to contemporary digital ethical issues. The results indicate that Hasbi ash-Shiddieqy formulates three core principles of Qur’anic ethics: responsibility for every utterance (mas’?liyyah al-qawl), the obligation to verify information (tabayyun), and the preservation of human dignity (?if? al-‘ir?). These principles are highly relevant in addressing digital ethical problems such as misinformation, disinformation, and verbal violence on social media platforms. This study concludes that Tafsir an-N?r can serve as an applicable normative-pedagogical framework to strengthen Islamic digital literacy and to foster the development of students’ digital character that is ethical, critical, and responsible through Islamic Religious Education.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perkembangan pesat media sosial telah mengubah pola komunikasi keagamaan dan sosial masyarakat Muslim. Di satu sisi, media digital memfasilitasi penyebaran informasi dan dakwah, namun di sisi lain juga memunculkan berbagai persoalan etika, seperti hoaks, ujaran kebencian, fitnah, dan pelanggaran kehormatan yang mengancam tatanan sosial. Kondisi ini menuntut perumusan kerangka etika digital yang kokoh dan berakar pada nilai-nilai Qur’ani. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep etika bermedia sosial dalam Tafsir al-Qur’anul Majid an-N?r karya Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy serta menjelaskan relevansinya bagi penguatan literasi digital Islami dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Tahapan penelitian meliputi pemilihan ayat-ayat etika komunikasi, pengumpulan data dari teks tafsir dan literatur ilmiah, analisis isi <em>(content analysis)</em>, serta penafsiran temuan secara kontekstual dengan problem etika digital kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hasbi ash-Shiddieqy merumuskan tiga prinsip utama etika Qur’ani, yaitu tanggung jawab atas setiap ucapan <em>(mas’?liyyah al-qawl)</em>, kewajiban memverifikasi informasi <em>(tabayyun)</em>, dan penjagaan kehormatan manusia <em>(?if? al-‘ir?)</em>. Ketiga prinsip tersebut memiliki relevansi kuat dalam merespons persoalan etika digital, seperti misinformasi, disinformasi, dan kekerasan verbal di media sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tafsir an-N?r dapat dijadikan kerangka normatif-pedagogis yang aplikatif untuk memperkuat literasi digital Islami dan membentuk karakter digital peserta didik yang berakhlak, kritis, dan bertanggung jawab melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam.</p> Mohamad Khoerul Anam Enjang Burhanudin Yusuf Sya’roni Copyright (c) 2026 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-01-07 2026-01-07 6 1 20 27 10.51878/educational.v6i1.8403 INTEGRASI ETIKA PENDIDIKAN ISLAM DALAM KURIKULUM BERBASIS CINTA DI ERA DISRUPSI DIGITAL DAN ANONIMITAS GLOBAL https://jurnalp4i.com/index.php/educational/article/view/8823 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Disrupsi digital dan anonimitas global telah memengaruhi perilaku moral peserta didik melalui melemahnya kontrol etika dan munculnya fenomena online disinhibition effect di ruang digital. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan antara pengetahuan keagamaan dan praksis moral, sehingga menuntut pendekatan pendidikan yang lebih humanis dan reflektif. Penelitian ini bertujuan menganalisis integrasi etika Pendidikan Agama Islam dalam kurikulum berbasis cinta sebagai respons terhadap tantangan moral di era digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan yang dianalisis secara normatif-teologis, filosofis-pedagogis, dan kontekstual-kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum berbasis cinta yang berlandaskan nilai rahmah, empati, dan penghormatan terhadap martabat manusia mampu memperkuat internalisasi akhlak peserta didik secara kontekstual. Penguatan kesadaran muraqabah serta pembiasaan nilai tabayyun dan akhlak karimah terbukti efektif dalam meredam dampak negatif disinhibisi daring dan membentuk perilaku digital yang bertanggung jawab. Penelitian ini menegaskan bahwa kurikulum PAI berbasis cinta merupakan model pedagogis humanis yang relevan dalam menghadapi kompleksitas kehidupan digital global.</p> Imam Syafi’i Dwi Noviani Copyright (c) 2026 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-01-09 2026-01-09 6 1 28 35 10.51878/educational.v6i1.8823 ADAPTASI SOSIAL-EKONOMI MASYARAKAT NELAYAN TERHADAP PERUBAHAN LINGKUNGAN PESISIR https://jurnalp4i.com/index.php/educational/article/view/8844 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perubahan lingkungan pesisir, seperti kenaikan muka air laut, abrasi, degradasi ekosistem, dan meningkatnya cuaca ekstrem, telah menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan mata pencaharian masyarakat nelayan, khususnya di wilayah kepulauan terpencil yang memiliki keterbatasan akses terhadap modal, teknologi, informasi, dan layanan pemerintah. Kondisi tersebut mendorong nelayan untuk mengembangkan berbagai strategi adaptasi guna menjaga keberlanjutan ekonomi dan sosial rumah tangga mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk strategi adaptasi sosial-ekonomi masyarakat nelayan di Desa Holimombo Jaya, Kabupaten Buton, serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan dan hambatan strategi adaptasi tersebut. Penelitian dilaksanakan selama Juni–Agustus 2025 menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara semi-terstruktur, observasi lapangan, dan dokumentasi. Sebanyak 60 kepala keluarga nelayan dipilih secara <em>purposive</em> sebagai responden penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan tematik melalui proses transkripsi, pengkodean, kategorisasi, dan penarikan tema utama, serta diperkuat dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan menerapkan lima strategi adaptasi utama, yaitu penyesuaian pola dan waktu melaut, diversifikasi mata pencaharian, penguatan jejaring sosial, pemanfaatan teknologi sederhana, dan pengelolaan sumber daya berbasis kearifan lokal. Strategi-strategi tersebut memberikan dampak ganda, yakni memperkuat ketahanan ekonomi melalui pengurangan kerugian, stabilisasi pendapatan, dan peningkatan efisiensi, serta memperkuat ketahanan sosial melalui peningkatan keselamatan, solidaritas, pembelajaran kolektif, dan kesadaran lingkungan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa adaptasi nelayan di wilayah terpencil merupakan proses integratif yang melibatkan dimensi ekonomi, sosial, budaya, dan teknologi, sehingga penting dijadikan dasar dalam perumusan kebijakan pembangunan pesisir yang berkelanjutan dan inklusif.</p> <p><strong>ABSTRACT </strong></p> <p>Coastal environmental changes, including sea level rise, coastal erosion, ecosystem degradation, and increasing extreme weather events, pose serious challenges to the sustainability of fishing livelihoods, particularly in remote island communities with limited access to capital, technology, information, and government services. These conditions have compelled small-scale fishers to develop various adaptation strategies to maintain their economic and social resilience. This study aims to identify the forms of socio-economic adaptation strategies employed by fishing communities in Holimombo Jaya Village, Buton Regency, and to analyze the factors influencing the success and constraints of these strategies. The research was conducted from June to August 2025 using a qualitative approach through semi-structured interviews, field observations, and documentation. A total of 60 fishing household heads were selected purposively as research participants. Data were analyzed using a thematic approach involving transcription, coding, categorization, and theme development, supported by source and method triangulation. The findings reveal that fishers implement five main adaptation strategies: adjustment of fishing patterns and timing, livelihood diversification, strengthening of social networks, utilization of simple technologies, and resource management based on local wisdom. These strategies generate dual impacts by enhancing economic resilience through reduced losses, income stabilization, and improved operational efficiency, while simultaneously strengthening social resilience through increased safety, solidarity, collective learning, and environmental awareness. The study concludes that adaptation among fishers in remote coastal areas represents an integrative process involving economic, social, cultural, and technological dimensions, and therefore should serve as an empirical basis for formulating sustainable and inclusive coastal development policies.</p> Alimato Alimato Hanisu Hanisu Marsel Marsel La Jana Copyright (c) 2026 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-01-12 2026-01-12 6 1 36 43 10.51878/educational.v6i1.8844 AL AZHAR SEBAGAI PUSAT PENDIDIKAN FATIMIYAH: ASPEK INSTITUSIONAL, KURIKULUM DAN WARISAN PENDIDIKAN ISLAM DI MESIR (970–1171?M) https://jurnalp4i.com/index.php/educational/article/view/8954 <p>This study analyzes Al-Azhar during the Fatimid Dynasty (970–1171 CE) as a center of Islamic education that played a significant role in the development of science, theology, and politics. Using a library research method with a descriptive-historical approach, this study examines Al-Azhar's institutional structure, curriculum, and Islamic educational legacy. The results show that Al-Azhar was initially established as a state mosque and served as a means of disseminating Shia Ismaili ideology as well as an educational center that integrated religious knowledge with rational sciences such as logic, philosophy, and astronomy. Support from the Fatimid Caliphate and the waqf (endowment) system were key factors in sustaining the institution's survival. After the fall of the Fatimids, Al-Azhar transformed into an inclusive Sunni educational institution while maintaining its intellectual heritage. This study confirms that Al-Azhar's educational model during the Fatimid era contributed significantly to the emergence of the madrasah system and modern Islamic education, while also providing important lessons on the integration of religious knowledge and science, waqf-based funding, and collaboration between the state and educational institutions.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini menganalisis Al-Azhar pada masa Dinasti Fatimiyah (970–1171 M) sebagai pusat pendidikan Islam yang berperan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teologi, dan politik. Menggunakan metode penelitian pustaka dengan pendekatan deskriptif-historis, studi ini mengkaji struktur kelembagaan, kurikulum, serta warisan pendidikan Islam Al-Azhar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Azhar awalnya didirikan sebagai masjid jum‘ah negara dan berfungsi sebagai sarana penyebaran ideologi Syiah Ismailiyah serta pusat pendidikan yang mengintegrasikan ilmu agama dengan sains rasional seperti logika, filsafat, dan astronomi. Dukungan kekhalifahan Fatimiyah dan sistem wakaf (waqf) menjadi faktor utama dalam menopang keberlangsungan lembaga ini. Setelah kejatuhan Fatimiyah, Al-Azhar bertransformasi menjadi lembaga pendidikan Sunni yang inklusif dan tetap mempertahankan warisan intelektualnya. Studi ini menegaskan bahwa model pendidikan Al-Azhar pada masa Fatimiyah berkontribusi besar terhadap lahirnya sistem madrasah dan pendidikan Islam modern, sekaligus memberikan pelajaran penting tentang integrasi ilmu agama dan sains, pendanaan berbasis wakaf, serta kolaborasi antara negara dan lembaga pendidikan.</p> <p> </p> <p> </p> Yassir Hafidh Fitriyan Mutohharun Jinan Copyright (c) 2026 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-01-15 2026-01-15 6 1 44 53 10.51878/educational.v6i1.8954 KONSEP LINGKUNGAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM PRESPEKTIF AL QUR’AN https://jurnalp4i.com/index.php/educational/article/view/8399 <p>Education plays a vital role in shaping human personality, but discourse on the educational environment is often trapped in merely sociological-institutional aspects without delving into the theological normative foundations derived from the Qur'an. This research focuses on examining and reconstructing the concept of the Islamic educational environment from the perspective of the Qur'an in order to find a comprehensive philosophical foundation. The method applied is qualitative through library research with a thematic interpretation approach (maudhu'i) of verses relevant to the educational ecosystem, which are then analyzed descriptively-analystically. The research findings show that the Qur'an places the environment as a determinant factor in character formation, which is integrated into three main domains: the family as the foundation for instilling monotheism and compassion, schools as a means of intellectual and moral development, and society as a vehicle for actualizing socio-religious values. These three environments must synergize within the framework of monotheism and exemplary behavior (uswah hasanah) as exemplified by the Prophet Muhammad. It is concluded that the success of Islamic education is highly dependent on the creation of a conducive environment based on divine values, so that it can produce perfect human beings who have spiritual, moral and intellectual balance.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pendidikan memegang peranan vital dalam pembentukan kepribadian manusia, namun diskursus mengenai lingkungan pendidikan sering kali terjebak pada aspek sosiologis-institusional semata tanpa menggali landasan normatif teologis yang bersumber dari Al-Qur’an. Penelitian ini berfokus untuk mengkaji dan merekonstruksi konsep lingkungan pendidikan Islam dalam perspektif Al-Qur’an guna menemukan landasan filosofis yang komprehensif. Metode yang diterapkan adalah kualitatif melalui studi kepustakaan (<em>library research</em>) dengan pendekatan tafsir tematik (<em>maudhu’i</em>) terhadap ayat-ayat yang relevan dengan ekosistem pendidikan, yang kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an menempatkan lingkungan sebagai faktor determinan dalam pembentukan karakter, yang terintegrasi dalam tiga ranah utama: keluarga sebagai fondasi penanaman tauhid dan kasih sayang, sekolah sebagai sarana pengembangan intelektual dan akhlak, serta masyarakat sebagai wahana aktualisasi nilai sosial-religius. Ketiga lingkungan ini harus bersinergi dalam kerangka ketauhidan dan keteladanan (<em>uswah hasanah</em>) sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. Disimpulkan bahwa keberhasilan pendidikan Islam sangat bergantung pada terciptanya lingkungan kondusif yang berlandaskan nilai-nilai Ilahiah, sehingga mampu mencetak <em>insan kamil</em> yang memiliki keseimbangan spiritual, moral, dan intelektual.</p> <p> </p> Fenia Marliana Ghifar Ramadhan Opik Taupik Kurahman Sabrina Izzatul Jannah Copyright (c) 2026 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-01-15 2026-01-15 6 1 54 64 10.51878/educational.v6i1.8399 INTEGRASI EVALUASI PSIKOLOGIS DAN RANAH SPIRITUAL DALAM PEMBELAJARAN PAI: DIAGNOSIS POTENSI DAN PENGEMBANGAN KARAKTER HOLISTIK PESERTA DIDIK https://jurnalp4i.com/index.php/educational/article/view/8489 <p>This study explores the integration of psychological diagnostic evaluation and spiritual domains within Islamic Religious Education (PAI) as a foundation for developing students’ holistic character. The research aims to analyze the conceptual meaning and functions of evaluation from the perspective of educational psychology, describe the integration of affective–spiritual assessment in PAI, and identify the application of key evaluation principles, including objectivity, validity, and reliability. This study employs a qualitative literature review design through descriptive–analytical content analysis. Data were obtained from primary documents and secondary sources such as academic books and accredited journals published between 2020–2025. The findings reveal that psychological diagnostic evaluation plays a crucial role in identifying students’ potential, learning barriers, and specific psychological needs. Meanwhile, the spiritual domain—positioned as the highest level of the affective taxonomy—supports the formation of moral consciousness, emotional regulation, and sense of purpose. The study also highlights methodological challenges in assessing non-cognitive domains and emphasizes the use of multiple techniques, such as observation, attitude scales, and reflective journals, to strengthen evaluation validity and objectivity. Overall, the integration of psychological and spiritual evaluation is essential for designing adaptive PAI learning that supports comprehensive character development.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini mengkaji integrasi evaluasi psikologis yang bersifat diagnostik dengan penilaian ranah spiritual dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai dasar pengembangan karakter holistik peserta didik. Tujuan penelitian adalah menganalisis makna dan fungsi evaluasi dari perspektif psikologi pendidikan, menggambarkan integrasi penilaian afektif–spiritual dalam pembelajaran PAI, serta menjelaskan penerapan prinsip objektivitas, validitas, dan reliabilitas dalam evaluasi non-kognitif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi literatur melalui analisis isi deskriptif-analitis. Data diperoleh dari dokumen primer dan literatur sekunder berupa buku akademik dan jurnal terakreditasi yang terbit pada rentang 2020–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi diagnostik psikologis berperan penting dalam mengidentifikasi potensi, hambatan, dan kebutuhan belajar individu. Sementara itu, ranah spiritual—sebagai tingkat tertinggi ranah afektif—berkontribusi pada pembentukan kesadaran moral, pengelolaan emosi, serta pengembangan tujuan hidup yang bermakna. Penelitian ini juga menemukan bahwa penilaian ranah afektif dan spiritual memiliki tantangan metodologis, sehingga diperlukan teknik non-tes yang beragam, seperti observasi, skala sikap, dan jurnal refleksi, untuk meningkatkan akurasi dan objektivitas. Secara keseluruhan, integrasi evaluasi psikologis dan spiritual menjadi kunci dalam merancang pembelajaran PAI yang adaptif dan berorientasi pada pembentukan karakter secara komprehensif.</p> <p> </p> Ema Maesaroh Siti Robi’ah Risna Risnawati Tarsono Tarsono Copyright (c) 2026 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-01-15 2026-01-15 6 1 65 75 10.51878/educational.v6i1.8489 FAKTOR DETERMINAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM KAJIAN FILSAFAT https://jurnalp4i.com/index.php/educational/article/view/8955 <p>Education is a system consisting of various interconnected components, such as educational goals, educators, students, the educational environment, and educational tools. The success or failure of education depends not only on schooling but also on the synergy between these factors. This research is a qualitative study using literature review methods to identify the determinants influencing Islamic education, particularly in curriculum development and the formation of students' moral foundations. Each educational system is influenced by a philosophy underlying its educational vision and mission, encompassing views on humans, knowledge, and the ultimate goal of education. This philosophy influences curriculum development oriented toward achieving national educational goals, as well as the development of intellectual, moral, social, and work skills competencies. Furthermore, external factors such as family, environment, media, religion, and educational policy also play a significant role in the formation of students' moral foundations. This research provides insight into the importance of integrating various factors in achieving holistic educational goals.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pendidikan merupakan sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan, seperti tujuan pendidikan, pendidik, peserta didik, lingkungan pendidikan, dan alat pendidikan. Keberhasilan dan kegagalan pendidikan tidak hanya bergantung pada persekolahan, melainkan pada sinergi antara faktor-faktor tersebut. Penelitian ini merupakan kajian kualitatif yang menggunakan metode studi kepustakaan untuk mengidentifikasi faktor-faktor determinan yang mempengaruhi pendidikan Islam, khususnya dalam pengembangan kurikulum dan pembentukan landasan moral peserta didik. Setiap sistem pendidikan dipengaruhi oleh filosofi yang mendasari visi dan misi pendidikannya, yang mencakup pandangan tentang manusia, pengetahuan, dan tujuan akhir pendidikan. Filosofi ini memengaruhi pengembangan kurikulum yang berorientasi pada pencapaian tujuan pendidikan nasional, serta pembentukan kompetensi intelektual, moral, sosial, dan keterampilan kerja. Selain itu, faktor eksternal seperti keluarga, lingkungan, media, agama, dan kebijakan pendidikan juga memainkan peran penting dalam pembentukan landasan moral peserta didik. Penelitian ini memberikan wawasan tentang pentingnya integrasi berbagai faktor dalam mencapai tujuan pendidikan yang holistik.</p> <p> </p> <p> </p> Nur Apriyani Mahyuddin Mahyuddin Copyright (c) 2026 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-01-15 2026-01-15 6 1 76 86 10.51878/educational.v6i1.8955 FILSAFAT DALAM PENDIDIKAN ISLAM DALAM KAJIAN ONTOLOGI DAN METAFISIKA https://jurnalp4i.com/index.php/educational/article/view/8287 <p>Islamic education plays a strategic role in character formation, but the dominance of the modern education system, which tends to be materialistic, often neglects the spiritual dimension of students. This study aims to reconstruct the philosophical foundation of Islamic education through an in-depth study of ontology and metaphysics, and analyze its implications for curriculum development and learning methodology in the contemporary era. By applying a library research method based on a qualitative-descriptive approach, this research critically examines authoritative literature from classical thinkers such as Al-Farabi, Ibn Sina, and Al-Ghazali to the views of contemporary scholars. The research findings reveal that ontologically, Islamic education views humans as multidimensional beings with rational and spiritual potential to achieve the status of insan kamil. Meanwhile, the metaphysical perspective emphasizes that the reality of education is not limited to empirical aspects, but is integrated with transcendental values ??where revelation and intuition become valid sources of knowledge alongside reason. It is concluded that the integration of ontology and metaphysics is an absolute foundation for building a holistic educational paradigm, which is able to balance intellectual intelligence with spiritual maturity in order to produce a generation that is adaptive but still based on divine values.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pendidikan Islam memegang peran strategis dalam pembentukan karakter, namun dominasi sistem pendidikan modern yang cenderung materialistik sering kali mengabaikan dimensi spiritualitas peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi landasan filosofis pendidikan Islam melalui kajian mendalam mengenai ontologi dan metafisika, serta menganalisis implikasinya terhadap pengembangan kurikulum dan metodologi pembelajaran di era kontemporer. Dengan menerapkan metode studi kepustakaan (<em>library research</em>) berbasis pendekatan kualitatif-deskriptif, riset ini menelaah secara kritis literatur otoritatif dari pemikir klasik seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Ghazali hingga pandangan sarjana kontemporer. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa secara ontologis, pendidikan Islam memandang manusia sebagai makhluk multidimensi yang memiliki potensi rasional dan spiritual untuk mencapai derajat <em>insan kamil</em>. Sementara itu, perspektif metafisika menegaskan bahwa realitas pendidikan tidak terbatas pada aspek empiris, melainkan terintegrasi dengan nilai-nilai transendental di mana wahyu dan intuisi menjadi sumber pengetahuan yang valid bersanding dengan akal. Disimpulkan bahwa integrasi ontologi dan metafisika merupakan fondasi mutlak untuk membangun paradigma pendidikan yang holistik, yang mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan kematangan spiritual guna mencetak generasi yang adaptif namun tetap berlandaskan nilai ketuhanan.</p> <p> </p> <p> </p> Tiara Pelangi Arafah Abdul Khobir Copyright (c) 2026 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-01-15 2026-01-15 6 1 87 97 10.51878/educational.v6i1.8287 PARADIGMA PENDIDIKAN AKADEMIK-SENTRIS DAN DEGRADASI EMPATI PESERTA DIDIK: A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW https://jurnalp4i.com/index.php/educational/article/view/8512 <p>The contemporary academic-centric educational paradigm, with its overemphasis on academic achievement and high-stakes assessments, has raised concerns about its impact on students' holistic development, particularly on socio-emotional dimensions such as empathy. This study aims to systematically examine the construction of this paradigm in the literature, analyze its influence on the degradation of students' empathy, and formulate effective counter-strategies. Using a Systematic Literature Review (SLR) of 44 relevant journal articles from the last decade, the study found that a dominant academic orientation creates a competitive climate and significant psychological stress, which in turn erodes empathy through academic stress, social comparison, and weakened cooperative relationships. The findings also highlight that the integration of Social Emotional Learning (SEL), the management of a cooperative classroom climate, and the reduction of academic stress are key strategies for restoring the balance between academic achievement and character development. It concludes that a shift towards a more humanistic and balanced approach to education is crucial to prevent the marginalization of empathy in the education system.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Paradigma pendidikan kontemporer yang cenderung akademik-sentris, dengan penekanan berlebihan pada capaian akademik dan asesmen berisiko tinggi, telah memicu kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap perkembangan holistik siswa, khususnya pada dimensi sosial-emosional seperti empati. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara sistematis konstruksi paradigma tersebut dalam literatur, menganalisis pengaruhnya terhadap degradasi empati peserta didik, serta merumuskan strategi penyeimbang yang efektif. Menggunakan metode <em>Systematic Literature Review</em> (SLR) terhadap 44 artikel jurnal relevan dari dekade terakhir, studi ini menemukan bahwa orientasi akademik yang dominan menciptakan iklim kompetitif dan tekanan psikologis yang signifikan, yang pada gilirannya mengikis empati melalui stres akademik, perbandingan sosial, dan melemahnya relasi kooperatif. Temuan juga menyoroti bahwa integrasi <em>Social Emotional Learning</em> (SEL), pengelolaan iklim kelas yang kooperatif, dan reduksi tekanan akademik merupakan strategi kunci untuk memulihkan keseimbangan antara prestasi akademik dan pengembangan karakter . Disimpulkan bahwa pergeseran menuju pendekatan pendidikan yang lebih humanis dan seimbang sangat krusial untuk mencegah marginalisasi aspek empati dalam sistem pendidikan.</p> <p> </p> <p> </p> Ahmad Muzari Daroe Iswatiningsih Copyright (c) 2026 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-01-15 2026-01-15 6 1 98 113 10.51878/educational.v6i1.8512 PERAN MANAJEMEN WAKTU, GAYA BELAJAR, DAN MOTIVASI BELAJAR DALAM MENINGKATKAN INDEKS PRESTASI KUMULATIF MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA https://jurnalp4i.com/index.php/educational/article/view/8523 <p>Student academic achievement is an important indicator of educational success, which is influenced by various factors. This study aims to analyze and examine three internal factors, namely time management, learning style, and learning motivation, on the Grade Point Average (GPA) of students at the Faculty of Economics and Business, Jakarta State University. This study uses a quantitative approach with a survey method. The research sample consisted of 66 respondents selected using simple random sampling. Primary data were collected through a Likert scale questionnaire and analyzed using multiple linear regression. The analysis results produced a significant model and were able to explain 57.6% of the variation in GPA (Adj.R²: 0.576). Time management was the most dominant predictor of GPA (=0.429), followed by learning motivation (= 0.370), so that both had a positive and significant effect on student GPA. Meanwhile, learning style with a value of (=-0.039) did not contribute positively to GPA. This indicates that the better the time management and the higher the learning motivation of students, the higher their GPA will be.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Prestasi akademik mahasiswa merupakan indikator penting dalam keberhasilan pendidikan, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menguji tiga faktor internal yaitu manajemen waktu, gaya belajar, dan motivasi belajar terhadap Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Sampel penelitian berjumlah 66 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert dan dianalisis dengan regresi linear berganda. Hasil analisis menghasilkan model yang signifikan dan mampu menjelaskan 57.6% variasi IPK (Adj.R²: 0.576). Manajemen waktu merupakan prediktor IPK paling dominan (=0.429) disusul dengan motivasi belajar sebesar (= 0.370), sehingga keduanya berpengaruh positif dan signifikan terhadap IPK mahasiswa. Sedangkan gaya belajar dengan nilai (=-0.039) tidak memberi kontribusi positif terhadap IPK. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin baik pengelolaan waktu, serta semakin tinggi motivasi belajar mahasiswa, maka semakin tinggi pula IPK yang diperoleh.</p> <p> </p> Navila Ayu Anggraini Puja Dewiarni Hanifan Firasyanidhar Tsara Rahadiyan Wahyu Lestari Copyright (c) 2026 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-01-15 2026-01-15 6 1 114 124 10.51878/educational.v6i1.8523 SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN KELULUSAN TERBAIK SISWA MENGGUNAKAN METODE SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING https://jurnalp4i.com/index.php/educational/article/view/8846 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perkembangan teknologi informasi telah mendorong kebutuhan akan sistem pengelolaan dan pengambilan keputusan yang lebih objektif dan terstruktur di bidang pendidikan, termasuk dalam proses penentuan kelulusan dan peserta didik terbaik. Namun, pada praktiknya masih banyak satuan pendidikan dasar yang melakukan penilaian secara manual sehingga berpotensi menimbulkan subjektivitas dan ketidakakuratan keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan sistem pendukung keputusan penentuan kelulusan dan peserta didik terbaik berbasis metode <em>Simple Additive Weighting</em> (SAW) di MI Hayatul Wathon. Metode penelitian yang digunakan adalah model pengembangan sistem <em>waterfall </em>yang meliputi tahap studi literatur, pengumpulan data, analisis kebutuhan, perancangan sistem, dan implementasi sistem berbasis web. Metode SAW diterapkan untuk mengolah berbagai kriteria penilaian, seperti aspek akademik, kedisiplinan, dan prestasi, melalui proses pembobotan dan perangkingan guna menghasilkan nilai preferensi akhir peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem yang dikembangkan mampu menghasilkan perangkingan peserta didik secara objektif dan proporsional serta menetapkan status kelulusan dan predikat secara transparan. Sistem juga memudahkan pihak madrasah dalam memahami hasil penilaian melalui penyajian data yang terstruktur dalam bentuk tabel dan narasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode SAW dalam sistem pendukung keputusan efektif dalam meningkatkan objektivitas, akurasi, dan transparansi proses penentuan kelulusan dan peserta didik terbaik di tingkat Madrasah Ibtidaiyah, serta berpotensi menjadi solusi praktis dalam mendukung pengambilan keputusan berbasis teknologi informasi di lingkungan pendidikan dasar.</p> <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>The rapid development of information technology has increased the need for more objective and structured decision-making systems in the education sector, particularly in determining graduation status and identifying the best-performing students. However, in practice, many primary educational institutions still rely on manual assessment processes, which may lead to subjectivity and less accurate decisions. This study aims to develop and implement a decision support system for determining graduation and selecting the best students using the Simple Additive Weighting (SAW) method at MI Hayatul Wathon. The research employed a waterfall system development model, consisting of literature review, data collection, requirements analysis, system design, and web-based system implementation. The SAW method was applied to process multiple assessment criteria, including academic performance, discipline, and achievement, through weighting and ranking mechanisms to generate final preference scores for each student. The results indicate that the developed system is able to produce objective and proportional student rankings and to determine graduation status and student predicates transparently. The system also facilitates decision-makers at the madrasah by presenting structured assessment results in the form of tables accompanied by descriptive explanations. In conclusion, the implementation of the SAW-based decision support system effectively enhances the objectivity, accuracy, and transparency of the graduation determination and best student selection process at the Madrasah Ibtidaiyah level, and it has the potential to serve as a practical solution for supporting information technology–based decision making in primary education.</p> Hermanto Hermanto Muhammad Tanwirul Fikri Muhammad Hafidz Yusuf Ade hendi Copyright (c) 2026 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-01-12 2026-01-12 6 1 125 132 10.51878/educational.v6i1.8846 RELASI ONTOLOGIS BAHASA DAN SAINS: QUO VADIS FILSAFAT ILMU DI ERA DISRUPSI ARTIFICIAL INTELLIGENCE https://jurnalp4i.com/index.php/educational/article/view/8416 <p>This study aims to reconstruct the dialectical relationship between language and science in the midst of digital technological disruption, particularly the rapid development of Generative Artificial Intelligence (AI). In science, language functions not only as a means of communication but also as an ontological foundation that shapes the reality and validity of scientific knowledge. This research employs a qualitative approach through library research and philosophical hermeneutic analysis of literature in the philosophy of science, philosophy of language, and contemporary studies on AI. The analysis focuses on the role of terminology in the construction of knowledge, the demarcation between natural sciences (<em>Naturwissenschaften</em>) and social sciences and humanities (<em>Geisteswissenschaften</em>), and the future direction of the philosophy of science in responding to epistemic challenges in the AI era. The findings indicate that the stability of scientific terminology is experiencing a crisis due to AI hallucinations and <em>paper mill</em> practices that produce fake scientific works. At the same time, there is a shift in language games from descriptive to performative functions, as reflected in the use of the term “Global Boiling.” This study concludes that an adaptive epistemology is necessary to safeguard the integrity and validity of scientific knowledge in the algorithmic era.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kajian ini bertujuan merekonstruksi relasi dialektis antara bahasa dan ilmu pengetahuan di tengah disrupsi teknologi digital, khususnya perkembangan Generative Artificial Intelligence (AI). Bahasa dalam sains tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai fondasi ontologis yang membentuk realitas dan validitas pengetahuan ilmiah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dan analisis hermeneutika filosofis terhadap literatur filsafat ilmu, filsafat bahasa, serta kajian mutakhir tentang AI. Fokus kajian meliputi peran terminologi dalam konstruksi pengetahuan, demarkasi antara ilmu alam (<em>Naturwissenschaften</em>) dan ilmu sosial-humaniora (<em>Geisteswissenschaften</em>), serta arah masa depan filsafat ilmu dalam merespons tantangan epistemik era AI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stabilitas terminologi ilmiah mengalami krisis akibat fenomena halusinasi AI dan praktik <em>paper mills</em> yang memproduksi karya ilmiah palsu. Di sisi lain, terjadi pergeseran permainan bahasa dari fungsi deskriptif ke performatif, sebagaimana tercermin dalam istilah “Global Boiling”. Penelitian ini menyimpulkan perlunya epistemologi adaptif guna menjaga integritas dan validitas ilmu pengetahuan di era algoritmik.</p> Yudhi Hertanto Copyright (c) 2026 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-01-15 2026-01-15 6 1 133 140 10.51878/educational.v6i1.8416 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU INDISIPLINER SISWA KELAS X DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA https://jurnalp4i.com/index.php/educational/article/view/8279 <p>This study aims to analyze the factors that influence the indisciplinary of 10th grade students at Suruh 1 Public High School in mathematics learning. Disciplinary problems such as lack of focus, joking around, tardiness, not doing assignments, and playing with gadgets indicate an interaction between internal and external factors that shape student behavior during the learning process. This study uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques in the form of in-depth interviews and classroom observations. The research informants involved four students, a mathematics teacher, and a guidance counselor as the main informants. The results show that internal factors such as low motivation, interest in learning, self-regulation, and anxiety about mathematics contribute significantly to the emergence of indisciplinary. External factors, including peer influence, classroom management, teaching style, and lack of parental supervision, also reinforce this behavior. The findings also show that the combination of students' psychological conditions and the quality of the learning environment is the main trigger for disruptive behavior in learning. This study concludes that improving discipline requires attractive learning strategies, firm and consistent classroom management, and continuous collaboration between teachers, parents, and schools.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi perilaku indisipliner siswa kelas X SMA Negeri 1 Suruh dalam pembelajaran matematika. Fenomena indisipliner seperti kurang fokus, bercanda, keterlambatan, tidak mengerjakan tugas, dan bermain gawai menunjukkan adanya interaksi antara faktor internal dan eksternal yang membentuk perilaku siswa selama proses belajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam dan observasi kelas. Informan penelitian melibatkan empat siswa, seorang guru matematika, dan seorang guru BK sebagai informan utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal seperti rendahnya motivasi, minat belajar, regulasi diri, dan kecemasan terhadap matematika berkontribusi besar terhadap munculnya perilaku indisipliner. Faktor eksternal yang mencakup pengaruh teman sebaya, manajemen kelas, gaya mengajar guru, serta kurangnya pengawasan orang tua turut memperkuat terjadinya perilaku tersebut. Temuan juga menunjukkan bahwa kombinasi antara kondisi psikologis siswa dan kualitas lingkungan belajar menjadi pemicu utama munculnya perilaku mengganggu dalam pembelajaran. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan kedisiplinan membutuhkan strategi pembelajaran yang menarik, manajemen kelas yang tegas dan konsisten, serta kolaborasi antara guru, orang tua, dan sekolah secara berkelanjutan.</p> Aurel Belva Idfi Azisa Diyah Nurul Utami Mumtaz Khanif Maulana Intan Ika Sari Agung Guritno Copyright (c) 2026 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-01-22 2026-01-22 6 1 141 151 10.51878/educational.v6i1.8279 SYNTAX ANALYSIS OF ENGLISH NOMINAL PHRASE STRUCTURE AND ITS IMPLICATIONS FOR GRAMMAR LEARNING: EFL LEARNERS https://jurnalp4i.com/index.php/educational/article/view/8474 <p>This study aims to analyze the structure of English noun phrases and examine their implications for grammar learning for learners of English as a Foreign Language (EFL). The study employs a qualitative approach using a literature study method by reviewing and analyzing books and journal articles that discuss noun phrase structures from a syntactic perspective and common errors made by EFL learners. The analysis focuses on the constituent elements of noun phrases, including the head noun, determiners, pre-modifiers, and post-modifiers. The findings show that EFL learners still experience significant difficulties in constructing correct noun phrases, particularly in the use of determiners, adjective order, and post-modifying structures such as prepositional phrases and relative clauses. The errors identified generally include omission, addition, misformation, and misordering, which are influenced by the complexity of noun phrase structures and interference from the learners’ first language. These errors affect clarity of meaning, grammatical accuracy, and the quality of learners’ academic writing. Therefore, a solid understanding of noun phrase structure is essential to improve learners’ syntactic competence and academic writing ability. This study is expected to contribute to the development of more effective and structure-based grammar teaching strategies for EFL learners.</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur frasa nomina dalam bahasa Inggris serta mengkaji implikasinya terhadap pembelajaran tata bahasa bagi pembelajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka melalui penelaahan dan analisis buku serta artikel jurnal yang membahas struktur frasa nomina dari perspektif sintaksis dan kesalahan yang umum dilakukan oleh pembelajar EFL. Analisis difokuskan pada unsur-unsur pembentuk frasa nomina yang meliputi unsur inti (head noun), penentu (determiner), pre-modifier, dan post-modifier. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembelajar EFL masih mengalami kesulitan yang signifikan dalam membentuk frasa nomina yang benar, khususnya dalam penggunaan determiner, urutan adjektiva, serta struktur post-modifier seperti frasa preposisional dan klausa relatif. Kesalahan yang ditemukan umumnya berupa omission, addition, misformation, dan misordering yang dipengaruhi oleh kompleksitas struktur frasa nomina serta interferensi bahasa pertama pembelajar. Kesalahan-kesalahan tersebut berdampak pada kejelasan makna, ketepatan gramatikal, dan kualitas penulisan akademik pembelajar. Oleh karena itu, pemahaman yang kuat terhadap struktur frasa nomina sangat penting untuk meningkatkan kompetensi sintaksis dan kemampuan menulis akademik pembelajar EFL. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan strategi pembelajaran tata bahasa yang lebih efektif dan berbasis struktur.</p> Imelda Kurniati Siregar Reinasya Br Surbakti Tiara Adelia Siti Ismahani Copyright (c) 2026 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 2026-01-22 2026-01-22 6 1 152 158 10.51878/educational.v6i1.8474